Menghilangkan Fikiran Negatif

Asmani (2009) menyebutkan bahwa negative thinking biasanya berupa pemikiran, perasaan, dan intuisi yang menyalahkan diri sendiri dan orang lain, yang bisa menurunkan semangat dan mengendurkan daya juang. Yang gawat adalah jika pola berfikir negatif itu telah menjadi jalan hidup. Artinya, kebiasaan negatif thinking itu telah dijalaninya selama bertahun-tahun hingga bahkan dianggapnya hal itu sebagai sesuatu yang normal. Dengan menjadikan sebagai jalan hidup, mereka beranggapan bahwa untuk memperbaiki keadaan mereka harus mampu mengubah dunia alih-alih mengubah cara berfikir mereka. Padahal alangkah sulitnya mengubah sesuatu (dunia and seisinya) yang sangat tergantung pada kondisi orang lain (bahkan ada yang mengatakan dunia itu gak pernah berubah. Yang berubah hanyalah cara pandang kita terhadap dunia…). Mereka lupa bahwa jauh lebih mudah mengubah diri sendiri daripada harus mengubah dunia…

Erbe Sentanu dalam Quantum Ikhlas menyebutkan bahwa ada dua zona yang terdapat dalam diri manusia, yakni zona nafsu dan zona ikhlas. Zona nafsu adalah wilayah hati yang dipenuhi berbagai keinginan yang terasa menyesakkan dada karena dipenuhi dengan energi rendah yang penuh dengan perasaan negatif seperti : cemas, takut, keluh kesah, dan amarah. Sedangkan zona ikhlas adalah zona yang penuh energi tinggi dan bersifat positif karena penuh dengan rasa syukur, sabar, fokus, tenang, dan happy. Ketika kita ikhlas kita akan merasa penuh tenaga. Sementara jika kita sedang penuh nafsu maka pastilah kita akan merasa kehabisan energi.

Bagaimana cara menghilangkan fikiran negatif….?! Bapak Mario Teguh pernah mengatakan dengan mudahnya….cara menghilangkan fikiran negatif tentu saja dengan tidak berfikir negatif alias mulai berfikir secara positif…!! Semudah itu…?! Ya…semudah itu… Hanya saja kadang kita tidak sadar bahwa kita sedang berfikir negatif karena demikian terbiasanya kita dengan fikiran seperti itu… Gak percaya…?! Berikut akan saya uraikan beberapa jenis berfikir negatif yang saya sendiri masih terkaget-kaget mendapati jenis fikiran saya masih ada beberapa yang termasuk dalam jenis fikiran negatif berikut ini…. Continue reading

Indikator Kompetensi Mengajar Widyaiswara

Bulan April kemaren saya sempet ikut Diklat AKD (Analisis Kebiutuhan Diklat) di LAN-Bandung. Banyak temen yang protes dengan keikutsertaan saya pada diklat tersebut, termasuk sang koordinator WI: Bapak Sigit Marhen. Bukan apa-apa, saya sudah dianggap mampu dalam materi AKD. Sudah sering melakukan AKD di instansi Provinsi Jawa Tengah dan bahkan sudah beberapa kali ngajar materi tersebut. Dengan kata lain, keberadaan saya dalam diklat dianggap menyalahi prinsip diklat itu sendiri yang pada dasarnya berupaya untuk menutupi diskrepansi (kesenjangan) kompetensi.

Sebenarnya sih saya juga tahu bahwa saya sudah tidak masanya lagi ikut Diklat AKD dan seharusnya sudah mulai menulis buku atau karya tulis lainnya yang terkait dengan AKD. Bahkan saya sendiri juga heran kenapa manajemen koq menugaskan saya untuk ikut diklat AKD, walau kemudian diketahui bahwa saya pada awal tahun tercatat mendaftarkan diri untuk ikut diklat tersebut. Nggak tau kenapa saya waktu itu ikut ngisi edaran diklat…yah…mungkin waktu itu pikiran saya pengen ikut diklat guna melengkapi kurikulum vitae saya yang sebagai salah satu praktisi dan pengajar AKD tanpa pernah ikut Diklat AKD. Siapa tahu saat proses sertifikasi WI di 2014, kompetensi saya sebagai ‘pakar’ AKD dipertanyakan…. walau alasan persisnya juga lupa berat lah….he…he…he…

Yang jelas prinsip yang saya pegang selama mengikuti diklat itu enjoy saja….gak usah pengen nuntut macem-macem, semisal dapat ilmu hebat lah, dapet ranking lah…pokoke melu gitu saja. Sekalian ikut menikmati suasana kota Bandung yang abidin he..he…he… Apalagi kata temen-temen, LAN-Bandung punya trade mark yang menarik yakni Diklat ples wisata kuliner diseputar Bandung…. wuiih….bayangkan aja udah ngiler… Yah minimal dapet refreshingnya gitu….walau kemudian saya malah dapat bonus karena malah disana saya berhasil menyusun standar kompetensi mengajar seorang WI…Bukan kerja individual sih, saya susun bersama temen-temen satu kelompok kecil, tapi khan malah bagus to…?! Penasaran….?! (moga-moga lah masih suka ngunjungi blog ini walau sudah kurang populer ples sayanya yang lama banget gak pernah ngisi….) Continue reading

