Malam-Malam Gelisah Bagi Widyaiswara

Judulnya sih seperti lagu dangdut, walau maksudnya bukan seperti itu. Karepnya sih tulisan kali ini hendak menceritakan malam-malam paling menggelisahkan bagi seorang widyaiswara, yakni malam-malam saat mulai mengajarkan sebuah materi. Memang sih, jika materi itu sudah biasa kita ampu….malam sebelum mengajar bukanlah malam yang istimewa…karena segala persiapan telah tersedia dengan cukup dan bahkan kata orang turah-turah. Maksudnya adalah ibarat seorang tentara segala macam jenis senjata telah disiapkan jauh-jauh hari dan ready to use. Hingga tinggal pilih senjata mana yang hendak dipakai….tergantung musuhnya. Kalo musuhnya kelas teri ya…cukup pakai piso atau paser saja, sementara jika musuhnya kelas berat ya….kita siapin aja bom atom jika gak nyerah-nyerah. Apalagi medan perangnya telah kita kenal dengan baik hingga dengan mudah kita bisa menentukan tenpat persembunyian, posisi dan strategi buat menaklukkan lawan. Tapi tentu saja lain halnya jika daerah lawan belum pernah kita rambah….apalagi dengan amunisi yang minim maka malam-malam sebelum terjun ke medan pertempuran merupakan malam-malam yang paling menggelisahkan bagi seseorang….Dan itulah mungkin ilustrasi singkat bagaimana gelisahnya seorang widyaiswara dalam menghadapi malam-malam sebelum menyampaikan materi yang baru pertama kali diampunya…

Bagi saya, mengampu Sistem Pemerintahan NKRI merupakan pengalaman petualangan saya berikutnya bagi saya sebagai seorang widyaiswara. Walaupun jauh dari background pendidikan tetapi materi ini tetap penting sebagai investasi masa depan saya dalam mengampu materi-materi diklat kepemimpinan lanjutan di masa depan. Bisa dikatakan mau tidak mau saya sudah harus mulai berubah ke arah yang lebih mendukung karier saya di masa depan. Walaupun demikian, banyak tantangan yang harus ditaklukkan untuk dapat mengajarkan materi ini dengan baik. Yang pertama, tentu saja menguasai substansi materi yang karena jauh dari ’rumah’ maka bisa dikatakan saya hanya punya amunisi yang terbatas…mengingat buku-buku yang saya baca terkait dengan materi itu bisa dikatakan minim dengan pengalaman juga bisa dikatakan nol besar ples keberminatan yang masih meraba-raba alias nekad amergo kepepet. Dengan kata lain amunisi yang saya miliki sangat amat terbatas sekali. Oleh sebab prinsip pembelajaran orang dewasa lebih karena kebutuhan….maka untuk sementara saya tidak memperbanyak dulu buku referensi mengingat seperti pengalaman sebelum-belumnya banyak beli buku belum tentu banyak membaca alias lebih banyak disimpennya daripada dibacanya.

Banyak diskusi dengan pengampu senior menjadi pilihan saya dalam meningkatkan penguasaan materi…. utamanya banyak-banyak bertanya terhadap beberapa bagian dari modul yang susah saya mengerti termasuk peraturan perundang-undangan yang mendukung. Dan ternyata banyak juga peraturan perundang-undangan yang harus saya pelajari buat memperkaya penguasaan materi dalam modul…yang setelah saya search and unduh via internet rasa-rasanya sampai hari H-1 dalam mengajar masih saja ada beberapa bagian yang belum ketemu link and match-nya hingga masih rodo-rodo bingung juga disamping bahan dasar di modulnya juga belum apal banget….Tapi pengalaman sebagai widyaiswara selama 4 tahun telah membuatku sedikit tenang mengingat prinsip ’widyaiswara itu pasti bisa mengajar asal ada judulnya….’ Apalagi pengalaman pertama khan bukan segala-galanya…masih ada pengalaman-pengalaman mengajar berikutnya yang perlahan-lahan akan meningkatkan kompetensi kita dengan sendirinya. Belum lagi tujuan utama saya mengampu materi ini adalah untuk belajar dan The best learning is teaching to….?! Jadi gak usah takut untuk mengajar….just do it maka percayalah Anda akan menemukan fakta-fakta baru yang menarik selama mengajar….. Baca lebih lanjut

Repot-Repot Rapat-Rapat

Ada budaya baru (pengennya sih menjadi budaya alias menjadi tradisi dan bukan hanya sekedar trend sesaat yang cepet hilang….) yang muncul saat jeda ngajar di awal 2010, yakni rapat materi pelajaran. Tidak tahu siapa yang memulai, yang jelas minggu-minggu ‘garing’ ini banyak diisi rapat-rapat materi. Sesuatu yang baru dan sekaligus mengejutkan bagi saya. Tujuan rapat tentu saja adalah penyamaan persepsi atas kontent materi pelajaran diantara widyaiswara-widyaiswara yang kebetulan mengampu materi diklat yang sama. Disamping itu, juga dibahas bagaimana strategi mengajar mata diklat yang bersangkutan agar menghasilkan proses belajar mengajar yang efektif sekaligus menyenangkan bagi para peserta. Bukan untuk diseragamkan, tetapi lebih untuk saling sharing pengalaman-pengalaman mengajar masing-masing widyaiswara saat menyampaikan materi…..buat diteladani widyaiswara lain…atau sekedar memberi inspirasi demi proses belajar mengajar yang lebih baik.

