Perbandingan Urutan Motivasi Kerja Antara Staf Provinsi dan Staf Kabupaten

Ternyata acara ngajar saya yang pertama di Tahun 2008 adalah materi Budaya Kerja, yakni bagi PNS Golongan I dan II Pemerintah Provinsi Jawa Tengah. Acara ngajar saya sendiri tidak begitu selancar skenario saya….bagaimana tidak, waktu itu saya harus menghadapi peserta yang kelelahan akibat malamnya harus mengikuti kegiatan olah qolbu sampai jam 12 malam…….so, terbayang capek, ngantuk dan lelahnya para peserta….Untung sudah saya siapkan instrumen spirit kerja dari para binatang hingga suasana kelas bisa sedikit saya selamatkan. Disini peserta saya minta untuk menyebutkan binatang favorit mereka dengan titik berat mencari spirit kerja dari binatang favorit mereka….untuk membuat lebih menarik dan lucu, selama mereka mempresentasikan kebaikan-kebaikan binatang tersebut….sengaja saya tayangkan keburukan-keburukannya…tentu saja dengan refleksi bahwa setiap hal pasti ada baik dan buruknya…..kebaikan dapat dipakai untuk tauladan….sementara keburukan dapat dijadikan evaluasi diri guna perbaikan kualitas hidup tentunya…..

Saya sendiri cukup tertarik menyebarkan urutan motivasi kerja mengingat mereka semua adalah aparat Pemerintah Provinsi….alias agak ke pusat dikit lah daripada aparat Pemerintah Kabupaten/Kota sehingga ada perbandingan bagaimana perlakuan yang terjadi pada staf rendahan di Pemprov daripada di Kabupaten/ Kota….harapannya sich bisa lebih baik mengingat intervensi yang semakin sedikit dari Kepala Daerah terhadap operasonalisasi pekerjaan di tingkat Provinsi…. apabila dibandingkan di Kabupaten/Kota yang pengangkatan pejabat eselon IV saja masih harus ditentukan oleh Bupati/Walikota…..

Perbandingan urutan motivasi kerja antara staf golongan I dan II Provinsi dan staf Kabupatean/Kota (dalam hal ini diwakili oleh staf Kabupaten Kudus) disajikan dalam Tabel berikut.

slide1.jpg

Belum banyak memberikan informasi memang, tetapi patut diduga bahwa atasan menjadi faktor kunci dalam memberikan motivasi kerja yang tinggi bagi staf. Ya…moga-moga saja mereka milih atasan sebagai urutan pertama karena mereka memiliki atasan yang bijaksana dan bukan karena mereka sedang mendambakannya……Demikian juga halnya dengan sarana dan prasarana….. Hal lain yang dicermati adalah pembagian dan pendelegasian tugas pada provinsi kurang menjadi prioritas apabila dibandingkan dengan yang milik staf kabupaten…Kalau boleh saya mengira-ira, staf provinsi kayaknya lebih mendapatkan pembagian tugas yang jelas dari saudaranya yang ada di kabupaten/kota…Dan yang jelas, para staf golongan I dan II itu gak begitu butuh pekerjaan menarik dan butuh mikir…… mungkin yang praktis-praktis dan rutin lebih mereka perlukan….

Sedangkan hasil urutan motivasi kerja menurut para staf golongan I dan II pada Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, diuraikan sebagai berikut.
1. Atasan Yang Bijaksana
Ada 10 orang peserta yang menyatakan bahwa variabel atasan yang bijaksana merupakan faktor yang paling berpengaruh dalam meningkatkan motivasi kerja. Atasan yang bijaksana diharapkan mampu menjadi panutan bagi para staf. Disamping itu, atasan yang bijak diharapkan dapat menghasilkan keputusan yang bijaksana, melihat segala hal dari semua sisi, tidak hanya seihak saja. Sedangkan apabila staf memiliki atasan yang pendendam, pilih kasih dan suka mengucilkan bawahan akan membuat para staf memiliki rasa ketakutan yang berlebihan sehingga tidak dapat bekerja dengan baik.

2. Sarana dan Prasarana Kantor Yg Memadai
Ada 3 orang peserta yang menyatakan bahwa variabel sarana dan prasarana kantor merupakan faktor yang paling berpengaruh dalam meningkatkan motivasi kerja. Sarana prasarana yang memadai dapat membantu memperlancar tugas pekerjaan sehingga pekerjaan menjadi lebih nyaman dan menyenangkan. Hal itu otomatis akan menambah semangat dalam bekerja.