Berbicara tentang Evaluasi Kinerja Widyaiswara

Hari Kamis kemaren, sebelum beberapa Widyaiswara mulai ngambil cuti tahunan (termasuk aku), terlihat ada diskusi panas di ruang WI. Aku sendiri sebenarnya kurang tertarik dengan gegeran-gegeran yang gak perlu. Apalagi biang-biang gegeran diantara WI kayaknya sementara harus ‘lerem’ dulu. Soalnya tanggalannya juga sudah menunjukkan hampir tutup tahun hingga kegiatan mengajar yang biasanya jadi sumber ribut-ribut sudah habis JP-nya. Sementara masalah ruwetnya penghitungan angka kredit akibat peraturan yang multitafsir, untuk sementara juga dilakukan gencatan senjata mengingat minggu-minggu ini semua berkas sudah masuk tim penilai hingga untuk sementara gak ada lagi yang perlu diributin. Tapi dari situ akunya jadi tertarik untuk mengetahui…ada apa gerangan koq ada gegeran-gegeran…emang ada topik gegeran baru apaan ini…?!

 Ternyata sumber masalah adalah selembar undangan dari Bidang Bangdalmudik (Pengembangan Pengendalian Mutu Diklat) yang isinya tentang acara mendengarkan hasil evaluasi kinerja Widyaiswara yang akan disampaikan oleh UNES Semarang. Naaa… seperti layaknya orang yang gak suka dikritik, tentu saja hal itu bikin geger. Apalagi yang diundang alias dievaluasi tidak seluruhnya dan hanyalah 15 orang WI saja. Tentu saja hal itu menimbulkan pertanyaan besar tentang WI yang diundang itu. Kira-kira yang diundang itu khusus yang dicurigai cara mengajarnya jelek alias sedang dalam pengawasan atau gimana…?! Lalu metode evaluasinya bagaimana koq tidak didiskusikan dahulu dengan WI. Soalnya beberapa WI yang diundang khawatir metode evaluasinya salah hingga hasil evaluasinya pun jadi salah. Dan yang lebih mengkhawatirkan adalah adanya sangsi bagi WI yang hasil evaluasi kinerjanya buruk. Kalau sekedar dibina dahulu dengan konsekuensi jam mengajarnya dikurangi sih masih mending…yang lebih ditakutkan adalah kalau sampai di ’grounded’ alias diberhentikan sementara sebagai WI. Naa… itu yang pantas dibikin gegeranContinue reading

Nasehat dari Sang Pencerah

Salah satu film yang saya nantikan untuk ditonton adalah Sang Pencerah salah satu karya Hanung Bramantyo yang menceritakan tentang Kyai Ahmad Dahlan sang pendiri Muhammadiyah. Hanya saja, ternyata keinginan saya itu harus tertunda akibat jadwal tayangnya adalah tepat tanggal 8 September atau tepat hari terakhir kita masuk kerja hingga terpaksa harus tak tinggal mudek dulu lah ke Yogya. Begitu pulang dari Yogya, buru-buru aku ke Simpang 5 buat ngewujudin niatku itu….hanya saja ternyata yang punya keinginan seperti aku ternyata banyak hingga karcis pun sempet kehabisan and terpaksa harus pulang dengan tangan hampa. Baru hari Jum’at kemaren lah keinginku kesampaian buat nonton tuh film…yang ternyata cukup bagus, baik dari segi cerita maupun setting Kota Yogya di awal abad XX…. dan yang lebih penting, banyak mengandung nasihat bagi pendalaman pemahaman kita tentang agama Islam….

Emm sebelum tak ceritaian sedikit nasehat yang bisa kita petik dari Biopik tokoh besar Indonesia itu, ada sedikit pemandangan yang tidak biasa, saat akunya (dan mungkin Anda juga yang kebetulan ikut-ikutan…) ngantri karcis buat nonton film ini. Kelihatan banyak wajah-wajah yang gak biasa nonton bioskop yang saya temui. Mungkin gara-gara tema filmnya tentang sang tokoh Muhammadiyah…bahkan yang duduk di dekat saya kelihatan wajah seorang haji yang tak lupa membawa anak-anaknya yang masih kecil (kayaknya baru di sekolah dasar deh….dan tentunya kelihatan seneng banget karena mungkin itulah pertama kali mereka nonton film di bioskop).Juga kelihatan tampang-tampang kyai yang asyik ngantri paling depan pintu (koq dadak pengen paling duluan masuk khan tempat duduknya ada nomornya Pak Kyai…). Ada juga nenek-nenek berjilbab yang membawa anaknya yang lebih mirip ibu-ibu pengajian. Yang kayak remaja-remaja mesjid juga banyak tuh….Lucu juga ngeliatnya….he…he…he….(adek saya malah bilang suasananya mirip arisane wong-wong pondokan). Continue reading