Diluar pelaksanaan rapat, saya menganggap tradisi rapat materi merupakan sebuah sinyal positif bagi iklim kesejukan hubungan diantara para WI…yang biasanya saling intip, saling ejek, bahkan juga saling telikung dalam hubungannya dengan perebutan jumlah jam mengajar….. yang seringkali dihubungkan dengan penghasilan para WI. Sebuah masalah klasik yang selama ini menghinggapi para widyaiswara di Jawa Tengah (bagaimana dengan widyaiswara di tempat Anda….?). Istilah ‘rukun’ sendiri merupakan sebuah kejutan yang menyenangkan bagi saya….yang mungkin disebabkan cukup meratanya jumlah jam mengajar yang menjadi jatah masing-masing WI mulai dari yang paling junior sampai dengan yang senior….dengan rata-rata pada kisaran 900 jam mengajar per tahun. Belum lagi kisah sukses 9 pendekar senior yang secara berkala dipanggil LAN-RI untuk mengisi diklat-diklat Pim II yang diselenggarakan LAN…. membuat para senior sibuk sekaligus membikin para junior pun ikut-ikutan sibuk…. ‘nadahi’ pelimpahan-pelimpahan jam mengajar yang ditinggalkan para seniornya itu. Mungkin itulah solusi sebuah perselisihan JP…..semakin banyak JP yang bisa dibagi maka perselisihan banyak-banyakan jam mengajar berubah menjadi perselisihan buat istirahat tidak mengajar….sangking banyaknya jam yang harus dijalani setiap WI…. Baca lebih lanjut

Salah Kaprah Pemahaman UUD 1945

Ikut Diklat TOT Sosialisasi UUD 1945 mendatangkan beragam pengetahuan baru bagi saya pribadi. Maklum, latar belakang pendidikan, latar belakang pekerjaan ples keberminatan jauh banget dengan urusan yang begitu-begitu. Beragamnya pengetahuan itu saya ibaratkan seperti diri saya yang berdiri di bawah pohon jambu yang sedang berbuah ranum, merah dan ‘pating nggrandul’ menggiurkan selera. Naa….saat proses diklat itu ibarat datangnya angin ribut yang menerpa tuh pohon…wuuss….wusss… wwwuuuuusss…. hingga sangking kerasnya tuh angin menyebabkan buah jambu yang ranum itu berjatuhan ke tanah. Tentu saja, saya yang di bawah pohon sibuk banget menangkapi si buah jambu yang jatuh. Akan tetapi, karena buah jambu yang jatuh itu terlalu banyak maka….ya….ada yang ketangkep…..ada yang tidak…..

Begitulah yang terjadi selama proses diklat, informasi yang saya terima begitu banyak dan beragam hingga sangking banyaknya……ya….itu tadi ada yang bisa masuk…dan banyak juga yang gak mudheng juga sangking banyaknya. Tapi seperti laiknya buah jambu yang jatuh ke tanah maka demi mendapatkan semua kenikmatan rasa si jambu maka tanpa malu-malu saya akan mengmbili jambu-jambu di tanah….sedikit kotor sih tapi masih lumayan dinikmati….Artinya, saya akan mendapatkan sisa informasi yang belum tertangkap itu dengan memberanikan diri buat mengajarkan materi tersebut (mungkin lewat materi sistem pemerintahan yang ada di prajab)….karena kata orang cara belajar terbaik adalah dengan mengajar….pertanyaan-pertanyaan peserta terkait dengan materi akan semakin memperdalam pengertian saya…..walau mungkin ada beberapa pertanyaan yang tak terjawab, tapi kita gak perlu malu….malah hal itu akan mendorong kita untuk belajar and belajar lagi…. Baca lebih lanjut

Mempertanyakan Nasib Widyaiswara di Akhir Tahun

Kira-kira begitulah tema seminar IWI Jawa Tengah untuk bulan Desember 2009. Sebuah seminar dengan tema menggelitik mengingat waktu pelaksanaan seminar yang ada di akhir tahun…di saat banyak widyaiswara banyak luntang lantung tanpa pekerjaan yang jelas….tentu saja dengan duit yang pas-pasan juga akibat rehat akhir tahun anggaran yang berkonsekuensi tak adanya penyelenggaraan diklat…yang konon kabarnya bru mulai lagi setelah Februari menambah syahdu seminar itu…..ditambah penyaji seminar merupakan widyaiswara yang baru 7 bulan diangkat yakni Dr. Lilin Budiati….sehingga kata banyak orang masih suka ‘meledak’ walau kalau menurut saya sih masih terkaget-kaget akibat penyesuaian dari jabatan struktural yang serba ada dan terhormat….menjadi jabatan fungsional yang lebih mandiri dan swasembada….

