Efektif dan Efisien Ala LAN-RI

Kalau menurut definisi, Efektif adalah tepat guna or berhasil guna atau tepat sasaran atau dapat dikatakan suatu kegiatan itu dapat dikatakan tercapai tujuannya. Sementara itu efisien adalah berdaya guna atau mampu memanfaatkan sumber daya yang ada dengan seoptimal mungkin. Lalu bagaimana dengan efektif dan efisien ala LAN-RI….?! Ceritanya panjang. Yang jelas hari pertama kita ngikut diklat TOT Diklat Pim Tingkat IV sudah penuh dengan diskusi dan perdebatan….Maklum, pesertanya adalah para widyaiswara yang jelas-jelas tukang ngomong semua….hingga ada istilah kecil saja sudah dapat dijadikan ajang buat berdiskusi dan kadang berdebat dengan panas hingga kadang bikin aku geli sendiri kalo mengingat apa yang mereka perdebatkan itu kadang bukan sesuatu yang prinsipil apalagi buat jadi topik debat…..

Acara pertama dari Pak Basseng tentang overview Diklat Pim Tingkat IV belum-belum sudah bikin debat yang panas, yakni saat Pak Basseng melontarkan suatu kenyataan bahwa yang namanya efektif dan efisen itu kadang susah untuk dapat berjalan beriringan ….Seperti kita ketahui paradigma pemerintah saat ini adalah meningkatkan pelayanan publik atau bisa dikatakan melakukan pelayanan secara efektif, dan menurut Pak Basseng hal itu kadang sangat bertentangan dengan prinsip efisiensi pemerintahan….Lebih lanjut Pak Basseng mencontohkan penyelenggaraan Pilkada dengan model pemilihan langsung pada prinsipnya berupaya memuaskan keinginan seluruh masyarakat, di satu sisi….tetapi di sisi yang lain, pelaksanaan Pilkada langsung menelan biaya yang tidak sedikit jika tidak boleh dikatakan sebagai sebuah kegiatan yang boros…sementara hasilnya pun kadang bukan menciptakan sosok Kepala Daerah yang baik, dengan bukti adanya beberapa Kepala Daerah hasil pilkada langsung yang bahkan harus masuk bui karena terbukti melakukan tindak pidana korupsi….Sampai disini peserta terlihat cukup menerima dengan penjelasan Pak Baseng yang memang logis dan meyakinkan itu….walau kemudian terbukti para widyaiswara itu masih terlihat memperdebatkannya dengan sengit……

Dan benar saja, begitu hari kedua saat pelajaran Teknik Pengelolaan Informasi dan Pelaporan….acara debat kusir kontroversi antara efektif, efisien dan kualitas pelayanan publik mulai menjadi-jadi lagi…..apalagi saat Ibu Setya Budi Hastuti meenjelaskan salah satu ciri kantor modern adalah mendayagunakan biaya serta tata laksana yg efektif, efisien & produktif…..langsung saja para vokalis dari Medan dan NTT berdebat seru dengan mencontohkan budaya para pegawai di Jepang yang saat rapat pun tidak ada suguhan snack bagi tamu undangan guna mendukung program efisensi. Na….disini timbul masalah sebab menurut orang Medan, rapat tanpa suguhan berarti tidak menghormati tamu hingga bisa saja sebuah koordinasi yang hendak dijalin akan bisa gagal hanya gara-gara tamu merasa tidak puas dengan jamuan tuan rumah…..Dan ini semua karena sifat jelek bangsa ini yang masih berprinsip bahwa jamuan itu sebagai bagian dari pelayanan publik.

Bicara tentang jamuan, tiba-tiba saya melihat sebuah ide besar yang dilakukan oleh LAN-RI hingga saya kemudian nyeletuk…..

Masalah efektif dan efisien itu sudah dicontohkan oleh LAN-RI dalam penyelenggaraan diklat ini….buktinya kita saat ini hanya disuguh dengan snack pagi-sore dan makan siang saja…..sementara masalah penginapan, makan pagi dan malam disuruh nyari sendiri…..bagus bukan….?!”

