Selalu Ada Jalan Saat Kita Berfikir Positif

”Pak….Bagaimana cara kita selalu berfikir positif, menghindari rasa enggan, saat kita masuk dalam kelas yang sebagian besar terdiri dari kelompok anak-anak yang nakal.”demikian kurang lebih pertanyaan yang dilontarkan Ibu Farida, salah satu peserta Diklat Prajabatan Golongan 60 Tahun 2009 yang kebetulan merupakan salah seorang guru dari SMK di Kota Surakarta. Sejenak saya termenung membayangkan suasana yang dialami ibu guru tersebut hingga kemudian saya kemudian menemukan sebuah jawaban…. ”Mungkin kurang lebih Anda harus berfikir layaknya saya saat masuk dalam kelas Diklat Prajabatan ini…..” Saya mencoba tersenyum dan tetap tenang sembari mencoba menceritakan perasaan saya saat pertama kali masuk dalam kelas…..

Memang sebenarnya bisa dikatakan agak jengkel juga saat masuk kelas Diklat Prajab angkatan 60 tersebut….. Bagaimana tidak, belum lagi hilang rasa capek saya akibat baru saja pulang dari Kudus selama 2 hari…tiba-tiba sekretariat sudah menugaskan saya untuk mengajar pelajaran Mind Setting di kantor…..yang tentu saja akan memakan waktu 2 hari lagi. Tambah berat saja rasanya saat mendapati sorot mata anak bungsu saya yang kelihatan gak rela melepas Bapaknya harus pergi lagi…setelah hilang dari rumah selama 2 hari…..hingga berbagai pikiran jengkel berkecamuk di pikiran saya, mengalahkan gemerincing coin yang nantinya akan saya dapat setelah mengajar materi tersebut….. ”Huh…emang gak ada orang lain apa…koq yang harus ngajar aku lagi…aku lagi….” Dan tambah ’mbedhedeg’ saja saat saya masuk kelas dan mendapati peserta yang rata-rata sudah tua…dengan pendidikan rata-rata rendah….dengan jenis pekerjaan yang umumnya pekerja lapangan, mulai dari kebersihan, tukang kebun, driver, petugas pasar, satpam….hingga baca tulis pun jarang mereka lakukan….Belum lagi jumlah peserta yang overload sampek 49 orang (biasanya khan 40 orang doang)”Jangan-jangan para WI lain sengaja melarikan diri karena tahu betapa berat melakukan tranfer ilmu pada mereka-mereka ini….” Demikian kurang lebih pikiran jengkel yang ada dalam diriku…..

Lanjutkan membaca ‘Selalu Ada Jalan Saat Kita Berfikir Positif’

Mengajarkan Demokrasi Lewat Teka-Teki

Salah satu model permainan yang lagi saya sukai adalah bermain teka-teki. Sebenarnya teka-teki pada mulanya sering saya gunakan saat sedang berkeliling-keliling di sela-sela diskusi kelas. Pengennya sih sedikit memeberi selingan bagi beberapa peserta saat mereka sedang diskusi agar mereka bisa lebih enjoyable and tidak terlalu tegang… sekalian biar memberi kesan akaran dengan peserta….utamanya pada pelajaran-pelajaran yang ‘garing’ semacam Manajemen Perkantoran Moderen. Naa… disini saya biasanya kemudian biasanya saling tukar teka-teki dengan peserta yang kebetulan punya banyak koleksi teka-teki lokal. Sementara saya sendiri memperkaya koleksi saya lewat buku-buku yang saya baca atau malah lewat ‘searching’ via internet yang memang bejibun penuh dengan teka-teki beraneka ragam…..

Sebenarnya model-model begitu sih asyik-asyik aja….tapi lama-lama agak bosen juga menang terus lawan peserta-peserta yang tidak siap….alias teka-teki yang diberikan peserta seringnya itu-itu saja….padahal disatu sisi saya masih pengen menggali teka-teki lokalan yang mungkin gak ada di dunia maya….skalian pengen mensharingkannya via internet buat nambah khasanah perteka-tekian di dunia maya….hingga kemudian saya teringat prinsip Ice Breaking milik Fakih cs. yang pernah saya postingkan, menyatakan bahwa ‘pemecah kebekuan’ yang baik antara lain adalah mengandung unsur-unsur perlombaan atau persaingan serta lebih baik lagi kalau gagasannya justru berasal dari peserta sendiri. Dari prinsip itu saya kemudian memainkan perlombaan teka-teki antar kelompok (biasanya dalam materi Team Building)…. bahkan setelah sedikit modifikasi permainan sederhana ini menjadi menarik setelah saya kombinasikan dengan prinsip kebebasan berpendapat dan menentukan pilihan….hingga akhirnya malah sering menginspirasi peserta tentang makna sesungguhnya dari prinsip demokrasi yang walaupun dianggap yang terbaik…tapi di beberapa hal tetep saja merugikan beberapa pihak yang terlibat di dalamnya…. Lanjutkan membaca ‘Mengajarkan Demokrasi Lewat Teka-Teki’

