Apa Yang Salah Dengan IPDN…?!

”kekerasan tidak akan menghasilkan pendidikan…. kekerasan hanya akan melahirkan kebencian, dendam dan ketakutan…..dan kesemuanya itu bermuara pada lautan kesedihan dan penyesalan…. ”

Berita apa yang paling ditunggu dan paling Top minggu ini ?! Jawabnya cuma satu IPDN….!! Yah…salah satu lembaga pendidikan milik pemerintah ini tiba-tiba namanya begitu mencuat…sayangnya mencuat bukan karena baunya yang harum….yah…IPDN mencuat namanya karena adanya peristiwa kematian (lagi-lagi) Praja Clif Muntu…. Belum lagi kita lupa dengan peristiwa kematian Praja Wahyu Hidayat akibat tindak kekerasan para senior…bahkan putusan pengadilan pun belum sepenuhnya dijatuhkan…..tiba-tiba muncul lagi kasus tragis serupa….sehingga wajar kalau semua pihak heran, terkejut, dan marah…Bahkan dibeberapa provinsi muncul pernyataan menolak mengirimkan putra terbaiknya untuk dididik menjadi praja IPDN…..dan tuntutannya jelas reformasi total sistem pendidikan di IPDN, atau kalau tidak…. bubarkan saja……

Saya sendiri heran campur bingung melihat fenomena kekerasan di IPDN yang banyak dsajikan televisi…..Bagaimana bisa sekolah calon pemimpin birokrasi malah memberi contoh kekerasan yang begitu mengerikan….Apa yang salah dengan IPDN…..?! Bagaimana sistem kurukulum yang diterapkan dalam sekolah birokrat itu….?! Saya kemudian banyak bertanya pada para alumni ’mbahnya’ IPDN (APDN) yang kebetulan ada di kantor saya……Umumnya mereka memang mengakui adanya kekerasan dalam APDN zaman dulu…tetapi masih dalam batas wajar….dalam arti mereka tetap menganggap kekerasan yang dilakukan praja IPDN masa sekarang sudah diluar batas…… tidak manusiawi, jauh dari semangat mendisiplinkan dan lebih dekat pada penindasan senior pada juniornya ….

Tiba-tiba saya teringat dengan peristiwa pertemuan saya dengan seorang alumni STPDN….Waktu itu saya yang selalu antusias dengan para pemuda…begitu tertarik dengan salah seorang murid saya yang begitu menonjol….bukan karena kepintarannya…tetapi lebih pada kediamannya….ditengah riuh rendah peserta lain di sekelilingnya. Yah…saya memang selalu mendesain kelas saya agar hidup, aktif, ceria, riuh bahkan kalau bisa seperti suasana kafe musik….. atau pasar hewan pun juga bagus….Tetapi saya melihat pemuda itu bagai pertapa nan keukeuh akan godaan……”Lulusan IPDN Pak….” begitu peserta disebelahnya berkomentar….. Dan ini tambah menarik….!! Saya jadi tertantang untuk meruntuhkan gunung es itu….. Begitulah, dengan beberapa tugas kecil dan suasana akrab peserta lain….anak itu akhirnya dapat sedikit berbaur walau mendung masih tetap tipis menggelayut di wajahnya…..tetapi lumayanlah…..

Waktu itu saya mengambil kesimpulan bahwa dia diam karena kebetulan dia yang termuda dan pegawai paling baru sehingga dia mungkin sedikit minder dengan peserta lain yang umumnya sudah senior……Saya terkejut saat menjelang akhir pelatihan….yang berjalan seminggu itu….dia tiba-tiba mengajukan pertanyaan dengan polosnya….
”Pak…..apa setiap pelatihan yang diselenggarakan selalu begini….”
”Maksudnya apa..?!” saya kurang mengerti dengan arah pertanyaannya
”Apakah suasananya selalu santai, bebas dan tetawa-tawa…” Wajahnya terlihat polos dan sungguh-sungguh saat menanyakan pertanyaan itu. Meski masih belum begitu mengerti maksudnya, saya coba menjawab pertanyaannya….
”Ya…begitulah kira-kira. Kita yakin bahwa dalam pembelajaran orang dewasa, materi akan lebih dimengerti peserta jika kita santai…ceria…senang…. ” Kemudian masih dengan bingung saya coba bertanya balik…”Apakah Anda senang dengan suasana seperti ini…?”
”Ya… Pak…” Dia menjawab pendek sambil tersenyum tipis…dan obrolan itu segera berlalu dengan menyisakan begitu banyak pertanyaan di benak saya tentang maksud pertanyaan anak pendiam itu…..

