Arsip Kategori: Ngajar

Malam-Malam Gelisah Bagi Widyaiswara

Judulnya sih seperti lagu dangdut, walau maksudnya bukan seperti itu. Karepnya sih tulisan kali ini hendak menceritakan malam-malam paling menggelisahkan bagi seorang widyaiswara, yakni malam-malam saat mulai mengajarkan sebuah materi. Memang sih, jika materi itu sudah biasa kita ampu….malam sebelum mengajar bukanlah malam yang istimewa…karena segala persiapan telah tersedia dengan cukup dan bahkan kata orang turah-turah. Maksudnya adalah ibarat seorang tentara segala macam jenis senjata telah disiapkan jauh-jauh hari dan ready to use. Hingga tinggal pilih senjata mana yang hendak dipakai….tergantung musuhnya. Kalo musuhnya kelas teri ya…cukup pakai piso atau paser saja, sementara jika musuhnya kelas berat ya….kita siapin aja bom atom jika gak nyerah-nyerah. Apalagi medan perangnya telah kita kenal dengan baik hingga dengan mudah kita bisa menentukan tenpat persembunyian, posisi dan strategi buat menaklukkan lawan. Tapi tentu saja lain halnya jika daerah lawan belum pernah kita rambah….apalagi dengan amunisi yang minim maka malam-malam sebelum terjun ke medan pertempuran merupakan malam-malam yang paling menggelisahkan bagi seseorang….Dan itulah mungkin ilustrasi singkat bagaimana gelisahnya seorang widyaiswara dalam menghadapi malam-malam sebelum menyampaikan materi yang baru pertama kali diampunya…

Bagi saya, mengampu Sistem Pemerintahan NKRI merupakan pengalaman petualangan saya berikutnya bagi saya sebagai seorang widyaiswara. Walaupun jauh dari background pendidikan tetapi materi ini tetap penting sebagai investasi masa depan saya dalam mengampu materi-materi diklat kepemimpinan lanjutan di masa depan. Bisa dikatakan mau tidak mau saya sudah harus mulai berubah ke arah yang lebih mendukung karier saya di masa depan. Walaupun demikian, banyak tantangan yang harus ditaklukkan untuk dapat mengajarkan materi ini dengan baik. Yang pertama, tentu saja menguasai substansi materi yang karena jauh dari ’rumah’ maka bisa dikatakan saya hanya punya amunisi yang terbatas…mengingat buku-buku yang saya baca terkait dengan materi itu bisa dikatakan minim dengan pengalaman juga bisa dikatakan nol besar ples keberminatan yang masih meraba-raba alias nekad amergo kepepet. Dengan kata lain amunisi yang saya miliki sangat amat terbatas sekali. Oleh sebab prinsip pembelajaran orang dewasa lebih karena kebutuhan….maka untuk sementara saya tidak memperbanyak dulu buku referensi mengingat seperti pengalaman sebelum-belumnya banyak beli buku belum tentu banyak membaca alias lebih banyak disimpennya daripada dibacanya.

Banyak diskusi dengan pengampu senior menjadi pilihan saya dalam meningkatkan penguasaan materi…. utamanya banyak-banyak bertanya terhadap beberapa bagian dari modul yang susah saya mengerti termasuk peraturan perundang-undangan yang mendukung. Dan ternyata banyak juga peraturan perundang-undangan yang harus saya pelajari buat memperkaya penguasaan materi dalam modul…yang setelah saya search and unduh via internet rasa-rasanya sampai hari H-1 dalam mengajar masih saja ada beberapa bagian yang belum ketemu link and match-nya hingga masih rodo-rodo bingung juga disamping bahan dasar di modulnya juga belum apal banget….Tapi pengalaman sebagai widyaiswara selama 4 tahun telah membuatku sedikit tenang mengingat prinsip ’widyaiswara itu pasti bisa mengajar asal ada judulnya….’ Apalagi pengalaman pertama khan bukan segala-galanya…masih ada pengalaman-pengalaman mengajar berikutnya yang perlahan-lahan akan meningkatkan kompetensi kita dengan sendirinya. Belum lagi tujuan utama saya mengampu materi ini adalah untuk belajar dan The best learning is teaching to….?! Jadi gak usah takut untuk mengajar….just do it maka percayalah Anda akan menemukan fakta-fakta baru yang menarik selama mengajar….. Baca lebih lanjut

