Tantangan dari Para Guru Kebumen……

Mengajarkan komunikasi pada para guru…..ibarat Boso Jowone “Koyo Nguyahi Segoro….” Gimana tidak….?! Seperti kita ketahui, pekerjaan guru erat kaitannya dengan komunikasi karena sehari-hari merekalah para komunikator bagi para murid-muridnya….sehingga jam terbang mereka sebagai komunikator mungkin malah lebih banyak daripada saya yang widyaiswara ini…..Kalau ingat dan difikir-fikir tentang hal tersebut, sebenarnya takut juga aku dengan kenyataan tersebut….tapi mau bagaimana lagi, namanya juga tugas…..lagian akunya khan juga nggak ngajar bagaimana caranya berkomunikasi dengan para murid to….?! Aku khan maunya hanya ngajar agar mereka berani bicara dengan atasan dan rekan sekerjanya….. Lho apa para guru itu tidak bisa….?! Nggak separah itu sih…..Hanya saja dengan kondisi penuh derita and tekanan selama mereka menjadi guru honorer…..para CPNS guru itu mungkin agak sedikit lupa dengan yang namanya Pede, padahal itu merupakan salah satu syarat agar seseorang mampu berkomunikasi dengan baik bukan…..?!

Tapi mengajar komunikasi bagi para guru memang selalu berat dan penuh tantangan…..apalagi proses pembelajarannya dilakukan pada hari minggu malam mulai pukul 19.00….alias hari libur and dekat banget dengan namanya sindrom I hate Monday…..hingga terlihat banyak peserta yang lebih banyak diamnya…… Tetapi belum juga sejam saya mengajar, sudah ada serangan dari Pak Dokter Usodo tentang apa kapabilitas seorang insinyur peternakan seperti saya mengajarkan komunikasi pada mereka….?! Pertanyaan ujian yang lumrah ditanyakan di era demokratisasi ini, walau sebenarnya tidak etis juga untuk ditanyakan itu…..untungnya pernah saya ketahui jawabannya dari Mr. Adi Wahyudi, dengan pengalamannya yang serupa…..yakni adanya kenyataan bahwa seorang insinyur peternakan pun pernah belajar ilmu komunikasi, khususnya saat berhadapan dengan petani dalam suatu kegiatan penyuluhan…..Bahkan saya kemudian balik bertanya pada dirinya dengan sebuah pertanyaan lelucon nan berbobot, yakni sehubungan dengan profesi saya yang ahli peternakan itu….kira-kira pinter mana antara ayam dengan bebek….serta enak mana antara beras import dan beras lokal….. Sebuah trik lucu yang dekat dengan profesi saya, hingga petanyaan-pertanyaan konyol itu pasti selalu berhasil memancing tawa dan mencairkan suasana nan kaku…..

Tapi dasar para guru, merasa kalah pada kesempatan pertama mereka merasa tidak perlu harus menyerah pada sang insinyur ini…..hingga kemudian serangan kedua dan lebih tajam pun muncul dengan dahsyat…..!! Saat saya berusaha meyakinkan peserta bahwa di era teknologi informasi dimana banyak sekali informasi yang dapat diperoleh oleh semua orang maka kualitas pendengar lebih diperlukan daripada kualitas si pembicara…..maka Pak Carta, sang ketua kelas, dengan diplomatis menyatakan bahwa walau pada prinsipnya dia setuju dengan pernyataan saya….tetapi dia pernah diajarkan oleh dosennya (sambil menyebutkan sosok terkenal : Arif Rahman Hakim…) pernyataan yang sebaliknya hingga mewajibkan guru untuk memiliki kemampuan komunikasi yang baik…..Oleh karena itu dia minta indikator apa yang saya pakai buat mengetahui apakah peserta sudah faham dengan apa yang saya ajarkan pada mereka…..Sebuah pertanyaan yang sulit untuk dijawab, belum pernah terfikirkan olehku, hingga sejenak membikin aku salting (salah tingkah) juga…..Tapi tiba-tiba sebuah ilham muncul bagai sebuah kilat nan menyambar hingga aku dengan mantab bisa segera menjawab….bahwa indikator yang saya pakai sederhana saja yakni jika saya bisa menghidupkan kelas maka proses belajar mengajar sudah saya angap berhasil……ya….jika peserta sudah mulai aktif berkomunikasi di kelas: boleh bertanya, menanggapi, mengkritik atau sekedar menyumbangkan saran fikirannya maka peserta sudah sya anggap mengerti terhadap materi yang saya berikan…….