Teman Sejati Tak akan Pernah Mati

Dari sebuah postingan di facebook milik temen dia menulis…
“It is easier to forgive an enemy than to forgive a friend” (William Blake) (Really…?!)
Lalu muncul jawaban-jawaban dari temen-temennya diantaranya sebagai berikut…
“Because an enemy will do You wrong for sure, but friend supposed to do You right. But doin the right ain’t always easy” Lalu saya lihat lagi jawaban sang temen yang kayaknya lagi bertengkar dengan temennya itu…
“Thanks pencerahannya guys….Teman sejati adalah yang bersamanya mampu melewati segala cobaan yang datang both internal dan eksternal, dibuktikan dalam hitungan waktu yang tidak sesaat dan mungkin dalam hidupmu hanya akan kautemui sedikit saja or even no one….”
Sebuah ungkapan yang seolah-olah menyebutkan bahwa di dunia ini sangat sulit untuk mendapatkan temen sejati atau bahkan tidak pernah ada yang namanya temen sejati itu….?! Setujukah Anda dengan pertanyaan tersebut….?!

Mungkin banyak yang setuju dengan pertanyaan itu. Apalagi rasanya dikhianati temen baik kita rasanya pasti lebih sangat sakit daripada disakiti oleh temen jauh atau bahkan musuh kita yang memang jelas-jelas sangat menginginkan kita jatuh. Tapi bagi banyak orang yang memiliki sahabat-sahabat terbaik dalam hidupnya….kalimat tidak pernah ada sahabat sejati itu pasti tidak mereka setujui. Saya sendiri sih setuju dengan pendapat bahwa temen sejati itu susah dicari…hanya saja memang tidak ada sahabat yang sempurna. Bukan hanya roker, sahabat pun juga manusia yang tak luput dari kesalahan. Bahkan saya pun setuju jika friend supposed to do You right…hanya kadang caranya tidak kita sukai. Jadi yang namanya membimbing kita ke arah kebaikan itu kadang ada sahabat yang tega membuat Anda sakit hati…artinya, asal akhirnya Anda menjadi orang baik pun seorang sahabat rela menanggung akibatnya…termasuk kehilangan sahabat terbaik sekalipun….

Ingat saran itu jamu yang rasanya pahit tetapi menyehatkan. Hampir semua orang tidak suka jamu, mereka hanya terpaksa meminumnya agar tetap sehat. Tapi jangan sampai hanya gara-gara terpaksa harus minum jamu, Anda jadi benci sama penjualnya. Dan itulah yang kadang banyak dilakukan orang saat terpaksa harus meminum jamu atau terpaksa harus menerima kritik…yakni membenci sang pengkritik…!! Walau sebenarnya kritik yang diberikan jika dirasakan benar juga…. Dan bagaimana jika sang pengkritik itu temen baik Anda….?! Apakah Anda harus rela kehilangan seorang temen baik yang susah dicari hanya gara-gara dia memberikan kritik atas perilaku atau hasil pekerjaan Anda….?! Continue reading

Data dan Informasi dalam Website milik Dinas Kehutanan dan Perkebunan

Dalam mengajarkan materi ini, content memang menjadi tujuan kesekian bagi saya. Hal yang paling penting utamanya adalah memberikan motivasi agar para pejabat mau peduli terhadap keberadaan website. Apalagi dengan adanya Undang Undang nomor 11 dan 14 Tahun 2008 tentang ITE (informasi dan Transaksi Elektronik) serta KIP (Keterbukaan Informasi Publik, keberadaan sebuah website yang dikelola dengan baik sudah menjadi kebutuhan bagi setiap instansi guna memperlancar hubungan antara pemerintah dengan para stakeholdernya, yang dalam hal ini merupakan Instansi Pemerintah lain (G), pihak swasta (B), dan masyarakat (C). Disamping itu saya juga berharap agar keberadaan website tidak hanya sekedar ada-ada-an alias sudah ada sudah syukur alias kontennya yo seadanya wae…gak peduli kontent yang ada itu banyak dibutuhkan masyarakat alias hanya sekedar memenuhi himbauan Kemetrian Kominfo yang sudah ngebet pengen menciptakan lingkungan pemerintahan Indonesia di dunia maya

