Ngumpulin Angka Kredit

Ada satu kegiatan tahunan yang harusnya selalu dilakukan oleh para widyaiswara, yaitu ngumpulin angka kredit. Kegiatan tahunan itu dilaksanakan bagi para widyaiswara guna mendapatkan kredit poin bagi kenaikan pangkatnya, dan bisanya dilakukan pada setiap bulan Juni dan Desember….Walaupun demikian, bagi sebagian besar widyaiswara, pekerjaan itu adalah pekerjaan yang paling menjengkelkan….bikin ribet….sangat menguras tenaga….hingga banyak juga widyaiswara yang males ngumpulin angka kredit….Bahkan saya sendiri mengambil istilah yang agak ‘ngece’ yakni ngumpulin angka kredit dan bukan mengajukan angka kredit….mengingat pekerjaannya lebih banyak berupa kumpul-kumpul berkas daripada ‘sekedar’ mengajukan angka kredit saja…..(konon ada juga widyaiswara yang bersedia membayarkan uang agar ada staf yang bersedia membantukan mengumpulkan angka kredit bagi kenaikan pangkat dirinya….sangking ruwetnya cara ngurusnya itu….)

Seperti widyaiswara rajin lainnya…..Juni ini saya juga ikut bersibuk-sibuk ria buat ngumpulin angka kredit juga….konon jika disetujui, pangkatnya aku bisa naek….sehingga walau temen-temen WI lain tenang-tenang saja, aku terlihat ngotot and sibuk sendiri…..(mangkanya sorry, bulan Mei-Juni ini saya sedikit sekali posting….habis sibuk banget sih….pa lagi pekerjaan ini juga banyak menyita fikiran hingga gak sempet mikir ide buat postingan…..). Hanya sayangnya, ternyata pekerjaan ngumpulin angka kredit itu ternyata begitu berat….banyak sekali berkas persyaratan yang belum terpenuhi sehingga ada kemungkinan angka kredit yang saya ajukan hanya separoh saja yang mendapatkan nilai kredit….Sudah kucoba sekuat tenaga buat ngumpulin, bahkan sampai sempet sakit kepala segala, akan tetapi sampai batas waktu yang ditentukan yakni 10 Juni…..pekerjaan ngumpulin berkas itu belum selesai juga….bahkan mulai minggu kedua Juni pekerjaan itu total sudah saya hentikan….putus asa…dan tentu saja harus merelakan kenaikan pangkatku tertunda untuk sementara….

Begitulah cerita singkatku tentang susahnya ngumpulin angka kredit bagi seorang widyaiswara. Walau akhirnya gagal ngumpulin, tapi tetep saja ada tekad membaraku buat ngumpulin berkas itu pada bulan Desember nanti. Tentu saja dengan persiapan yang lebih matang….jauh-jauh hari….serta lebih teliti tentunya. Ada beberapa hal yang menyebabkan pekerjaan ngumpulin angka kredit itu begitu ribet, diantaranya diuraikan sebagai berikut.

1. Segala persyaratan itu ternyata harus ditandatangani oleh Kepala Diklat. Ya…segala berkas, mulai dari Dupak, Pernyataan Mengajar, Kata Pengantar Bahan Ajar, Kata Pengantar SMD (Silabus Mata Diklat) dan SP (Skenario Pembelajaran) yang semula cukup ditandatangani oleh Kepala Bidang…..mulai periode ini kebijakan penilai angka kredit lokal mewajibkan segala berkas harus ditandatangani Kepala Badan Diklat…. hingga perlu memprint ulang segala berkas ples mensahkannya pada Kepala Badan Diklat. Dan tentu saja pekerjaan ini banyak menyita waktu dan energi juga….(untung saja Kepala Badan Diklat yang sekarang orangnya baik dan gak mau mempersulit….coba kalo agak streng sedikit….bisa-bisa……)

2. Surat Perintah Mengajar umumnya belum dibuat. Kalaulah dahulu dengan adanya SK Kurikulum dan Tenaga Pengajar kita sudah memenuhi syarat untuk mendapatkan angka kredit….maka mulai periode ini, hal itu tidaklah cukup. Perlu ada bukti Surat Perintah Mengajar dari Kepala Badan Diklat agar tugas belajar mengajar yang telah kita lakukan sah dan mendapatkan angka kredit. Ini yang merepotkan, karena hampir semua diklat teknis dan fungsional umumnya belum membikinkan Surat Perintah Tugas Mengajar. Lalu bagaimana….?! Ya….terpaksa kita bikin sendiri segala surat perintah tugas itu….mengajukan pada Kepala Badan Diklat buat disahkan…untuk kemudian minta nomor surat (pakek antidatir) agar surat itu benar-benar sah…..dan susahnya, akibat pelaksanaan diklat yang sudah agak lama….kadang ada juga SK Kurikulum dan Tenaga Pengajar yang berkasnya sudah hilang….sehingga…..

