Meningkatkan Sikap Kepatuhan PNS menjadi suatu Komitmen

Rendahnya Motivasi Menimbulkan Masalah

Di dalam organisasi tradisional, manajemen lah yang menentukan pekerjaan, tugas dan juga menetapkan bagaimana hal tersebut harus dilaksanakan. Di dalam organisasi atau perusahaan swasta, diantara manajemen dan karyawan terdapat kontrak tertulis atau tidak tertulis yang mengatakan ”Kamu lakukan seperti yang kami perintahkan dan imbalan bagimure-exposure-of-phot0042-jakarta.JPG adalah upah yang pantas.” Selama kedua belah pihak mematuhi kewajiban masing-masing maka pekerja akan selalu patuh pada perusahaan.Pada organisasi pemerintah, kepatuhan yang dibeli dengan gaji, insentif maupun uang lembur menjadi kurang relevan. Berbeda dengan organisasi swasta, lemahnya sistem reward and punishment, apalagi sampai berujung pada pemecatan, menjadi kendala pemerintah untuk mendapatkan kepatuhan  karyawannya. Melemahnya tingkat kepatuhan PNS menjadi problem organisasi pemerintah semenjak era reformasi yang diikuti dengan paradigma desentralisasi melalui pemberlakuan otonomi daerah. Indikasi melemahnya tingkat kepatuhan PNS antara lain adalah banyak PNS yang mulai tidak patuh pada atasannya, sering tidak masuk kerja dengan alasan yang macam-macam, mulai dari sakit, melayat ke rumah tetangga, menghadiri undangan perkawinan, atau sekedar keluar kantor untuk mencari makan atau belanja. Jika dia masuk kantor, itupun sekedar memenuhi absensi utamanya kewajiban apel pagi, dan setelah itu sibuk menghindari pekerjaan yang diberikan atasan dengan berbagai alasan. Seperti diketahui, meskpun jumlah PNS cukup besar, SDM organisasi pemerintah secara kualitas dapat dikatakan cukup memprihatinkan. Dengan menurunnya tingkat kepatuhan PNS, sangatlah wajar bila kinerja organisasi pemerintah menjadi menurun. Meningkatnya jumlah keluarga miskin, naiknya harga sembako, distribusi BBM yang terhambat, meluasnya endemi flu burung, demam berdarah sampai lambatnya penanganan bencana nasional, seperti: meluasnya lumpur Lapindo Brantas, penanganan korban banjir, korban gempa dapat dijadikan indikasi lemahnya kinerja pemerintah.  Mengidentifikasi Motivasi Kerja PNSGuna meningkatkan kinerja organisasi pemerintah, pendekatan kepatuhan sebaiknya mulai diganti dengan pendekatan komitmen. Komitmen merupakan suatu fungsi dari hati dan pikiran. Komitmen mencakup perhatian yang sepenuh hati (caring) dan keterlibatan total dari seorang karyawan terhadap pekerjaannya.Seperti diketahui banyak pejabat pemerintah selalu berupaya memotivasi karyawan dengan iming-iming insentif atau honor, janji melibatkan dalam ’proyek-proyek basah’ atau janji promosi jabatan. Tidak sepenuhnya salah memang. Tetapi dalam instansi pemerintah, yang memiliki sistem penghargaan kurang proporsional, kadang di luar akal sehat atau promosi jabatan yang dikuasai oleh orang-orang tertentu, pemberian motivasi tersebut cenderung kurang baik dan hanya melahirkan kepatuhan sesaat.Motivasi dibedakan menjadi dua yaitu, intrinsic motivation dan extrinsic motivation. Kontrak kepatuhan, seperti pemberian honor, insentif, pujian, promosi jabatan merupakan contoh-contoh pemberian motivasi yang bersifat ekstrinsik. Sedangkan motivasi intrinsik lebih bersifat kepuasan atau kesenangan pribadi terhadap hasil kerja. Komitmen kebanyakan merupakan hasil dari motivasi intrinsik. Walaupun demikian, sangatlah naif jika kita menilai hal itu seperti hitam dan putih. Adanya keseimbangan tentu saja  menjadi sesuatu yang ideal. Kepuasan kerja akan berkurang apabila kita mendapat imbalan yang kurang memadai. Promosi jabatan juga tidak akan memberikan kepuasan batin jika tempat kerja yang baru tidak sesuai dengan minat, kompetensi atau latar belakang pendidikannya.          Untuk dapat mengetahui perkembangan motivasi karyawan, kita simak hasil penelitian Prof. Keneth A. Kovach dari George Mason University di Fairfax, Virginia. Penelitian ini berusaha membandingkan urutan motivasi karyawan dalam bekerja dari versi manajer, versi karyawan  tahun 1946 dan versi karyawan tahun 1995. Selengkapnya disajikan dalam tabel berikut :  

