Category Archives: Profesi Widyaiswara

Berbicara tentang Evaluasi Kinerja Widyaiswara

Hari Kamis kemaren, sebelum beberapa Widyaiswara mulai ngambil cuti tahunan (termasuk aku), terlihat ada diskusi panas di ruang WI. Aku sendiri sebenarnya kurang tertarik dengan gegeran-gegeran yang gak perlu. Apalagi biang-biang gegeran diantara WI kayaknya sementara harus ‘lerem’ dulu. Soalnya tanggalannya juga sudah menunjukkan hampir tutup tahun hingga kegiatan mengajar yang biasanya jadi sumber ribut-ribut sudah habis JP-nya. Sementara masalah ruwetnya penghitungan angka kredit akibat peraturan yang multitafsir, untuk sementara juga dilakukan gencatan senjata mengingat minggu-minggu ini semua berkas sudah masuk tim penilai hingga untuk sementara gak ada lagi yang perlu diributin. Tapi dari situ akunya jadi tertarik untuk mengetahui…ada apa gerangan koq ada gegeran-gegeran…emang ada topik gegeran baru apaan ini…?!

 Ternyata sumber masalah adalah selembar undangan dari Bidang Bangdalmudik (Pengembangan Pengendalian Mutu Diklat) yang isinya tentang acara mendengarkan hasil evaluasi kinerja Widyaiswara yang akan disampaikan oleh UNES Semarang. Naaa… seperti layaknya orang yang gak suka dikritik, tentu saja hal itu bikin geger. Apalagi yang diundang alias dievaluasi tidak seluruhnya dan hanyalah 15 orang WI saja. Tentu saja hal itu menimbulkan pertanyaan besar tentang WI yang diundang itu. Kira-kira yang diundang itu khusus yang dicurigai cara mengajarnya jelek alias sedang dalam pengawasan atau gimana…?! Lalu metode evaluasinya bagaimana koq tidak didiskusikan dahulu dengan WI. Soalnya beberapa WI yang diundang khawatir metode evaluasinya salah hingga hasil evaluasinya pun jadi salah. Dan yang lebih mengkhawatirkan adalah adanya sangsi bagi WI yang hasil evaluasi kinerjanya buruk. Kalau sekedar dibina dahulu dengan konsekuensi jam mengajarnya dikurangi sih masih mending…yang lebih ditakutkan adalah kalau sampai di ’grounded’ alias diberhentikan sementara sebagai WI. Naa… itu yang pantas dibikin gegeranBaca lebih lanjut

Iklan

Repot-Repot Rapat-Rapat

Ada budaya baru (pengennya sih menjadi budaya alias menjadi tradisi dan bukan hanya sekedar trend sesaat yang cepet hilang….) yang muncul saat jeda ngajar di awal 2010, yakni rapat materi pelajaran. Tidak tahu siapa yang memulai, yang jelas minggu-minggu ‘garing’ ini banyak diisi rapat-rapat materi. Sesuatu yang baru dan sekaligus mengejutkan bagi saya. Tujuan rapat tentu saja adalah penyamaan persepsi atas kontent materi pelajaran diantara widyaiswara-widyaiswara yang kebetulan mengampu materi diklat yang sama. Disamping itu, juga dibahas bagaimana strategi mengajar mata diklat yang bersangkutan agar menghasilkan proses belajar mengajar yang efektif sekaligus menyenangkan bagi para peserta. Bukan untuk diseragamkan, tetapi lebih untuk saling sharing pengalaman-pengalaman mengajar masing-masing widyaiswara saat menyampaikan materi…..buat diteladani widyaiswara lain…atau sekedar memberi inspirasi demi proses belajar mengajar yang lebih baik.

