Seminar Pendidikan Menjelang Hari Pendidikan Nasional

Ada yang menarik dari Seminar IWI Jawa Tengah tanggal 30 April kemaren. Diskusi-diskusi rame tentang pendidikan menjadi tema seminar IWI kali ini, utamanya dengan berupaya mengonceki kontroversi Ujian Nasional yang kerap menjadi polemik tahun-tahun belakangan ini. Tentu saja sebagai insan ilmiah, para widyaiswara tidak lagi memperdebatkan efektif tidaknya kebijakan UN itu dilaksanakan melainkan berupaya mencari jalan keluar agar sistem pembelajaran di sekolah dapat berjalan dengan efektif dan efisien. Pembicara ditunjuk dari LPMP (Lembaga Penjamin Mutu Pendidikan) Jawa Tengah yakni Bapak Muchlas Yusak dengan tema Pengembangan Profesional Pendidik melalui ”Jogyou Kenkyuu” atau dikenal di barat sebagai Lesson Study, sebuah model pendidikan yang dikembangkan di Jepang sejak tahun 60-an dan mulai menjadi acuan pokok bagi sistem pengajaran di Amerika guna mengganti sistem pendidikan tradisional di Amerika.

Pada awal paparannya, Pak Yusak menceritakan dilema yang dihadapi para guru berkenaan dengan UN. Seperti diketahui, standar nilai kelulusan UN tahun ini meningkat menjadi 5,5. Hal ini tentu saja memusingkan para guru mengingat tanggung jawabnya buat mempertahankan or meningkatkan tingkat kelulusan siswa di sekolahnya. Standar yang tinggi secara tidak langsung menuntut guru untuk dapat meningkatkan daya serap siswa terhadap materi yang diberikan. Sesuatu yang memusingkan mengingat hampir tidak ada peningkatan yang berarti terhadap model pembelajaran yang diterapkan di Indonesia hingga rasanya hampir mustahil bagi para guru buat meningkatkan daya serap siswa terhadap materi pelajaran. Salah satu upaya yang dapat dilakukan para guru untuk meningkatkan kualitas mengajarnya, menurut Pak Yusak adalah meningkatkan kemampuan para guru buat mengakses informasi yang ada di internet. Untuk itu, para guru diharapkan menguasai Bahasa Inggris dengan baik, tidak cukup Bahasa Inggris yang bersifat fungsional saja (buat percakapan sehari-hari) tapi juga harus menguasai Bahasa Inggris yang informasional atau yang dapat dipakai buat mengakses informasi dari internet yang banyak ditemukan dengan pengantar Bahasa Inggris.

Lebih lanjut, Pak Yusak memperkenalkan ”Jogyou Kenkyuu” atau Lesson Study buat meningkatkan kualitas pengajaran di sekolah. Bagi Pak Yusak, pembelajaran merupakan kegiatan budaya sehingga untuk meningkatkan mutu pembelajaran tsb. perlu proses atau waktu buat mengubahnya. Disamping itu, untuk mengubah kebiasaan menjadi rutinitas budaya perlu upaya yang sungguh-sungguh serta berkelanjutan guna mencapai kesuksesannya. Lesson study pada dasarnya memandang pembelajaran sebagai jantung pendidikan sehingga harus dilakukan serius tanpa terganggu hal-hal yang tidak perlu (sebagai misal ada gangguan panggilan buat ketua kelas, perayaan ultah, or rapat guru hingga murid harus libur ?). Fokusnya bukan pada bagaimana guru mengajar tetapi bagaimana siswa belajar. Oleh karena itu, guru seharusnya lebih bersifat memotivasi siswa agar mau belajar daripada sekedar menerapkan teknik-teknik canggih buat mengajar.