Dalam kesempatan itu Ibu Dr. Lilin mengungkapkan sebuah snap shot…istilah beliau tentang gambaran singkat nasib widyaiswara mengingat status Bu Lilin yang masih baru…..sekaligus mengajak para widyaiswara untuk bangkit dari keterpurukan akibat kurang diberdayakan dan hanya disibukkan pekerjaan-pekerjaan rutin mengajar yang itu-itu saja…hingga terkesan pekerjaan widyaiswara merupakan pekerjaan yang ‘terbuang’ atau ‘terpinggirkan’ Lebih lanjut Bu Lilin mengemukakan tugas-tugas widyaiswara yang seharusnya dilaksanakan meliputi 4 aspek, yaitu :
1. Tugas Fungsional sebagai transfer of knowledge, yang meliputi tugas mengajar, mendidik, dan melatih
2. Tugas Manajerial yakni melakukan analisis kebutuhan diklat, termasuk mengelola program diklat baik sebagai penanggung jawab, mengawasi, dan mengevaluasi program diklat.
3. Tugas Profesional, yakni melaksanakan kegiatan pengembangan profesidan penunjang tugas widyaiswara, seperti penelitian, penulisan karya tulis ilmiah, pengabdian pada masyarakat sebagai perwujudan pelayanan publik.
4. Tugas Insidental, seperti tugas ceremonial, mewakili semiloka tingkat lokal, nasional, konsultan advisory.
Baca lebih lanjut

The Last but The First

Terjemahan judul tulisan ini sih maunya adalah yang terakhir tetapi yang pertama (moga-moga bener nulis Inggris-nya). Dan tulisan ini akan menceritakan saat-saat mengajarku yang terakhir walau sebenarnya itu juga merupakan saat-saat mengajarku yang pertama di tahun ini. Bingung….?! Karepnya begini, yang terakhir karena emang setelah acara ngajarku di Salatiga Selasa kemaren maka bisa dikatakan akunya akan sedikit rehat ngajar berhubung sudah akhir tahun anggaran walau mungkin Januari sudah akan mulai lagi kesibukanku dalam mengajar. Tapi acara ngajar terakhirku di tahun ini menjadi begitu istimewa karena yang saya hadapi adalah para CPNS dari penerimaan reguler… hingga tentu saja aura-nya akan sangat berbeda mengingat dirikulah yang akan menerima sampur sebagai orang yang paling tua di dalam kelas…..hmmm….sudah berapa lama ya aku tidak mengalami peristiwa seperti ini….mungkin terakhir kali seperti ini awal atau pertengahan 2007 deh. Gara-gara banyak penerimaan CPNS honorer maka predikatku sebagai seorang yang paling berwibawa tidak otomatis kudapat…tapi selalu harus kuperjuangkan dahulu agar pantas mengajar mereka…..

Kebetulan acara ngajarku yang ke Salatiga itu materinya Manajemen Perkantoran Modern yang sedikit garing…..walau sebenarnya garing atau tidaknya suatu materi tergantung dari cara kita menyampaikan….tapi jujur, 3 Jam Pelajaran pertama setiap kali mengajarkan MPM merupakan saat-saat yang penuh keringat bagi diriku….biasanya aku akan berupaya menerangkan sembari ndagel habis-habisan agar seluruh peserta tidak tewas kebosanan….. bahkan sampai gembrobyos aku menerangkan pun masih saja ada peserta yang sempet-sempetnya ketiduran…..aduh-aduh betapa nelangsanya diri ini. Kalu sudah begitu aku biasanya berusaha bertabah-tabah ria sekuat mungkin karena di 9 JP berikutnya akan saya beri tugas membikin surat dinas ples pesta pertanyaan yang kagak akan bisa membikin peserta ketiduran. But yang terjadi di Salatiga tidaklah demikian. Yang ada di kelas ternyata adalah muka-muka segar yang penuh antusias bertanya tentang materi….hanya perlu tak motivasi sedikit bahwa mereka adalah ibarat tamu yang datang sendiri tanpa ada paksaan nglamar jadi CPNS…naa…kalo sudah begitu, jangan sampai mereka kerja tak bersemangat….rugi dooong sudah pengen sendiri, datang sendiri, nglamar sendiri….eee….begitu lulus malah males-malesan sama dengan yang lain….. Baca lebih lanjut

Diklat TOT Sosialisasi UUD 1945 Yang Menyenangkan….

Dari dulu saya selalu meyakini bahwa suatu proses pembelajaran itu akan menyenangkan jika kita melakukannya dengan motode yang tepat. Dan itulah alasannya mengapa saya mengambil mata pelajaran garing semacam ’Manajemen Perkantoran Modern’ karena saya yakin dengan menggunakan metode yang baik kita akan dengan mudah bisa menyulap yang garing itu menjadi suatu yang menyenangkan dan ujung-ujungnya pelajaran itu akan dapat terserap dengan baik. Lihat pula contoh judul diklat diatas. Judul garing yang mencerminkan isinya yang memang melulu membahas materi UUD 1945 yang telah mengalami perubahan akibat 4 tahapan amandemen mulai 1999-2002. Betul 100%…..ya diklat itu isinya yang memang begitu itu. Akan tetapi, saya merasakan sendiri sebuah materi garing yang dikemas dalam metode yang tepat ternyata menghasilkan pengalaman pembelajaran sekaligus pengkayaan kompetensi yang luar biasa bagi saya pribadi….dan saya kira bagi sebagian besar peserta juga….