Values dari Widyaiswara

Sebelum saya jabarkan lebih lanjut tulisan ini, saya hendak kemukakan pengertian nilai yang dikemukakan oleh Adi W. Gunawan dalam bukunya The Secret of Mindset, yakni nilai atau value adalah apa yang kita yakini atau percayai sebagai sesuatu yg berharga bagi kehidupan kita. Secara jelas definisi dan kedudukan value tertuang dalam gambar berikut :

Slide1

Dari gambar tersebut terlihat jelas bahwa nilai mendasari segala aspek kehidupan kita.Beberapa hal lain dari gambar tersebut yang perlu diketahui adalah

Beliefs: Sesuatu yang kita yakini sebagai hal yang benar menurut pemikiran kita
Rule : Seperangkat aturan untuk yang menentukan apakah kita merasa telah mencapai value atau hal penting
Self Talk : Dialog internal yang terjadi dalam diri kita yang selalu kita alami saat kita berinteraksi dengan lingkungan
Behaviour : perilaku atau respon yang tampak terhadap suatu peristiwa.

Dari gambar tersebut juga terlihat bahwa perilaku atau behaviour lah yang selama ini kita lihat dari seseorang saat dia menghadapi pilihan-pilihan dalam kehidupannya, sementara sebab terjadinya perilaku, baik itu self talk, rule, beliefs maupun nilai, tidak tampak oleh kita. Dari gambar tersebut juga bisa kita lihat bahwa segalanya terbentuk karena pengaruh lingkungan, baik lingkungan keluarga, teman-teman terdekat maupun masyarakat.

Lalu bagaimana dengan nilai-nilai yang harus dimiliki oleh seorang widyaiswara yang konon secara definitif harus selalu menyuarakan kebaikan….?! Na….dalam Diklat Karya Tulis Ilmiah yang sedang saya ikuti, Pak Suparmo Ali mengemukakan nilai-nilai kebaikan seperti tercantum dalam gambar berikut :

Slide1

Dan saya yakin Anda semua setuju jika ke-26 nilai kebaikan itu harusnya ada dalam diri seorang widyaiswara. Hanya saja masalah kemudian timbul saat Pak Parmo Ali meminta kita para peserta diklat memilih 3 diantara nilai-nilai tersebut yang paling cocok buat WI…karena tentu saja setiap orang memiliki pilihan sendiri-sendiri…..Dan walaupun akhirnya peserta sepakat memilih tiga nilai : Kesabaran, Kejujuran dan Kesungguhan….saya termasuk orang yang berteriak-teriak tidak setuju dengan pendapat itu…Berhubung kalah suara akibat voting maka saya muat saja pendapat saya di postingan kali ini….biar gak nggonduk….memang sedikit liar dan kontroversi tetapi pendapat saya pasti telah saya landasi dengan argumen yang ”out of the boxes” seperti kegemaran Pak SBY……simak saja ya…. Lanjutkan membaca ‘Values dari Widyaiswara’

Bahkan Sarno pun ingin berubah….

“If You Don’t Learn You Don’t Change…..
If You Don’t Change You Die…”
Peter Senge

Pada dasarnya manusia harus senantiasa berubah…ke arah yang lebih baik tentunya. Mengapa demikian….?! Tentu saja alasan utama adalah Dunia sedang berubah…ke arah yang lebih sulit dan lebih menantang manusia untuk mengantisipasinya….Iklim yang berubah semakin tak menentu akibat pemansan global….Budaya manusia pun telah berubah dari yang tradisional, rasional sampai kepada digitalisme…. Hal itu tentu saja menuntut manusia-manusia modern keluar dari comfort-comfort zone nya….ibarat kodok rebus dalam sebuah panci yang jika tidak cepat meloncat maka dia akan mati. Kuncinya kalau menurut Steven Covey salah satunya adalah dengan selalu mengasah gergaji (sharpeness the saw)….ya…manusia harus siap untuk selalu belajar agar selalu up to date…kalo tidak ya…siap-siap ketinggalan jaman…..alias jadi manusia yang gak kepakek lagi….