Proses dalam hal ini lebih saya utamakan datipada hasil dengan konsekuensi tentu saja banyak yang hasilnya kurang baik untuk ditampilkan. Tapi gak pa pa, yang penting para pejabat itu termotivasi untuk berani mengenal e-government dan tidak ketakutan dulu walau belum pernah membukanya atau belum-belum sudah minder hingga akhirnya apatis karena penguasaan komputer yang minim. Membentuk pola pikir juga menjadi tekanan saya, khususnya pada pejabat yang sudah agak bisa atau yang malah ngurusi website di masing-masing intsansi agar tidak terjebak pada konten yang begitu-begitu saja. Misalnya banyak menampilkan kisah kunjungan Pak Bupati/Walikota….juga kunjungan Bapak/Ibu Pejabat Dinas. Atau banyak menampilkan gambar-gambar atau malah video-video profil dinas yang kemanfaatannya perlu dipertanyakan tapi jelasjelas menurunkan minat stakeholder membuka situs yang bersangkutan akibat terlalu berat untuk dibuka dalam bandwith yang normal. Continue reading

Data dan Informasi dalam Website milik Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Semarang

Setelah saya teliti, nggak tahu kenapa, di bulan Juli ini kegiatan mengajar saya koq kebanyakan hadir di hari yang kurang enak karena harinya pas lagi enak-enaknya siap libur atau pas males sehabis libur. Ya….tiba-tiba saja saya sering kedapetan jadwal ngajar pas hari Jumat-Sabtu-Minggu-Senin…sementara pas hari-hari aktif seperti hari Selasa-Rabu-Kamis akunya sering lontang lantung gak karuan alias hampir gak ada kegiatan sama sekali. Pertama tama sih gak kerasa efeknya…tapi setelah lebih dua minggu aku begitu teros rasanya koq ya aneh dan sedikit bertanya-tanya….Apalagi saat ketemu di kantor banyak temen yang tanya….Lho….koq gak ngajar Pak….?! ples sedikit ngiri juga lihat banyak temen yang pada sibuk mengajar di hari-hari kerja itu. Dan sebelnya saat akunya curhat sama temen eee….dianya malah ngeledek…Khan malah enak Lut….gak kelihatan. Yen dino bioso kamu keliatan nganggur tapi saat orang libur kamu khan malah hiwat hiwut golek duwet…. Nampane duwet sih enak….tapi khan acara sama keluarga terganggu ples akunya yen diitung-itung bisa masuk kerja seminggu bukan 5 hari tapi malah 7 hari to…?!

Baiklah kembali ke topik. Sebenarnya topik tulisan saya kali ini bukan merupakan topik favorit dan dikunjungi banyak orang…tapi karena sifat blog yang memang bukan untuk ajang populer populeran. Asal ada yang baca apalagi jika yang baca pas sedang berkepentingan dengan topik tersebut khan malah tepat sasaran…jadi beberapa hasil diskusi dari kota ke kota yang kualitasnya lumayan (soalnya banyak juga yang hasilnya cuman ngaco saja) tentang topik tersebut tetap saya tampilkan meski sedikit aras-arasen juga akibat jenuh hingga kadang bikin males ngemuatnya. Kali ini hasil diskusi terjadi pada Kabupaten Semarang yakni pada Dinas Peternakan dan Perikanan yang memang belum punya website dan bertekad menyusun website dengan dasar hasil diskusi tersebut. Continue reading

Pikiran Mempengaruhi Nasib Kita….?!

Apakah judul tulisan diatas merupakan sebuah kebenaran atau hanya sekedar tulisan yang bersifat provokatif….?! Ibrahim Elfiky dalam bukunya Terapi berfikir positif mendefinisikan pengertian pola pikir sebagai sekumpulan pikiran yang terjadi berkali-kali di berbagai tempat dan waktu serta diperkuat dengan keyakinan dan proyeksi sehingga menjadi kenyataan yang dapat dipastikan di setiap tempat dan waktu yang sama (Ibrahim Elfiky, 2009: 20 ). Artinya jika kita sering memikirkan sesuatu maka sesuatu itu dapat menjadi kenyataan yang kita yakini kebenarannya dan sayangnya kebenaran yang kita yakini itu merupakan kebenaran semu alias hanya dugaan-dugaan kita alias bukanlah sebuah kenyataan yang sebenarnya. Artinya, hati-hatilah dengan fikiran dan cara berfikir kita. jangan sampai hal itu menyesatkan hidup kita dan bahkan mempengaruhi nasib kita. Tentu saja alangkah nikmatnya jika kita berprasangka baik terhadap hidup kita karena hal-hal yang baiklah yang akan kita dapatkan. Akan tetapi, jika kita berprasangka buruk maka hal-hal yang buruk itu akan menjadi sebuah kenyataan. Dengan kata lain, jangan-jangan hal-hal buruk : mulai dari kelemahan-kelemahan kita, ketidakcakapan kita, ketidakpintaran kita, kekurangan kita secara finansial, atau bahkan penyakit-penyakit yang ada pada tubuh kita…jangan-jangan hanyalah hasil permainan fikiran kita….!!