3. Hubungan emosional antar Karyawan Yg Harmonis
Ada 8 orang peserta yang menyatakan bahwa variabel hubungan antar karyawan yang harmonis merupakan faktor yang paling berpengaruh dalam meningkatkan motivasi kerja. Alasannya, hubungan kerja yang harmonis akan memberikan kesenangan dalam bekerja, sehingga kerja dapat lebih rileks tanpa terbebani dan tanpa ada rasa keterpaksaan.

4. Unit Kerja yang sesuai dengan latar belakang pendidikan
Ada 2 orang peserta yang menyatakan bahwa variabel unit kerja yang sesuai latar belakang pendidikan merupakan faktor yang paling berpengaruh dalam meningkatkan motivasi kerja. Hal ini disebabkan jika kita bekerja di tempat yang sesuai akan lebih mengerti apa yang akan dikerjakan, rencana pa yang harus kita persiapkan dan otomatis hasil pekerjaan juga lebih baik.

5. Nilai-Nilai luhur yg dikembangkan di unit kerja
Ada 4 orang peserta yang menyatakan bahwa variabel pengembangan nilai-nilai luhur merupakan faktor yang paling berpengaruh dalam meningkatkan motivasi kerja. Pengembangan nilai-nilai luhur ini diharapkan dapat menciptakan niat yang tulus dalam bekerja sehingga bekerja dapat lebih bersemangat.

6. Pembagian dan Pendelegasian Tugas Yang Jelas
Ada 1 orang peserta yang menyatakan bahwa variabel pembagian dan pendelegasian tugas yang jelas merupakan faktor yang paling berpengaruh dalam meningkatkan motivasi kerja. Dengan pembagian dan pendelegasian tugas yang jelas maka staf akan lebih bertanggungjawab terhadap pekerjaan yang diberikan oleh atasan.

7. Pemberian wewenang dan tanggung jawab untuk menyelesaikan pekerjaan
Ada 3 orang peserta yang menyatakan bahwa variabel pemberian wewenang dan tanggung jawab merupakan faktor yang paling berpengaruh dalam meningkatkan motivasi kerja. Pemberian wewenang dan tanggung jawab, dapat dijadikan dasar bagi staf untuk bekerja sesuai prosedur sekaligus dapat mengembangkan aktualisasi diri.

8. Kesempatan untuk aktualisasi diri
Ada 1 orang peserta yang menyatakan bahwa variabel aktualisasi diri merupakan faktor yang paling berpengaruh dalam meningkatkan motivasi kerja. Aktualisasi diri menurut peserta dapat menjadikan kerja yang lebih bersemangat karena hasil kerja merupakan bukti karya nyata dari kemampuan seorang staf.

9. Kesempatan belajar
ada 2 orang peserta yang menyatakan bahwa variabel kesempatan belajar merupakan faktor yang paling berpengaruh dalam meningkatkan motivasi kerja. Menurut peserta, kesempatan belajar baik melalui pendidikan formal maupun diklat akan menambah pengetahuan yang dimiliki oleh staf.

10. Pekerjaan yang menarik dan menantang kemampuan intelegensia
Tak ada satu pun peserta yang menyatakan bahwa variabel pekerjaan menarik dan menantang merupakan faktor yang paling berpengaruh dalam meningkatkan motivasi kerja..

11. Honor atau Insentif Yang Cukup
Tak ada satu pun peserta yang menyatakan bahwa honor atau insentif yang cukup merupakan faktor yang paling berpengaruh dalam meningkatkan motivasi kerja.

12. Penghargaan Penuh untuk Pekerjaan Yang Dilaksanakan dg Baik
Ada 1 orang peserta yang menyatakan bahwa variabel penghargaan penuh merupakan faktor yang paling berpengaruh dalam meningkatkan motivasi kerja. Menurut peserta, dengan adanya penghargaan terhadap pekerjaan yang kita laksanakan dengan baik maka akan timbul semangat untuk mengerjakan pekerjaan lain dengan lebih baik.

13. Adanya Peluang untuk dipromosikan oleh pimpinan
Tak ada satu pun peserta yang menyatakan bahwa variabel peluang promosi dari atasan merupakan faktor yang paling berpengaruh dalam meningkatkan motivasi kerja.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s