Lalu Who is Mr. Sarno….?! Mr. Sarno adalah temen saya semenjak bergabung sebagai CPNS di Bandiklat Jawa Tengah…Dari namanya yang pendek dan Wong Jowo banget, Anda bisa menebak sosok seperti apa Mr. Sarno itu…..bisa dikatakan dia merupakan sosok PNS yang biasa kita jumpai sehari-hari. Taat aturan, sibuk dengan rutinitas, normative, sedikit lugu alias gaptek alias gak bisa komputer…. ples dengan jalannya yang kalem….glek….glek….glek…. nyantai…..ibarat waktu gak pernah ada habisnya……Seringkali kami memanggilnya dengan Sarno bendol mengingat tugasnya yang sedikit paling lower di unit kerja kami….alias tukang pengantar surat nan setia dengan motor bebek hitamnya yang tua serta suka ngadat jika jalannya menanjak….. Satu yang kuingat dari dirinya adalah semangat untuk selalu mengatakan bisa saat diperitah mengerjakan sesuatu dari pimpinan….walau hasilnya pun gak bisa dikatakan bagus…..Pendek kata tak ada yang istimewa bagi dirinya…..kecuali perubahan-perubahan yang terjadi pada dirinya…. yang jauh lebih menarik untuk diceritakan daripada sibuk membayangkan sosoknya yang kembar identik dengan namanya he….he….he…. Lanjutkan membaca ‘Bahkan Sarno pun ingin berubah….’

Di Tengah Serbuan Virus Paling Menjengkelkan

Penyakit apa yang paling menjengkelkan bagi seorang Widyaiswara….?! Bukan penyakit lain-lain yang sangat berbahaya…penyakit yang paling menjengkelkan bagi Widyaiswara adalah BATUK….!! Bukan apa-apa, seorang yang dikaruniai penyakit batuk secara fisik sih gak apa-apa….alias bisa dikatakan seger buger….termasuk ambisinya yang meluap-luap buat bekerja dengan baik (bahkan kadang kita jumpai seorang yang sedang batuk malah asyik merokok juga….ditambani gak mari-mari koq Pak….tak rokoki pisan….) Tapi bagi seorang widyaiswara yang memang bisa dikatakan jual suara….maka yang terjadi adalah jengkel dan jengkel semata….Gimana tidak, jadwal sedang penuh sesak menanti…hingga bunyi gemerincingnya pun terdengar jelas….tapi berhubung tugasnya adalah ngomong sepanjang hari….sementara alat ngomongnya sedang gak beres…maka terpaksa deh harus rela diparkir dengan jengkel….Kecuali kalo berani nekad dengan tetep masuk….sembari tutup kuping dari komentar-komentar sinis peserta…”Wah….mau nyebar-nyebarin virus ya Pak….?!”

Di musim kemarau berhawa dingin ini, batuk pilek memang menjadi pemandangan yang tak aneh di banyak tempat….dimana-mana banyak orang terjangkit virus flu-batuk tersebut….yang kadang anak istri pun kedapatan terserang penyakit yang sangat menjengkelkan itu. Kalo sudah begitu, terpaksa deh saya sebagai widyaiswara harus pasang badan agar tidak tertulari virus….misalnya dengan punya gelas khusus selama di rumah guna mencegah kita minum dari gelas bekas anak-istri yang lagi batuk….termasuk juga harus menjauhi acara sayang-sayangan dengan anak-istri selama mereka masih batuk….juga sedikit menjauhi minuman-minuman seger dingin serta gorengan-gorengan gurih (katanya sih jika gorengan semakin gurih…biasanya minyaknya bukan dari minyak baru alias jlantah hingga bikin mempercepat batuk) buat mencegah terjangkitnya virus batuk…kesemuanya itu harus dilakukan seorang widyaiswara jika dia ingin terbebas dari batuk yang dapat mengganggu tugas Negara nan mulia (halah…). Lalu bagaimana jika sumber penularan itu datang dari peserta….?! Artinya apa, bagaimana jika peserta yang sedang saya ajar itu yang sedang batuk…?! Tentunya sebuah pengalaman yang unik sekaligus menegangkan juga ya….Dan itulah yang yang terjadi kemaren saat aku ngajar materi Mind Setting pada diklat Parajabatan Golongan III angkatan 22 dimana hampir 80 persen pesertanya berada dalam kondisi batuk….baik yang sekedar batuk ringan maupun yang ngikil….Dan perasaan saya saat itu adalah seperti yang ada pada judul postingan kali ini….. Lanjutkan membaca ‘Di Tengah Serbuan Virus Paling Menjengkelkan’

Lagu Yang Cocok Buat Para Guru

”Nyanyi Pak….Nyanyi Pak…..” demikian yang sering kali saya dengar dari peserta jika mereka mulai bosan dengan pelajaran yang sedang saya sajikan. Nggak tahu kenapa, dan asalanya darimana menyanyi bersama-sama sepertinya menjadi trend bagi peserta diklat untuk menghilangkan kejenuhan. Sebenarnya sih bolah boleh saja sih kita pakek cara itu buat menyegarkan suasana….hanya saja koq sepertinya gak ada cara lain buat menghilangkan kejenuhan selain metode itu ya….bahkan kadang bikin jengkel juga jika peserta baru diterangkan sedikit eee….mereka sudah mulai mengantuk dan segera merengek-rengek minta nyanyi bersama….apalagi ada yang baru tahap perkenalan, alias belum diterangkan sama sekali…mereka sudah minta menyanyi….sebel banget hingga akunya kemudian ngomong ketus….”Sorry ya…pelajaran hari ini bukan pelajaran seni suara….” Bahkan Mas Abdul Mu’id, salah satu panitia di Jepara, sudah mulai apal dengan karakter saya hingga ”Kalo Pak Lutfi yang ngajar…pasti gak ada acara nyanyi-nyanyi bersama….” Perkataan yang maksudnya nyindir metode saya yang kering…atau malah muji karena tanpa nyanyi peserta pun bisa ’melek’….gak tau yang mana, yang jelas jika Mas Mu’id ngomong begitu paling saya hanya nyengir saja….