Dengan berbagai peristiwa yang terjadi saat ini di IPDN…juga dari keterangan Bapak Inu Kencana di televisi…yang intinya mengungkapkan bahwa Clif Muntu hanyalah salah satu korban dari banyak korban lain dengan kadar yang lebih kecil, yang menurut catatan Inu ada sekitar 600 kasus di IPDN dari tahun 2004 sampai 2007(Masya Allah…..!!)…. saya mengambil kesimpulan bahwa sistem pendidikan yang diterapkan di IPDN memang salah…..Dengan menghubungkan cerita saya diatas….ada satu kesalahan mendasar yang kita bisa perkirakan….yakni IPDN mencetak seorang PNS untuk lebih banyak diam….manut dengan senior tanpa punya hak bicara…..suasana kerja harus kaku….serius…jauh dari senyum dan keceriaan….. Sebuah prinsip yang tidak cocok lagi diterapkan di zaman keterbukaan saat ini….

Kita tahu bahwa paradigma pemerintahan saat ini telah bergeser dari ’police state’ yang cenderung kaku dan berorientasi keamanan dan ketertiban masyarakat….kearah ’welfare state’ dimana pemerintah lebih dituntut untuk mewujudkan kebahagiaan dan kesejahteraan rakyat dalam segala aspek kehidupan. Untuk mewujudkan hal tersebut, pemerintah harus merubah sosok dari seorang ”Pamong Praja”, yang lebih bersifat mengatur masyarakat, kearah ”Pangreh Praja”, yang lebih bersifat abdi masyarakat atau public servant (pelayan masyarakat). Dari konsep itu, ada beberapa hal yang harus dilakukan oleh aparat pemerintah agar sukses sebagai public servant, yaitu :

1. Kejelasan
Pelayanan yang dilakukan Aparat Pemerintah harus jelas dari segi sistem dan prosedur yang ditetapkan, sehingga masyarakat dapat mengerti hak dan kewajibannya.Nilai-nilai yang dapat dikembangkan oleh PNS adalah jiwa positive thinking, kejujuran, keterbukaan, ketepatan dan kecepatan, cinta kebenaran, senang memberi, dan senang menyenangkan orang lain.

2. Konsitensi
Aparat pemerintah dituntut konsisten dalam menerapkan aturan sehingga kesan bahwa birokrasi identik dengan ”berbelit-belit, biaya mahal, dan waktu yang lama” dapat ditepis. Nilai-nilai yang dapat dikembangkan oleh PNS adalah tegas, disiplin, senang mempermudah, objektif, dan senantiasa bersikap adil.

3. Komunikasi
Aparat pemerintah dituntut memiliki sikap komunikatif saat memberikan pelayanan kepada masyarakat. Sikap-sikap seperti empathy, berorientasi pada solusi, ramah, sopan, rapi, adaptable, ceria, senang bergaul, penuh hormat pada yang tua, serta sayang pada yang lebih muda, diharapkan dimiliki oleh PNS.

4. Komitmen
Pelayanan yang dilakukan pada masyarakat tidak akan berhasil jika tidak ada komitmen tinggi dari aparat pelaksananya. Disini sikap suka bekerja, setia, loyal, setiakawan, berdedikasi tinggi, responsive, bermotivasi tinggi, mutlak diperlukan

Dari uraian saya tersebut…jelaslah bagi kita nilai-nilai yang harus dimiliki seorang PNS agar dapat melayani masyarakat dengan baik….dan nilai-nilai itulah yang seharusnya dikembangkan oleh pihak IPDN…sekaligus diterapkan dalam kurikulum yang nantinya diajarkan pada para praja IPDN….Sedangkan nilai-nilai kekerasan, pengasuhan yang cenderung kurang objektif karena lekat dengan sikap kedaerahan, serta lekat dengan kepatuhan membabibuta junior pada seniornya…sudah selayaknya dihilangkan dari kampus IPDN…..