Lesson study juga mengharuskan para guru untuk mencatat semua proses pembelajaran di kelas. Hal-hal yang perlu dicatat antara lain adalah :
• masalah yang akan menjadi fokus pelajaran
• bagaimana memulai pelajaran (pelibatan dan minat)
• pertanyaan utama yang akan diberikan untuk memacu berfikir anak
• antisipasi jawaban siswa dan respon guru
• perangkat pembelajaran dan manipulatif
• handout dan catatan
• pengaturan penggunaan papan tulis dan pemanfaatan media pembelajaran
• kemajuan, alur, dan keterpaduan (koherensi) pelajaran
• bagaimana dan di mana pelajaran diakhiri
• bagaimana pelajaran dievaluasi
Hasil catatan itu kemudian disusun dalam sebuah laporan yang berguna sebagai catatan evaluasi guna perbaikan proses pembelajaran di masa mendatang. Laporan tersebut kemudian dipublikasikan menjadi sebuah karya ilmiah dan dipakai sebagai pedoman awal bagi guru baru dalam mengajar materi pelajaran yang sama serta dipakai sebagai perbandingan model pengajaran bagi guru-guru di sekolah lain.
Acara kemudian dibuka dengan sesi pembahasan dan tanya jawab. Pak Wardjito, salah seorang pembahas dari Badan Diklat mempertanyakan kecocokan model Lesson Study dengan kondisi di Indonesia. Hal itu disebabkan sistem pendidikan di Indonesia masih belum bersifat visioner dan cepat berubah-ubah. Ibarat ganti pejabat maka sistem pendidikannya pun juga berganti dan ini membingungkan bagi para guru. Walau demikian Mr. Wardjito mendukung penerapan lesson study tapi dengan perlakuan Pra terlebih dahulu yakni : membudayakan membaca dan menulis bagi siswa serta membudayakan upaya siswa untuk mengekspresikan ide dan gagasannya. Sebuah pendapat menarik dan menurut saya sangat tepat sasaran dan mau saya terapkan pada anak saya terlebih dahulu (he….he….he….soalnya kalau menanti guru yang melakukan koq kayaknya kelamaan ya…..?!).

Pembahas lain, Pak Zaenuri dari Badan Diklat Depag Jateng menyoroti adanya kesenjangan pada sistem pendidikan kita di sekolah, baik kesenjangan fasilitas, kesenjangan sarana prasarana, kesenjangan anggaran dsb. Sehingga dengan berbagai kesenjangan itu, dia menganggap UN menjadi suatu hal yang kurang adil mengingat lulusnya seluruh siswa harus terstandar sama. Hal tersebut kemudian diamini oleh Pak Arifin sembari mengungkapkan susahnya meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia yang menurutnya diakibatkan persepsi masarakat Indonesia terhadap pendidikan masih rendah. Persepsi terhadap Pendidikan yang Masih rendah itu kemudian berdampak pada persepsi yang rendah pada profesi guru. Dengan setengah melucu, Pak Arifin menunjukkan bukti bahwa tidak ada pejabat tinggi pemerintah yang mau bermenantukan seorang guru.

Terakhir Ibu Suminar sebagai Narasumber menyarankan agar dalam menguji kemampuan siswa dikembangkan model soal open minded, yakni sebuah model soal dimana soal ujiannya boleh sama tetapi jawaban dari siswa bisa berbeda-beda tergantung bagaimana pendekatan or sudut pendang siswa. Soal ujian model demikian akan lebih merangsang siswa untuk berfikir daripada model multiple choice yang selama ini dipakai dan dekat banget dengan ‘gambling’. Terkait dengan Lesson study, Ibu Suminar mengharapkan agar Lesson Study dapat diterapkan di kalangan widyaiswara guna mencari model pembelajaran yang tepat bagi orang dewasa….

One response to “Seminar Pendidikan Menjelang Hari Pendidikan Nasional

  1. Ass. Wr. Wb. Selamat beraktivitas Pak Luthfi. Membaca tulisan Bapak sy jadi ketagihan pengin ngerti lebih..lebih dekat Metode “LESSON STUDY” dlm sistem pembelajaran. Pendekatan budaya itu lho pak.. yang sangatmenarik. Kecenderungan biasanya pada latihan soal2 bukan pada “membaca sehingga mengerti”. Dan… melalui proses/ waktu, tidak mak jegagik (Bhs. Kauman Jepara) tahu2 siswa jadi pinter. Semoga Bapak dan kelurga selalu mendapatkan berkah dari Allah SWT. Tetap semangat untuk menulis…. dan tentu saya baca. Wassalamu’alaikum. Wr Wb.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s