Bukan…bukan aku gak suka dengan acara nyanyi-nyanyi bersama. Cuman rasanya lucu saja jika kita sekelas nyanyi-nyanyi bersama tanpa juntrungan. Pengennya sih nyanyi yang kreatif and rekreatif hingga bikin kita tertawa bareng-bareng gitu. Hanya saja, jumlah lagu yang model begitu hanya sedikit koleksinya dan biasanya sudah dipakek sama WI yang ngajar terdahulu sebelum saya…hingga gak seru lagi deh jika kita nyanyikan lagi. Gak ada surprise-nya gitu. Pas kebetulan ngajarnya di awal-awal diklat hingga kita bisa nyuri start buat ngajarin nyanyian tersebut…juga kayaknya gak tega dengan WI yang datang belakangan dan lebih suka menyanyi daripada saya…. Pengennya sih bisa nyanyi lagu-lagu jaman sekarang alias lagu-lagu yang sedang trend… tapi ya itu gak lucu to kita nyanyi-nyanyi tanpa iringan musik. Pengennya sih seperti yang dilakukan Mr. Marpaung dari LAN…yang denger-denger suka bawa-bawa gitar dalam kelas hingga acara nyanyi-nyanyi bersamanya jadi lebih meriah….tapi belum berani ngelakuin gituan ’cos kayaknya koq gak lumrahnya….apalagi pas ketemu terakhir dengan Mr. Marpaung….sang satria bergitar itu sudah tidak nggendong benda kesayangannya itu…hingga akunya kehilangan moment ’role model’ buat mencontohnya….(soalnya aku sih dikit-dikit bisa juga ngegitar walau kemampuannya sih sekedar bisa dipakek buat nyaingin pengamen-pengamen yang sering kujumpai saat perjalanan panjang ke luar kota….)

Yang bikin sedih lagi jika yang minta nyanyi bersama itu adalah kelas dimana pesertanya kebayakan berprofesi sebagai seorang guru. Dari beberapa bincang-bincang akrab dengan mereka, saya sih sempet mendengar bahwa para guru pun saat ini sedang kebingungan buat mencari model pembelajaran yang lebih menyenangkan buat para murid sekolah. Na…dengan adanya diklat and ketemu dengan para WI yang terkenal kaya metode….para guru tersebut sedikit banyak akan mencontoh apa yang sedang kami buat. Dan yang saya takutkan adalah mereka menganggap metode menyanyi adalah satu-satunya cara buat membikin kelas hidup alias menciptakan pembelajaran yang menyenangkan adalah dengan menyanyi….hingga bisa Anda bayangkan bagaimana riuhnya sebuah kelas sekolah jika semua gurunya selalau mengajak menyanyi bersama di setiap sesi pembelajaran….bisa-bisa bikin guru seni suara (eh masih ada pelajaran seni suara atau nggak ya….?!) siap-siap kehilangan pekerjaannya deh…..hi…hi…hi…. Lanjutkan membaca ‘Lagu Yang Cocok Buat Para Guru’

Tata Cara Penyusunan Laporan

Apakah manfaat dari laporan? Bagaimana kaitan antara laporan dengan pegawai administrasi ? Penyusunan laporan untuk pimpinan merupakan bagian dari tugas pegawai administrasi, baik yang bersifat rutin maupun instruksional (perintah atasan). Hal ini dilakukan karena pada hakikatnya tugas mereka adalah meringankan beban pimpinan, dan karena beban tugas pimpinan begitu banyak dan harus diselesaikan maka pegawai harus menyusun laporan untuk pimpinan. Oleh karena itu, penting bagi pegawai administrasi untuk mengetahui dan memahami hal-hal yang berkaitan dengan laporan.

Laporan merupakan bentuk komunikasi yang dapat dilakukan secara tertulis atau lisan mengenai sesuatu hal tertentu sesuai dengan tujuan penulisannya. Uraian berikut akan lebih ditekankan pada pembahasan hal-hal yang berkaitan dengan laporan tertulis. Laporan inilah yang secara resmi dijadikan sebagai sumber informasi, alat pertanggungjawaban, dan alat pengambilan keputusan dalam kehidupan organisasi. Lanjutkan membaca ‘Tata Cara Penyusunan Laporan’

Ngajar Temen Sendiri memang merepotkan….

