Menerapkan Manajemen Tukang Cukur pada Diklat Penyuluh Pertanian

Kemis siang saat mau sholat ke Masjid, ada suara renyah menyapa “Wah…ini dia manusia langka…gak pernah ketok….sibuk macul terus…!!” begitu Mr.Slamet Riyadi dengan gaya khasnya menyapa…. “tapi hebat….nyusun kurikulum sendiri….nyusun modulnya juga sendiri…..trus diajar sendiri dan dievaluasi sendiri juga…..” Akunya hanya mesam-mesem saja…tanpa merasa tersindir…’cos walau beda jurusan tapi dengan Mr. Slamet gak perlu ada saingan-saingan….soalnya fren sich….hingga dengan enteng aku nyauri….”Ya…situ juga gitu dong….buat diklat apa kek….” Aku coba memberi semangat…. ”Waah…. susah, soalnya aku jurusannya pemerintahan….banyak WI yang bisa….Kalau aku seperti itu bisa-bisa diprotes wong akeh…..”

Diprotes wong akeh…..itu juga menjadi beban fikiranku juga….dan sudah ada yang protes juga….Soalnya dengan begini aku telah menerapkan manajemen tukang cukur…. ples manajemen monopoli juga…..Tapi kalau difikir-fikir bahwa Diklat Penyuluh Pertanian Tingkat Ahli ini telah aku siapkan bersama Mr. Adi Wahyudi sejak sebelum puasa…..koq rasanya wajar aku maen monopoli….alias hanya tak bagi sama orang-orang tertentu saja….Walaupun demikian, terus terang diklat ini memang telah tak siapin dengan sebaik-baiknya….dalam arti ada visi dan misi yang jelas disitu….sehingga aku tak mau jika tujuan diklat yang telah aku rancang itu jadi ajang bagi-bagi jam pelajaran hingga melenceng dari maksudku….. Sehingga aku memilih memonopoli diklat ini….

Semuanya bermula saat kita (Aku and Mr. Adi) ditugasi sama Bidang Fungsional buat nylametin kegiatan mereka yang ternyata gagal mendapat kesepakatan dari Deptan….so…daripada anggarannya dikembalikan, kami diminta untuk mendesain ulang Diklat Penyuluh Pertanian Tingkat Dasar dan Tingkat Ahli yang kadung mereka programkan…. Ya….sudah, kesempatan tidak datang dua kali…..kami terima tugas itu…sekalian menegaskan ‘core’ kompetensi kami sebagai widyaiswara….. yakni pada bidang pertanian……

Untuk Diklat Penyuluh Pertanian Tingkat Dasar, filosofi yang kami masukkan adalah bagaimana mengajarkan pada penyuluh untuk dapat menyusun proposal kelayakan usaha dari bidang pertanian yang dapat dipakai untuk mencari pinjaman pada pihak perbankan….Untuk itu kami mengundang juga BRI, sebagai salah satu bank yang dekat dengan pertanian, menjadi narasumber penyusunan studi kelayakan tersebut….Dengan berpedoman pada tujuan diklat diatas, kami kemudian menyusun rancangan kurikulum sebagai berikut :
1. Mata Pelajaran Dasar
a. Pengarahan Program (4 JP)
b. Kebijakan Diklat Aparatur (4 JP)
c. Revitalisasi Pertanian (4 JP)
2. Mata Pelajaran Pokok
a. Dasar-dasar Kewirausahaan Pertanian (6 JP)
b. Strategi Bisnis dan Pemasaran Pertanian (6 JP)
c. Penyusunan Kelayakan Usaha Pertanian (10 JP)
d. Prosedur Pengajuan Kelayakan Usaha (4 JP)
e. Presentasi dan Penilaian Kelayakan Usaha Pertanian (8 JP)
3. Mata Pelajaran Penunjang
a. Motivasi Peningkatan Kinerja Penyuluh Pertanian (4 JP)

Setelah diklat penyuluh tingkat dasar itu selesai kami garap pada bulan Agustus, kemudian kami mulai konsentrasi guna mendesain diklat Penyuluh Pertanian Tingkat Ahli…..Sempat terjadi kebuntuan juga dengan penyusunan filosofi and kurikulum diklat…..Semula kami berkeinginan untuk mendesain diklat sebagai lanjutan diklat penyuluhan tingkat dasar, yakni dengan mempraktekkan teori-teori pemasaran pada kegiatan nyata….yakni dengan mencoba menganalisis kondisi pemasaran produk pertanian pada pasar lokal, pasar induk dan pasar modern (supermarket)….Tetapi ternyata Diklat Penyuluh Tingkat Ahli dirancang untuk 17 hari sehingga membutuhkan satu macam topik lagi guna menambah ’isi’ diklat…..