Jalannya diklat saya bisa ceritakan sebagai berikut. Pertama-tama kita didesain terlebih dulu agar bisa akrab satu sama lain melalui pelajaran dinamika kelompok guna menghilangkan dinding-dinding kebekuan yang melanda peserta. Lalu, kita emudian diberi pre test guna mengukur kemampuan awal kita sebagai peserta. Hasil pre test ternyata menunjukkan bahwa kemampuan awal peserta hanyalah 35 % saja. Cukup jelek. Tapi gak pa-pa karena dari pre test tersebut para fasilitator yang notabene merupakan anggota MPR-RI bisa mengukur apa saja yang perlu diberikan pada peserta. Hari kedua merupakan hari yang melelahkan karena kita diberi ceramah dari pagi sampai malam tentang materi UUD 1945 beserta perubahannya….yang walau penyajinya menarik dan cukup meyakinkan karena merupakan Anggota MPR…. yang dahsyatnya, disamping mereka sangat menguasai materi, mereka rata-rata orangnya ramah, gak jaim, cukup terbuka alias gak marah-marah walau sedikit kita ejek tentang lembaganya….bahkan cukup jentel menyatakan bahwa memang tidak semua anggota MPR berkualitas….tapi seperti laiknya metode ceramah lain maka hasilnya pasti membosankan….dan saya diem-diem sempet nyolong tidur di kamar saat sesi kedua setelah sebelumnya absen sebagai bukti kehadiran….he….he….he…. Baca lebih lanjut

Selalu Ada Jalan Saat Kita Berfikir Positif

”Pak….Bagaimana cara kita selalu berfikir positif, menghindari rasa enggan, saat kita masuk dalam kelas yang sebagian besar terdiri dari kelompok anak-anak yang nakal.”demikian kurang lebih pertanyaan yang dilontarkan Ibu Farida, salah satu peserta Diklat Prajabatan Golongan 60 Tahun 2009 yang kebetulan merupakan salah seorang guru dari SMK di Kota Surakarta. Sejenak saya termenung membayangkan suasana yang dialami ibu guru tersebut hingga kemudian saya kemudian menemukan sebuah jawaban…. ”Mungkin kurang lebih Anda harus berfikir layaknya saya saat masuk dalam kelas Diklat Prajabatan ini…..” Saya mencoba tersenyum dan tetap tenang sembari mencoba menceritakan perasaan saya saat pertama kali masuk dalam kelas…..

Memang sebenarnya bisa dikatakan agak jengkel juga saat masuk kelas Diklat Prajab angkatan 60 tersebut….. Bagaimana tidak, belum lagi hilang rasa capek saya akibat baru saja pulang dari Kudus selama 2 hari…tiba-tiba sekretariat sudah menugaskan saya untuk mengajar pelajaran Mind Setting di kantor…..yang tentu saja akan memakan waktu 2 hari lagi. Tambah berat saja rasanya saat mendapati sorot mata anak bungsu saya yang kelihatan gak rela melepas Bapaknya harus pergi lagi…setelah hilang dari rumah selama 2 hari…..hingga berbagai pikiran jengkel berkecamuk di pikiran saya, mengalahkan gemerincing coin yang nantinya akan saya dapat setelah mengajar materi tersebut….. ”Huh…emang gak ada orang lain apa…koq yang harus ngajar aku lagi…aku lagi….” Dan tambah ’mbedhedeg’ saja saat saya masuk kelas dan mendapati peserta yang rata-rata sudah tua…dengan pendidikan rata-rata rendah….dengan jenis pekerjaan yang umumnya pekerja lapangan, mulai dari kebersihan, tukang kebun, driver, petugas pasar, satpam….hingga baca tulis pun jarang mereka lakukan….Belum lagi jumlah peserta yang overload sampek 49 orang (biasanya khan 40 orang doang)”Jangan-jangan para WI lain sengaja melarikan diri karena tahu betapa berat melakukan tranfer ilmu pada mereka-mereka ini….” Demikian kurang lebih pikiran jengkel yang ada dalam diriku…..

Baca lebih lanjut

Mengajarkan Demokrasi Lewat Teka-Teki

Salah satu model permainan yang lagi saya sukai adalah bermain teka-teki. Sebenarnya teka-teki pada mulanya sering saya gunakan saat sedang berkeliling-keliling di sela-sela diskusi kelas. Pengennya sih sedikit memeberi selingan bagi beberapa peserta saat mereka sedang diskusi agar mereka bisa lebih enjoyable and tidak terlalu tegang… sekalian biar memberi kesan akaran dengan peserta….utamanya pada pelajaran-pelajaran yang ‘garing’ semacam Manajemen Perkantoran Moderen. Naa… disini saya biasanya kemudian biasanya saling tukar teka-teki dengan peserta yang kebetulan punya banyak koleksi teka-teki lokal. Sementara saya sendiri memperkaya koleksi saya lewat buku-buku yang saya baca atau malah lewat ‘searching’ via internet yang memang bejibun penuh dengan teka-teki beraneka ragam…..