Bingung juga nih saat tiba-tiba Mr. Yatno minta tolong menggantikannya ngajar Metode dan Evaluasi…..Waduh materinya kayaknya bener-bener dipaksain deh….masak metode pembelajaran digabung sama evaluasi pembelajaran yang agak-agak jauh….apalagi wektunya hanya 6 JP…..mana cukuuup…..jadi teringat sama Diklat TOT Perpustakaan dimana Evaluasi Pembelajaran mendapat porsi 16 JP…sementara Metode Pembelajaran dapat 20 JP yang memungkinkan kita sebagai fasilitator sedikit bermain-main sekaligus praktek metode pembelajaran interaktif dan praktek nyusun model-model soal ujian…. Dengan alokasi waktu yang demikian sedikit, malah bikin pusing…..mau diajar apa ya yang kira-kira berguna bagi peserta…lalu metode apa yang bisa dipakai buat mengajarkannya secara efektif ya….?!

Tapi sebenarnya yang bikin bingung itu bukan masalah itu. Terus terang aku sedikit jeri dengan komposisi peserta yang rata-rata lebih berumur daripada saya…..ples pangkat juga lebih tinggi….apalagi diantaranya adalah para widyaiswara dari beberapa lembaga diklat seperti dari Sragen dan Soropadan….juga beberapa WI dari kita sendiri yang lebih baru seperti Bu Lilin, Pak Wahyu dan Bu Martuti…tapi yang lebih bikin sungkan adalah kehadiran Pak Untung, Widyaiswara kita, yang notabene adalah sobat deketku… utamanya dalam mencari and memburu buku-buku….dan yang lebih ngeri lagi adalah keikutsertaan Pak Wardjito yang terkenal kritis, penuh ide sekaligus sering kumintai pertimbangan jika akunya lagi bingung dengan skenario pembelajaran sebuah mata diklat. Dan merekalah yang Senin kemaren harus kuhadapi di depan kelas….bener-bener tidak enak….!! Dan kayaknya hal-hal seperti itu pada masa-masa mendatang harus lebih kuhadapi….yakni mengajar temen-temen sendiri seperti hari kemaren yang merupakan saat pertama kali aku mengajar di depan temen sendiri…..bener-bener merepotkan….!! Lanjutkan membaca ‘Ngajar Temen Sendiri memang merepotkan….’

Jangan Pernah Merasa Sebelum Sempat Mencoba

Soorii…pengennya sih bikin kalimat yang agak filsuf walau sebenarnya biasa saja…..tapi khan kata orang sesuatu yang biasa atau banyak orang tahu akan menjadi hal yang luar biasa jika kita mengemasnya luar biasa to….?! Tapi moga-moga saja malah gak tambah bingung dengan gaya muter-muterku….he…he…he….Maksudnya sih, aku pengen agar Anda-Anda sekalian sudah memutuskan untuk mundur sebelum bertanding….atau belum-belum sudah merasa takut sebelum dilakoni….sudah merasa tidak bisa walau belum pernah sekalipun mencoba….Soalnya sih jika belum-belum sudah merasa ini dan itu padahal belum pernah mencoba khan seringkali bikin kita ragu-ragu dalam melangkah…. dan kalo selalu ragu-ragu dalam melangkah khan bikin kita ngelangkahnya jadi nanggung….walau masih lebih bagus daripada kita nggak pernah melangkah sama sekali….gara-gara sudah merasa walau belum pernah mencoba….

Selasa kemaren, sekitar pukul 13.45….saat badanku sudah mulai lemes campur mumet akibat dari pagi ngenet terus……(jangan ngiri lo….khan kantorku sekarang hot spot di semua area….), tiba-tiba Hape saya berdering…and ternyata dari Pak Joko BTN……
”Pak Lutfi, sorry mengganggu. Cuman mau minta nomor NPWP saja….soalnya ini mau ditagih nih….” Bagai petir di siang bolong nih…..
”Waduh, Pak Joko…aku belum tahu nomor NPWPnya sudah jadi atau belum….soalnya Februari kemaren ada pengurusan NPWP massal dari kantor….dan saya koq ya…belum ngecek apakah sudah jadi atau belum….?!”
”Masak belum jadi Pak….wong ngurus NPWP khan hanya sehari….” Pak Joko kemudian segera mengakhiri percakapan dengan memohon agar akunya segera ngumpulin tuh nomor via sms ke Hape-nya saja….Aku hanya bisa mengiyakan saja sambil buru-buru menanyakan hal itu pada Muhlisin, staf yang ada di sekretariat widyaiswara yang Februari kemaren sempat ngoprak-ngoprak aku agar segera ngumpulin persyaratan yang akan dipakai buat ngurusi pembuatan NPWP masal…but….
”Sorry Mas…..berkasnya malah belum sempat kuanaikkan…soalnya belum semua WI mengumpulkan persyaratan sih….ngenteni bareng-bareng….”
Halah tambah gawat nih…..padahal sudah ditagih BTN….jangan sampai gara-gara kerikil seperti ini, urusan kredit rumahku jadi bermasalah….. Lanjutkan membaca ‘Jangan Pernah Merasa Sebelum Sempat Mencoba’

Saya Bangga Menjadi Sarjana Peternakan…!!

