Mengajar Orang Yang Gak Niat Belajar

Kalau kemaren saya sudah menceritakan cara ’ngakali’ orang capek agar mau belajar…..maka kali ini saya ditugasi ngajar orang yang gak niat belajar. Bagaiimana tidak….?! Jadwal mengajar saya adalah hari Jum’at siang, sehabis Jum’atan dan berakhir sampai jam 9 malam. Padahal Sabtu khan libur, tanggal merah lagi….Bayangkan betapa kemrungsungnya peserta yang pengen pulang……Bahkan kalau mau jujur, saya sendiri yo agak aras-arasen ngajar ’cos hawane wes prei itu…..Dan yang lebih parah, salah satu panitia sempat membujuk saya buat ngakhiri kegiatan mengajar pada saat Magrib saja……Berat….!!

Saya sendiri sebenarnya agak grogi juga ngajar hari itu…..Soalnya pengalaman lalu-lalu saat ngajar orang-orang ’gak niat’ memang begitu berat, merusak mood ngajar, bahkan sedikit provokasi peserta juga sempat saya terima…..bikin trauma deh….. Apa lagi peserta diklat ini berasal dari Provinsi Jawa Tengah yang terkenal kritis ples ngeyel-ngeyel…….But sekali lagi cara terbaik menghadapinya bukanlah mengandalkan bakat mengajar dan kemampuan komunikasi yang top, melainkan perencanaan and skenario mengajar yang harus disusun dengan maksimal…… So….ibarat mau bikin film, nyusun skenarionya yang berat, sedangkan saat pelaksanaan….tinggal ngglundung saja…..


Satu keputusan sulit yang harus saya ambil dalam menjalankan skenario pembelajaran adalah memperbanyak game-game menarik, joke-joke lucu…..dan dengan sangat menyesal saya harus katakan…..dengan mengorbankan konten tentunya……Ya….khan sudah ada modulnya, mereka sudah dewasa, bisa baca sendiri kalau tertarik bukan….?! Demikian saya menghibur diri dari rasa bersalah saya……By The Way…..kelas saya sore itu benar-benar riuh dengan gelak tawa akibat skenario saya tersebut……Bahkan panitia sampai heran dengan kelas riuh saya……Dan salah seorang senior WI malah sempat berkata…..”wah….kamu sedang mengeluarkan jurus-jurus maut ya…….Hebat……”

Seperti biasa, saat malam hari kupergunakan untuk melakukan diskusi tentang ”Hukum Komunikasi Efektif versi bottom up”. Disini saya tambahkan satu materi tentang etika penggunaan handphone di lingkungan kantor. Sedangkan instrumen beserta hasil jawaban peserta, saya sajikan dalam tabel berikut :

No


Instrumen

  Jawaban Ya

  Jawaban Tidak

  Ket.

  Jumlah

  %

  Jumlah

  %

  1.

a.   Apakah Anda merasa Atasan Menghormati Anda ?

  47

  100

  0

  0

  Respect

   

  b.  Apakah Anda merasa Rekan Sekerja Mengormati Anda ?

  47

  100

  0

  0

  Respect

  2.

  a.   Apakah Anda seringkali harus memaklumi kebijakan-kebijakan yang
diberikan Atasan  Anda ?

  46

  97,87

  1

  2,13

  Empathy

   

  b.  Apa Anda seringkali harus memaklumi hasil pekerjaan yang salah dari   Rekan Sekerja Anda ?

  18

  38,30

  29

  61,70

  Empathy

  3.

  a.  Apakah Anda merasa Atasan seringkali salah persepsi saat berkomunikasi   dengan Anda ?

  0

  0

  47

  100

  Audible

   

  b.  Apakah Anda merasa Rekan Sekerja seringkali salah persepsi saat
berkomunikasi dg Anda ?

  0

  0

  47

  100

  Audible

  4.

  a.   Apa Anda merasa Atasan selalu memberikan Informasi Yang Anda Butuhkan ?

  47

  100

  0

  0

  Clarity

   

  b.   Apa Anda merasa rekan sekerja selalu memberikan Informasi Yang Anda   Butuhkan ?

  45

  95,74

  2

  4,26

  Clarity

  5.

  a. Apa Atasan   selalu merasa lebih tahu daripada Anda  ?

  41

  87,23

  6

  12,77

  Humble

   

  b. Apa rekan   sekerja selalu merasa lebih tahu dari Anda  ?

 

  3

  6,38

  44

  93,62

  Humble

  6.

  Apakah Anda merasa penggunaan Handphone di lingkungan kantor sudah
berlebihan ?