Sebenarnya model-model begitu sih asyik-asyik aja….tapi lama-lama agak bosen juga menang terus lawan peserta-peserta yang tidak siap….alias teka-teki yang diberikan peserta seringnya itu-itu saja….padahal disatu sisi saya masih pengen menggali teka-teki lokalan yang mungkin gak ada di dunia maya….skalian pengen mensharingkannya via internet buat nambah khasanah perteka-tekian di dunia maya….hingga kemudian saya teringat prinsip Ice Breaking milik Fakih cs. yang pernah saya postingkan, menyatakan bahwa ‘pemecah kebekuan’ yang baik antara lain adalah mengandung unsur-unsur perlombaan atau persaingan serta lebih baik lagi kalau gagasannya justru berasal dari peserta sendiri. Dari prinsip itu saya kemudian memainkan perlombaan teka-teki antar kelompok (biasanya dalam materi Team Building)…. bahkan setelah sedikit modifikasi permainan sederhana ini menjadi menarik setelah saya kombinasikan dengan prinsip kebebasan berpendapat dan menentukan pilihan….hingga akhirnya malah sering menginspirasi peserta tentang makna sesungguhnya dari prinsip demokrasi yang walaupun dianggap yang terbaik…tapi di beberapa hal tetep saja merugikan beberapa pihak yang terlibat di dalamnya…. Baca lebih lanjut

Values dari Widyaiswara

Sebelum saya jabarkan lebih lanjut tulisan ini, saya hendak kemukakan pengertian nilai yang dikemukakan oleh Adi W. Gunawan dalam bukunya The Secret of Mindset, yakni nilai atau value adalah apa yang kita yakini atau percayai sebagai sesuatu yg berharga bagi kehidupan kita. Secara jelas definisi dan kedudukan value tertuang dalam gambar berikut :

Slide1

Dari gambar tersebut terlihat jelas bahwa nilai mendasari segala aspek kehidupan kita.Beberapa hal lain dari gambar tersebut yang perlu diketahui adalah

Beliefs: Sesuatu yang kita yakini sebagai hal yang benar menurut pemikiran kita
Rule : Seperangkat aturan untuk yang menentukan apakah kita merasa telah mencapai value atau hal penting
Self Talk : Dialog internal yang terjadi dalam diri kita yang selalu kita alami saat kita berinteraksi dengan lingkungan
Behaviour : perilaku atau respon yang tampak terhadap suatu peristiwa.

Dari gambar tersebut juga terlihat bahwa perilaku atau behaviour lah yang selama ini kita lihat dari seseorang saat dia menghadapi pilihan-pilihan dalam kehidupannya, sementara sebab terjadinya perilaku, baik itu self talk, rule, beliefs maupun nilai, tidak tampak oleh kita. Dari gambar tersebut juga bisa kita lihat bahwa segalanya terbentuk karena pengaruh lingkungan, baik lingkungan keluarga, teman-teman terdekat maupun masyarakat.

Lalu bagaimana dengan nilai-nilai yang harus dimiliki oleh seorang widyaiswara yang konon secara definitif harus selalu menyuarakan kebaikan….?! Na….dalam Diklat Karya Tulis Ilmiah yang sedang saya ikuti, Pak Suparmo Ali mengemukakan nilai-nilai kebaikan seperti tercantum dalam gambar berikut :

Slide1

Dan saya yakin Anda semua setuju jika ke-26 nilai kebaikan itu harusnya ada dalam diri seorang widyaiswara. Hanya saja masalah kemudian timbul saat Pak Parmo Ali meminta kita para peserta diklat memilih 3 diantara nilai-nilai tersebut yang paling cocok buat WI…karena tentu saja setiap orang memiliki pilihan sendiri-sendiri…..Dan walaupun akhirnya peserta sepakat memilih tiga nilai : Kesabaran, Kejujuran dan Kesungguhan….saya termasuk orang yang berteriak-teriak tidak setuju dengan pendapat itu…Berhubung kalah suara akibat voting maka saya muat saja pendapat saya di postingan kali ini….biar gak nggonduk….memang sedikit liar dan kontroversi tetapi pendapat saya pasti telah saya landasi dengan argumen yang ”out of the boxes” seperti kegemaran Pak SBY……simak saja ya…. Baca lebih lanjut

Bahkan Sarno pun ingin berubah….

“If You Don’t Learn You Don’t Change…..
If You Don’t Change You Die…”
Peter Senge

Pada dasarnya manusia harus senantiasa berubah…ke arah yang lebih baik tentunya. Mengapa demikian….?! Tentu saja alasan utama adalah Dunia sedang berubah…ke arah yang lebih sulit dan lebih menantang manusia untuk mengantisipasinya….Iklim yang berubah semakin tak menentu akibat pemansan global….Budaya manusia pun telah berubah dari yang tradisional, rasional sampai kepada digitalisme…. Hal itu tentu saja menuntut manusia-manusia modern keluar dari comfort-comfort zone nya….ibarat kodok rebus dalam sebuah panci yang jika tidak cepat meloncat maka dia akan mati. Kuncinya kalau menurut Steven Covey salah satunya adalah dengan selalu mengasah gergaji (sharpeness the saw)….ya…manusia harus siap untuk selalu belajar agar selalu up to date…kalo tidak ya…siap-siap ketinggalan jaman…..alias jadi manusia yang gak kepakek lagi….

