Widyaiswara dan Angka Kreditnya

Ada suatu topik yang hangat dibicarakan oleh para Widyaiswara di Kantor kami, yakni penghitungan angka kredit…..!! Gegeran itu dimulai dari keputusan hasil penghitungan angka kredit yang dikirimkan oleh LAN-RI, sebagai lembaga pembina para widyaiswara, kepada para widyaiswara senior (pangkat IV/c – IV/e). Hasilnya menunjukkan adanya pengetatan penilaian angka kredit yang dilakukan LAN hingga ada seorang widyaiswara yang telah memiliki angka kredit sebesar 830 (kurang 20 dari angka kredit yang dipersyaratkan bagi pangkat WI Utama dengan masa pensiun 65 tahun) tiba-tiba harus dikoreksi oleh LAN menjadi hanya 700 saja. Hal itu tentu saja menimbulkan syok bagi para WI yang memiliki angkat IV/c karena untuk mencapai angka kredit 850 akan begitu sulit. Bahkan salah seorang widyaiswara mutung dan memutuskan untuk mengambil formulir pensiun saja.

Sebenarnya peraturan yang mengatur penghitungan angka kredit telah diluncurkan sejak lama, yakni melalui Peraturan Menpan nomor 66 Tahun 2005. Dalam peraturan tersebut dikatakan bahwa seorang widyaiswara baru boleh mendapatkan angka kredit jika mengajar sesuai dengan tingkatan jabatannya. Seorang WI pertama (golongan III/a & III/b) seharusnya mengajar pada Diklat-Diklat Tingkat Dasar, WI Muda (golongan III/c & III/d) pada Diklat Tingkat Lanjutan, WI Madya (IV/a – IV/c) pada Diklat Tingkat Menengah, dan WI Utama (IV/d & IV/e) pada Diklat Tingkat Tinggi. Toleransi diberikan dengan kebolehan mengajar pada diklat setingkat di atas dan setingkat di bawah dari pangkat WI tersebut. Peraturan itu kemudian ditindaklanjuti melalui Peraturan Kepala LAN nomor 1 Tahun 2006 tentang Petunjuk Teknis Jabatan Fungsional Widyaiswara dan Angka Kreditnya. Dengan diberlakukannya peraturan tersebut, para widyaiswara, terutama WI Madya dan Utama merasa mengalami hambatan dalam mencari angka kredit untuk proses kenaikan pangkatnya.

Menurut pendapat plus hasil diskusi yang sempat aku dengar, peraturan tersebut ada kelemahan yang mendasar, yakni :
1.Kondisi daerah, seperti Jawa Tengah, jarang sekali mennyelenggarakan diklat-diklat tingkat menengah seperti Diklat Pim II (paling setahun hanya 3 kali) sehingga susah bagi widyaiswara madya dan widyaiswara utama atas untuk memperoleh angka kredit. Apalagi untuk WI Utama tambah susah lagi mengajar pada Dikat Pim Tingkat I yang gak pernah dilaksanakan di daerah.

2.Di perguruan tinggi, sangat wajar seorang profesor mengajar para mahasiswa tingkat dasar guna membekali mereka tentang pengetahuan dasar dengan benar. Sementara itu, dengan kasus yang hampir mirip, seorang Widyaiswara Madya dan Widyaiswara Utama saat mengajar Diklat Prajabatan tidak akan pernah mendapatkan angka kredit.

3.Diklat-Diklat Teknis Fungsional kebanyakan belum menganut prinsip jenjang diklat. Susahnya, LAN selalu melabeli diklat teknis dan fungsional sebagai diklat tingkat dasar sehingga seorang WI Madya ke atas tidak pernah mendapatkan angka kredit saat memfasilitasi diklat-diklat teknis fungsional.

Bagi saya sendiri, peraturan yang dikeluarkan itu hampir nggak ngaruh. Mengapa demikian….?! karena menurut saya, peraturan itu dibuat sebenarnya malah untuk melindungi kami para widyaiswara muda dari jajahan para senior… Gimana tidak, dengan penyelenggaraan diklat di tempat kami yang sebagian besar diklat dasar (prajabatan, Pim IV dan Diklat Teknis Fungional) maka seharusnya kami para widyaiswara muda yang harusnya mengajar semua diklat itu…..Ini wajar mengingat hanya kamilah yang bisa meraup angka kredit dari diklat-diklat dasar….allias disamping dapat coin, kami juga dapat poin….Karena kalau tidak diatur begitu maka para senior itu akan ngawu-awu ngajar dimana-mana tanpa mbagehi para juniornya ini…..