The Last but The First

Terjemahan judul tulisan ini sih maunya adalah yang terakhir tetapi yang pertama (moga-moga bener nulis Inggris-nya). Dan tulisan ini akan menceritakan saat-saat mengajarku yang terakhir walau sebenarnya itu juga merupakan saat-saat mengajarku yang pertama di tahun ini. Bingung….?! Karepnya begini, yang terakhir karena emang setelah acara ngajarku di Salatiga Selasa kemaren maka bisa dikatakan akunya akan sedikit rehat ngajar berhubung sudah akhir tahun anggaran walau mungkin Januari sudah akan mulai lagi kesibukanku dalam mengajar. Tapi acara ngajar terakhirku di tahun ini menjadi begitu istimewa karena yang saya hadapi adalah para CPNS dari penerimaan reguler… hingga tentu saja aura-nya akan sangat berbeda mengingat dirikulah yang akan menerima sampur sebagai orang yang paling tua di dalam kelas…..hmmm….sudah berapa lama ya aku tidak mengalami peristiwa seperti ini….mungkin terakhir kali seperti ini awal atau pertengahan 2007 deh. Gara-gara banyak penerimaan CPNS honorer maka predikatku sebagai seorang yang paling berwibawa tidak otomatis kudapat…tapi selalu harus kuperjuangkan dahulu agar pantas mengajar mereka…..

Kebetulan acara ngajarku yang ke Salatiga itu materinya Manajemen Perkantoran Modern yang sedikit garing…..walau sebenarnya garing atau tidaknya suatu materi tergantung dari cara kita menyampaikan….tapi jujur, 3 Jam Pelajaran pertama setiap kali mengajarkan MPM merupakan saat-saat yang penuh keringat bagi diriku….biasanya aku akan berupaya menerangkan sembari ndagel habis-habisan agar seluruh peserta tidak tewas kebosanan….. bahkan sampai gembrobyos aku menerangkan pun masih saja ada peserta yang sempet-sempetnya ketiduran…..aduh-aduh betapa nelangsanya diri ini. Kalu sudah begitu aku biasanya berusaha bertabah-tabah ria sekuat mungkin karena di 9 JP berikutnya akan saya beri tugas membikin surat dinas ples pesta pertanyaan yang kagak akan bisa membikin peserta ketiduran. But yang terjadi di Salatiga tidaklah demikian. Yang ada di kelas ternyata adalah muka-muka segar yang penuh antusias bertanya tentang materi….hanya perlu tak motivasi sedikit bahwa mereka adalah ibarat tamu yang datang sendiri tanpa ada paksaan nglamar jadi CPNS…naa…kalo sudah begitu, jangan sampai mereka kerja tak bersemangat….rugi dooong sudah pengen sendiri, datang sendiri, nglamar sendiri….eee….begitu lulus malah males-malesan sama dengan yang lain….. Baca lebih lanjut

Lagu Yang Cocok Buat Para Guru

”Nyanyi Pak….Nyanyi Pak…..” demikian yang sering kali saya dengar dari peserta jika mereka mulai bosan dengan pelajaran yang sedang saya sajikan. Nggak tahu kenapa, dan asalanya darimana menyanyi bersama-sama sepertinya menjadi trend bagi peserta diklat untuk menghilangkan kejenuhan. Sebenarnya sih bolah boleh saja sih kita pakek cara itu buat menyegarkan suasana….hanya saja koq sepertinya gak ada cara lain buat menghilangkan kejenuhan selain metode itu ya….bahkan kadang bikin jengkel juga jika peserta baru diterangkan sedikit eee….mereka sudah mulai mengantuk dan segera merengek-rengek minta nyanyi bersama….apalagi ada yang baru tahap perkenalan, alias belum diterangkan sama sekali…mereka sudah minta menyanyi….sebel banget hingga akunya kemudian ngomong ketus….”Sorry ya…pelajaran hari ini bukan pelajaran seni suara….” Bahkan Mas Abdul Mu’id, salah satu panitia di Jepara, sudah mulai apal dengan karakter saya hingga ”Kalo Pak Lutfi yang ngajar…pasti gak ada acara nyanyi-nyanyi bersama….” Perkataan yang maksudnya nyindir metode saya yang kering…atau malah muji karena tanpa nyanyi peserta pun bisa ’melek’….gak tau yang mana, yang jelas jika Mas Mu’id ngomong begitu paling saya hanya nyengir saja….

