Hasil dari beberapa kali mengajar serta saat searching mengenai tata naskah dinas yang ada di lembaga-lembaga pemerintah, baik melalui internet maupun buku-buku yang ada, juga dari pengalaman pribadi, ternyata masalah kebahasaan belum begitu diperhatikan oleh para penyusun SK Gubenur, Bupati atau malah Menteri tentang tata naskah dinas. Menurut pengamatan saya, banyak tata naskah dinas yang dikeluarkan oleh instansi pemerintah lebih menitikberatkan pada faktor non kebahasaan, seperti bentuk surat, jenis kertas, stempel dinas, amplop yang digunakan dan penyimpanan arsip. Sedangkan masalah kebahasaan, seperti kesalahan ejaan, kesalahan pemilihan kata, kesalahan makna kalimat, kesalahan komposisi kalimat, jarang diperhatikan.
Ketertarikan saya bermula saat saya menemukan buku ”Bahasa Surat Dinas” yang dikarang oleh Drs. Dirgo Sabariyanto salah seorang peneliti pada Balai Penelitian Bahasa di Yogyakarta. Dalam buku itu dijelaskan bahwa surat dinas merupakan surat resmi sehingga dalam pemakaian bahasa surat seyogyanya mempergunakan kaidah Bahasa Indonesia yang baik dan benar. Dari situ saya, yang selama ini menyusun surat dinas secara otodidak atau dari petunjuk atasan atau rekan senior, jadi merasa sangat bodoh karena seringnya manut saja tanpa pernah belajar dari membaca buku…tapi khan lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali to….?!
Masalah-masalah kebahasaan yang seringkali terabaikan dalam suatu surat dinas adalah (ceritanya tentang kebakuan bahasa dengan mempergunakan bahasa yang tidak baku….). Uraiannya akan saya coba bahas dengan mempergunakan model contoh, uraian kesalahan, dan pembetulannya.
A. Kesalahan Ejaan
Ejaan secara singkat dapat disebutkan sebagai kaidah penulisan huruf, abjad, kata-kata, dan tanda baca. Ada empat kesalahan yang lazim terjadi, yakni kesalahan pemakaian huruf, kesalahan pemakaian huruf kapital, kesalahan penulisan kata, dan kesalahan tanda baca.
1. Kesalahan Pemakaian Huruf
Dalam pemakaian surat dinas kita sering memakai kata-kata yang tidak baku. Contoh berikut saya ambilkan dari kata-kata yang sering salah kita tuliskan dalam surat dinas.
|
No |
Lazimnya |
Seharusnya |
|
1. |
ijin |
izin |
|
2. |
sistim |
sistem |
|
3. |
analisa |
Analisis |
|
4. |
Pebruari |
Februari |
|
5. |
Nopember |
November |
|
6. |
Propinsi |
Provinsi |
|
7. |
persaratan |
Persyaratan |
|
8. |
jaman |
zaman |
|
9. |
azas |
asas |
|
10. |
komplek |
kompleks |
|
11. |
silahkan |
silakan |
|
12. |
ijasah |
ijazah |
|
13. |
alinia |
alinea |
|
14. |
tek |
teks |
|
15. |
maha dewa |
mahadewa |
|
16. |
kilo gram |
kilogram |
|
17. |
non blok |
nonblok |
|
18. |
se Jawa Tengah |
se-Jawa Tengah |
|
19. |
paska sarjana |
pascasarjana |
|
20. |
sub bagian |
subbagian |
|
21. |
catur wulan |
caturwulan |
|
22. |
ekstrim |
ekstrem |
|
23. |
olah raga |
olahraga |
|
24. |
tuna aksara |
tunaaksara |
|
25. |
ekstra kurikuler |
ekstrakurikuler |
2. Kesalahan Pemakaian Huruf Kapital
a. Perhatikan contoh berikut
Mengharap kehadiran Bapak dalam rapat yang akan dilaksanakan besok pada :
H a r i : R A B U
Tanggal : 4 April 2007
J a m : 09.00 WIB
Tempat : Ruang Data Badan Diklat Provinsi Jawa Tengah
A c a r a : Pembentukan Panitia Diklat Prajabatan Golongan III.