No

  Urutan Motivasi Karyawan
Versi Manajer

  Urutan Motivasi Karyawan
Versi Pekerja Tahun 1946

  Urutan Motivasi Karyawan
Versi Pekerja Tahun 1995

  Jenis Motivasi

  1.

  Upah yang baik

  5

  5


Ekstrinsik

  2.

  Jaminan pekerjaan

  4

  4


Ekstrinsik

  3.

  Promosi dan Pertumbuhan
dalam Organisasi

  7

  6


Ekstrinsik

  4.

  Kondisi pekerjaan yang baik

  9

  8


Ekstrinsik

  5.

  Pekerjaan yang menarik

  6

  1


Intrinsik

  6.

  Loyalitas pribadi kepada
karyawan

  8

  7


Ekstrinsik

  7.

  Disiplin yang bijaksana

  10

  9


Ekstrinsik

  8.

  Penghargaan Penuh untuk
Pekerjaan Yang Dilaksanakan

  1

  2


Ekstrinsik

  9.

  Bantuan Simpatik jika ada
Masalah Pribadi

  3

  10


Ekstrinsik

  10.

  Merasa dilibatkan

  2

  3


Intrinsik

Dari tabel tersebut terlihat bahwa ada perbedaan persepsi antara manajer dan pekerja tentang apa yang menjadi motivasi karyawan dalam bekerja. Dapat dilihat bahwa pemeringkatan motivasi karyawan menurut persepsi manajer sangat mendekati kontrak kepatuhan. Atau dengan kata lain, para manajer selalu memberi pendekatan secara ekstrinsik guna meningkatkan kinerja sementara pekerja lebih berfokus pada imbalan intrinsik.

Hasil penelitian tersebut tidak sepenuhnya dapat dijadikan patokan guna meningkatkan motivasi kerja aparat pemerintah. Tetapi paling tidak ada suatu gejala atau model pendekatan baru dalam upaya peningkatan motivasi kerja PNS.

Memperbaiki Lingkungan Kerja
Untuk dapat meningkatkan motivasi PNS kearah suatu komtmen kerja, organisasi pemerintah perlu berbenah diri dalam upaya memperbaiki lingkungan kerja. William Becker dalam bukunya How to OD…..and Live Tell About it (2000) mengemukakan perbedaan ciri lingkungan kerja yang menimbulkan kepatuhan dan komitmen, sebagai berikut :

  NO.

  Organisasi Yang menimbulkan
Kepatuhan

  Organisasi Yang menimbulkan
Komitmen

  1.

  Kondisi organisasi yang
sangat terkendali

  Kondisi organisasi kurang
terkendali

  2.

  Pemimpin mengandalkan pada
kecerdasan pribadi

  Pemimpin percaya pada
kecerdasan orang lain

  3.

  Percaya bahwa organisasi
dapat diperbaiki seperti mesin

  Percaya bahwa organisasi
dijalankan oleh manusia yang mempunyai kemauan sendiri dan tak dapat
”dikendalikan”

  4.

  Perencanaan dan Pengarahan
dimandatkan

  Tindakan dipacu oleh niat
terhadap rencana; konsensus lebih diprioritaskan daripada mandat

  5.

