The Last but The First

Terjemahan judul tulisan ini sih maunya adalah yang terakhir tetapi yang pertama (moga-moga bener nulis Inggris-nya). Dan tulisan ini akan menceritakan saat-saat mengajarku yang terakhir walau sebenarnya itu juga merupakan saat-saat mengajarku yang pertama di tahun ini. Bingung….?! Karepnya begini, yang terakhir karena emang setelah acara ngajarku di Salatiga Selasa kemaren maka bisa dikatakan akunya akan sedikit rehat ngajar berhubung sudah akhir tahun anggaran walau mungkin Januari sudah akan mulai lagi kesibukanku dalam mengajar. Tapi acara ngajar terakhirku di tahun ini menjadi begitu istimewa karena yang saya hadapi adalah para CPNS dari penerimaan reguler… hingga tentu saja aura-nya akan sangat berbeda mengingat dirikulah yang akan menerima sampur sebagai orang yang paling tua di dalam kelas…..hmmm….sudah berapa lama ya aku tidak mengalami peristiwa seperti ini….mungkin terakhir kali seperti ini awal atau pertengahan 2007 deh. Gara-gara banyak penerimaan CPNS honorer maka predikatku sebagai seorang yang paling berwibawa tidak otomatis kudapat…tapi selalu harus kuperjuangkan dahulu agar pantas mengajar mereka…..

Kebetulan acara ngajarku yang ke Salatiga itu materinya Manajemen Perkantoran Modern yang sedikit garing…..walau sebenarnya garing atau tidaknya suatu materi tergantung dari cara kita menyampaikan….tapi jujur, 3 Jam Pelajaran pertama setiap kali mengajarkan MPM merupakan saat-saat yang penuh keringat bagi diriku….biasanya aku akan berupaya menerangkan sembari ndagel habis-habisan agar seluruh peserta tidak tewas kebosanan….. bahkan sampai gembrobyos aku menerangkan pun masih saja ada peserta yang sempet-sempetnya ketiduran…..aduh-aduh betapa nelangsanya diri ini. Kalu sudah begitu aku biasanya berusaha bertabah-tabah ria sekuat mungkin karena di 9 JP berikutnya akan saya beri tugas membikin surat dinas ples pesta pertanyaan yang kagak akan bisa membikin peserta ketiduran. But yang terjadi di Salatiga tidaklah demikian. Yang ada di kelas ternyata adalah muka-muka segar yang penuh antusias bertanya tentang materi….hanya perlu tak motivasi sedikit bahwa mereka adalah ibarat tamu yang datang sendiri tanpa ada paksaan nglamar jadi CPNS…naa…kalo sudah begitu, jangan sampai mereka kerja tak bersemangat….rugi dooong sudah pengen sendiri, datang sendiri, nglamar sendiri….eee….begitu lulus malah males-malesan sama dengan yang lain…..

Sebenarnya ngajar dengan orang yang usianya lebih tua dari kita itu ya biasa-biasa saja…apalagi bisa dikatakan sudah berbagai macam teknik yang saya dapatkan selama 3,5 tahun jadi WI…baik yang saya dapatkan dari buku-buku, dari hasil belajar dari WI lain atau dari kursus-kursus yang saya ikuti. Walaupun demikian, ada kerinduan juga pada diri saya pribadi tampil di depan kelas yang pesertanya seluruhnya lebih muda dari saya. Dan ternyata memang ada sesuatu yang beda saat ngajar orang yang lebih muda dari saya…diantaranya :

1. Wibawa yang Tak Terbeli. Maksudnya wibawa itu sudah terpancar begitu saya masuk kelas. Apalagi masyarakat Jawa memang selalu lekat dengan budaya menghormati orang yang lebih tua…dan hormatnya itu bener-bener tulus dan bukan sekedar takut pada sang widyaiswara yang bisa menjatuhkan kelulusan siswa…

2. Sedikit Pedagogy. Saya bener-bener menikmati masa-masa sebagai seorang widyaiswara yang dihormati sebagai orang yang lebih pinter. Artinya, apapun yang kuberikan para pesertanya lebih banyak mengangguk-angguknya mengingat tingkat pengalaman mereka yang minim di bidang pemerintahan hingga mereka selalu menganggap apa yang saya berikan sudah benar padahal…..

3. Petuah Orang Tua. Tentu saja sebagai orang yang paling tua maka saya dianggap sebagai orang yang paling berpengalaman di kelas sehingga saya yang biasanya lebih sering memberikan motivasi atau inspirasi bagi para peserta….. maka saat berhadapan dengan yang lebih muda motivasi dan inspirasi itu lebih seperti petuah dari yang tua kepada yang muda…….hmmm…..saya jadi kelihatan seperti om…om….

4. Bahasa Yang Nyambung. Bahasa yang sering saya gunakan memang kebanyakan bahasa gaul anak muda akibat diri ini yang kebanyakan nonton tipi…. dan mengingat usia mereka yang muda-muda tentu saja bahasa yang saya gunakan lebih klop dengan mereka…hingga kitanya jadi bisa tertawa bersama-sama saat akunya muncul dengan joke-joke gaul…..sementara jika ngajar yang honorer lagunya saja biasanya masih banyak yang suka dengan campur sari….

5. Penuh Idealisme. Yang saya kagumi dari para ank muda itu adalah idealismenya yang masih tinggi-tinggi hingga saat saya terangkan mereka umumnya mendengarkan dengan penuh antusias…apalagi saat saya memberikan petuah agar mereka mau memperhatikan segala materi yang diberikan buat bekal mereka dalam bekerja…..bisa dikatakan tak ada mata yang redup akibat ngantuk…. Sementara jika ngajar honorer….yang ada adalah semangat untuk sekedar lulus dari diklat ‘siksa’ prajabatan ini…hingga gak heran banyak peserta yang loyo hingga sakit-sakitan selama ikut diklat…..jadi ingat petuah Ibrahim Elfiky bahwa Pikiran mempengaruhi kesehatan…..

6. Mata Yang Segar. Tentu saja sebagai lelaki normal saya pasti akan lebih senang jika yang diajar itu wajah-wajah seger….gak usah cantik-cantik amat jika yang diajar adalah wajah-wajah muda nan penuh semangat maka pastilah wajah-wajah itu akan lebih bersinar syedap dipandang mata…..Kalau sudah begini, widyaiswaranya pun jadi ikut bersemangat and sedikit cari perhatian para muridnya…..He…he…he….jadi teringat cerita temen waktu lagi kursus di Jakarta….Cerita tentang seorang widyaiswara yang punya istri sampek 3 orang dan 2 diantaranya adalah bekas muridnya selama diklat prajabatan…..

7. Lebih Menyenagkan. Yang jelas muara dari semua itu adalah proses pembelajaran yang menyenangkan….Memang enak punya murid-murid yang cantik and ganteng-ganteng…tapi lebih enak jika punya murid yang pinter sekaligus rajin bertanya….dan kelas saya punya kedua hal yang enak-enak itu…. hingga bisa dikatakan ngajar seharian pun rasanya tidak capek sama sekali…walau saat ngajar sempet diselingi lampu mati pun gak apa-apa…..

2 responses to “The Last but The First

  1. Pak lutfi catatan yang nopember mana? nggak ada yang berkesan ya di benteng vandevic gombong?

  2. good……>>>

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s