3. Tanpa Surat Pernyataan Mengajar. Ini juga problem tersendiri khususnya saat kita mengajar di Kabupaten/Kota. Sebenarnya setiap panitia diklat di kabupaten/ kota telah diwajibkan untuk nyangoni widyaiswara dengan surat pernyataan mengajar (disamping dengan honor juga hi….hi….hi….). Tetapi karena diklat yang dilaksanakan umumnya diklat tingkat dasar dan sebagian besar widyaiswara merupakan widyaiswara madya yang tak membutuhkan surat pernyataan tersebut (karena gak dapat dinilai:baca WI dan angka Kreditnya) maka panitia diklat kabupaten/kota jarang nyangoni WI dengan surat pernyataan mengajar tersebut…..hingga akhirnya lama-lama malah gak nyediain juga (atau yang lebih parah menganggap WI itu ngajar karena butuh duit saja….). Ini tentu saja merepotkan bagi saya yang masih widyaiswara muda dan membutuhkannya untuk persyaratan pengajuan angka kredit…..

4. Bahan Ajar yang Liar. Saya katakan liar, karena ternyata agar sebuah bahan ajar bisa dinilai…..haruslah memiliki persyaratan yakni : mendapat surat perintah dan kata pengantar dari Kepala Badan Diklat…..dan umumnya dua syarat itu belum ada….!! Oleh karena itu, terpaksa kita bikin juga tuh surat perintah dan kata pengantarnya….. belum lagi ada persyaratan tambahan, yakni bahan ajar diklat dapat dinilai jika halamannya minimal 20 lembar dengan spasi 2…..padahal sebagian besar bahan ajar yang kita bikin hanya sekedarnya saja, sehingga terpaksa bahan ajar itu kita susun dan desain ulang……

5. SMD dan SP yang Belum Ada. Sebelum memberikan materi pelajaran, idealnya seorang widyaiswara menyusun SMD (Silabus Mata Diklat), SP (Skenario Pembelajaran), dan Transparansi guna memperlancar pelaksanaan proses belajar mengajar diklat sekaligus buat mendapatkan angka kredit. Kalau transparansi sih umumnya sudah dibikin, but SMD dan SP itu seringkali hanya kita bikin di kepala saja….alias gak pernah dituliskan. So….saat mau ngumpulin angka kredit, terpaksa deh aku harus menggali ulang SMD dan SP yang ada di kepala dan menuliskannya agar dapat diajukan angka kreditnya…..dan hal itu ternyata sangat melelahkan juga….belum lagi setelah itu SMD, SP dan transparansi itu harus di-sah-kan oleh Kepala Badan Diklat juga……waduh…..

6. Nyusun PAK. Terakhir kita harus nyusun blanko PAK (Penilaian Angka Kredit), serta melengkapinya dengan berkas-berkas persyaratan-persyaratan yang diperlukan, mulai dari ngumpulin bukti-bukti fisik kegiatan (berkas Surat Perintah, Surat Pernyataan), menggandakannya, lalu menyusunnya…..

Begitulah repotnya….walau sebenarnya kalau pekerjaan itu kita lakukan dengan tertib, sesuai prosedur….dalam arti jauh-jauh hari kita urusi dengan betul…maka acara pengajuan angka kredit itu menjadi pekerjaan yang ringan…dan bukan menjadi pekerjaan ngumpulin angka kredit yang melelahkan…..Tapi itulah….kadang sangking sibuknya kita ngajar…ples males juga lah….maka ya seperti saya ceritakan tadi…..widyaiswara susah naik pangkat….!! Disini saya baru mengerti apa makna pesan dari seorang Kepala LAN….yakni agar para widyaiswara secara rutin mau mengumpulkan angka kredit…..pesan yang semula saya herankan, ternyata bermakna begitu mendalam……

2 responses to “Ngumpulin Angka Kredit

  1. Mohon kirim ke email saya, cara menghitung angka kredit poin bagi pamong belajar, apakah sama dengan tenaga guru, seperti guru sd,smp,dan sma dan gimina kriteria nilai komulatifnya. dan atas perhatinnya terimakasih

  2. yaaa nasib yaaa nasib, nasib saya sebagai Widyaiswara yang harus pensiun

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s