  10

  21,28

  37

  78,72

  Etika ber Hand Phone

1. Dari segi Respect, peserta diklat menyatakan cukup dihormati oleh atasan maupun rekan sekerja. Tips agar dihormati oleh atasan dan rekan sekerja menurut peserta adalah bekerja secara profesional sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan. Hal lain yang perlu diperhatikan adalah sikap tidak menolak pekerjaan yang diberikan atasan, walau pekerjaan itu sulit atau kita sedang sibuk. Dari segi sikap, hal yang perlu dilakukan adalah bersikap sopan terhadap atasan dan rekan, berkeinginan untuk bekerjasama serta hindari sikap sombong. Ada pertanyaan menarik yakni bagaimana agar sikap kita tidak terkesan menjilat…..Jawabannya adalah bersikap wajar serta tidak berlebihan. Bagi saya sendiri, jika kita memang tidak berniat menjilat maka itu akan tampak dalam tingkah kita saat menghadapi mereka. Karena sesuatu yang keluar dari dalam pasti akan terpancar keluar……

2. Empathy. Peserta diklat umumnya dapat memaklumi jika atasan atau rekan sekerja melakukan kesalahan dalam melaksanakan tugas pekerjaan. Walaupun demikian jika situasi dan kondisi memungkinkan mereka tak segan-segan menyampaikan masukan-masukan positif. Dalam memberikan masukan pada atasan atau rekan sekerja, peserta diklat memiliki tips:
a. Perhatikan waktu saat menyampaikan saran
b. Gunakan bahasa yang sopan dan tidak menyinggung perasaan
c. Untuk rekan sekerja, perlu ditunjukkan letak kesalahan, dengan disertai data-data, serta resiko-resiko jika pekerjaan itu tetap dilaksanakan.
d. Khusus untuk atasan, yang perlu kita lakukan hanyalah melakukan diskusi-diskusi yang didukung data-data dan resiko-resiko serta alternatif pemecahan masalah yang memungkinkan (tanpa diberitahu letak kesalahannya).
e. Yang lebih penting, jika saran kita tak diterima…..gak boleh marah…..

3. Dari segi Audible, peserta diklat umumnya memiliki kemampuan komunikasi yang cukup baik. Terbukti tak satu pun peserta yang mengaku terjadi salah persepsi saat berkomunikasi dengan pimpinan atau rekan. Untuk menghindari salah persepsi, menurut peserta, kita harus harus bisa membawa diri dalam arti bersikap sopan, hati-hati, serta tak boleh berlebihan. Pesan yang disampaikan harus jelas, mudah difahami, tidak bertele-tele serta tidak mengulang-ngulang pertanyaan hingga terkesan rese atau oon banget…..

4. Clarity. Banyak peserta yang merasa bahwa tidak seluruh Informasi disampaikan pada mereka, mengingat mereka masih baru dan berstatus CPNS. Tips yang diberikan peserta agar informasi dapat disampaikan pada mereka adalah :
a. Menjalankan komunikasi yang baik dengan atasan dan rekan sekerja.
b. Berusaha membentuk tim kerja yang baik.
c. Berusaha mengerjakan pekerjaan yang diberikan dengan sebaik-baiknya.
Ada pertanyaan, bagaimana jika atasan kita jarang ditempat. Jawabnya adalah manfaatkan waktu rapat sebagai ajang untuk bertanya dan berkoordinasi dengan atasan. Selebihnya kita lakukan pekerjaan dengan semampu kita, berusaha untuk kreatif dan berinisiatif dalam mengerjakan pekerjaan kita.

5. Humble. Hanya sedikit peserta yang memiliki rekan sekerja yang merasa lebih tahu dari mereka. Sedangkan untuk atasan, persentase atasan yang ’jaim’ cukup tinggi. Tips yang diberikan peserta agar atasan dan rekan sekerja tidak merasa lebih tahu adalah :
a. Tunjukkan kerja nyata dan karya kita agar dapat dipercaya.
b. Mendiskusikan permasalah yang perlu-perlu saja pada atasan, dalam arti tidak sedikit-sedikit bertanya.
c. Gunakan bahasa yang halus dan sopan saat berdiskusi, juga hindari kesan menggurui

6. Penggunaan ponsel berlebihan di kantor tampak pada hal-hal berikut: mempergunakan HP di jam kerja lebih dari satu jam, nada dering yang keras seringkali mengganggu, tingkah atasan yang sering mempergunakan HP terlalu lama sehingga menghambat proses koordinasi pekerjaan. Ada beberapa tips yang diberikan oleh peserta untuk meningkatkan etika dalam berponsel di lingkungan kantor, yaitu:
a. Kalau memungkinkan, dibuat kesepakatan penerimaan HP di kantor, baik dari segi tempat, waktu, maupun lama penggunaannya.
b. Selama jam kerja, apalagi saat rapat, gunakan nada getar saja.
c. Adanya komitmen untuk memahami peraturan
d. Jika saat bercakap-cakap ada panggilan melalui HP, maka yang perlu dilakukan adalah minta ma’af pada lawan bicara dan permisi untuk menerima panggilan via HP tersebut.

Diskusi malam itu saya atur dengan ketat. Dan sesuai dengan materi komunikasi, maka saya minta mereka latihan melakukan diskusi hanya selama 10 menit. Moderator saya minta mengelola waktu dengan baik. Demikian juga bagi penyaji agar latihan menyampaikan materi hanya sesuai waktu yang diberikan moderator. Hasilnya, diskusi berjalan lancar dan cukup bermakna. So….acara akhirnya bisa saya akhiri saat 08.30 WIB…….lumayan dan sangat win-win solution bukan….?! Tapi yang lebih membahagiakan bagi saya adalah hasil diskusi itu sendiri……yang sedikit banyak menunjukkan adanya lingkungan kantor yang nyaman, kondusif dan sekaligus mendukung pengembangan para junior-junior di Provinsi Jawa Tengah……

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s