Belajar Harus Disertai pula dengan Kesangsian

Mengkaji Prinsip-Prinsip Accelerated Learning

Saat mulai jadi widyaiswara, sekitar pertengahan tahun 2006, saya sempat membaca sebuah komentar pedas di internet tentang widyaiswara dari peserta diklat Prajabatan dari Bogor….”Widyaiswaranya gak berkualitas, dia hanya menerangkan sedikit selanjutnya kitanya yang diminta buat berdiskusi dan merumuskan materinya sendiri…” Sesuatu yang waktu itu menjadi perdebatan dalam fikiranku tentang bagaimana sebaiknya kita mengajar….Kalau teorinya mengajar orang dewasa sih kayaknya ya harus demikian….. tapi saat saya coba praktikkan (waktu itu di Wonogiri) lha koq pesertanya kelihatan bosen dan sedikit ngremehin gua ya…..Lalu saat tak ubah metodenya dengan lebih banyak menerangkan (waktu itu di Blora…) eh pesertanya kelihatan puas…hingga waktu itu kesimpulan sementara dari akunya adalah mungkin peserta prajab yang rata-rata fresh graduate lebih suka diajarkan yang model paedagogy seperti acara kuliahan dimana dosen harus banyak-banyak memberikan transfer of knowledge bagi para peserta…..

Perkembangan selanjutnya adalah saat terjadi booming prajabatan saat ini, dimana banyak pesertanya berasal dari tenaga honorer yang telah lama bekerja or mengabdi di lingkungan instansi pemerintah….Pada kasus yang ini, saat coba tak terapin model banyak menerangkan seperti pada pelajaran manajemen perkantoran modern, yang terjadi adalah belum juga sejam aku nerangin….merekanya sudah banyak yang menguap alias bosen and kelihatan ngantuk berat….sehingga terpaksa banyak kukeluarkan jurus-jurus ice breaking: mulai dari lelucon, game-game menarik, serta aktivitas-aktivitas lainnya yang bikin peserta tidak ngantuk….sesuatu yang oleh beberapa widyaiswara sering dikritik karena terlalu banyaknya ice breaking hingga substansi materi prajabatannya lupa gak disampaiin….hingga bikin pesertanya banyak yang harus remedi….suatu dilema yang bikin aku sampai sekarang agak kebingungan diantara menyampaikan yang menarik (tapi substansi materi gak kena…) atau mentingin substansi (tapi pesertanya ngantuk hingga substansinya gak masuk juga khan….?!). Hal itulah yang menjadi sebab aku kembali membuka-buka buku “The Accelerated Learning Handbook” karya Dave Meier buat mengkaji ulang gaya mengajarku selama ini….

Sayap Kesangsian vs Sayap Keterbukaan
Agar bisa berhasil sepenuhnya dalam belajar, ternyata kita harus terbang dengan dua sayap, yaitu sayap kesangsian atau bersikap skeptis serta sayap keterbukaan atau bersedia menerima hal-hal baru tanpa syarat. Na….seperti halnya seekor burung yang baru bisa terbang jika menggunakan kedua sayap tersebut secara seimbang….maka jika kita pengen berhasil dalam belajar maka kedua hal tersebut harus ada dalam diri kita secara seimbang. Kita tidak boleh hanya sangsi pada suatu hal saja tetapi kita juga harus siap menerima hal-hal yang baru…

Mengapa harus ada kesangsian…?! Karena semakin hari semakin banyak sampah pendidikan, termasuk inovasi or penemuan baru yang kadang belum tentu cocok jika diterapkan. Tanpa kesangsian atau pemikiran yang tajam, kita akan terjebak dengan metode-metode yang menekankan “kesenangan dan permainan”, muslihat cerdik, dan teknik menarik tanpa bukti sama sekali bahwa semua ini dapat menghasilkan nilai yang langgeng. Seringkali kita hanya menyia-nyiakan banyak waktu dan uang untuk mengikuti pendekatan belajar yang mengecilkan peran pembelajar dan proses belajar, serta hanya menghasilkan sedikit manfaat pada jangka panjang.

