Monthly Archives: Desember 2009

Mempertanyakan Nasib Widyaiswara di Akhir Tahun

Kira-kira begitulah tema seminar IWI Jawa Tengah untuk bulan Desember 2009. Sebuah seminar dengan tema menggelitik mengingat waktu pelaksanaan seminar yang ada di akhir tahun…di saat banyak widyaiswara banyak luntang lantung tanpa pekerjaan yang jelas….tentu saja dengan duit yang pas-pasan juga akibat rehat akhir tahun anggaran yang berkonsekuensi tak adanya penyelenggaraan diklat…yang konon kabarnya bru mulai lagi setelah Februari menambah syahdu seminar itu…..ditambah penyaji seminar merupakan widyaiswara yang baru 7 bulan diangkat yakni Dr. Lilin Budiati….sehingga kata banyak orang masih suka ‘meledak’ walau kalau menurut saya sih masih terkaget-kaget akibat penyesuaian dari jabatan struktural yang serba ada dan terhormat….menjadi jabatan fungsional yang lebih mandiri dan swasembada….

Dalam kesempatan itu Ibu Dr. Lilin mengungkapkan sebuah snap shot…istilah beliau tentang gambaran singkat nasib widyaiswara mengingat status Bu Lilin yang masih baru…..sekaligus mengajak para widyaiswara untuk bangkit dari keterpurukan akibat kurang diberdayakan dan hanya disibukkan pekerjaan-pekerjaan rutin mengajar yang itu-itu saja…hingga terkesan pekerjaan widyaiswara merupakan pekerjaan yang ‘terbuang’ atau ‘terpinggirkan’ Lebih lanjut Bu Lilin mengemukakan tugas-tugas widyaiswara yang seharusnya dilaksanakan meliputi 4 aspek, yaitu :
1. Tugas Fungsional sebagai transfer of knowledge, yang meliputi tugas mengajar, mendidik, dan melatih
2. Tugas Manajerial yakni melakukan analisis kebutuhan diklat, termasuk mengelola program diklat baik sebagai penanggung jawab, mengawasi, dan mengevaluasi program diklat.
3. Tugas Profesional, yakni melaksanakan kegiatan pengembangan profesidan penunjang tugas widyaiswara, seperti penelitian, penulisan karya tulis ilmiah, pengabdian pada masyarakat sebagai perwujudan pelayanan publik.
4. Tugas Insidental, seperti tugas ceremonial, mewakili semiloka tingkat lokal, nasional, konsultan advisory.
Baca lebih lanjut

The Last but The First

Terjemahan judul tulisan ini sih maunya adalah yang terakhir tetapi yang pertama (moga-moga bener nulis Inggris-nya). Dan tulisan ini akan menceritakan saat-saat mengajarku yang terakhir walau sebenarnya itu juga merupakan saat-saat mengajarku yang pertama di tahun ini. Bingung….?! Karepnya begini, yang terakhir karena emang setelah acara ngajarku di Salatiga Selasa kemaren maka bisa dikatakan akunya akan sedikit rehat ngajar berhubung sudah akhir tahun anggaran walau mungkin Januari sudah akan mulai lagi kesibukanku dalam mengajar. Tapi acara ngajar terakhirku di tahun ini menjadi begitu istimewa karena yang saya hadapi adalah para CPNS dari penerimaan reguler… hingga tentu saja aura-nya akan sangat berbeda mengingat dirikulah yang akan menerima sampur sebagai orang yang paling tua di dalam kelas…..hmmm….sudah berapa lama ya aku tidak mengalami peristiwa seperti ini….mungkin terakhir kali seperti ini awal atau pertengahan 2007 deh. Gara-gara banyak penerimaan CPNS honorer maka predikatku sebagai seorang yang paling berwibawa tidak otomatis kudapat…tapi selalu harus kuperjuangkan dahulu agar pantas mengajar mereka…..