Karena kami merasa bunek….akhirnya kami minta bantuan Mr. Ali Muchson untuk masuk sebagai tim dengan merancang materi kajian pengembangan desa wisata….mengingat dia adalah alumnus Dinas Pariwisata…..Sehingga lengkaplah kurikulum Diklat Penyuluh PertanianTingkat Ahli  yang kami susun, yaitu :
1. Mata Pelajaran Dasar
a. Pengarahan Program (4 JP)
b. Kebijakan Diklat Aparatur (4 JP)
c. Revitalisasi Pertanian (4 JP)
2. Mata Pelajaran Pokok
a. Paradigma Penyuluh Pertanian (6 JP)
b. Metode Sekolah Lapang (6 JP)
c. Metode Participatory Rural Appraisal (PRA) (10 JP)
d. Analisis SWOT Usaha Pertanian (10 JP)
e. Pengembangan Desa Wisata (10 JP)
f. Penyusunan Kajian Potensi Pengembangan Desa Wisata (30 JP)
g. Metode Kaji Terap (4 JP)
h. Pemberdayaan Kelompok Tani (8 JP)
i. Identifikasi Pemasaran Produk Pertanian (30 JP)
3. Mata Pelajaran Penunjang
a. Presentasi Kajian Pemasaran Pertanian (10 JP)
b. Presentasi Kajian Pengembangan Desa Wisata ( 10 JP)
c. Dasar Pengoperasian Komputer (10 JP)

Untuk mata diklat ”Penyusunan Kajian Potensi Desa Wisata” saya susun dengan 30 JP dengan praktek model penugasan pencarian desa di unit kerja penyuluh yang cocok dipakai sebagai desa wisata dengan mempergunakan analisis SWOT sebagai dasar kajian. Sedangkan untuk identifikasi pemasaran produk pertanian, kami minta peserta untuk mengidentifikasi komoditas potensial desa dan melihat prospek pemasarannya di pasar terdekat. Setelah itu peserta kami ajak ke Pasar Johar sebagai prototipe pasar induk, untuk mencari peluang pasar di luar wilayah. Terakhir kami tugaskan peserta untuk melihat model pemasaran produk pertanian di pasar modern, baik dari segi perlakuan produk, pelayanan, promosi maupun cara menarik pelanggan.

Mengapa manajemen tukang cukur….?! Ya…karena seperti Pak Slamet bilang….bahwa diklat ini memang semuanya kami yang melakukan….mulai nyusun tujuan/falsafah diklat, nyusun kurikulum, mendesain model diklatnya, juga ngajar, sampai mbikin soal ujian ples ngoreksi pun aku lakukan….hingga mungkin tak memberi ruang pada orang lain…. Pokoke sak karepku dewe….hingga kadang aku takut yang kususun ini bukan sebuah diklat yang baik….melainkan semata-mata diklat yang materinya ku kuasai….hingga bisa kuajar sendiri….hingga terpaksa ada teman yang protes karena tak dilibatkan….. Ah……

Iklan

2 responses to “Menerapkan Manajemen Tukang Cukur pada Diklat Penyuluh Pertanian

  1. Assalamu’alaikum,
    Pak Luthfi, saya bangga dengan gagasan, ide, daya intuisi maka jadilah sebuah Diklat PRA dengan dukungan penuh orang-2 yang bertanggung jawab dibidangnya, seperti Pak Adi Wahyudi . Jujur saya tertarik ikuti perkembangan kediklatan,ubo rampe dan sandhangan para Widyaiswara. Dengan segala predikat yg melekat, walau terkadang menyesakkan,… toch akhirnya… endingnya dan ujung-ujungnya Para Widyaiswaralah sumber ilmu yang patut diteladani orang-2 yang mau pinter dalam membangun bangsa ini.Salam sukses untuk para WI, Wassalam.

  2. OK deh materi diklatnya , kalau bisa sy dikirimin modul2 materi pokok sebab kami masih kurang referensi mengenai pemberdayaan penyuluhan dan kelompok tani, kynya materinya bagus2 deh, makasih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s