Dalam meyakinkan peserta bahwa fikiran mempengaruhi sebagian besar nasib kita…. saya biasa menggunakan Kuesioner dari Jeffrey Youngs (1990) seperti dikutip dalam buku The Secret of Mindset karangan Adi W. Gunawan. Saya akan meminta peserta untuk mengisi kuesioner tersebut dengan sejujur-jujurnya untuk menggali keyakinan-keyakinan yang ada dihati peserta. Lalu jika jawaban mereka salah maka pada dasarnya hal-hal itulah yang selama ini salah dan terjadi pada mereka dan mungkin saja hal itu berpengaruh pada nasib mereka. Metode tanya jawab akan saya gunakan untuk menganalisis jawaban-jawaban yang salah tersebut guna meyakinkan pengaruh fikiran buruk terhadap nasib mereka selama ini. Beberapa hasil tanya jawab yang panas dari peserta tersebut akan saya sajikan dalam tulisan berikut. (kesioner lengkap sengaja tidak saya sajikan karena saya ingin memotivasi Anda untuk membeli buku yang bermanfaat tersebut walau dengan membaca tulisan ini mungkin Anda sudah dapat mengetahui kelemahan-kelemahan beliefs yang mungkin terjadi pada diri Anda). Continue reading

Gaya Sepakbola dan Budaya Bangsa-Bangsa

Seperti layaknya para lelaki lain, saya juga kena demam bola selama Juni-Juli. Bahkan bisa dikatakan sedikit fanatik karena saya sudah mulai mengikuti ajang Piala Dunia mulai tahun 1982 saat masih SD mengingat ayah saya sendiri juga penggemar permainan ini. Hanya saja kesibukan nonton Piala Dunia Afsel 2010 ini bener-bener bikin saya tidak produktif dalam ngeblog…belum lagi dibulan Juni ini saya mulai pindah ke tempat yang baru hingga sedikit repot benah-benah dan tentu saja hal itu mengganggu saya dalam merenung serta menuangkannya dalam bentuk gagasan-gagasan….belum lagi gangguan dari facebooker yang bener-bener menyita waktu saya…habis enak sih…nulis di facebook gak perlu panjang-panjang alias mikirnya gak lama…he…he….he….

Ngomong-ngomong tentang sepakbola, tiba-tiba saja saya terinspirasi dengan permainan sepakbola pada beberapa negara. Saya teringat dengan kata pakar permainan catur yang menyatakan bahwa kepribadian kita bisa dilihat dari gaya main catur kita…. Kemudian saya bandingkan dengan gaya main sepakbola tim peserta piala dunia…hmmm kayaknya cocok juga. Apalagi permainan sepakbola dimainkan oleh manusia-manusia yang memiliki kebiasaan yang mewakili budaya dari tiap-tiap bangsa…sehingga secara tidak sadar hal itu akan terbawa dalam permainan sepakbola yang mereka mainkan di lapangan…terus terang ini sedikit ngarang and berkayal soalnya nulisnya gak pakai referensi apalagi saya sendiri juga belum pernah mendatangi negara tersebut satu persatu…(wong keluar pulau Jawa saja belum pernah….) Jadi just for fun saja….

Continue reading

Membaca Persepsi Orang Lewat Buku

Mungkin bagi banyak orang, kegemaran saya dalam membeli buku bisa dikatain agak gila-gilaan.Disamping rumah yang mulai penuh dengan buku (jadi pengen nyanyi…Lihat rumahku…penuh dengan buku….ada yang kecil dan ada yang tebel….), dana yang kubutuhkan buat ngumpulin koleksiku itu rasanya jika dihitung-hitung juga cukup besar (untungnya istriku cukup pengertian…atau mau protes tapi gak berani ya….?!). Tapi mau bagaimana lagi, dalam setiap buku pastilah berisi persepsi orang terhadap suatu topik. Apalagi kata orang faktor bahasa kadang menjadi penghambat seorang manusia dalam berimajinasi dan bahkan menyebabkan terjadinya bias persepsi. Dan inilah yang kadang menarik bagi saya untuk selalu membaca dan membaca lagi walau buku-buku tersebut memiliki topik yang sama. Gabungan persepsi dari para penulis buku itulah yang perlahan-lahan akan menyatukan keping-keping puzzle hingga dapat memberikan gambaran suatu topik secara utuh…..

Bagi saya sendiri, kegemaran membaca banyak buku untuk suatu topik tertentu memang sudah saya lakukan sejak jaman kuliah dulu. Gak tahu kenapa, rasanya gak marem jika saya hanya membaca satu buku untuk dapat mengerti suatu topik tertentu. Entah karena apa atau mungkin karena saya yang agak DDR (Daya Dong Rendah), banyak sekali alur yang hilang jika saya hanya membaca satu buku saja. Dengan membaca banyak buku, pengertian-pengertian akan topik menjadi semakin jelas. Saya banyak merasa, buku yang enak dibaca yang bereedar di toko-toko buku sangatlah sedikit. Yang banyak pastilah buku A membahas bagian topik tertentu, buku B tentang garis-garis besar seluruh topik, sementara buku C walau sedikit mbulet tapi memiliki uraian yang lebih detail dan seterusnya…dan seterusnya….Hal-hal seperti itulah yang bikin saya terpaksa harus membeli banyak buku buat memahami pendalaman saya terhadap suatu topik….

