Prinsip Pelayanan Prima Bagi Widyaiswara

Ikut Diklat itu memang asyik. Walau kita gak selalu mendapatkan semua yang kita harapkan tapi pasti adaaaaa…… aja yang berguna buat ningkatin kualitas kita sebagai aparat pemerintah. Sebagai contoh Diklat TOT Kewidyaiswaraan Muda yang sedang saya ikuti saat ini. Belum juga 10 jam kita ngikut diklat…eee…..akunya sudah dapat ilmu baru tentang profesi kewidyaiswaraan, yakni prinsip pelayanan prima bagi widyaiswara dari mata pelajaran Bimbingan Belajar Orang Dewasa dari Pak Sudarmadi salah seorang widyaiswara dari Badan Diklat Depdagri Jakarta. Prinsipnya sih gampang yakni agar sebagai widyaiswara yang notabene juga aparat pemerintah kitanya juga harus berprinsip pelayanan prima bagi para pelanggan kita, yang dalam hal ini adalah peserta diklat. Seperti kita tahu ada 3 prinsip pelayanan prima :

  1. Hukum Pelanggan. Ada dua prinsip hukum pelanggan. Pertama, pelanggan tak pernah salah. Kedua, jika pelanggan salah maka lihat lagi prinsip pertama.

  2. SDM pelayanan harus mendukung, dalam arti SDM seorang aparat harus mampu dan mau melayani pelanggannya.

  3. Boss adalah panutan, sekaligus menjadi suri tauladan bagi anak buahnya dalam melayani pelanggan.

Lalu bagaimana implikasinya bagi profesi widyaiswara dalam melakukan proses belajar mengajar di kelas….?!

Coba kita uraikan satu per satu prinsip pelayanan prima tersebut dalam hubungannya dengan tugas widyaiswara sebagai fasilitatot.

  1. Hukum Pelanggan, dimana berprinsip bahwa pelanggan tidak pernah salah.

Disini widyaiswara dalam mengajar harus berupaya mengikuti apa yang menjadi keinginan peserta. Yang penting widyaiswara sebisa mungkin tidak boleh marah jika ada peserta yang mulai gelisah, mondar mandir keluar masuk ruangan atau malah ngantuk bahkan mungkin ketiduran. Dalam kasus tersebut, widyaiswara haruslah arif dalam mensikapinya sehingga tidak lantas marah-marah atau menyalahkan peserta yang tak mau menerima materi yang bermanfaat. Yang dilakukan harusnya adalah instrospeksi diri kenapa mereka kelihatan bosan dan ngantuk saat pelajaran. Mungkin saja cara penyajian kita yang monoton….kurang nyantai….terlalu satu arah dan kurang melibatkan peserta hingga mungkin kurang ice breaking. Sehingga tugas widyaiswara lah untuk menghidupkan kelas, menciptakan kelas yang menyenangkan sekaligus membuat peserta aktif agar tujuan pembelajaran tercapai.

  1. SDM pelayanan harus berkualitas

Tentu saja sebagai seorang pelayan, widyaiswara harus berkualitas dalam arti harus memiliki content expert, transfer expert dan ethics. Content expert yang harus dikuasai harus meliputi 3 ranah, yakni must to know : dimana seorang widyaiswara harus menguasai bahan pokok yang biasanya tersaji dalam modul atau bahan ajar; should to know : dimana widyaiswara sebaiknya dapat mengembangkan modul dengan bahan-bahan lain yang erat kaitannya dengan isi modul; dan nice to know : dimana widyaiswara lebih baik lagi jika menguasai pula hal-hal lain diluar isi modul dan masih relevan dengan mata pelajaran yang diajarkan. Transfer Expert dalam hal ini widyaiswara harus menguasai metode pembelajaran yang bermacam-macam hingga mampu mendesain proses belajar mengajar dengan bervariasi guna menghilangkan kebosanan peserta terhadap materi pelajaran. Ethics bagi saya sendiri terutama bermuara pada sikap widyaiswara untuk selalu bersemangat dalam menyampaikan materi…..memiliki sikap positif, yakni yakin bahwa materi pelajaran yang sedang diampunya merupakan sesuatu yang bermanfaat serta selalu optimis dalam menatap masa depan….

  1. Boss adalah panutan

Na….yang terakhir ini berkenaan dengan peran widyaiswara sebagai boss atau manajer kelas. Disini widyaiswara harus dapat dijadikan suri tauladan bagi peserta, dalam arti widyaiswara harus lah seorang person yang baik bagi peserta dalam arti jujur, berkepribadian terbuka dan menyenangkan, responsif terhadap perubahan, berakhlak yang baik serta yang lebih penting selalu menyuarakan hal-hal yang baik bagi peserta. Yang lebih penting, widyaiswara harus relevan dengan apa yang sedang diajarkannya. Sebagai misal jika dia mengajarkan kedisiplinan maka widyaiswara haruslah memberi contoh dengan berdisiplin terhadap kehadiran dan penampilannya di kelas. Jika dia mengajarkan kepemimpinan maka widyaiswara haruslah mampu memimpin kelas dengan demokratis, menghargai pendapat setiap orang dan selalu berupaya untuk menyenangkan semua pihak. Jika dia mengajarkan hal-hal positif lainnya seperti materi pemberantasan korupsi maka widyaiswara haruslah orang yang betul-betul anti terhadap tindak pidana korupsi dan mampu memberi contoh bagaimana dampak buruk korupsi terhadap kehidupan masyarakat Indonesia….

About these ads

7 responses to “Prinsip Pelayanan Prima Bagi Widyaiswara

  1. SATU LAGI SYARAT AGAR BISA MENJADI PELAYAN YANG BAIK BAGI PESERTA DIKLAT ADALAH WIDYAISWARA HARUS S4 (SENYUM, SENYUM, SENYUM DAN SABAR). HIDUP WIDYAISWARA, JADILAH TELADAN.

  2. Ping-balik: Widyaiswara « KOMUNITAS PENAKSIR

  3. Andai semua widyaiswara memiliki semgangat seperti itu, dijamin diklat2 PNS akan menghasilkan peserta yang makin meningkat kompetensi dan pengetahuannya. ^_^

  4. Hr ini sy ikt prajab. Ngantuk jg. Tp begt WI merubah metode klasikal ke diskusi, kami jd semangat lg. Smg WI mendatang lbh dan lbh baik lg. Smg kami menjd pns yg tdk korup, b’etika dan m’br yg t’baik bg masyarakat. Amiin..

  5. mantaaaaaaaaaaaaaaaaaaaab………….

  6. HARI INI, 29 NOP SAYA IKUT DIKLAT TOT CLON WI,SEMOGA “BISA” LULUS DAN KELAK MENJADI WI YANG BAIK.

  7. aiiii diminta lain yang muncul lain…
    sengg ada dialognya kha??

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s