Lalu Who is Mr. Sarno….?! Mr. Sarno adalah temen saya semenjak bergabung sebagai CPNS di Bandiklat Jawa Tengah…Dari namanya yang pendek dan Wong Jowo banget, Anda bisa menebak sosok seperti apa Mr. Sarno itu…..bisa dikatakan dia merupakan sosok PNS yang biasa kita jumpai sehari-hari. Taat aturan, sibuk dengan rutinitas, normative, sedikit lugu alias gaptek alias gak bisa komputer…. ples dengan jalannya yang kalem….glek….glek….glek…. nyantai…..ibarat waktu gak pernah ada habisnya……Seringkali kami memanggilnya dengan Sarno bendol mengingat tugasnya yang sedikit paling lower di unit kerja kami….alias tukang pengantar surat nan setia dengan motor bebek hitamnya yang tua serta suka ngadat jika jalannya menanjak….. Satu yang kuingat dari dirinya adalah semangat untuk selalu mengatakan bisa saat diperitah mengerjakan sesuatu dari pimpinan….walau hasilnya pun gak bisa dikatakan bagus…..Pendek kata tak ada yang istimewa bagi dirinya…..kecuali perubahan-perubahan yang terjadi pada dirinya…. yang jauh lebih menarik untuk diceritakan daripada sibuk membayangkan sosoknya yang kembar identik dengan namanya he….he….he…. Baca lebih lanjut

Di Tengah Serbuan Virus Paling Menjengkelkan

Penyakit apa yang paling menjengkelkan bagi seorang Widyaiswara….?! Bukan penyakit lain-lain yang sangat berbahaya…penyakit yang paling menjengkelkan bagi Widyaiswara adalah BATUK….!! Bukan apa-apa, seorang yang dikaruniai penyakit batuk secara fisik sih gak apa-apa….alias bisa dikatakan seger buger….termasuk ambisinya yang meluap-luap buat bekerja dengan baik (bahkan kadang kita jumpai seorang yang sedang batuk malah asyik merokok juga….ditambani gak mari-mari koq Pak….tak rokoki pisan….) Tapi bagi seorang widyaiswara yang memang bisa dikatakan jual suara….maka yang terjadi adalah jengkel dan jengkel semata….Gimana tidak, jadwal sedang penuh sesak menanti…hingga bunyi gemerincingnya pun terdengar jelas….tapi berhubung tugasnya adalah ngomong sepanjang hari….sementara alat ngomongnya sedang gak beres…maka terpaksa deh harus rela diparkir dengan jengkel….Kecuali kalo berani nekad dengan tetep masuk….sembari tutup kuping dari komentar-komentar sinis peserta…”Wah….mau nyebar-nyebarin virus ya Pak….?!”

Di musim kemarau berhawa dingin ini, batuk pilek memang menjadi pemandangan yang tak aneh di banyak tempat….dimana-mana banyak orang terjangkit virus flu-batuk tersebut….yang kadang anak istri pun kedapatan terserang penyakit yang sangat menjengkelkan itu. Kalo sudah begitu, terpaksa deh saya sebagai widyaiswara harus pasang badan agar tidak tertulari virus….misalnya dengan punya gelas khusus selama di rumah guna mencegah kita minum dari gelas bekas anak-istri yang lagi batuk….termasuk juga harus menjauhi acara sayang-sayangan dengan anak-istri selama mereka masih batuk….juga sedikit menjauhi minuman-minuman seger dingin serta gorengan-gorengan gurih (katanya sih jika gorengan semakin gurih…biasanya minyaknya bukan dari minyak baru alias jlantah hingga bikin mempercepat batuk) buat mencegah terjangkitnya virus batuk…kesemuanya itu harus dilakukan seorang widyaiswara jika dia ingin terbebas dari batuk yang dapat mengganggu tugas Negara nan mulia (halah…). Lalu bagaimana jika sumber penularan itu datang dari peserta….?! Artinya apa, bagaimana jika peserta yang sedang saya ajar itu yang sedang batuk…?! Tentunya sebuah pengalaman yang unik sekaligus menegangkan juga ya….Dan itulah yang yang terjadi kemaren saat aku ngajar materi Mind Setting pada diklat Parajabatan Golongan III angkatan 22 dimana hampir 80 persen pesertanya berada dalam kondisi batuk….baik yang sekedar batuk ringan maupun yang ngikil….Dan perasaan saya saat itu adalah seperti yang ada pada judul postingan kali ini….. Baca lebih lanjut