Bukan…bukan aku gak suka dengan acara nyanyi-nyanyi bersama. Cuman rasanya lucu saja jika kita sekelas nyanyi-nyanyi bersama tanpa juntrungan. Pengennya sih nyanyi yang kreatif and rekreatif hingga bikin kita tertawa bareng-bareng gitu. Hanya saja, jumlah lagu yang model begitu hanya sedikit koleksinya dan biasanya sudah dipakek sama WI yang ngajar terdahulu sebelum saya…hingga gak seru lagi deh jika kita nyanyikan lagi. Gak ada surprise-nya gitu. Pas kebetulan ngajarnya di awal-awal diklat hingga kita bisa nyuri start buat ngajarin nyanyian tersebut…juga kayaknya gak tega dengan WI yang datang belakangan dan lebih suka menyanyi daripada saya…. Pengennya sih bisa nyanyi lagu-lagu jaman sekarang alias lagu-lagu yang sedang trend… tapi ya itu gak lucu to kita nyanyi-nyanyi tanpa iringan musik. Pengennya sih seperti yang dilakukan Mr. Marpaung dari LAN…yang denger-denger suka bawa-bawa gitar dalam kelas hingga acara nyanyi-nyanyi bersamanya jadi lebih meriah….tapi belum berani ngelakuin gituan ’cos kayaknya koq gak lumrahnya….apalagi pas ketemu terakhir dengan Mr. Marpaung….sang satria bergitar itu sudah tidak nggendong benda kesayangannya itu…hingga akunya kehilangan moment ’role model’ buat mencontohnya….(soalnya aku sih dikit-dikit bisa juga ngegitar walau kemampuannya sih sekedar bisa dipakek buat nyaingin pengamen-pengamen yang sering kujumpai saat perjalanan panjang ke luar kota….)

Yang bikin sedih lagi jika yang minta nyanyi bersama itu adalah kelas dimana pesertanya kebayakan berprofesi sebagai seorang guru. Dari beberapa bincang-bincang akrab dengan mereka, saya sih sempet mendengar bahwa para guru pun saat ini sedang kebingungan buat mencari model pembelajaran yang lebih menyenangkan buat para murid sekolah. Na…dengan adanya diklat and ketemu dengan para WI yang terkenal kaya metode….para guru tersebut sedikit banyak akan mencontoh apa yang sedang kami buat. Dan yang saya takutkan adalah mereka menganggap metode menyanyi adalah satu-satunya cara buat membikin kelas hidup alias menciptakan pembelajaran yang menyenangkan adalah dengan menyanyi….hingga bisa Anda bayangkan bagaimana riuhnya sebuah kelas sekolah jika semua gurunya selalau mengajak menyanyi bersama di setiap sesi pembelajaran….bisa-bisa bikin guru seni suara (eh masih ada pelajaran seni suara atau nggak ya….?!) siap-siap kehilangan pekerjaannya deh…..hi…hi…hi…. Baca lebih lanjut

Ngajar Temen Sendiri memang merepotkan….

Bingung juga nih saat tiba-tiba Mr. Yatno minta tolong menggantikannya ngajar Metode dan Evaluasi…..Waduh materinya kayaknya bener-bener dipaksain deh….masak metode pembelajaran digabung sama evaluasi pembelajaran yang agak-agak jauh….apalagi wektunya hanya 6 JP…..mana cukuuup…..jadi teringat sama Diklat TOT Perpustakaan dimana Evaluasi Pembelajaran mendapat porsi 16 JP…sementara Metode Pembelajaran dapat 20 JP yang memungkinkan kita sebagai fasilitator sedikit bermain-main sekaligus praktek metode pembelajaran interaktif dan praktek nyusun model-model soal ujian…. Dengan alokasi waktu yang demikian sedikit, malah bikin pusing…..mau diajar apa ya yang kira-kira berguna bagi peserta…lalu metode apa yang bisa dipakai buat mengajarkannya secara efektif ya….?!

Tapi sebenarnya yang bikin bingung itu bukan masalah itu. Terus terang aku sedikit jeri dengan komposisi peserta yang rata-rata lebih berumur daripada saya…..ples pangkat juga lebih tinggi….apalagi diantaranya adalah para widyaiswara dari beberapa lembaga diklat seperti dari Sragen dan Soropadan….juga beberapa WI dari kita sendiri yang lebih baru seperti Bu Lilin, Pak Wahyu dan Bu Martuti…tapi yang lebih bikin sungkan adalah kehadiran Pak Untung, Widyaiswara kita, yang notabene adalah sobat deketku… utamanya dalam mencari and memburu buku-buku….dan yang lebih ngeri lagi adalah keikutsertaan Pak Wardjito yang terkenal kritis, penuh ide sekaligus sering kumintai pertimbangan jika akunya lagi bingung dengan skenario pembelajaran sebuah mata diklat. Dan merekalah yang Senin kemaren harus kuhadapi di depan kelas….bener-bener tidak enak….!! Dan kayaknya hal-hal seperti itu pada masa-masa mendatang harus lebih kuhadapi….yakni mengajar temen-temen sendiri seperti hari kemaren yang merupakan saat pertama kali aku mengajar di depan temen sendiri…..bener-bener merepotkan….!! Baca lebih lanjut

Ngajar Sembari Ngenet….