  Hanya berbagi sedikit
informasi strategis

  Setiap orang
menciptakan/berba-gi informasi strategis

  6.

  Struktur yang rumit dan
bertingkat banyak

  Struktur sederhana dan hanya
ada sedikit tingkatan

  7.

  Organisasi non-formal
menyimpan sebagian besar energi

  Organisasi non formal adalah
organisasi yang formal

  8.

  Berbagi gagasan/informasi
dihambat oleh nilai-nilai dan struktur

  Nilai-nilai/proses
memaksakan berbagi gagasan/informasi

  9.

  Solusi korporasi mendominasi
dan dimandatkan untuk semua

  Solusi lokal mendominasi dan
tidak dimandatkan kepada semua

Dari ilustrasi tabel diatas terlihat bahwa organisasi pemerintah cenderung, tidak seluruhnya benar, pada model organisasi yang memungkinkan timbul kepatuhan daripada komitmen.

Organisasi pemerintah merupakan organisasi yang sangat terkendali. Hal itu wajar mengingat selama orde baru bentuk organisasi pemerintah mengambil prototype organisasi militer, yang memang membutuhkan kondisi yang terkendali. Indikasinya jelas bahwa selama orde baru para pimpinan di instansi pemerintah umumnya dipegang oleh TNI. Bahkan sampai sekarang masih banyak kepala daerah, termasuk menteri dalam negeri, berasal dari militer. Gaya kepemimpinan militeristik yang cenderung ”mengambil tongkat komando” memerlukan tingkat kepatuhan tinggi dari anak buahnya. Akibatnya banyak PNS yang bekerja karena patuh pada pimpinannya, dalam arti takut untuk dipindahtugaskan, takut diberhentikan dari jabatannya dan takur tidak mendapat jatah proyek. Hal itu tentu saja sangat menyulitkan bagi PNS pelaksana di tingkat bawah yang tidak seluruhnya mampu memberikan insentif pada staf.

Seperti disebutkan diatas, rendahnya kalitas SDM PNS memberikan kesulitan bagi para pejabat pelaksana. Akibatnya baik tidaknya kinerja organisasi ditentukan oleh kecakapan pimpinannya. Efek negatifnya adalah staf dalam bekerja menjadi sangat tergantung pada instruksi pimpinan. Jika pimpinan tidak memberikan instruksi atau sedang dinas luar maka PNS cenderung tidak bekerja. Struktur rumit dan cenderung bertingkat juga menyebabkan macetnya aliran komunikasi dan informasi antara pimpinan instansi dengan staf terbawah. Bahkan masih banyak para pimpinan instansi yang hanya memberikan informasi atau kebijakan secara sepotong-sepotong dengan alasan rahasia.

Dengan kondisi seperti itu, PNS cenderung bertindak seperlunya saja, tidak mau peduli pada pengembangan organisasi, malas belajar, dan tidak tahu pentingnya manfaat hasil kerja terhadap kemajuan organisasi. Tentu saja tidak ada kesenangan bekerja bagi PNS sehingga mereka akan cenderung mencari kesenangan diluar bekerja. Hal ini menyebabkan komitmen PNS yang rendah terhadap unit kerjanya. Jika situasi lingkungan kerja organisasi pemerintah tidak diperbaiki maka organisasi pemerintah tetap identik dengan ”gemuk, besar, lamban dan boros.”

3 responses to “Meningkatkan Sikap Kepatuhan PNS menjadi suatu Komitmen

  1. Kenapa uang lauk pauk PNS di kenakan pajak 15% bagi yang golongan III ke atas. Kalau bisa saya usul kepada instansi terkait, bahwa sebaiknya uang lauk pauk itu dimasukkan saja di daftar gaji supaya tidak ada potongan.

  2. ha..ha…masuk daftar gaji ya sama saja kena 15%….Hey..hey lihat sisi postifnya….Dengan membayar pajak, kita adalah warga negara terhormat…bermartabat…bahkan mungkin melebihi para konglomerat yang tukang ngemplang pajak….

  3. mohon ijin mengutip untuk tugas kuliah pak

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s