Lagu Yang Cocok Buat Para Guru

”Nyanyi Pak….Nyanyi Pak…..” demikian yang sering kali saya dengar dari peserta jika mereka mulai bosan dengan pelajaran yang sedang saya sajikan. Nggak tahu kenapa, dan asalanya darimana menyanyi bersama-sama sepertinya menjadi trend bagi peserta diklat untuk menghilangkan kejenuhan. Sebenarnya sih bolah boleh saja sih kita pakek cara itu buat menyegarkan suasana….hanya saja koq sepertinya gak ada cara lain buat menghilangkan kejenuhan selain metode itu ya….bahkan kadang bikin jengkel juga jika peserta baru diterangkan sedikit eee….mereka sudah mulai mengantuk dan segera merengek-rengek minta nyanyi bersama….apalagi ada yang baru tahap perkenalan, alias belum diterangkan sama sekali…mereka sudah minta menyanyi….sebel banget hingga akunya kemudian ngomong ketus….”Sorry ya…pelajaran hari ini bukan pelajaran seni suara….” Bahkan Mas Abdul Mu’id, salah satu panitia di Jepara, sudah mulai apal dengan karakter saya hingga ”Kalo Pak Lutfi yang ngajar…pasti gak ada acara nyanyi-nyanyi bersama….” Perkataan yang maksudnya nyindir metode saya yang kering…atau malah muji karena tanpa nyanyi peserta pun bisa ’melek’….gak tau yang mana, yang jelas jika Mas Mu’id ngomong begitu paling saya hanya nyengir saja….

Bukan…bukan aku gak suka dengan acara nyanyi-nyanyi bersama. Cuman rasanya lucu saja jika kita sekelas nyanyi-nyanyi bersama tanpa juntrungan. Pengennya sih nyanyi yang kreatif and rekreatif hingga bikin kita tertawa bareng-bareng gitu. Hanya saja, jumlah lagu yang model begitu hanya sedikit koleksinya dan biasanya sudah dipakek sama WI yang ngajar terdahulu sebelum saya…hingga gak seru lagi deh jika kita nyanyikan lagi. Gak ada surprise-nya gitu. Pas kebetulan ngajarnya di awal-awal diklat hingga kita bisa nyuri start buat ngajarin nyanyian tersebut…juga kayaknya gak tega dengan WI yang datang belakangan dan lebih suka menyanyi daripada saya…. Pengennya sih bisa nyanyi lagu-lagu jaman sekarang alias lagu-lagu yang sedang trend… tapi ya itu gak lucu to kita nyanyi-nyanyi tanpa iringan musik. Pengennya sih seperti yang dilakukan Mr. Marpaung dari LAN…yang denger-denger suka bawa-bawa gitar dalam kelas hingga acara nyanyi-nyanyi bersamanya jadi lebih meriah….tapi belum berani ngelakuin gituan ’cos kayaknya koq gak lumrahnya….apalagi pas ketemu terakhir dengan Mr. Marpaung….sang satria bergitar itu sudah tidak nggendong benda kesayangannya itu…hingga akunya kehilangan moment ’role model’ buat mencontohnya….(soalnya aku sih dikit-dikit bisa juga ngegitar walau kemampuannya sih sekedar bisa dipakek buat nyaingin pengamen-pengamen yang sering kujumpai saat perjalanan panjang ke luar kota….)

Yang bikin sedih lagi jika yang minta nyanyi bersama itu adalah kelas dimana pesertanya kebayakan berprofesi sebagai seorang guru. Dari beberapa bincang-bincang akrab dengan mereka, saya sih sempet mendengar bahwa para guru pun saat ini sedang kebingungan buat mencari model pembelajaran yang lebih menyenangkan buat para murid sekolah. Na…dengan adanya diklat and ketemu dengan para WI yang terkenal kaya metode….para guru tersebut sedikit banyak akan mencontoh apa yang sedang kami buat. Dan yang saya takutkan adalah mereka menganggap metode menyanyi adalah satu-satunya cara buat membikin kelas hidup alias menciptakan pembelajaran yang menyenangkan adalah dengan menyanyi….hingga bisa Anda bayangkan bagaimana riuhnya sebuah kelas sekolah jika semua gurunya selalau mengajak menyanyi bersama di setiap sesi pembelajaran….bisa-bisa bikin guru seni suara (eh masih ada pelajaran seni suara atau nggak ya….?!) siap-siap kehilangan pekerjaannya deh…..hi…hi…hi…. Baca lebih lanjut

Tata Cara Penyusunan Laporan

Apakah manfaat dari laporan? Bagaimana kaitan antara laporan dengan pegawai administrasi ? Penyusunan laporan untuk pimpinan merupakan bagian dari tugas pegawai administrasi, baik yang bersifat rutin maupun instruksional (perintah atasan). Hal ini dilakukan karena pada hakikatnya tugas mereka adalah meringankan beban pimpinan, dan karena beban tugas pimpinan begitu banyak dan harus diselesaikan maka pegawai harus menyusun laporan untuk pimpinan. Oleh karena itu, penting bagi pegawai administrasi untuk mengetahui dan memahami hal-hal yang berkaitan dengan laporan.

Laporan merupakan bentuk komunikasi yang dapat dilakukan secara tertulis atau lisan mengenai sesuatu hal tertentu sesuai dengan tujuan penulisannya. Uraian berikut akan lebih ditekankan pada pembahasan hal-hal yang berkaitan dengan laporan tertulis. Laporan inilah yang secara resmi dijadikan sebagai sumber informasi, alat pertanggungjawaban, dan alat pengambilan keputusan dalam kehidupan organisasi. Baca lebih lanjut

Ngajar Temen Sendiri memang merepotkan….