sleep

Hari Rabu kemaren itu rasanya males banget aku ngajar…..bukan apa-apa, cuman badan capek wae setelah selama dua hari aku harus ngajar…apalagi sehari sebelumnya aku haru ngalajo pulang balik ke Sukoharjo…hingga badanku yang baru rehat sebentar setelah digenjleng marathon ngajar selama 4 hari di minggu lalu…kumat lagi capeknya….Belum lagi kalo mbayangin hari ini aku harus ngajar juga….Sabtu rehat sehari and lanjut ngajar marathonan lagi di minggu depan…..waduh…..Emang sih jika mbayangin rupiahnya rasanya jadi bersemangat lagi, tapi lama-lama capek juga marathonan begini….pikiran rasanya buntu….gak bisa diajak mikir hingga tugas dadakan mbikin modul pun belum sempat kesentuh secara tuntas…bahkan posting di bulan April pun baru sebiji ini…. bukan karena ogah or gak ada ide…semuanya gara-gara keblebek jepe pikiran jadi susah buat dipakek nyusun kata-kata yang…..

Bisa dibilang, bulan April ini adalah bulan tersibuk dalam karirku sebagai seorang WI….gimana tidak, walau sudah berehat ria akibat adanya pemilu selama seminggu tapi volume ngajarku bulan ini mencapai 14 hari alias hamper setengah bulan aku kudu ngadeg di depan kelas….!! Itu pun setelah saya sempet menolak 3 buah tugas ngajar karena merasa gak sanggup nahan capeknya….Semuanya gara-gara beberapa orang WI senior sibuk di Diklat Pim II yang berperaturan ketat dan gak boleh ditinggal sama sekali hingga para WI yang tersisa harus maen marathonan buat nyelesain tugas mengajar yang tersisa and tak kalah bejibunnya….seperti halnya saya, tiba-tiba harus terkaget-kaget karena menerima beberapa tugas dadakan karena kehabisan WI (termasuk kemaren dan hari ini yang di luar skedul) hingga masuk kelasnya pun males-malesan karena seringkali sudah kecapekan ples kurang persiapan….(untungnya saya sudah sedikit berpengalaman menjadi WI….sudah 3 tahun ples lumayan banyak jam terbangnya hingga gak gedandapan jika dapet tugas mendadak….kadang malah seneng he..he…he…).
Baca lebih lanjut

Membuka 2009 dengan Bersenang-Senang

Maksudnya bukannya memulai hari…cuman memulai rutinitas pekerjaan sebagai widyaswara… yakni mulai ngajar-ngajar gitu….Yah seperti Anda sekalian tahu, kalau nggak ada kegiatan diklat, Widyaiswara bisa dikatakan nganggur alias dianggep gak ada kegiatan…walau sebenarnya ada aja sih kegiatan, seperti aku misalnya harus ngrevisi soal-soal ujian prajab yang katanya temen-temen struktural kemaren terlalu sulit…. hingga bikin peserta banyak yang ‘her’atau istilah anak jaman sekarang sebagai ‘remidi’…Sebenarnya sudah tak usahain buat njelasin bahwa ujian biarlah sulit and bikin mereka pusing khan tugasnya peserta buat belajar agar lulus juga…skalian kalo ujiannya sulit panitianya khan bisa lebih berwibawa karena sering disambatin peserta he…he… he…Disamping itu, sistem penilaian khan gak selalu harus model PAP yang kalo gak 70 gak lulus itu….penilaian khan bisa pakek PAN yang lebih luwes and memungkinkan buat dikaji (dikarang bijine) ama panitia….Tapi seperti biasa, struktural khan maunya beres…hingga tetep aja aku kudu nambahin mbikin soal yang kategorinya mudah-mudah….Belum lagi akunya kemudian disuruh skalian mbikinin soal remidi yang model uraian…..njur diminta bikin multiple yang 1,2,3….halah……pusing…..

Kembali ke masalah ngajar yang merupakan tugas utama wdyaiswara….sebenarnya acara ngajarku sudah tak mulai waktu ngajar e-government pada Diklatnya para Camat tanggal 20 kemaren….but bagi aku sendiri, kegiatan ngajar tesebut tak anggep hanya buat pemanasan saja….gimana tidak, ngajarnya cuman 3 JP (sekitar 2 jam seprapat lah…) lawannya juga gak bikin kemringet karena yang dihadapin adalah para orang tua yang gak akrab sama sekali dengan internet….(komputer pun aku ragu mereka akrab…. maklum kebanyakan udah stw dan rata-rata wong ndeso he…he…he…). Jadi acara ngajarnya lebih mirip sosialisasi yang kering dengan diskusi….Na….baru setelah minggu terakhir ini Main Diklat kita, yakni Diklat Prajabatan dimulai lagi serta terus bergulir sepanjang tahun karena rencananya kita mo ngadain 31 angkatan buat golongan III dan 60 golongan II….belum Pim II, III, dan IV….serta penyelenggaraan diklat prajab di daerah-daerah….maka boleh dianggap para widyaiswara telah mulai sibuk bekerja…..alias mulai membuka tahun 2009….. Baca lebih lanjut