Tetapi akhirnya saya mengambil kesimpulan bahwa para praja IPDN itu, seluruhnya tanpa terkecuali termasuk juga para ’petinjunya, adalah korban….. Ya…korban dari sistem pendidikan yang keliru….korban kurikulum yang salah terap…korban pendisiplinan yang ketinggalan zaman…..Sehingga saya hanya dapat meneruskan pesan dari Ketua Alumni IPDN Mr. Safrizal……”Bagi Anda alumni IPDN….tetaplah bekerja dengan baik…” Jangan minder…jangan malu….anda hanyalah korban…Yang penting bukanlah sibuk menyesali peristiwa yang terjadi….Tetapi lebih penting Anda memiliki tekad kuat untuk memperbaiki diri…bekerja dengan lebih semangat…lebih profesional….Walaupun input pendidikan Anda salah….tunjukkan bahwa Anda bisa berubah…..tunjukkan bahwa Anda memang pantas menjadi pemimpin seperti yang dicita-citakan para pendiri IPDN….

One response to “Apa Yang Salah Dengan IPDN…?!

  1. IPDN?

    Entah apa yang ada dipikiran para aparat pemerintah kita, mungkin betul kata Kolumnis Budhiarto Shambazy bahwa kita adalan “Insane Society“, masyarakat tak waras, yang pandai memutarbalikkan kebodohan menjadi kecerdasan, kekerasan menjadi disiplin, dan kebenaran menjadi sampah, sementara kebohongan menjadi barang manis….

    Luar biasa, para praja yang menjadi TERPIDANA pembunuhan Praja STPDN Wahyu Hidayat di tahun 2003 itu rupanya belum pernah me’nikmati’ eksekusi dari pengadilan, walau proses hukum mereka sudah selesai sejak 2005 lalu yang menghasilkan keputusan pengadilan Tinggi Bandung; masing2 (HANYA) 10 bulan penjara . Bahkan Mahkamah Agung sudah menolak kasasi yang mereka ajukan. Tapi BERUNTUNGLAH praja-praja pembunuh itu, status sosialnya membuat mereka diBOLEHKAN untuk menyelesaikan study di STPDN, walau dulu secara seremonial dinyatakan DIPECAT dari pendidikan. Bahkan mereka dijadikan PNS di lingkungan Pemerintahan Kota Bandung dan Sumedang. Mereka JAUH lebih BERUNTUNG dari maling ayam, maling motor, koruptor teri, dll yang langsung diBUI ketika mulai diadili, dan hukumannya bisa lebih dari SETAHUN!!.

    Empat dari terpidana itu; Bangun Robinson, Bennarekha Fibrianto, Oktaviano Santoso, dan hendi Setiadi menikmati indahnya menjadi PNS di Pemkot Bandung. Terus dua lainnya menjadi pegawai Pemda Sumedang. Enak nian, sudah membunuh praja, dipecat, diadili, divonis, tapi bisa kembali kuliah, diangkat jadi PNS dan melupakan ‘kejahatan’ nya di tahun 2003 ketika dengan arogannya membantai Wahyu Hidayat!

    Memang insitusi sombong itu perlu dibubarkan, senasib dengan rektornya yang dinon aktifkan. Beberapa pemerintah daerah seperti beberapa kabupaten di Prop Kaltim juga sudah bertekad untuk MENOLAK lulusan IPDN itu, terkait budaya kekerasan yang dipraktekkan. Daerah lain seperti Papua mengajukan untuk memiliki sistem dan sekolah IPDN sendiri. Jawa tengah sudah keberatan untuk membiayai IPDN.

    Seperti kata Tosari Wijaya, anggota DPR dari FPPP, IPDN hanya menghasilkan Drakula yang berseragam. Sadis.

    Thread detik.com beritanya:
    – Aneh, 8 penganiaya Wahyu Hidayat belum dieksekusi
    – 4 Penganiaya Praja Wahyu Hidayat bekerja di Pemkot Bandung
    – 2 Penganiaya Praja Wahyu Hidayat bekerja di Pemda Sumedang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s