Continue reading

Bagaimana Mengatasi Demam Panggung….?!

Judul tulisan diatas akhir-akhir ini menjadi pertanyaan yang sering ditanyakan peserta diklat. Sebuah pertanyaan yang mungkin menjadi persoalan serius bagi para pembicara pemula saat hendak berdiri diatas panggung. Bagi saya sendiri hal itu tentu saja bukan lagi persoalan, setelah hampir 4 tahun menjadi widyaiswara atau setelah ratusan kali saya melakukan presentasi di depan kelas. Tentu saja hal itu sedikit menyulitkan buat bisa menjawab pertanyaan peserta tentang demam panggung hingga seringkali saya hanya menjawab dengan asal…. walau tidak salah tetapi pasti kurang sitematis dan kurang sesuai dengan kebutuhan peserta yang umumnya kurang berpengalaman dalam berpresentasi.

Salah satu penyebab terjadinya demam panggung adalah stress. Menurut Ikhwan Sopa, banyak orang sebelum melakukan presentasi mengalami hal-hal: jantung berdegup kencang seperti habis lari-lari, telapak tangan Anda berkeringat, perut Anda mual dan merasa ingin muntah, setiap sebentar pergi ke kamar kecil untuk “mendownload” sesuatu, dan seterusnya. Gejala ini seperti gejala yang muncul pada berbagai penyakit berat. Padahal, bukan itu yang sesungguhnya sedang terjadi. Anda “hanya” sedang dilanda penyakit takut berbicara. Beberapa hal yang perlu Anda lakukan untuk dapat mengatasi demam panggung adalah

1. Kuasai Materi
Salah satu kunci sukses berbicara di depan umum adalah percaya diri. Dan faktor utama untuk dapat berbicara dengan penuh percaya diri adalah dengan menguasai materi. Untuk itu, usahakan Anda hafal dengan materi yang hendak disajikan dalam presentasi. Selanjutnya, bacalah buku-buku atau referensi terkait dengan materi untuk memperkaya penguasaan Anda terhadap materi. Menguasai materi presentasi dengan baik secara otomatis akan meningkatkan kepercayaan diri Anda untuk tampil di depan umum.
Continue reading

English…. Oh English….

Sudah bukan rahasia lagi bahwa Bahasa Inggris menjadi momok menakutkan bagi banyak orang di Indonesia. Jangankan menguasai, mendengarnya pun bahkan mereka alergi. Hingga bisa jadi jika mereka nonton film barat di TV pun yang dicari bangsa film yang sudah di-dubbing ke Bahasa Indonesia. Atau kalaulah film tersebut masih memakai bahasa aslinya maka mereka memilih untuk menekan tombol mute pada remote agar Bahasa Inggris-nya tidak terdengar sangking alerginya….ehm…sedikit berlebihan ya….?! Yang jelas, penyakit takut English itu ternyata juga menimpa banyak Widyaiswara….Dan jujur saja, saya termasuk dari salah satu widyaiswara yang tidak menguasai Bahasa Inggris dengan baik dan benar….walaupun gak nol puthol banget lah….litle-litle I can gitu….tapi kalau ada orang yang sedang ngomong pakek Bahasa Inggris, saya termasuk yang memilih membisu and diam seribu bahasa….

Na….cerita berikut saya dapat dari Mr. Adi Wahyudi berkenaan dengan phobia English yang menimpa widyaiswara. Ceritanya terjadi saat Mr. Adi masih ada di instansi lama yakni pada Balai Pendidikan dan Latihan Pertanian Soropadan yang merupakan Balai Pelatihan di bawah Departemen Pertanian sebelum kemudian dilimpahkan ke Provinsi Jawa Tengah sebagai konsekuensi otonomi daerah. Sebagai sebuah Balai yang ada di bawah Departemen, sudah jamak jika sering dikunjungi tamu-tamu dari pusat dan bahkan dari luar negeri. Yang paling mengerikan tentu saja jika ada tamu yang berasal dari luar negeri, mengingat mau tak mau para penghuni Soropadan harus mampu menjelaskan segala sesuatu tentang balai tersebut kepada tamu-tamu…dan tentu saja dengan menggunakan pengantar Bahasa Inggris. Dan tugas itu tentu saja akan diberikan pada para widyaiswara yang notabene dianggap sebagai komunitas ilmiah yang ada di balai pertanian. Kalau sekedar menerangkan masalah pengembangan pertanian sih gampang…. tapi jika harus dengan Bahasa Inggris….?! Ini problemnya karena banyak yang gak ngeh sama yang namanya Bahasa Inggris hingga saat hari kunjungan dari luar negeri tersebut banyak widyaiswara yang tiba-tiba gak masuk dengan berbagai alasan….ada yang mendadak sripahan lah….ada yang sakit lah….atau ada acara penyuluhan di lapangan … sudah kadhung janji dengan petani….atau sekedar masuk agak siang-siangan….dengan seluruhnya bermuara pada menghindari berbicara di depan tamu luar negeri…. Continue reading