Ngajar Terakhir di 2008

Pagi ini saya bangun dengan ogah-ogahan…males rasanya….tapi ada kelegaan tersendiri. Males karena memang saat ini kondisiku lagi kurang enak….batuk dicampur pilek menghujaniku semenjak Senin hingga rasanya dada ini sedikit sakit karena kakehan watuk….Ada telepon dari Mr. Yatno buat ngajakin aku rapat sama Bu Kepala Badan…. Tapi segera kutolak karena aku hari ini pengen istirahat saja….walau tetep pengen berangkat kantor siang-siangan….walau sebenarnya gak berangkat juga gak pa-pa…namanya juga lagi sakit (walau cuman batuk pilek but karena kebanyakan obat yang kuminum….tubuh ini rasanya jadi lemes…and kalo kupaksain yang terjadi adalah tubuhku jadi panas ples keluar eringat dingin banyak sekali…). Tapi aku tetep pengen berangkat karena rasanya kangen juga jika satu hari saja gak berangkat ke kantor….gak ketemu konco-konco….sekalian flu khan bisa cepet sembuh jika tubuh banyak-banyak kena sinar matahari khan…..

Lalu mengapa aku harus lega….?! Ya….tetep lega karena kemaren adalah acara ngajarku yang terakhir di tahun 2008….walau berakhir dengan sakit…tapi gak pa-pa lah. Yang penting aku bisa istirahat (bahkan Laptop-ku pun juga minta istirahat alias minta diservis…cause tiba-tiba saja warnanya agak puder-puder gimana gitu….tampilannya mirip-mirip save mode lah. Kata mr. Vandoyo sih akibat keseringan kubawa-bawa di tas yang kutumpuk-tumpuk ama buku-buku lain hingga kabelnya trouble) Bisa terbebas dari rutinitas-rutinitas yang mulai sehabis lebaran gak pernah berhenti menjeratku….Dan masa jeda ini (karena pertengahan Januari sudah mulai dengan acara ngajar-ngajar lagi…) akan kumanfaatkan betul buat istirahat…buat lebih ngurusi my blog-blog…. posting kesana-kesini….juga ndandani sebagian power pointku agar lebih interaktif…. Rencananya sih mau banyak-banyak tak isi gambar-gambar menarik buat njelasin definisi-definisi…..tentu saja untuk itu kau harus banyak berburu gambar-gambar di internet….yang kabar baiknya, hot spot in my office katanya udah diperbaiki…. (walau katanya masih lemot juga….but gak masalah, soalnya didekat rumah sudah ada warnet murah berspeed lumayan kenceng….). Baca lebih lanjut

Bahkan Peserta Prajab Golongan II pun Bisa Pidato

Salah satu faktor yang mendukung suasana pembelajaran yang menyenangkan menurut Welberg dan Greenberg dalam buku Quantum Teaching adalah Berfikir Positif (Niat Baik). Lebih lanjut dijelaskan bahwa seorang widyaiswara harus percaya dengan kemampuan peserta diklat, apapun kondisi peserta. Dengan kata lain, widyaiswara dalam berinteraksi dengan peserta harus menganggap mereka adalah orang-orang yang top. Tetapi beberapa kecenderungan menunjukkan bahwa jika sedang berinteraksi dengan kelompok peserta berkemampuan tinggi (misal pendidikan tinggi, para pejabat), widyaiswara cenderung banyak tersenyum, lebih banyak mengobrol dengan akrab, dan berbicara dengan cara lebih intelektual dan penuh humor, menggunakan kosa kata kompleks, dan bertidak lebih matang. Sementara dengan kelompok kemampuan rendah (pendidikan rendah, staf, prajab), widyaiswara yang sama cenderung berbicara keras dan lambat (seolah-olah peserta tidak dapat mendengar), menggunakan kosa kata dasar dan kalimat mentah, jarang tersenyum, dan berinteraksi pada tingkat lebih instruksional dan otoriter. Singkatnya, widyaiswara memperlakukan peserta dengan bunyi cap mereka, sebagai pelaku akademis tinggi atau rendah.

