Mulailah Komunikasi Anda dengan Mendengarkan

Kualitas Pembicara atau Kualitas Pendengar ? 

 

  “Memang sulit untuk berbicara, tetapi lebih sulit lagi untuk diam”

Dewasa ini sebagian besar pekerjaan kantor di instansi pemerintah didominasi oleh kegiatan komunikasi, dengan cara terbaik adalah melalui komunikasi lisan dan umumnya berupa sebuah percakapan. Abu Barker mengungkapkan bahwa sebuah percakapan adalah perpaduan antara pembicaraan dan pendengaran yang bersifat dinamis. Sedangkan Peter Senge menyebutkan bahwa berbicara merupakan cara seseorang membela sudut pandangnya. Sementara, mendengar adalah proses menyelidiki sudut pandang orang lain. Oleh karena itu idealnya dalam sebuah percakapan harus ada keseimbangan antara kegiatan berbicara dan mendengarkan. Tetapi kemudian timbul pikiran usil, kira-kira lebih penting mana antara kualitas pembicara atau kualitas pendengar ?

Dan jika pertanyaan itu saya lontarkan pada peserta diklat, jawabannya….”Ya…penting dua-duanya pak…?! Kalau saya kejar lagi…agar mereka memilih salah satu yang lebih penting….maka kebanyakan akan menjawab…. ”lebih penting kualitas pembicara…” (ini mungkin berpatokan pada kualitas pembicara yang waktu itu saya….he…he…he…). Ya….secara logis memang demikian. Karena komando sebuah percakapan terletak pada si pembicara. Seorang pembicara yang baik, dalam arti memiliki banyak pengetahuan dan pengalaman, intelegensia tinggi serta kepribadian yang menarik, akan mampu mempengaruhi pendengar, mengajak pendengar ke arah yang dimaui pembicara. Tetapi mengapa saya mengambil judul yang seolah-olah mementingkan kualitas pendengar….?!

Pada masa lalu memang kualitas pembicara lebih mendominasi, terutama di masa jaya komunikasi satu arah (one way communication) dimana pembicara banyak memberikan pengetahuan, ketrampilan, intelegensia, maupun pengelamannya guna mencerdaskan pendengar. Tetapi di era teknologi informasi ini, bahkan Thomas L. Friedman sampai-sampai tega menulis buku yang berjudul The World is Flat, segala informasi yang ada di dunia begitu mudah kita dapat dan dalam jumlah yang sangat besar maka pertukaran pengetahuan, pengalaman, intelegensia, dan informasi antar individu menjadi lebih penting, sehingga komunikasi yang terjadi lebih bersifat dua arah (two ways of flow communication). Na…disini baru keliatan kalo kulitas pendengar lebih dibutuhkan. Penjelasannya adalah sebagai berikut :

1. Jumlah Informasi vs Kapasitas Otak Manusia
Dengan begitu banyak perkembangan kompleksitas kehidupan umat manusia maka kebutuhan informasi menjadi demikian tinggi. Akibatnya, kemampuan otak manusia yang terbatas, utamanya yang berhubungan dengan daya ingat, tidak dapat lagi menampung begitu melimpahnya informasi yang masuk. Bahkan dengan bantuan sistem kearsipan yang konvensional, informasi yang masuk mungkin akan memenuhi lemari-lemari arsip yang disediakan.Oleh karena itu, manusia butuh bantuan alat penyimpan berkapasitas besar tetapi memakan space yang relatif kecil, yakni komputer, guna menampung berlimpahnya data dan informasi.. Disamping dalam jumlah yang besar, informasi yang disediakan juga tersebar dalam berbagai sumber. Akibatnya seorang pembicara terbaik sekalipun akan kesulitan untuk mengungkapkan seluruh informasi yang dibutuhkan oleh pendengar. Oleh karena itu, setiap manusia perlu lebih banyak mendengar sekaligus meningkatkan kemampuan mendengarnya guna mendapatkan seluruh informasi yang dibutuhkan dalam kehidupan mereka. Semakin banyak mendengar maka informasi yang diperoleh juga semakin banyak dan beragam. Dengan semakin banyaknya informasi yang didapat maka kualitas kehidupan seseorang secara otomatis juga akan meningkat.

2. Proses Mendengarkan lebih Sulit
Mengapa demikian ? Seperti definisi yang dikemukakan Peter Senge diatas, proses menyelidiki sudut pandang orang lain itu lebih sulit daripada sekedar membela sudut pandang seseorang. Ada tiga hal yang harus dilakukan oleh pembicara yang baik yakni: mengirimkan pesan dengan jelas, memilih media dengan tepat, dan meminta kejelasan bahwa pesan telah diterima dengan baik. Dalam proses mendengar, kegiatan itu menjadi lebih sulit dan panjang. Menurut Brownell, ada enam unsur yang harus dilalui seseorang jika ingin menjadi pendengar yang baik, yang disingkat menjadi HURIER, yakni : a) Hearing, berusaha memperhatikan dengan konsentrasi penuh; b) Understanding, berusaha mengerti pesan secara komprehensif; c) Remembering, mencoba mengingat pesan kalau perlu dengan membuat catatan-catatan kecil; d) Interpreting, mencoba menginterpretasi pesan dengan objektif kalau perlu dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan penegas; e) Evaluating, disini Anda tidak perlu tergesa-gesa dan tunggu sampai pembicara menjelaskan seluruh pesan; f) Responding, mencoba mengulang pesan guna menunjukkan adanya perhatian sekaligus menghindari kesalahpahaman terhadap pesan.

3. Faktor Kepribadian Pembicara
Bagaimana dengan faktor biologis, misalnya dengan pembicara yang gagu, gagap, atau malah bisu ? Bagaimana dengan pembicara yang berpengetahuan rendah atau memiliki sifat pemalu ? Bukankah hal itu akan menurunkan kualitas sebuah percakapan ? Anda benar, tetapi apakah Anda akan menyerah untuk mendapatkan informasi jika menghadapi pembicara yang seperti itu dan cepat-cepat mengakhiri percakapan ? Bagaimana kalau Anda ditugaskan untuk mengadakan survey tentang pemberdayaan masyarakat di daerah pedesaan. Saya yakin, walupun pembicara merupakan orang desa yang kurang mampu berbicara dengan runtut, Anda akan berusaha mengerti maksud dari pembicara yang ’bodoh’ itu. Disini, kualitas informasi yang Anda dapatkan sangat bergantung dari kualitas pribadi Anda dalam mendengarkan, menganalisis, serta mengintrepretasikan maksud dari pembicara. Sedangkan terhadap orang gagu, gagap, atau bisu ? Tentu saja kualitas pendengar lebih berpengaruh, mengingat begitu banyak orang yang mengerti bahasa ’tarzan’ mereka. Bahkan seorang presenter yang baik akan mengerti kondisi audiens dengan mendengar bahasa diam yang ditunjukkan sebagian besar audienz atau dengan melihat perilaku audiens yang sering menguap….

4.Tuhan pun menginginkan kita untuk lebih mendengarkan
Ada pepatah kuno yang mangatakan bahwa “Tuhan memberi kita dua telinga dan satu mulut, supaya kita mendengar dua kali lebih banyak daripada berbicara.” Ya…itulah rahmat yang diberikan Tuhan pada kita…yakni dua buah telinga dan satu mulut, bukan untuk membuat kita lebih banyak berbicara melainkan untuk lebih banyak mendengar segala sesuatu, baik dari orang lain, masyarakat, maupun lingkungan kita..

Na….tunggu apalagi….mulailah komunikasi Anda dengan lebih banyak mendengar

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s