Menghindari Kejenuhan Peserta Presentasi

Ada banyak alasan mengapa audience merasa jenuh. Mungkin topik yang dibicarakan tidak menarik. Mungkin topiknya tidak relevan untuk kehidupan orang lain. Mungkin yang menyampaikan bukan orang yang menguasai materi. Mungkin penyaji kurang persiapan. Bisa jadi penyampaiannya kering, tanpa ilustrasi, contoh, gambar, atau tempo suara lamban, tak bergairah. Adakalanya kejenuhan terjadi karena timing-nya tidak pas, misalnya topik pembicaraan yang berat setelah makan siang. Atau barangkali audience sama sekali tidak diajak berpikir, berinteraksi.

Presenter yang baik harus paham betul membaca tanda-tanda kejenuhan. Indikatornya antara lain adalah audience mulai menguap, bahkan ada yang matanya mulai redup, lehernya tumbang, atau sayup-sayup terdengar suara mendengkur. Perlahan-lahan jumlah kursi yang kosong bertambah karena audience satu-persatu meninggalkan ruangan. Mereka mulai bicara sendiri-sendiri, dan lambat laun percakapan diantara sesama audience semakin keras. Tatapan mata mereka kosong.

Ada beberapa hal yang dapat anda lakukan jika audience terlihat mulai jenuh:
1. Berikanlah waktu istirahat minimal 15 menit, agar mereka dapat mencuci muka, menikmati kopi, atau menggerakkan tubuh.

2. Berikan semacam energizer, yaitu permainan-permainan yang mampu membuat audience menggerakkan tubuh mengalami mood yang positif, tertawa, tidak mengantuk.

3. Berikan tugas dalam kelompok agar audience dapat berhenti menyerap dari anda, dan agar mereka mulai mengemukakan jalan pikiran mereka sendiri.

4. Melompatlah ke topik yang sedikit lebih ringan, berikan gambar-gambar yang menarik dengan contoh yang relevan, atau kadang-kadang mengejutkan.

5. Jangan duduk saja di depan, tetapi berjalanlah berkeliling. Berikan presentasi secara interaktif, ajukan pertanyaan-pertanyaan, atau beri kesempatan audience melakukan presentasi.

6. Bila memungkinkan, bagikan sesuatu, seperti kata-kata mutiara, kartu, buku, permen, atau hadiah lain dari sponsor yang dapat membuat mereka sedikit ingin tahu.

7. Jangan gunakan nada suara yang monoton, cobalah gunakan nada yang sedikit lebih bergairah.

Prinsip ini menandaskan bahwa percuma menyampaikan sesuatu yang penting manakala audience merasa jenuh dan sudah tidak mampu merekamnya lagi. Lebih baik kita berhenti sebentar agar jendela otak mereka istirahat sejenak dan siap membuka kembali. Dari pengalaman saya, kejenuhan audience pasti terjadi mengingat sebagian besar peserta presentasi kurang bermotivasi dalam mengikuti sajian….maklum lah sebagian besar peserta diklat datang lebih karena terpaksa daripada karena ingin ikut….

Tapi mau bagaimana lagi…begitulah kondisi peserta kita….dan sudah tugas kita sebagai widyaiswara buat ‘membangunkannya’ khan….?! Ehm…jadi kelingan cerita temen WI saat diklat di Bandung dan ditanya bagaimana cara membuat peserta ‘bangun’ sehabis rehat makan siang…?! Saat dijawab dengan menyanyikan satu atau beberapa lagu…eh….sama penguji LAN Bandung disalahkan….!! Itulah mengapa saya selalu menolak permintaan peserta buat nyanyi-nyanyi saat mereka mulai jenuh….karena bagi saya pelajarannya bukan seni suara…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s