Eh celetukan saya ternyata malah disambut dengan gerr-gerr-an oleh peserta lain….dengan kesan apa yang saya sampaikan adalah sebuah banyolan and sindiran bagi LAN semata…..padahal sih kali ini aku tidak berniat membanyol dan menyindir….

Mungkin mereka-mereka tidak tahu bahwa saya pernah menghitung biaya penyelenggaraan diklat itu lebih dari 40% dipergunakan untuk biaya makan….(belum biaya akomodasi dan perlengkapan peserta seperti tas, bloknote lho….) atau dengan kata lain 40 % urusan diklat bukanlah dipakai untuk makanan batin melainkan untuk makanan fisik….padahal kita tahu, tujuan diklat khan buat menambah makanan atau pengkayaan batin bagi peserta….Akibatnya apa, biaya diklat menjadi demikian mahal sehingga dengan terbatasnya dana maka otomatis jumlah penyelenggaraan diklat menjadi terbatas….dan boleh dikatakan semuanya karena mahalnya biaya makan…..!! So…saya bisa bayangkan berapa rupiah penghematan yang dilakukan LAN-RI buat penyelenggaraan diklat ini…..Ya….daripada mahal-mahal buat biaya makan yang peserta belum tentu cocok dengan selera menu yang disediakan….lebih baik peserta disuruh nyari sendiri…seraya menggantinya dengan makanan batin seperti mendatangkan pakar pelayanan publik (dalam seminar pada hari ketiga) guna menambah wawasan peserta dengan model-model pelayanan publik terbaru yang disarankan oleh pemerintah…..

Sementara itu saya membatin bahwa tertawanya para peserta itu seperti mencerminkan watak sebagian besar aparat pemerintah kita yang masih suka bergaya hidup boros daripada yang efektif dan efisien….Ya….daripada menghambur-hamburkan anggaran untuk kegiatan yang tidak perlu, aparat pemerintah sebaiknya mulai melakukan upaya-upaya efektif dan efisien dalam setiap penyelenggaraan kegiatan pemerintah….LAN-RI sudah mencontohkan dengan gamblang….bagaimana sebuah kegatan diklat itu bisa efektif dalam arti tepat sasaran dalam memeberikan bekal pengetahuan, ketrampilan dan sikap bagi peserta….sementara disisi lain, LAN juga sudah melakukan penghematan biaya makan-makan yang kurang perlu….walau untuk itu, LAN-RI harus menerima gerutuan dari peserta diklat yang merasa tidak puas dengan model pelayanan LAN yang efektif dan efisien itu….Kalau aku sih mending begitu…..masalah makan khan kurang relevan dengan diklat…..apalagi masalah makan khan masalah selera…..hingga aku lebih suka jika harus nyari makan sendiri ke warung yang aku sukai….bisa di warung tegal pinggir rel sepur yang nyampleng….atau boleh juga di kantin LAN-RI yang penuh dengan mahasiswi-mahasiswi STIA LAN yang canti-cantik itu…….aaaahhh……

Iklan

2 responses to “Efektif dan Efisien Ala LAN-RI

  1. yulianto nJEPORO

    Ass.WrWb. Beberapa catatan Bapak sebagai peserta TOT Diklat Pim IV. lebih meyakinkan saya bahwa profesi Widyaiswara menjadi begitu menarik dan InsyaAllah akan saya masuki. Tapi orang katrok seperti saya ya perlu nambah wawasan dulu to. Membahas perihal penghematan vs pemborosan akan lebih menarik kalo TUAN PEJABAT-2 yang baik hati tapi DIRAGUKAN MORALITASnya itu diajak rembugan. Saya 1000x yakin mereka para TUAN PEJABAT akan lari tunggang-tunggangan dan kepanasan mendengarkan para WI yang tulus berbicara. Sekian Pak. Salam untuk para WI. Thanks, Nuwun, Wassalamu’alaikum WrWb.

  2. ikutan nimbrung,….. dari WI Banten

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s