Pembelajaran di senin pagi berikutnya sudah berjalan dengan lancar…..apalagi saya ditemani Mas Latief, salah seorang staf BKD yang pengen banget menjadi widyaiswara…..Acara Senin pagi saya buka dengan humor berantai, dimana peserta saya minta maju berpasangan serta berperan sebagai komunikator dan komunikan. Tugas komunikator adalah menyalurkan energi lucunya pada si komunikan….ya….mereka harus berupaya agar si komunikan bisa tertawa sementara tugas komunikan ya….berusaha tidak tertawa….Acara yang lucu dan bikin audien tertawa lepas melihat tingkah dua korban itu…..dan hasilnya mereka mengakui bahwa membuat orang tertawa itu tidak semudah yang disangka……Game kemudian saya lanjutin dengan meminta peserta menggambar segitiga, kotak dan lingkaran melalui penjelasan seorang komunikator guna mempraktekkan rasanya berkomunikasi searah dan dua arah…..Dan tambah rame lagi saat saya minta mereka mengekspresikan rasa marah, bingung, setuju, menolak….dsb… melalui komunikasi non verbal….Yang bikin rame adalah saat ekspresi marah misalnya, ternyata dipilih oleh 10 peserta….padahal masing-masing kemudian harus berekspresi non verbal yang tidak boleh sama satu sama lain…..

Setelah rehat makan siang, acara saya lanjutkan dengan diskusi yang agak serius tentang hambatan komunikasi dan tips-tips berkomunikasi dalam dunia kerja….Disini peserta saya bagi menjadi 9 kelompok dengan topik yang berbeda-beda…..Dalam sesi diskusi terakhir ini para guru Kebumen itu gantian saya tantang buat menyajikan hasil diskusi itu dalam waktu yang terbatas…..yakni hanya 7 menit…..!! He…he….he….walau bersifat melatih mereka berkomunikasi seefektif mungkin, sebenarnya akunya sendiri ya….sedang berupaya buat mempercepat proses diskusi karena takut ketinggalan bus AC Sumber Alam yang jadwalnya berangkat jam 15.30…..Hasil diskusinya sih berhasil baik, walau tak semua peserta mampu menyajikan diskusi dalam 7 menit…..alias rata-rata moloor….. tapi yang jelas tantangan yang diberikan para guru Kebumen berhasil saya lalui dengan baik……yang jelas semuanya merasa puas dengan pembelajaran komunikasi seharian itu…..tak terkecuali aku, walau akhirnya tetep saja aku ketinggalan bus Sumber Alam…..hingga terpaksa harus pakek bus ekonomi ”Prayogo….”…..Gak pa-pa lah…..pakek bus ekonomi, yang penting puas…..Dan akhir perjalananku di Kebumen harus kuakhiri dengan tidur lelap di bus ekonomi yang panas, ngebut dan sama sekali gak enak dinaiki karena sebentar ngebut sebentar berhenti……bikin tidurku selalu terganggu…..walau tetep nekad tidur karena capek banget…….

2 responses to “Tantangan dari Para Guru Kebumen……

  1. waduh pak.. susahe ngajar tukang ngajar yo pakkk.. widyaiswara juga harus sabar… sukses buat pakne wulan…

  2. Salam Hormat, Salam Senyum Kanggo Sedulur Kabeh
    Assalamu’alaikum Wr. Wb.
    Perkenalkan, Saya H.M.Jamil,SQ,MPd ingin meminta dukungan Saudara dalam pemilihan Caleg DPR RI PPP 2009 Dapil Kebumen, Banjarnegara & Purbalingga.
    Semoga bermanfaat bagi kita semua.
    Wassalamu’alaikum Wr.Wb.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s