Hambatan Budaya Kerja Organisasi Pemerintah

Menurut Kacamata Peserta Diklat Prajabatan Golongan III Kabupaten Jepara

Mengajarkan suatu materi untuk pertama kalinya memang lebih sulit….soalnya kita harus menyiapkan bahan-bahan, mulai dari membaca modul yang dalam teorinya “basic teaching skill” dinamakan sebagai materi pokok yang harus diketahui atau “must know”, mencari bahan-bahan lain yang terkait yang sering disebut sebagai materi “should know” serta siap-siap dengan pertanyaan peserta yang kadang-kadang agak jauh dari materi pokok….(sering disebut sebagai materi yang “nice to know”. Sabtu kemaren adalah saya mengajar materi Budaya Kerja pada Diklat Prajabatan Golongan III. Terus terang materi ini baru pertama kali saya ajarkan sehingga agak grogi juga…… bahkan sempat dua kali penugasan materi ini saya tolak….. Hal itu disebabkan saya merasa belum begitu siap…..pa lagi transparansinya belum saya kerjakan secara tuntas. Jadi terus terang saja, kemaren saat ngajar, saya modal nekad campur rasa malu….masa nolak terus…….

“Budaya Kerja Organisasi Pemerintah” sebenarnya merupakan materi yang sangat saya tunggu….karena disini saya akan bisa sedikit memberikan suatu motivasi kerja bagi para peserta yang notabene merupakan ‘tunas-tunas muda’ PNS di masa mendatang….Saya akan berusaha menyebarkan ‘budaya kerja nan penuh cinta’ pada mereka….karena hanya dengan cinta, mereka akan mampu mengarungi kehidupan kerja PNS yang carut marut dengan penuh gairah dan semangat…..karena hanya dengan cinta terhadap pekerjaannya mereka akan tercetak menjadi tenaga-tenaga PNS yang profesional…..karena tanpa mencintai profesi sebagai PNS….mereka akan bekerja dengan setengah hati…..tanpa motivasi….salah jalan dalam menekuni pekerjaan seperti banyak birokrat alami saat ini….. atau mungkin malah keluar dari PNS…..mencari penghidupan lain yang lebih menyenangkan…..

Lalu bagaimana kita bisa mencintai pekerjaan kita sebagai PNS…..?! Ya….layaknya orang yang jatuh cinta…akan selalu kangen….selalu ingin bertemu…..maka ya…kita ya harus selalu bertemu dengan yang dikangeni utawa harus selalu masuk kerja tentunya….Kemudian ya…harus mengenal dengan sedetail-detailnya….atau selalu mendalami tugas pokok pekerjaan….termasuk mencari tahu peraturan-peraturan yang terkait dengan pekerjaan….Setelah itu, langkah awal adalah menerima pekerjaan yang kita cintai itu dengan apa adanya….gak peduli jelek…gak peduli pekerjaannya nggak begitu bagus…..bahkan kadang cuek alias tidak memperhatikan perasaan kita….namanya juga kadung cinta….ya….tetap nekad……tapi tentu saja gak akan berhenti sampai disitu saja…..kalau yang kita cintai jelek….gak bagus….or gak pantes buat diajak jalan-jalan….dikenalin sama orang-orang….ya…didandani….diberikan baju yang bagus…diberi ‘make up’ yang mahal….atau kalau perlu dioperasi plastik biar cantik dan sedap dipandang mata……begitu khan….?!

Salah satu upaya membikin ‘cantik’ adalah dengan mentransformasikan nilai-nilai budaya kerja dalam unit kerja kita….Nilai-nilai budaya kerja pada prinsipnya terbagi menjadi lima kelompok besar meliputi : 1).Nilai-Nilai Sosial , yang terdiri dari Nilai Kemanusiaan, Keamanan, Kenyamanan, Persamaan, Keselarasan, Efisiensi, Kepraktisan; 2) Nilai-Nilai Demokratik , yang terdiri dari Kepentingan Individu, Kepatuhan, Aktualisasi Diri, Hak-Hak Minoritas, Kebebasan/Kemerdekaan, Ketepatan, Peningkatan; 3) Nilai-Nilai Birokratik, yang meliputi Kemampuan Teknik, Spesialisasi, Tujuan Yg Ditentukan, Lugas Dalam Tindakan, Rasional, Stabilitas, Tugas Terstruktur; 4) Nilai-Nilai Profesional, termasuk Keahlian, Wewenang Memutuskan, Penolakan Kepentinan Pribadi, Pengakuan Masyarakat, Komitmen Kerja, Kewajiban Sosial, Pengaturan Sendiri, Manfaat Bagi Pelanggan, Disiplin; 5) Nilai-Nilai Ekonomik, yaitu Rasional, Ilmiah, Efisiensi, Nilai Terukur dg Materi, Campur Tangan Minimal, Tergantung Kekuatan Pasar.