Sudah bukan rahasia lagi bahwa dalam setiap sesi pembelajaran ada saja yang sedikit mempertanyakan kecocokan latar belakang pendidikan saya yang sarjana peternakan dengan mata diklat yang saya ampu……yang umumnya jauh banget kaitannya, sebagai misal Manajemen Perkantoran Modern, Team Building, Komunikasi Efektif atau Mind Setting (ini pada diklat pra jabatan)….lalu Teknik Presentasi dan Pengelolaan Informasi dan Pelaporan (ini pada diklat Pim IV)….atau juga Analisis Kebutuhan Diklat, Metode Pembelajaran Orang Dewasa, Desain pembelajaran, Media Pembelajaran (ini pada Diklat Teknis Fungsional)….. Gimana….?! jauh banget khan dengan ijazah saya yang sarjana peternakan peternakan itu bukan…….hingga bisa jadi Anda sekalian akan meragukan kapabilitas saya dalam mengajarkan materi itu…..

Dalam hal ini saya tidak akan menyalahkan Anda. Bahkan pada awal-awal saya menjadi seorang widyaiswara, latar belakang pendidikan saya tersebut sempat membuat saya tidak pede….dan sempet khawatir juga dengan masalah spesialisasi karier saya yang pastinya gak akan jauh dari pertanian-pertanian….Malahan kadang beberapa peserta tampak tersenyum saat bisa menebak latar belakang pendidikan saya…khususnya saat saya mengajar Manajemen Perkantoran Modern….Dan saya sendiri pun hanya bisa tersenyum kecut saat mereka tanpa sadar tergelak atau sekedar bertanyaKoq bisa…?!” Dan tentu saja saya gak bisa membela diri secara langsung…..paling saya hanya akan menetralisir suasana dengan pancingan pertanyaan lucu-lucu-an seputar profesi saya seperti…
”Pinter mana ayam sama bebek…..?!” atau bagi peserta wanita….
” Enak mana beras lokal sama beras impor…?!” Lanjutkan membaca ‘Saya Bangga Menjadi Sarjana Peternakan…!!’

Data dan Informasi dalam Website milik Dinas Pendidikan

Bulan April-Mei lalu, rasanya hari-hari saya penuh dengan acara mengajar….dan yang agak mengherankan ternyata jadwal ngajar saya pada Diklat Pim IV cukup banyak…. terutama ngajar Pengelolaan Informasi dan Pelaporan yang orangnya memang hanya dua orang….yakni saya dan Pak Siswoyo..dan sialnya (atau untungnya….?!) Pak Siswoyo kadang ngambek mengajar karena merasa capek setelah habis-habisan dipenjara di Diklat Pim II….Ya sudah sebagai seorang pemuda terpaksa deh akunya yang kudu mloya mlayu buat memback up tuh materi…..Ya…gitu deh, mulai Kota Pekalongan, Kabupaten dan Kota Semarang, serta Kabupaten Kudus pun harus kujelajahi demi melaksanakan tugas mengajar materi yang herannya banyak dijauhi WI lain hingga harus akulah yang akhirnya wora-wiri buat menyelesaikannya….(tentu saja dengan mengorbankan materi lain yang kebetulan jadwalnya bertabrakan dengan this materi……)

Kali ini perjalanan saya menuju ke kawasan makam Sunan Muria di daerah Kudus….. acaranya mendadak minta dimajukan hari Sabtu siang jam 2 sampai malem hari….sebenarnya menyebalkan juga karena acara keluarganya lagi-lagi harus terganggu….tetapi mau bagaimana lagi, namanya juga tugas dan Pak Siswoyo pun lagi-lagi ngambeg nggak mau ngajar (alasannya biasa…aku wes tuwek Maaass…..umurku wes suwidak telu tahun….atine pengen mangkat….tapi sikile kesel…..). Yo wes lah….mo gimana lagi namanya juga gak orang…..apalagi ngajar juga dapet duwit…yo dilakoni wae lah…sembari minta istri buat bersabar karena gak bakalan bisa malem mingguan….