Pemakaian huruf kapital yang salah terdapat pada kata Hari, RABU, Tanggal, Jam, Tempat dan Acara. Komposisi kalimat juga salah karena kalimat tersebut tidak memiliki Subyek. Disamping itu terdapat kesalahan lain yakni adanya penjarangan kata pada hari, RABU, Jam, acara. Kesalahan lain adalah pemakaian tanda baca yang salah yaitu : pemakaian tanda titik dua (
dibelakang kata pada, juga tak adanya tanda koma dibelakang rabu, 4 April 2007, 09.00 WIB, dan Ruang Data Badan Diklat Povinsi Jawa Tengah. Sedangkan pemilihan kata jam, sebaiknya diganti dengan pukul karena jam menunjukkan alat (arloji). Perbaikan contoh di atas adalah sebagai berikut
Kami mengharap kehadiran Bapak dalam rapat yang dilaksanakan besok pada
hari : Rabu,
tanggal: 4 April 2007,
pukul : 09.00 WIB,
acara : Pembentukan panitia Diklat Prajabatan Golongan III,
bertempat di ruang data Badan Diklat Provinsi Jawa Tengah, Semarang.
Mengapa harus ada tanda baca koma (,) dibelakang kata rabu ? Penjelasannya adalah kalimat tersebut di atas dapat diganti menjadi bentuk kalimat utuh seperti berikut :
Dengan hormat, kami mengharap kehadiran Bapak dalam rapat yang dilaksanakan besok pada hari Rabu, tanggal 4 April 2007, pukul 09.00 WIB, acara pembentukan panitia Diklat Prajabatan Golongan III, bertempat di ruang data Badan Diklat Provinsi Jawa Tengah, Semarang.
b. Perhatikan contoh berikut
KEPALA BAGIAN TATA USAHA
ttd
DRS. BUDI SANTOSA, M.SI
NIP. 500 056 071
Kesalahan pemakaian huruf kapital sering kita lihat pada pengirim seperti contoh di atas. Disamping itu penulisan NIP sebaiknya tanpa tanda titik (.) dan jangan dijarang-jarang. Perbaikan contoh di atas adalah sebagai berikut
Kepala Bagian Tata Usaha
ttd
Drs. Budi Santosa, M.Si.
NIP 500056071
c. Perhatikan contoh Penulisan Alamat Surat berikut
Kepada Yth.
Kepala Dinas Pertanian Prov. Jateng
d/a Kabag Tata Usaha
di-
U N G A R A N
Kesalahan pemakaian huruf kapital sering kita lihat pada penulisan alamat, khususnya pada Kalimat UNGARAN. Kata itu sebaiknya hanya huruf depannya yang ditulis dengan huruf kapital, serta tak perlu dijarang-jarang dan digaris bawah. Disamping itu awal alamat sebaiknya tidak perlu menggunakan kata kepada karena boros kata. Perbaikan contoh di atas adalah sebagai berikut
Yth. Kepala Dinas Pertanian Prov. Jateng
d.a. Kabag Tata Usaha
di Ungaran
Berhubung bahasannya sangat panjaaaaaaang….bertele-tele dan pekerjaan persuratan khan termasuk jenis pekerjaan kantor yang membosankan….hingga mau nulisnya juga bikin mood gak stabil…..maka tak pedot sampai disini dulu ya….





Nda, tulisan sebelah kiwa keton cuilik, jadi bagi yang manula nek arep maca ndadak makai kacamata tuebal.
Siip deh, kalau memang ini disiapkan secara dhewekan.
betul pak..
Saya guru Kimia, tapi juga ngajar Bahasa Indonesia dan TIK di SMA yg ada di pedalaman Kalimantan Tengah, ketika saya bersama anak-anak menganalisis surat resmi yg berasal dari instansi-instansi di sekitar sekolah kami , ternyata yang paling banyak kesalahan justru dari sekolah sendiri. padahal saya pernah mengusulkan agar setiap surat keluar dikonsultasikan dengan guru bahasa terlebih dahulu, tapi jawaban yang sering saya dapatkankan adalah : LHA WONG DARI DINAS SAJA KAYAK GINI KOK, MASAK KITA MAU LAEN”
selain itu saya di rumah kadang-kadang dimantai teman-teman untuk mengetik surat, laporan, proposal dll. sebelum ngetik biasanya saya nanya dulu : INI MAU DIKETIK YANG BENAR ATAU SEPERTI KONSEP? Hampir sama jawaban yang saya terima : ” INI ANU LHO PAK, SUDAH HASIL PEMIKIRAN TEMAN-TEMAN, UMUMNYA JUGA SEPERTI INI KHAN? atau INI YG BIKIN KONSEP KOMANDAN/BOS/ATASAN, SAYA GAK BERANI NGUBAH-UBAH”
ternyata banyak komandan,bos, atasan yang masih mengabaikan cara pebulisan surat yang benar.
gimana ya…