Memburu Intan di Tumpukan Sampah

Sampai dengan awal Maret ini, tercatat sudah tiga kali Semarang kebanjiran buku (kalo kebanjiran aer sih sering banget…..). Ya…..gak tahu lagi ada angin apa beberapa penerbit rame-rame nyerbu Semarang buat ngadain pameran buku. Pertama, tanggal 5 – 10 Februari kemaren yang diadain di Gedung Wanita, jl. Sriwijaya Semarang. Lalu, yang kedua yang diadain di Java Mall, tanggal 10 – 15 Februari oleh penerbit Kompas dan Gramedia. Dan terakhir adalah Bursa Sejuta Buku yang diadain di Gedung Admiral belakang RRI tanggal 27 Februari – 3 Maret 2009. Kayaknya baru di tahun ini lah (sepengetahuanku yang baru tinggal di Semarang sejak Oktober 1999) publik Semarang bener-bener dimanjakan oleh berbagai jenis buku…dan tentu saja sebagai salah seorang pecinta buku saya pastilah tidak mau ketinggalan buat ikut-ikutan nyerbu and mborong-mborong…

Kalo ada pameran buku maka orang pertama yang ingin kukabari adalah Mr. Untung Darmadi….temen widyaiswara sekaligus salah satu maniak buku yang bisa jadi lebih gila daripada saya….Prinsipnya aneh, lucu tapi cocok juga untuk diikuti di masa krisis ini…. Jika masuk toko buku, meski muternya lama, yang dibawa keluar pasti buku yang tipis-tipis sesuai kantong kami….Tapi jika masuk pameran buku, muternya pasti lebih lama dan yang dibawa keluar pasti buku yang tebal-tebal….tentu saja karena setiap pameran pasti ada diskonnya…dan yang jelas nyari buku yang diobral murah…kadang gak begitu bagus juga sih tapi kalo harganya murah apalagi diobral….bagi kami gak ada salahnya untuk dibeli (kalo sudah begini remnya hanya wajah sang istri yang kadang cemberut melihat tumpukan buku yang kubeli…..). Bagi kami persoalan beli buku bukanlah persoalan kualitas tapi kami lebih suka dengan kuantitas….walau sekali lagi saya harus setuju dengan pendapat Pak Untung bahwa pada dasarnya kami-kami ini kelasnya masih sebagai pecinta buku….alias suka membeli buku buat dikoleksi….sementara masalah membaca…ya….sak sempat-sempate lah he…he…he….

090228_170701

Setiap menghadiri pameran buku, ingatan saya selalu melayang pada masa-masa di Yogyakarta….soalnya Yogya yang memang terkenal sebagai kota pelajar itu memang secara rutin selalu menyelenggarakan pameran buku….setahun bisa dua atau tiga kali. Dan kelakuanku pun dari dulu masih sama….setiap pameran pasti yang dicari adalah buku-buku obralan, walau kalo jaman dulu yang kucari terutama lebih pada majalah dan komik-komik yang menjadi kegemaranku…Kalau buku-buku pengetahuan umum sih jarang aku beli, soalnya Yogya khan terkenal juga dengan kios-kios buku yang tersebar di seantero kota…dan tentu saja lengkap dengan diskon gila-gilaannya (biasanya sih antara 20 sampai 30 %, tapi lebaran kemaren saya masih sempet beli Mind Settingnya Naisbit seharga 85 rebu dari harga awal 125 rebu….). Shopping, yang saat ini ada di timur taman pintar, menjadi pusat buku-buku diskon di Kota Yogya….walau ada juga toko-toko diskonan yang cukup besar seperti Toko Buku Toga Mas, Social Agency, Raja Murah yang dapat kita jumpai dengan mudah di kawasan Gejayan yang merupakan pusat mahasiswa….

Kembali ke Pameran buku di Semarang, terus terang aku agak heran juga dengan obralan buku yang digelar di pameran. Gimana tidak, para penerbit itu menyediakan buku-buku baru tapi terbitan lama dengan harga mulai dari 10 rebu, 15 rebu dan 20 rebu perak…!! Kata lama pun sifatnya relatif juga karena saya menemukan buku-buku tersebut ada yang terbitan 2005, 2007 bahkan saya kemaren nemu buku terbitan Februari 2009, tebal 393 halaman dengan harga hanya 20 rebu perak….!! Sehingga istilah upaya pencarian intan diantara tumpukan sampah yang kulakukan pun menjadi semakin mudah. Gimana tidak, begitu banyak buku bagus yang diobral dan dengan harga murah….Mengapa saya katakan sampah, karena bagi orang yang gak ngerti maka tumpukan buku-buku itu hanya lah calon-calon sampah yang siap untuk di daur ulang….padahal jika kita buka segel plastiknya, untuk kemudian mulai membuka halaman demi halaman bukunya….

Fenomena obralan buku-buku bermutu dengan harga yang murah, bagi saya merupakan konsekuensi dari menurunnya jumlah toko-toko buku yang ada di Indonesia. Seperti halnya setiap bisnis maka hukum ekonomi pastilah menjadi raja….Akibat krisis, masyarakat tentu saja lebih memproritaskan konsumsi pada kebutuhan pokok sehingga jumlah permintaan buku menjadi berkurang. Berkurangnya permintaan buku tentu saja menyebabkan banyak toko buku yang bangkrut, tutup atau ganti usaha lain….Dengan semakin sedikitnya jumlah toko buku tentu saja mengurangi jumlah ruang pamer buku sehingga waktu buku untuk berada di rak-rak utama menjadi semakin sebentar….Akibatnya, buku-buku yang sebenarnya baik tetapi karena faktor pengarang atau judul yang kurang menarik, lambat untuk dibeli orang. Konsekuensinya, buku-buku tersebut menjadi terlalu singkat untuk dilihat orang alias segera masuk gudang. Dan itulah yang terjadi….buku-buku tersebut harus terima nasib sebagai barang obralan di pameran-pameran…..Sial bagi sang pengarang karena buah fikirannya hanya dihargai dengan murah, tetapi tentu saja hal itu sangat menguntungkan bagi para pecinta buku tapi berkantong pas-pasan seperti saya….Oleh karena itu, jangan lupa selalu hadiri setiap pameran buku…lihat-lihat barang obralan karena akan semakin banyak buku-buku bermutu yang diobral atau bisa dimetaforakan sebagai mencari intan ditumpukan sampah seperti judul tulisan ini…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s