Malam-Malam Gelisah Bagi Widyaiswara

Judulnya sih seperti lagu dangdut, walau maksudnya bukan seperti itu. Karepnya sih tulisan kali ini hendak menceritakan malam-malam paling menggelisahkan bagi seorang widyaiswara, yakni malam-malam saat mulai mengajarkan sebuah materi. Memang sih, jika materi itu sudah biasa kita ampu….malam sebelum mengajar bukanlah malam yang istimewa…karena segala persiapan telah tersedia dengan cukup dan bahkan kata orang turah-turah. Maksudnya adalah ibarat seorang tentara segala macam jenis senjata telah disiapkan jauh-jauh hari dan ready to use. Hingga tinggal pilih senjata mana yang hendak dipakai….tergantung musuhnya. Kalo musuhnya kelas teri ya…cukup pakai piso atau paser saja, sementara jika musuhnya kelas berat ya….kita siapin aja bom atom jika gak nyerah-nyerah. Apalagi medan perangnya telah kita kenal dengan baik hingga dengan mudah kita bisa menentukan tenpat persembunyian, posisi dan strategi buat menaklukkan lawan. Tapi tentu saja lain halnya jika daerah lawan belum pernah kita rambah….apalagi dengan amunisi yang minim maka malam-malam sebelum terjun ke medan pertempuran merupakan malam-malam yang paling menggelisahkan bagi seseorang….Dan itulah mungkin ilustrasi singkat bagaimana gelisahnya seorang widyaiswara dalam menghadapi malam-malam sebelum menyampaikan materi yang baru pertama kali diampunya…

Bagi saya, mengampu Sistem Pemerintahan NKRI merupakan pengalaman petualangan saya berikutnya bagi saya sebagai seorang widyaiswara. Walaupun jauh dari background pendidikan tetapi materi ini tetap penting sebagai investasi masa depan saya dalam mengampu materi-materi diklat kepemimpinan lanjutan di masa depan. Bisa dikatakan mau tidak mau saya sudah harus mulai berubah ke arah yang lebih mendukung karier saya di masa depan. Walaupun demikian, banyak tantangan yang harus ditaklukkan untuk dapat mengajarkan materi ini dengan baik. Yang pertama, tentu saja menguasai substansi materi yang karena jauh dari ’rumah’ maka bisa dikatakan saya hanya punya amunisi yang terbatas…mengingat buku-buku yang saya baca terkait dengan materi itu bisa dikatakan minim dengan pengalaman juga bisa dikatakan nol besar ples keberminatan yang masih meraba-raba alias nekad amergo kepepet. Dengan kata lain amunisi yang saya miliki sangat amat terbatas sekali. Oleh sebab prinsip pembelajaran orang dewasa lebih karena kebutuhan….maka untuk sementara saya tidak memperbanyak dulu buku referensi mengingat seperti pengalaman sebelum-belumnya banyak beli buku belum tentu banyak membaca alias lebih banyak disimpennya daripada dibacanya.

Banyak diskusi dengan pengampu senior menjadi pilihan saya dalam meningkatkan penguasaan materi…. utamanya banyak-banyak bertanya terhadap beberapa bagian dari modul yang susah saya mengerti termasuk peraturan perundang-undangan yang mendukung. Dan ternyata banyak juga peraturan perundang-undangan yang harus saya pelajari buat memperkaya penguasaan materi dalam modul…yang setelah saya search and unduh via internet rasa-rasanya sampai hari H-1 dalam mengajar masih saja ada beberapa bagian yang belum ketemu link and match-nya hingga masih rodo-rodo bingung juga disamping bahan dasar di modulnya juga belum apal banget….Tapi pengalaman sebagai widyaiswara selama 4 tahun telah membuatku sedikit tenang mengingat prinsip ’widyaiswara itu pasti bisa mengajar asal ada judulnya….’ Apalagi pengalaman pertama khan bukan segala-galanya…masih ada pengalaman-pengalaman mengajar berikutnya yang perlahan-lahan akan meningkatkan kompetensi kita dengan sendirinya. Belum lagi tujuan utama saya mengampu materi ini adalah untuk belajar dan The best learning is teaching to….?! Jadi gak usah takut untuk mengajar….just do it maka percayalah Anda akan menemukan fakta-fakta baru yang menarik selama mengajar….. Continue reading