Tapi dari hasil diskusi yang saya sebutkan diatas, tetep saja Permenpan 66 Tahun 2005 itu tetap perlu direvisi…..Bukan apa-apa, yang jelas saya nanti khan juga pengen jadi Widyaiswara Utama….dan pastinya, jika Permenpan 66 itu belum direvisi, jalan untuk mencapai kesana akan sangat panjang, berliku dan penuh dengan kesulitan seperti dialami para Widyaiswara Senior-Senior saat ini….Itu baru dari sisi pribadi….Dari sisi yang lain saya sendiri melihat ketidaksiapan LAN sebagai lembaga pembina dalam menilai angka kredit WI sesuai Permenpan 66. Sebagai misal, untuk seluruh diklat teknis dan fungsional masih seringkali digebyah uyah sebagai diklat dasar….hingga WI yang mengajukan Diklat Teknis dan Fungsional tidak akan pernah mendapatkan angka kredit….kecuali jika diklat TF itu diembel-embeli nama tingkatan dibelakangnya seperti tingkat lanjutan….tingkat ahli…dst.. Akibatnya apa….banyak Widyaiswara saat ini yang menganggap bahwa LAN selama ini tidak punya itikad baik dan hanya bermaksud menghambat kenaikan pangkat Widyaiswara saja……Bahkan ada yang mengatakan bahwa para pimpinan di Jakarta hanya ingin agar para Jendral itu hanya ada di Jakarta….dan sedapat mungkin hanya sedikit Jendral (golongan IV/d dan IV/e maksudnya) yang ada di daerah…..

Saya sendiri juga melihat bahwa belum diaturnya jenjang diklat pada Diklat Teknis dan Fungsional juga akan menyulitkan para Widyaiswara di lembaga diklat yang ada di Departemen-Departemen Teknis, seperti Departemen Kehutanan, Departemen Pertanian (lewat Balai-Balai Diklatnya yang banyak tersebear di seluruh Indonesia), Departemen Tenaga Kerja, Depag, Departemen Pertambangan dan Energi….karena seperti diketahui bahwa lembaga diklat pada Departemen Teknis itu umumnya hanya meneyelenggarakan diklat-diklat teknis dan fungsional saja….sementara Diklat-Diklat Kepemimpinan biasanya dipusatkan di lembaga diklat milik Depdagri atau LAN saja. So…gimana para WI di Deparemen itu mendapatkan angka kredit…..?!

About these ads

7 responses to “Widyaiswara dan Angka Kreditnya

  1. Saya juga seorang Widyaiswara Tehnis di Balai Diklat Depag Palembang.
    setelah membaca uraian dalam blog saudara,saya juga merasakan kepedihan,kesulitan ,kekesalan bagi widyaiswara untuk naik pangkat ke jenjang yang lebih tinggi.saya berharap mudah-mudahan komentar dan keluhan dari seluruh widyaiswara seluruh indonesia,akan mendapat tanggapan dan terbuka hati para pembina widyaiswara di LAN untuk merevisi peraturan tentang angka kredit widyaiswara dimasa datang.marik kita sama-sama memperjuangkannya. Selamat berjuang dan berkarya profesional demi bangsa dan negara.

  2. Banyak jalan menuju Roma, asalkan dimulai dengan niat yang baik pasti hasilnya akan baik. Sudah jadi rahasia umum bahwa widyaiswara itu “siapa saja boleh mengajar/melatih apa saja”, nah…pengaturan ini hendaknya dipandang positif agar kualitas diklat yang diselenggarakan lebih baik dari kemarin dan setiap widyaiswara diakui keahliannya.

  3. salam kenal pak,

    saya pns yg tertarik dengan profesi WI, dan tulisan2 di blog bapak oke bgt ya, ijin utk sering mampir di blognya, n mungkin mengambil sebagian tulisan bapak sebagai bahan penulisan makalah, trima kasih bgt sebelumnya

  4. Waduh, tambah susah aja para widyaiswara naik pangkat. Oh widya iswara malang nian nasibmu.

  5. Ini masih akurat atau udah ada perbaikan?

  6. bambang riyanto

    terima kasih atas formasinya saya calon wi jateng

  7. kalau ditempat kami lebih parah lagi…para struktural dan pensiunan ambil bagian dalam memberikan materi pengajaran….bagaimana nasib kami sebagai widyaiswara ? harus mengadukan ke siapa saya ini ?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s