Seperti biasa acara diskusi website merupakan bagian dari diskusi materi Pengelolaan Informasi…..Sebagai tahap awal tentu saja saya motivasi peserta terlebih dahulu untuk ‘tidak ketakutan’ dengan yang namanya website. Tentu saja saya tekankan bahwa cara mbikin website yang paling baik adalah dengan memberdayakan masyarakat….alias ‘ndandakke’ pada profesional-profesional komputer…..Na….saat nyuruh mbikinin itu, kita sebagai aparat pemerintah mewarnainya dengan cara menyebutkan data apa saja yang harusnya ada dalam website tersebut….sesuatu yang tukang bikin website tidak begitu ngerti…..tul khan…?! Dan seperti biasa dengan sedikit motivasi itu maka para peserta pun jadi tertantang untuk mencobanya…..dan hasilnya juga bagus….bahkan beberapa akan saya tampilkan secara berurutan, walau kali ini yang saya tampilkan terlebih dahulu adalah website miliknya Dinas Pendidikan terlebih dahulu…. Lanjutkan membaca ‘Data dan Informasi dalam Website milik Dinas Pendidikan’

Mendadak Facebook

Awalnya sih sebenarnya berasal dari pertanyaan beberapa peserta tentang apa itu yang dinamakan dengan Facebook, khususnya saat akunya ngajar tentang Manajemen Perkantoran Modern….Berhubung akunya belum punya terpaksa agak grathul-grathul juga ngejawabnya… apalagi adekku pamer sudah punya facebook katanya…..Bikin panas aja. Dan tentu saja akunya lalu coba-coba masuk ke www.facebook.com. Rencananya sih mau lihat-lihat dulu….But ternyata untuk bisa lihat-lihat akunya kudu daftar dahulu….ya sudah ngedaftar ajah deh….Dan awal punya facebook juga rupanya awalnya gak menarek juga….karena hanya ngliat-ngliat doang tanpa tau jawabannya…. But iseng-iseng tak ketikkan nama Husni Wahyudi pada kolom search…and dan muncul dah nama temenku itu. Sueneng banget karena dah lama gak ketemu…weh bisa dipakai buat ajang silaturahmi nih…..Udah itu thok…setelah itu facebook itu tak gletahkne tho…gak ngerti mangpaate….

Mulai mbukak facebook lagi saat dapet sms dari Heru, temen baikku saat masih di Fapet UGM…Ceritanya sih akunya baru kangen ama temen-temenku saat masih kuliah dulu…. Pengennya sih minta nomer Hapenya jika punya….but dia dengan enting mengatakan bahwa sebaiknya akunya mbukak facebook dan ngedaftar dalam Forum Komunikasi Fakultas Peternakan UGM atau Forkom Fapet UGM….Buru-buru akunya mbukak saat sedang di ruangan WI….but hladalah….ternyata facebooknya diblokir….!! Jadi terpaksa akunya harus bersabar dulu and menanti setelah pulang kantor. Lalu sampai di rumah akunya juga harus bersabar dulu karena si kecil sibuk nggandholi Bapake akibat terlalu sering ditinggal-tinggal….Ya…udah bersabar dulu sampek malem and sampek si kecil tidur….Dan begitu si kecil tidur, baru deh akunya bisa ngebuka tuh face book…Dan surprise banget ternyata sudah banyak temen-temen dari Fapet yang ngedaftar jadi fans-ku…Dan disitulah petualanganku ber-facebook ria dimulai…..Dan hmmm…ternyata asyik juga…hingga akunya sampai lupa waktu segala, bahkan sampai lupa posting juga…. Lanjutkan membaca ‘Mendadak Facebook’

Mekanisme Surat Masuk dan Keluar dari Suatu Kantor

Setiap hendak mengakhiri sesi mata diklat manajemen Perkantoran pada Diklat Prajabatan, tidak lupa akan selalu saya sertakan sebuah cerita….tentang dua orang PNS yang kebetulan saling kenal….dan PNS 1 (Widi) hendak titip surat kepada PNS 2 (Roni)….begini katanya….

Widi : ”Ron….aku mau titip surat pada Kepala Kantormu nih….Tolong sampaikan ya….?! Kamu khan sama Kepala Kantormu, Pak Budi, khan tetanggaan….”

Na….dari situ saya akan bertanya pada para peserta ”Apa yang seharusnya dilakukan Roni….?! Apakah diperbolehkan langsung menyerahkan surat itu pada Pak Budi yang kebetulan adalah tetangganya…?!”

Dari situ saya akan melanjutkan cerita itu dengan menjelaskan bagaimana sebaiknya sebuah surat dinas itu diperlakukan, yakni melalui sebuah mekanisme birokrasi surat dinas, baik masuk maupun keluar. Sebuah cerita yang bagi saya biasa-biasa saja mengingat itu yang biasa saya lakukan….Hanya saja, saya menjadi terkejut saat secara tidak sengaja menerangkan hal itu pada para peserta Diklat Pim IV….ternyata banyak dari mereka yang tidak mengetahuinya secara mendetail seperti yang saya jelaskan…..hingga saya jadi merasa perlu untuk mengangkat masalah ini dalam tulisan saya kali ini….

Pada dasarnya mekanisme surat masuk dan keluar dari suatu kantor digambarkan dalam alur berikut ini.