Repot-Repot Rapat-Rapat

Ada budaya baru (pengennya sih menjadi budaya alias menjadi tradisi dan bukan hanya sekedar trend sesaat yang cepet hilang….) yang muncul saat jeda ngajar di awal 2010, yakni rapat materi pelajaran. Tidak tahu siapa yang memulai, yang jelas minggu-minggu ‘garing’ ini banyak diisi rapat-rapat materi. Sesuatu yang baru dan sekaligus mengejutkan bagi saya. Tujuan rapat tentu saja adalah penyamaan persepsi atas kontent materi pelajaran diantara widyaiswara-widyaiswara yang kebetulan mengampu materi diklat yang sama. Disamping itu, juga dibahas bagaimana strategi mengajar mata diklat yang bersangkutan agar menghasilkan proses belajar mengajar yang efektif sekaligus menyenangkan bagi para peserta. Bukan untuk diseragamkan, tetapi lebih untuk saling sharing pengalaman-pengalaman mengajar masing-masing widyaiswara saat menyampaikan materi…..buat diteladani widyaiswara lain…atau sekedar memberi inspirasi demi proses belajar mengajar yang lebih baik.

Diluar pelaksanaan rapat, saya menganggap tradisi rapat materi merupakan sebuah sinyal positif bagi iklim kesejukan hubungan diantara para WI…yang biasanya saling intip, saling ejek, bahkan juga saling telikung dalam hubungannya dengan perebutan jumlah jam mengajar….. yang seringkali dihubungkan dengan penghasilan para WI. Sebuah masalah klasik yang selama ini menghinggapi para widyaiswara di Jawa Tengah (bagaimana dengan widyaiswara di tempat Anda….?). Istilah ‘rukun’ sendiri merupakan sebuah kejutan yang menyenangkan bagi saya….yang mungkin disebabkan cukup meratanya jumlah jam mengajar yang menjadi jatah masing-masing WI mulai dari yang paling junior sampai dengan yang senior….dengan rata-rata pada kisaran 900 jam mengajar per tahun. Belum lagi kisah sukses 9 pendekar senior yang secara berkala dipanggil LAN-RI untuk mengisi diklat-diklat Pim II yang diselenggarakan LAN…. membuat para senior sibuk sekaligus membikin para junior pun ikut-ikutan sibuk…. ‘nadahi’ pelimpahan-pelimpahan jam mengajar yang ditinggalkan para seniornya itu. Mungkin itulah solusi sebuah perselisihan JP…..semakin banyak JP yang bisa dibagi maka perselisihan banyak-banyakan jam mengajar berubah menjadi perselisihan buat istirahat tidak mengajar….sangking banyaknya jam yang harus dijalani setiap WI…. Continue reading

Salah Kaprah Pemahaman UUD 1945

Ikut Diklat TOT Sosialisasi UUD 1945 mendatangkan beragam pengetahuan baru bagi saya pribadi. Maklum, latar belakang pendidikan, latar belakang pekerjaan ples keberminatan jauh banget dengan urusan yang begitu-begitu. Beragamnya pengetahuan itu saya ibaratkan seperti diri saya yang berdiri di bawah pohon jambu yang sedang berbuah ranum, merah dan ‘pating nggrandul’ menggiurkan selera. Naa….saat proses diklat itu ibarat datangnya angin ribut yang menerpa tuh pohon…wuuss….wusss… wwwuuuuusss…. hingga sangking kerasnya tuh angin menyebabkan buah jambu yang ranum itu berjatuhan ke tanah. Tentu saja, saya yang di bawah pohon sibuk banget menangkapi si buah jambu yang jatuh. Akan tetapi, karena buah jambu yang jatuh itu terlalu banyak maka….ya….ada yang ketangkep…..ada yang tidak…..

Begitulah yang terjadi selama proses diklat, informasi yang saya terima begitu banyak dan beragam hingga sangking banyaknya……ya….itu tadi ada yang bisa masuk…dan banyak juga yang gak mudheng juga sangking banyaknya. Tapi seperti laiknya buah jambu yang jatuh ke tanah maka demi mendapatkan semua kenikmatan rasa si jambu maka tanpa malu-malu saya akan mengmbili jambu-jambu di tanah….sedikit kotor sih tapi masih lumayan dinikmati….Artinya, saya akan mendapatkan sisa informasi yang belum tertangkap itu dengan memberanikan diri buat mengajarkan materi tersebut (mungkin lewat materi sistem pemerintahan yang ada di prajab)….karena kata orang cara belajar terbaik adalah dengan mengajar….pertanyaan-pertanyaan peserta terkait dengan materi akan semakin memperdalam pengertian saya…..walau mungkin ada beberapa pertanyaan yang tak terjawab, tapi kita gak perlu malu….malah hal itu akan mendorong kita untuk belajar and belajar lagi…. Continue reading