Komunikasi Bottom Up Versi Guru Pekalongan

Hukum Komunikasi Efektif Versi Bottom Up

Melanjutkan tulisan saya terdahulu tentang komunikasi efektif versi bottom up, kali ini saya tampilkan hasil survey saya di Kabupaten Pekalongan, yang kebetulan semuanya berprofesi sebagai guru. Instrumen beserta hasil jawaban peserta Diklat Prajabatan Golongan III angkatan I pada Kabupaten Pekalongan, saya sajikan dalam tabel berikut :

No


Instrumen

  Jawaban Ya

  Jawaban Tidak

  Ket.

  Jumlah

  %

  Jumlah

  %

  1.

a.   Apakah Anda merasa Atasan Menghormati Anda ?

  40

  100

  0

  0

  Respect

   

b.   Apakah Anda merasa Rekan Sekerja Mengormati Anda ?

  40

  100

  0

  0

  Respect

  2.

a.  Apakah Anda seringkali harus memaklumi kebijakan-kebijakan yang
diberikan Atasan  Anda ?

  37

  92,5

  3

  7,5

  Empathy

   

b.   Apa Anda seringkali harus memaklumi hasil pekerjaan yang salah dari   Rekan Sekerja Anda ?

  36

  90

  4

  10

  Empathy

  3.

a.  Apakah Anda merasa Atasan seringkali salah persepsi saat berkomunikasi   dengan Anda ?

  2

  5

  38

  95

  Audible

   

b.   Apakah Anda merasa Rekan Sekerja seringkali salah persepsi saat
berkomunikasi dg Anda ?

  16

  40

  24

  60

  Audible

  4.

a.   Apa Anda merasa Atasan selalu memberikan Informasi Yang Anda Butuhkan ?

  14

  35

  26

  65

  Clarity

   

b.  Apa Anda merasa rekan sekerja selalu memberikan Informasi Yang Anda   Butuhkan ?

  0

  0

  40

  100

  Clarity

  5.

a. Apa Atasan   selalu merasa lebih tahu daripada Anda  ?

  21

  52,50

  19

  47,50

  Humble

   

b. Apa rekan   sekerja selalu merasa lebih tahu dari Anda  ?

   

  5

  12,50

  35

  87,50

  Humble

 1. Dari segi Respect, peserta diklat menyatakan cukup dihormati oleh atasan maupun rekan sekerja. Untuk dapat dihormati, menurut peserta, kita harus menghormati terlebih dahulu kepada mereka. Hal lain yang dapat membuat staf dihormati adalah berperilaku dan bersikap yang baik, seperti : disiplin, beretika, jujur dan bertanggung jawab. Disamping itu, hal yang juga penting adalah memiliki karakter dalam arti memiliki prinsip yang kuat utamanya terhadap kebenaran. Tentu saja karakter yang kuat tersebut harus disertai dengan nilai tambah dan kompetensi yang tinggi, sebagai misal adalah ketrampilan dalam berbahasa Inggris serta penguasaan komputer secara otomatis dapat meningkatkan rasa hormat pimpinan dan rekan sekerja.

2. Empathy. Peserta diklat umumnya dapat memaklumi jika atasan atau rekan sekerja melakukan kesalahan dalam melaksanakan tugas pekerjaan. Pada dasarnya mereka merasa atasan orang yang memiliki beban kerja yang tinggi, apalagi seringkali tugas yang datang biasanya bersifat penting, segera diselesaikan dan datangnya mendadak, sehingga wajar kalau melakukan kesalahan dalam pengambilan kebijakan. Untuk rekan sekerja, kemakluman lebih ditekankan pada perbedaan tingkat kecakapan dan persepsi antar individu yang berbeda. Walaupun demikian jika kesalahan itu bersifat krusial, utamanya menyangkut prioritas program selama satu tahun, maka mereka tak segan-segan menyampaikan masukan-masukan positif.

3. Dari segi Audible, peserta diklat umumnya memiliki kemampuan komunikasi yang cukup baik. Terbukti hanya sedikit peserta yang menyatakan terjadi salah persepsi saat berkomunikasi dengan pimpinan atau atasan. Ada beberapa tips yang diberikan peserta untuk menghindari salah persepsi, yaitu:
a. Mengetahui mitra bicara, jangan memakai bahasa yang terlalu ilmiah atau memakai bahasa asing, sehingga tidak dimengerti oleh lawan bicara
b. Tujuan pembicaraan harus jelas, jangan hanya ngalor-ngidul gak karuan atau terlalu banyak basa-basinya daripada isinya.
c. Informasi yang disampaiakan harus akurat dan cara penyampaiannya diupayakan sistematis dengan bahasa yang komunikatif
d. Waktu penyampaian harus tepat, diupayakan saat atasan atau rekan sekerja sedang selo serta mengingat mereka lebih senior maka kita harus siap menjadi pendengar yang baik

4. Clarity. Banyak peserta yang merasa bahwa tidak seluruh Informasi disampaikan pada mereka, mengingat mereka masih baru dan berstatus CPNS. Tips yang diberikan peserta agar informasi dapat disampaikan pada mereka adalah :
a. Aktif bertanya utamanya pada rekan sekerja, untuk itu perlu diciptakan lingkungan kerja yang harmonis dalam arti lingkungan kerja yang akrab dan hindari membentuk kelompok-kelompok.
b. Mengembangkan sikap saling menghargai dan saling membantu diantara sesama rekan sekerja. Disamping itu sikap saling memberikan informasi, jadi tidak hanya sekedar minta info saja. Hanya saja, saat memberikan informasi diupayakan agar tidak terlalu menggurui mengingat peserta masih ”junior” dalam usia dan dalam pengalaman kerja.

5. Humble. Hanya sedikit peserta yang memiliki rekan sekerja yang merasa lebih tahu dari mereka. Sedangkan untuk atasan, persentase atasan yang ’jaim’ cukup tinggi. Tips yang diberikan peserta agar atasan dan rekan sekerja tidak merasa lebih tahu adalah :
a. Dalam melaksanakan tugas hendaknya kita kerjakan secara mandri dan kreatif. Untuk itu, PNS perlu selalu meningkatkan wawasan dan ketrampilan. Hindari sebisa mungkin meminta bantuan pada rekan lain.
b. Mengadakan pendekatan interpersonal. Menurut peserta, kita harus tahu karakter atasan maupun setiap rekan sehingga kita dapat menyesuaikan diri dengan mereka. Hindari pembedaan sikap karena status , anggap atasan atau rekan sebagai parter/relasi kerja.

Dari hasil survei tersebut, saya merasa iri dengan para guru utamanya dari segi keakraban lingkungan pekerjaannya. Ya…imbalan yang diterima seorang PNS memang sebaiknya tidak berbentuk uang saja, tetapi dapat berupa kondisi kerja yang baik, kesehatan, kepuasan kerja, dan pengembangan diri. Menurut saya itu lebih didapatkan oleh PNS yang berstatus guru atau jabatan fungsional lainnya….termasuk widyaiswara. Sedangkan PNS yang bekerja pada Pemda atau dinas/instansi atau staf/pejabat struktural sangat sedikit medapatkan imbalan ”immateriil”…..bahkan kadang-kadang imbalan sedikit uang pun tak dapat………………

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s