Berkaitan dengan kalimat diatas, saya punya pengalaman menarik sekaligus mengejutkan, juga mengagumkan, tentang jenis peserta yang berkemampuan rendah itu. Peristiwanya sih hari kamis minggu kemaren, saat saya dipusingkan dengan jadwal mengajar yang begitu padat sekaligus bertumpuk-tumpuk. Gara-garanya sih ada beberapa teman widyaiswara (12 orang dari 28 rekan kami) yang terpaksa ikut Diklat TOT Kewidyaiswaraan Berjejang Tingkat Madya guna memenuhi persyaratan jika ingin naik ke jenjang Widyaiswara Utama. Kalo diitung-itung sih harusnya gak begitu ngaruh…tetapi nyatanya saya sendiri Kamis minggu kemaren itu harus mendapatkan jadwal yang bertubrukan. Di satu sisi, mulai jam 7 pagi sampai jam 10.15 aku harus ngajar di TOT Perpustakaan sementara di lain tempat saya juga harus ngajar pada Diklat Prajabatan Golongan II angkatan 54 mulai pukul 07.00 sampai jam 15.30. Pengennya sih ngeles saja dan milih di TOT Perpus-nya….but Agus staf WI dengan tegas menyatakan bahwa aku harus ngajar Prajab juga karena gak ada WI lagi. Untuk itu, dia nyaranin agar akunya ngisi di Prajab sebentar mulai jam 7….buat basa-basi and ngasih tugas….lalu jam 8 – 9 keluar buat ngajar TOT Perpus….untuk kemudian jam 9 harus balik ke Prajab lagi…..Waduh….!! Bisa lari-lari niii…… Baca lebih lanjut

Ngajar Teknik Presentasi nan Asyik…

Kata temen-temen, utamanya panitia, saya termasuk widyaiswara yang suka jika pesertanya cantik. Titenane gampang. Jika pesertane cantik-cantik maka pasti ngajarnya penuh semangat hingga pulangnya molor sendiri sampek sore…..bener juga see….tapi wajar dong….namanya juga lelaki normal. Pasti seneng dooong jika yang diajar pesertanya cantik-cantik apalagi ditambah centil lagi (yang nggak wajar khan jika akunya suka jika pesertanya ganteng-ganteng…..). Tapi sebenarnya ada yang bikin aku tambah seneng…yakni jika pesertanya pinter-pinter….ditambah bermotivasi tinggi….karena yang begitu itu akan bikin kelas menjadi hidup, bergairah….dan tentu saja yang ngajar juga gak bakalan capek ……(walau tetep tambah enak juga kalo diberi bonus…..ya itu tadi wajah yang cantik-cantik he….he….he….)

Dan demikianlah yang saya rasakan saat ngajar materi “Teknik Komunikasi dan Presentasi yang Efektif” pada Diklat Kepemimpinan Tingkat IV di Kota Solo Sabtu kemaren. Peserta yang pinter…..akrab teknologi (bahkan ada sekitar 25 % peserta bawa laptop sendiri)….sekaligus bermotivasi tinggi buat belajar….tanpa memandang bahwa sang widyaiswaranya mungkin lebih muda dari mereka. Tentu saja yang terjadi adalah kelas yang hidup, rame tanpa kehilangan arti sebuah kelas pembelajaran yang penuh dengan sharing atau saling belajar baik antar peserta maupun peserta dengan widyaiswaranya…..dan yang lebih seneng adalah kenyataan bahwa mereka merupakan para pejabat instansi pemerintah….hingga anganku melambung tinggi mengkhayalkan jika seluruh pejabat instansi pemerintah merupakan orang-orang yang pintar dan bermotivasi tinggi maka Indonesia bisa segera maju jalan…..aaahh….. Baca lebih lanjut

Untuk Yang Pertama Kali…..

Sorry, sedikit ngutip lagunya Kerispatih yang sempat jadi favoritku kemaren-kemaren…. walau dalam tulisan ini, hal itu tentu saja bukan favorit bagiku…Kalau tahun-tahun lalu saya sempet cerita tentang sulitnya ngajar materi untuk yang pertama kali….maka kali ini giliran saya mau nyeritain susahnya ngajar di lokasi diklat buat yang pertama kali, alias akunya belum pernah kesana….dan tambah susah kalo lokasinya agak terpencil dalam arti bukan ndeso banget…kalo dengan kendaraan pribadi sih diseluruh antero Jawa Tengah kayaknya gak ada yang terpencil deh….hanya saja yang mau saya ceritakan ini adalah lokasi diklat yang agak susah untuk dijangkau dengan angkutan umum.