Bingung juga nih saat tiba-tiba Mr. Yatno minta tolong menggantikannya ngajar Metode dan Evaluasi…..Waduh materinya kayaknya bener-bener dipaksain deh….masak metode pembelajaran digabung sama evaluasi pembelajaran yang agak-agak jauh….apalagi wektunya hanya 6 JP…..mana cukuuup…..jadi teringat sama Diklat TOT Perpustakaan dimana Evaluasi Pembelajaran mendapat porsi 16 JP…sementara Metode Pembelajaran dapat 20 JP yang memungkinkan kita sebagai fasilitator sedikit bermain-main sekaligus praktek metode pembelajaran interaktif dan praktek nyusun model-model soal ujian…. Dengan alokasi waktu yang demikian sedikit, malah bikin pusing…..mau diajar apa ya yang kira-kira berguna bagi peserta…lalu metode apa yang bisa dipakai buat mengajarkannya secara efektif ya….?!

Tapi sebenarnya yang bikin bingung itu bukan masalah itu. Terus terang aku sedikit jeri dengan komposisi peserta yang rata-rata lebih berumur daripada saya…..ples pangkat juga lebih tinggi….apalagi diantaranya adalah para widyaiswara dari beberapa lembaga diklat seperti dari Sragen dan Soropadan….juga beberapa WI dari kita sendiri yang lebih baru seperti Bu Lilin, Pak Wahyu dan Bu Martuti…tapi yang lebih bikin sungkan adalah kehadiran Pak Untung, Widyaiswara kita, yang notabene adalah sobat deketku… utamanya dalam mencari and memburu buku-buku….dan yang lebih ngeri lagi adalah keikutsertaan Pak Wardjito yang terkenal kritis, penuh ide sekaligus sering kumintai pertimbangan jika akunya lagi bingung dengan skenario pembelajaran sebuah mata diklat. Dan merekalah yang Senin kemaren harus kuhadapi di depan kelas….bener-bener tidak enak….!! Dan kayaknya hal-hal seperti itu pada masa-masa mendatang harus lebih kuhadapi….yakni mengajar temen-temen sendiri seperti hari kemaren yang merupakan saat pertama kali aku mengajar di depan temen sendiri…..bener-bener merepotkan….!! Baca lebih lanjut

Jangan Pernah Merasa Sebelum Sempat Mencoba

Soorii…pengennya sih bikin kalimat yang agak filsuf walau sebenarnya biasa saja…..tapi khan kata orang sesuatu yang biasa atau banyak orang tahu akan menjadi hal yang luar biasa jika kita mengemasnya luar biasa to….?! Tapi moga-moga saja malah gak tambah bingung dengan gaya muter-muterku….he…he…he….Maksudnya sih, aku pengen agar Anda-Anda sekalian sudah memutuskan untuk mundur sebelum bertanding….atau belum-belum sudah merasa takut sebelum dilakoni….sudah merasa tidak bisa walau belum pernah sekalipun mencoba….Soalnya sih jika belum-belum sudah merasa ini dan itu padahal belum pernah mencoba khan seringkali bikin kita ragu-ragu dalam melangkah…. dan kalo selalu ragu-ragu dalam melangkah khan bikin kita ngelangkahnya jadi nanggung….walau masih lebih bagus daripada kita nggak pernah melangkah sama sekali….gara-gara sudah merasa walau belum pernah mencoba….

Selasa kemaren, sekitar pukul 13.45….saat badanku sudah mulai lemes campur mumet akibat dari pagi ngenet terus……(jangan ngiri lo….khan kantorku sekarang hot spot di semua area….), tiba-tiba Hape saya berdering…and ternyata dari Pak Joko BTN……
”Pak Lutfi, sorry mengganggu. Cuman mau minta nomor NPWP saja….soalnya ini mau ditagih nih….” Bagai petir di siang bolong nih…..
”Waduh, Pak Joko…aku belum tahu nomor NPWPnya sudah jadi atau belum….soalnya Februari kemaren ada pengurusan NPWP massal dari kantor….dan saya koq ya…belum ngecek apakah sudah jadi atau belum….?!”
”Masak belum jadi Pak….wong ngurus NPWP khan hanya sehari….” Pak Joko kemudian segera mengakhiri percakapan dengan memohon agar akunya segera ngumpulin tuh nomor via sms ke Hape-nya saja….Aku hanya bisa mengiyakan saja sambil buru-buru menanyakan hal itu pada Muhlisin, staf yang ada di sekretariat widyaiswara yang Februari kemaren sempat ngoprak-ngoprak aku agar segera ngumpulin persyaratan yang akan dipakai buat ngurusi pembuatan NPWP masal…but….
”Sorry Mas…..berkasnya malah belum sempat kuanaikkan…soalnya belum semua WI mengumpulkan persyaratan sih….ngenteni bareng-bareng….”
Halah tambah gawat nih…..padahal sudah ditagih BTN….jangan sampai gara-gara kerikil seperti ini, urusan kredit rumahku jadi bermasalah….. Baca lebih lanjut