Setelah nilai-nilai budaya kerja tersebut saya identifikasi dan sampaikan pada peserta, kemudian saya coba minta pendapat pada peserta apakah kira-kira ada hambatan jika nilai-nilai tersebut ditransformasikan pada unit kerja mereka……..setelah itu bagi peserta yang merasa ada hambatan saya minta untuk mendiskusikannya….utamanya hambatan-hambatan yang mungkin timbul terkait dengan transformasi nilai-nilai budaya kerja di unit kerjanya. Hasilnya menunjukkan bahwa secara rerata 25,24 % peserta menyatakan ada hambatan dalam penerapan nilai-nilai budaya kerja di unit kerja. Sedangkan secara detail hasilnya untuk masing-masing kelompok saya uraikan sebagai berikut:

  1. Nilai-Nilai Sosial

    Hasil poling sms pada 42 peserta menunjukkan bahwa ada 40,48 % peserta yang merasa ada hambatan jika nilai-nilai sosial diterapkan pada unit kerja mereka. Suatu jumlah yang cukup besar…!! Menurut mereka hambatan utama penerapan nilai kemanusiaan adalah sifat para atasan dan rekan kerja senior yang sulit menerima masukan dari para staf junior. Ruang kelas yang kurang luas dan murid yang terlalu banyak menyebabkan ruang kelas menjadi panas (sumuk) sehingga mengurangi kenyamanan dalam bekerja. Disamping itu masalah kurangnya sarana laboratorium juga menjadi kendala dalam faktor kenyamanan lokasi kerja. Pembagian honor yang kurang merata akibat sifat pimpinan yang pilih kasih menjadi kendala dalam penerapan nilai-nilai persamaan.

     

  2. Nilai-Nilai Demokratik

    Hanya 19,05% peserta yang menyatakan bahwa ada hambatan jika mereka berupaya menerapkan nilai-nilai budaya kerja di unit kerja mereka. Hambatan yang teridentifikasi peserta antara lain adalah adanya izin cuti yang dipersulit…padahal kita tahu bahwa setiap PNS berhak mendapatkan cuti selama 12 hari setahun. Disamping itu faktor ketiadaan laboratorium juga menyebabkan seorang guru kurang dapat mengaktualisasikan kemampuan (teknik dan metode) mengajarnya secara optimal. Sedangkan dari segi ketepatan, masalah SPJ yang sering terlambat disusun menjadi kendala klasik pada hampir semua instansi pemerintah.

     

  3. Nilai-Nilai Birokratik

    Untuk nilai-nilai demokratik, jumlah peserta yang menyatakan akan ada hambatan jika menerapkannya dalam unit kerja mereka cukup sedikit (21,43%).Mutasi dan penempatan pegawai yang tidak tepat, dalam arti tidak sesuai keahlian atau latar belakang pendidikan, menjadi masalah bagi PNS dari segi kemampuan teknik. Disamping itu pada dunia pendidikan, akibat kurangnya tenaga guru, sudah wajar terjadi kasus seorang guru olah raga juga merangkap mengajar pada mata pelajaran sejarah (misal) sehingga nilai-nilai spesialisasi menjadi kurang diperhatikan. Di dunia kesehatan, akibat kurangnya SDM yang baik, seorang dokter kadang-kadang terpasa harus mengurusi masalah administrasi di puskesmas. Sementara itu kebijakan pimpinan yang sering berubah-ubah, informasi yang kurang terdistribusi dengan baik menyebabkan hambatan penerapan budaya stabilitas dan rasionalisi pekerjaan. Sebagai contoh kebijakan yang tidak tepat adalah diberlakukannya pengobatan gratis pada puskesmas yang tidak disertai stok obat yang cukup, pada akhirnya akan menyulitkan saat pasien membludak. Kondisi-kondisi itu menurut peserta menjadikan PNS bersikap apatis dan tidak memiliki rasa percaya diri.

     

  4. Nilai-Nilai Profesional

    Jumlah peserta yang menyatakan ada hambatan dalam penerapan nilai-nilai profesional di unit kerja sebanyak 16 orang (38,10 %). Hambatan yang cukup dominan antara lain adalah pemberian tugas yang diluar bidang keahliannya sehingga hasil pekerjaan menjadi kurang memuaskan. Disamping itu pemberian tugas oleh pimpinan seringkali tidak diserta dengan wewenang memutuskan sehingga membingungkan.

     

  5. Nilai-Nilai Ekonomik

    Hanya sedikit peserta (7,14 %) yang menyatakan ada hambatan dalam penerapan nilai-nilai ekonomik di unit kerja. Hak utama yang dikeluhkan adalah sering berubah-ubahnya sistem pendidikan yang diterapkan pemerintah pusat. Sebagai contoh kalau tahun ini diterapkan sistem pendidikan berbasis kompetensi….maka sebelum sistem itu dikuasai betul oleh para guru….tahun depan sistemnya sudah diubah menjadi KTSP….akibatnya model pembelajaran yang kadung diberikan pada siswa menjadi kurang bermanfaat…..Akibat lainnya adalah beban tugas guru menjadi bertambah berat….padahal gaji yang diberikan juga masih kurang memadai…..Hal lain yangdisoroti para guru (kebetulan sebagian besar pesertanya merupakan guru) adalah pemberian nilai pada siswa yang tidak sesuai dengan standar yang ditetapkan…..karena kalau itu diterapkan maka nilai siswa rata-rata akan jeblok…..Oleh karena itu, ‘bantuan guru’ terhadap nilai siswa menjadi hal yang biasa dilakukan…..

About these ads

3 responses to “Hambatan Budaya Kerja Organisasi Pemerintah

  1. Ping-balik: Budaya libur Kecepit « my Guo

  2. Saya sangat senang bisa berkenalan dengan bapak, Saya baru aja ikut diklat WI . Dan saya udah di minta membawakan materi budaya kerja ini pada diklat Prajab Goll III di Pemda Kab. Sorong Papua. Mohon bantuan Bapak,Saya merasa belum siap juga tapi saya akan coba…. bantu saya ya???? terima kasih…..

  3. Begitu indah dan kaya Indonesia ini, mari bersama kita lestarikan budaya kita,, salam kenal dari Pernikahan Adat Di Indonesia

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s