Slide1

Lanjutkan membaca ‘Mekanisme Surat Masuk dan Keluar dari Suatu Kantor’

Teknik Penyusunan Programa Penyuluhan

Menurut Undang Undang nomor 16 tahun 2006 tentang Sistem Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan, Programa Penyuluhan Pertanian adalah adalah rencana tertulis yang disusun secara sistematis untuk memberikan araMenurut Undang Undang nomor 16 tahun 2006 tentang Sistem Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan, Programa Penyuluhan Pertanian adalah adalah rencana tertulis yang disusun secara sistematis untuk memberikan arah dan pedoman sebagai alat pengendali pencapaian tujuan penyuluhan. Selanjutnya dalam Bab VII dari undang undang tersebut mulai pasal 23 dijelaskan bahwa programa penyuluhan dimaksudkan untuk memberikan arah, pedoman, dan alat pengendali pencapaian tujuan penyelenggaraan penyuluhan.

Programa penyuluhan terdiri atas programa penyuluhan desa/kelurahan atau unit kerja lapangan, programa penyuluhan kecamatan, programa penyuluhan kabupaten/kota, programa penyuluhan provinsi, dan programa penyuluhan nasional. Programa penyuluhan disusun dengan memperhatikan keterpaduan dan kesinergian programa penyuluhan pada setiap tingkatan.

Programa penyuluhan disahkan oleh Kepala Balai Penyuluhan, Kepala Badan Pelaksana Penyuluhan Kabupaten/Kota, Ketua Badan Koordinasi Penyuluhan Provinsi, atau Kepala Badan Penyuluhan sesuai dengan tingkat administrasi pemerintahan.

Programa penyuluhan desa/kelurahan diketahui oleh kepala desa/kelurahan. Programa penyuluhan disusun setiap tahun yang memuat rencana penyuluhan tahun berikutnya dengan memperhatikan siklus anggaran masing-masing tingkatan mencakup pengorganisasian dan pengelolaan sumber daya sebagai dasar pelaksanaan penyuluhan. Programa penyuluhan harus terukur, realistis, bermanfaat, dan dapat dilaksanakan serta dilakukan secara partisipatif, terpadu, transparan, demokratis, dan bertanggung gugat. Lanjutkan membaca ‘Teknik Penyusunan Programa Penyuluhan’

Membagi Kelompok Berdasar Warna Kesukaan

Ide awal metode ini sebenarnya adalah bagaimana cara membagi peserta agar jumlahnya tidak sama…kalo bisa sih bahkan ada yang jumlahnya terlalu banyak atau ada juga yang jumlahnya sedikit, bahkan hanya 1 orang. Metode ini saya perlukan khususnya dalam mata pelajaran team building dalam rangka meyakinkan peserta bahwa prinsip kelompok itu bukan hanya jumlah tetapi kerjasama. Bahkan kinerja kelompok tidak akan pernah bisa menyamai kinerja anggota terbaik, walau secara rata-rata memang kinerja kelompok selalu lebih baik daripada kinerja seseorang sendirian. Untuk itu biasanya saya akan menguji kemampuan masing-masing kelompok dengan permainan lainnya, seperti teka-teki atau model tulis sebanyak-banyaknya….

Refleksi
Ada beberapa kejadian yang ingin saya tanamkan dalam permainan ini. Pertama, saya hendak meyakinkan peserta bahwa kerja kelompok itu selalu lebih menyenangkan daripada kerja sendirian karena pada dasarnya manusia itu adalah makhluk sosial yang butuh teman untuk sekedar ’talking’….Dalam hal ini saya akan menanyakan perasaan kelompok yang memiliki anggota sedikit misalnya tiga, dua orang atau bahkan sendirian….dan umumnya mereka akan menjawab kurang enak dan kurang pede….Walau saya akan selalu berusaha memberinya semangat buat mengalahkan kelompok yang lebih besar….karena bukan jumlah yang penting dalam sebuah kelompok tetapi kerjasama dan mengusai tujuan…..(yang biasanya akan saya coba memainkan permainan dengan tema yang sangat dikuasai kelompok yang lebih kecil buat membuktikan hal itu…..)

Slide1 Lanjutkan membaca ‘Membagi Kelompok Berdasar Warna Kesukaan’

Halaman Berikutnya »


Pakne Wulan

It’s My Life

re-exposure-of-phot0042-jakarta.JPG
Blogger Anti Korupsi
Dilarang Korupsi !! Jangan Korupsi Ya

Halo Sobat…

Semoga Weblog ini dapat dijadikan sebagai  Forum Komunikasi bagi Para PNS Demi Terwujudnya Profesionalisme Aparat Pemerintah sesuai Harapan Masyarakat...........

Majulah Widyaiswara.........!!

a

Blog ini Telah Dikunjungi Oleh

  • 113,395 orang

RSS Islamisme Ala Suryaningsih

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.
Gerakan Anti Pungli