Lokasi diklat yang akan saya ceritakan adalah di kawasan Tawangmangu Karanganyar. Terus terang sudah tiga kali saya menolak penugasan mengajar di tempat itu karena susahnya naek angkutannya kesana….Konon kata temen-temen widyaiswara, bus terakhir dari Solo sampai ke lokasi itu adalah jam 03.30 WIB….sementara bus terakhir dari Tawangmangu ke Solo adalah 17.00 WIB. Setelah itu gak ada bus sama sekali. Na…ini yang bikin lokasi ini agak mengerikan, hingga banyak para WI yang milih naik kendaraan pribadi kesana….Sebenarnya saya sudah beberapa kali datang kesana tetapi dulu-dulunya bukan dalam rangka mengajar….hanya evaluasi diklat, hingga gak perlu harus pagi-pagi nyampek kesana serta gak butuh waktu lama hingga bisa cepet-cepet pulang sebelum bis ke Solo habis di sore harinya… Baca lebih lanjut

Susahnya Ngajar Team Building

Gak tau kenapa, di bulan Juni ini tercatat sudah tiga kali saya ngajar Team Building, yakni di Prajabatan Golongan III di Badan Diklat Provinsi Jawa Tengah, di Prajabatan Golongan II Kabupaten Jepara dan Prajabatan Golongan III di Kabupaten Rembang. Frekuensi yang saya anggap sering mengingat cukup banyak rekan widyaiswara yang mengambil mata diklat ini. Mengapa banyak orang yang suka dengan mata diklat ini…?! Menurut beberapa rekan, mata diklat ini cukup menyenangkan bagi peserta hingga tidak akan menyebabkan ngantuk. Sesuatu yang logis, mengingat dalam team building (membangun kerjasama tim) banyak diisi dengan permainan-permainan bermakna yang intinya membuka kesadaran peserta akan pentingnya bekerja secara team di tempat kerjanya.

Walaupun tidak membantah pendapat para rekan tersebut, saya pribadi merasa selalu kesusahan saat hendak mengajarkan mata diklat ini. Dan saat saya konfirmasikan dengan Mr. Slamet Riyadi, salah seorang Widyaiswara yang saya anggap ahli di bidang pemerintahan, dia juga sering mengalami hal yang sama. Bagi saya sendiri, bikin peserta kagak ngantuk sih bukan sesuatu yang sulit dilakukan. Asal instrumen dan metode pengajaran yang kita berikan tepat maka peserta akan sukarela mengikuti proses pembelajaran tanpa merasa ngantuk kecuali peserta ini sakit atau dalam kondisi capek. Ada beberapa hal yang menyebabkan saya selalu susah saat mengajar materi team building, yaitu : Baca lebih lanjut

Manajemen Perkantoran Bagi Guru SMP Satu Atap…..

Guru satu atap…..?! Siapa mereka itu….?! Istilah itu saya temukan saat saya mengajar Diklat Prajabatan Golongan III di Kabupaten Pekalongan Jum’at 18 April kemaren….. Ternyata cukup menarik karena mereka adalah guru-guru pada sekolah setingkat SMP yang baru didirikan, sebagai hasil bentukan pemerintah guna mengantisipasi adanya program wajib belajar 9 tahun yang telah menjadi tekad pemerintah….Dengan murid yang juga sangat terbatas pula, yakni ada yang mengaku hanya memiliki murid 18 orang saja dalam satu kelas. Lokasi SMP satu atap itu memang rata-rata di daerah terpencil dan sulit terjangkau oleh kendaraan umum……Kalo di Pekalongan, rata-rata di daerah selatan kota yang terkenal bergunung-gunung serta masih separoh hutan itu……Dan yang lebih unik lagi adalah kenyataan bahwa SMP (Negeri) satu atap itu berlokasi di lahan yang sama dengan SD negeri….yang bahkan kepala sekolahnya pun dijabat rangkap oleh Kepala SD yang menjadi induk SMP satu atap tersebut……

Terus terang di satu sisi saya merasa gembira dengan kenyataan adanya itikad baik dari pemerintah guna mendekatkan sekolah setingkat SMP pada daerah-daerah terpencil tersebut…..Selama ini mungkin banyak anak-anak yang lulus SD tidak bisa melanjutkan sekolah ke SMP karena jauhnya jarak rumahnya yang memang terpencil itu dengan lokasi SMP yang sudah ada…..Jauhnya jarak tentu saja akan mengurangi minat anak-anak buat bersekolah karena anak akan merasa lelah jika harus berjalan kaki ke tempat jauh…. disamping kewajiban harus bangun pagi-pagi sekali agar tidak terlambat sampai sekolah…..hingga menyebabkan anak pasti males pergi ke sekolah…..Disamping itu, jauhnya jarak akan menambah beban biaya transport bagi orang tua siswa yang saya yakin pasti ekonominya juga menengah ke bawah (kalo orang kaya pasti gak mau tinggal di daerah terpencil to…..?! Dengan kondisi seperti itu, kalo kost kayaknya juga gak mungkin ya…..?!) sehingga pasti ujung-ujungnya akan mendukung si anak untuk tidak usah bersekolah saja……Dengan jarak yang dekat tentu saja diharapkan agar lebih banyak anak-anak di daerah terpencil yang memiliki minat buat melanjutkan sekolah ke SMP…. so….mungkin inilah salah satu upaya terbaik yang dilakukan pemerintah guna mensukseskan program belajar 9 tahun…… Baca lebih lanjut