Kebetulan acara ngajarku yang ke Salatiga itu materinya Manajemen Perkantoran Modern yang sedikit garing…..walau sebenarnya garing atau tidaknya suatu materi tergantung dari cara kita menyampaikan….tapi jujur, 3 Jam Pelajaran pertama setiap kali mengajarkan MPM merupakan saat-saat yang penuh keringat bagi diriku….biasanya aku akan berupaya menerangkan sembari ndagel habis-habisan agar seluruh peserta tidak tewas kebosanan….. bahkan sampai gembrobyos aku menerangkan pun masih saja ada peserta yang sempet-sempetnya ketiduran…..aduh-aduh betapa nelangsanya diri ini. Kalu sudah begitu aku biasanya berusaha bertabah-tabah ria sekuat mungkin karena di 9 JP berikutnya akan saya beri tugas membikin surat dinas ples pesta pertanyaan yang kagak akan bisa membikin peserta ketiduran. But yang terjadi di Salatiga tidaklah demikian. Yang ada di kelas ternyata adalah muka-muka segar yang penuh antusias bertanya tentang materi….hanya perlu tak motivasi sedikit bahwa mereka adalah ibarat tamu yang datang sendiri tanpa ada paksaan nglamar jadi CPNS…naa…kalo sudah begitu, jangan sampai mereka kerja tak bersemangat….rugi dooong sudah pengen sendiri, datang sendiri, nglamar sendiri….eee….begitu lulus malah males-malesan sama dengan yang lain….. Baca lebih lanjut

Diklat TOT Sosialisasi UUD 1945 Yang Menyenangkan….

Dari dulu saya selalu meyakini bahwa suatu proses pembelajaran itu akan menyenangkan jika kita melakukannya dengan motode yang tepat. Dan itulah alasannya mengapa saya mengambil mata pelajaran garing semacam ’Manajemen Perkantoran Modern’ karena saya yakin dengan menggunakan metode yang baik kita akan dengan mudah bisa menyulap yang garing itu menjadi suatu yang menyenangkan dan ujung-ujungnya pelajaran itu akan dapat terserap dengan baik. Lihat pula contoh judul diklat diatas. Judul garing yang mencerminkan isinya yang memang melulu membahas materi UUD 1945 yang telah mengalami perubahan akibat 4 tahapan amandemen mulai 1999-2002. Betul 100%…..ya diklat itu isinya yang memang begitu itu. Akan tetapi, saya merasakan sendiri sebuah materi garing yang dikemas dalam metode yang tepat ternyata menghasilkan pengalaman pembelajaran sekaligus pengkayaan kompetensi yang luar biasa bagi saya pribadi….dan saya kira bagi sebagian besar peserta juga….

Jalannya diklat saya bisa ceritakan sebagai berikut. Pertama-tama kita didesain terlebih dulu agar bisa akrab satu sama lain melalui pelajaran dinamika kelompok guna menghilangkan dinding-dinding kebekuan yang melanda peserta. Lalu, kita emudian diberi pre test guna mengukur kemampuan awal kita sebagai peserta. Hasil pre test ternyata menunjukkan bahwa kemampuan awal peserta hanyalah 35 % saja. Cukup jelek. Tapi gak pa-pa karena dari pre test tersebut para fasilitator yang notabene merupakan anggota MPR-RI bisa mengukur apa saja yang perlu diberikan pada peserta. Hari kedua merupakan hari yang melelahkan karena kita diberi ceramah dari pagi sampai malam tentang materi UUD 1945 beserta perubahannya….yang walau penyajinya menarik dan cukup meyakinkan karena merupakan Anggota MPR…. yang dahsyatnya, disamping mereka sangat menguasai materi, mereka rata-rata orangnya ramah, gak jaim, cukup terbuka alias gak marah-marah walau sedikit kita ejek tentang lembaganya….bahkan cukup jentel menyatakan bahwa memang tidak semua anggota MPR berkualitas….tapi seperti laiknya metode ceramah lain maka hasilnya pasti membosankan….dan saya diem-diem sempet nyolong tidur di kamar saat sesi kedua setelah sebelumnya absen sebagai bukti kehadiran….he….he….he…. Baca lebih lanjut