Mengapa harus terbuka….?! Okelah bersikap sangsi secara sehat penting, tapi perlu pula untuk tetap terbuka terhadap inovasi yang dapat memberikan hasil nyata. Kita perlu ingat bahwa hidup adalah proses gerakan, perubahan, pertumbuhan yang terus menerus. Jika kita tidak melakukan itu berarti sama saja kita telah mati dalam kehidupan. Kehidupan selalu terbuka bagi segala kemungkinan yang tiada habisnya. Jika ada suatu cara berfikir atau bertindak yang baru tidak sesuai dengan kebudayaan perusahaan atau kebiasaan kita maka bukan berarti hal itu sesuatu yang buruk, walaupun belum tentu baik pula.

Dengan merentangkan dua sayap kesangsian dan keterbukaan secara seimbang, kita akan lebih mampu membedakan inovasi yang imitasi dengan yang asli (berguna), menemukan cara-cara yang lebih baik untuk mengoptimalkan belajar, dan menikmati keberhasilan lebih besar dari usaha kita.

Prinsip Accelerated Learning (AL)
Kredo pendekatan accelerated learning adalah ”Lakukan apa yang mendatangkan hasil, dan teruslah mencari apa yang mendatangkan hasil lebih baik”. Pendekatan ini tidak terikat pada seperangkat teknik, metode atau media tertentu, baik yang lama maupun yang baru. Kita dapat memanfaatkan salah satu atau semuanya secara kombinasi, bergantung pada kemampuan memberikan hasil yang luar biasa. Penting bagi kita untuk memahami bahwa AL memisahkan diri dari pelbagai pendekatan pelatihan yang bertujuan menjadi pandai, menarik, dan menyenangkan demi tujuan-tujuan itu sendiri. Dengan cara yang sama, AL juga memisahkan diri dari pendekatan pelatihan yang kaku, sunyi, terlalu serius, dan tanpa kegembiraan. Ada tempat bersenang-senang dan ada pula tempat untuk serius. Kita membutuhkan kedua-duanya dan AL berusaha mencampur keduanya dengan cara-cara yang dapat meningkatkan pembelajaran dan membuahkan hasil sepositif mungkin.

Lebih lanjut dikatakan bahwa prinsip AL didasarkan pada penelitian mutakhir mengenai otak dan belajar. Metode-metode yang ditawarkan AL tidak kaku, tetapi dapat sangat bervariasi bergantung pada organisasi, pokok bahasan, dan pembelajar itu sendiri. Jaques Barzun berpendapat bahwa ” mengajar bukanlah menerapkan suatu sistem; mengajar adalah menjalankan kebijaksanaan terus menerus” Bagaimanapun juga, pada akhirnya yang paling penting bukanlah metode melainkan hasilnya….Beberapa prinsip pokok AL adalah
1. Keterlibatan total pembelajar dalam meningkatkan pembelajaran
2. Belajar bukanlah mengumpulkan informasi secara pasif, melainkan menciptakan pengetahuan secara aktif
3. Kerjasama diantara pembelajar sangat membantu meningkatkan hasil belajar.
4. Belajar berpusat aktivitas sering lebih berhasil daripada belajar berpusat presentasi
5. Belajar berpusat aktivitas dapat dirancang dalam waktu yang jauh lebih singkat daripada waktu yang diperlukan untuk merancang pengajaran dengan presentasi

Sampai disini Anda harusnya mulai berintrospeksi diri tentang cara Anda dalam mengajar…apakah sesuai dengan prinsip AL atau belum….atau masih belum jelas juga bagaimana yang sesuai dengan prinsip AL…..kalo belum jelas ya kapan-kapan tak postingin lagi tentang detail dari hal ini….sementara ini yang penting semangatnya dulu yang AL…..masalah ngajar ya AL (Anda Lakukan) saja….sebisanya…..(soale aku sendiri yo bingung apakah diriku ini sudah AL po hanya AL…..

2 responses to “Belajar Harus Disertai pula dengan Kesangsian

  1. luar biasa tulisannya sangat bermanfaat untuk referensi, saya tunggu tulisan terbarunya.

  2. artikel ini sangat membantu dalam penyusunan proposal saya,,kalau bisa saya menunggu artikel lainnya yang membahas lebih terperinci mengenai penerapan metode accelerated learning dalam proses pembelajaran. makasih,,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s