Tantangan dari Para Guru Kebumen……

Mengajarkan komunikasi pada para guru…..ibarat Boso Jowone “Koyo Nguyahi Segoro….” Gimana tidak….?! Seperti kita ketahui, pekerjaan guru erat kaitannya dengan komunikasi karena sehari-hari merekalah para komunikator bagi para murid-muridnya….sehingga jam terbang mereka sebagai komunikator mungkin malah lebih banyak daripada saya yang widyaiswara ini…..Kalau ingat dan difikir-fikir tentang hal tersebut, sebenarnya takut juga aku dengan kenyataan tersebut….tapi mau bagaimana lagi, namanya juga tugas…..lagian akunya khan juga nggak ngajar bagaimana caranya berkomunikasi dengan para murid to….?! Aku khan maunya hanya ngajar agar mereka berani bicara dengan atasan dan rekan sekerjanya….. Lho apa para guru itu tidak bisa….?! Nggak separah itu sih…..Hanya saja dengan kondisi penuh derita and tekanan selama mereka menjadi guru honorer…..para CPNS guru itu mungkin agak sedikit lupa dengan yang namanya Pede, padahal itu merupakan salah satu syarat agar seseorang mampu berkomunikasi dengan baik bukan…..?!

Tapi mengajar komunikasi bagi para guru memang selalu berat dan penuh tantangan…..apalagi proses pembelajarannya dilakukan pada hari minggu malam mulai pukul 19.00….alias hari libur and dekat banget dengan namanya sindrom I hate Monday…..hingga terlihat banyak peserta yang lebih banyak diamnya…… Tetapi belum juga sejam saya mengajar, sudah ada serangan dari Pak Dokter Usodo tentang apa kapabilitas seorang insinyur peternakan seperti saya mengajarkan komunikasi pada mereka….?! Pertanyaan ujian yang lumrah ditanyakan di era demokratisasi ini, walau sebenarnya tidak etis juga untuk ditanyakan itu…..untungnya pernah saya ketahui jawabannya dari Mr. Adi Wahyudi, dengan pengalamannya yang serupa…..yakni adanya kenyataan bahwa seorang insinyur peternakan pun pernah belajar ilmu komunikasi, khususnya saat berhadapan dengan petani dalam suatu kegiatan penyuluhan…..Bahkan saya kemudian balik bertanya pada dirinya dengan sebuah pertanyaan lelucon nan berbobot, yakni sehubungan dengan profesi saya yang ahli peternakan itu….kira-kira pinter mana antara ayam dengan bebek….serta enak mana antara beras import dan beras lokal….. Sebuah trik lucu yang dekat dengan profesi saya, hingga petanyaan-pertanyaan konyol itu pasti selalu berhasil memancing tawa dan mencairkan suasana nan kaku….. Baca lebih lanjut

April Mop in Sukoharjo

Pernahkah Anda mendengar istilah April Mop…..?! Atau malah sering memperingatinya….?! April Mop pada dasarnya merupakan tradisi orang barat yang jatuh pada setiap tanggal 1 April, dimana setiap orang dibolehkan untuk berbohong walau hanya untuk lelucon saja…..Tradisi April Mop atau disono sering disebut April Fools Day sebenarnya berawal dari kalender resmi yang dulunya diperingati saat 1 April dengan acara seperti saat menyambut tahun baru seperti pesta kembang api atau dansa-dansi semalam suntuk….Hanya saja, Paus Gregory pada tahun 1562 memperkenalkan sistem kalender baru dengan awal tahun dimulai dari 1 Januari. Tetapi ada beberapa kalangan yang belum dengar atau tidak percaya adanya perubahan ini. Jadi mereka terus memperingati tahun baru pada tanggal 1 April. Orang2 inilah yang disebut April Fools atau secara harafiah berarti orang2 yang tertipu di bulan April.

Lalu apakah saya juga ikut-ikutan menipu orang-orang juga….?! Nggak persis begitu…..walau sedikit nipu juga….but semuanya masih dalam koridor diklat dalam arti game yang saya mainkan dengan sedikit drama membikin peserta diklat terlalu bersemangat hingga rada-rada ngotot and rodo tukaran…..padahal itu hanya trik agar mereka mengerti yang namanya manajemen konflik hingga menyadari rasa gak enaknya mengikuti konflik….tapi kalau dihubung-hubungkan dengan waktu ngajar saya yang tanggal 1 April itu….ples ekspresi mereka saat tahu mereka tak akali, yakni dengan teriak-teriak histeris campur ngakak-ngakak……bolehlah dikatain mereka kena tipu….alias secara tidak sadar harus memperingati April Mop juga…. Baca lebih lanjut