Diluar pelaksanaan rapat, saya menganggap tradisi rapat materi merupakan sebuah sinyal positif bagi iklim kesejukan hubungan diantara para WI…yang biasanya saling intip, saling ejek, bahkan juga saling telikung dalam hubungannya dengan perebutan jumlah jam mengajar….. yang seringkali dihubungkan dengan penghasilan para WI. Sebuah masalah klasik yang selama ini menghinggapi para widyaiswara di Jawa Tengah (bagaimana dengan widyaiswara di tempat Anda….?). Istilah ‘rukun’ sendiri merupakan sebuah kejutan yang menyenangkan bagi saya….yang mungkin disebabkan cukup meratanya jumlah jam mengajar yang menjadi jatah masing-masing WI mulai dari yang paling junior sampai dengan yang senior….dengan rata-rata pada kisaran 900 jam mengajar per tahun. Belum lagi kisah sukses 9 pendekar senior yang secara berkala dipanggil LAN-RI untuk mengisi diklat-diklat Pim II yang diselenggarakan LAN…. membuat para senior sibuk sekaligus membikin para junior pun ikut-ikutan sibuk…. ‘nadahi’ pelimpahan-pelimpahan jam mengajar yang ditinggalkan para seniornya itu. Mungkin itulah solusi sebuah perselisihan JP…..semakin banyak JP yang bisa dibagi maka perselisihan banyak-banyakan jam mengajar berubah menjadi perselisihan buat istirahat tidak mengajar….sangking banyaknya jam yang harus dijalani setiap WI…. Baca lebih lanjut

Mempertanyakan Nasib Widyaiswara di Akhir Tahun

Kira-kira begitulah tema seminar IWI Jawa Tengah untuk bulan Desember 2009. Sebuah seminar dengan tema menggelitik mengingat waktu pelaksanaan seminar yang ada di akhir tahun…di saat banyak widyaiswara banyak luntang lantung tanpa pekerjaan yang jelas….tentu saja dengan duit yang pas-pasan juga akibat rehat akhir tahun anggaran yang berkonsekuensi tak adanya penyelenggaraan diklat…yang konon kabarnya bru mulai lagi setelah Februari menambah syahdu seminar itu…..ditambah penyaji seminar merupakan widyaiswara yang baru 7 bulan diangkat yakni Dr. Lilin Budiati….sehingga kata banyak orang masih suka ‘meledak’ walau kalau menurut saya sih masih terkaget-kaget akibat penyesuaian dari jabatan struktural yang serba ada dan terhormat….menjadi jabatan fungsional yang lebih mandiri dan swasembada….

Dalam kesempatan itu Ibu Dr. Lilin mengungkapkan sebuah snap shot…istilah beliau tentang gambaran singkat nasib widyaiswara mengingat status Bu Lilin yang masih baru…..sekaligus mengajak para widyaiswara untuk bangkit dari keterpurukan akibat kurang diberdayakan dan hanya disibukkan pekerjaan-pekerjaan rutin mengajar yang itu-itu saja…hingga terkesan pekerjaan widyaiswara merupakan pekerjaan yang ‘terbuang’ atau ‘terpinggirkan’ Lebih lanjut Bu Lilin mengemukakan tugas-tugas widyaiswara yang seharusnya dilaksanakan meliputi 4 aspek, yaitu :
1. Tugas Fungsional sebagai transfer of knowledge, yang meliputi tugas mengajar, mendidik, dan melatih
2. Tugas Manajerial yakni melakukan analisis kebutuhan diklat, termasuk mengelola program diklat baik sebagai penanggung jawab, mengawasi, dan mengevaluasi program diklat.
3. Tugas Profesional, yakni melaksanakan kegiatan pengembangan profesidan penunjang tugas widyaiswara, seperti penelitian, penulisan karya tulis ilmiah, pengabdian pada masyarakat sebagai perwujudan pelayanan publik.
4. Tugas Insidental, seperti tugas ceremonial, mewakili semiloka tingkat lokal, nasional, konsultan advisory.
Baca lebih lanjut

Values dari Widyaiswara

Sebelum saya jabarkan lebih lanjut tulisan ini, saya hendak kemukakan pengertian nilai yang dikemukakan oleh Adi W. Gunawan dalam bukunya The Secret of Mindset, yakni nilai atau value adalah apa yang kita yakini atau percayai sebagai sesuatu yg berharga bagi kehidupan kita. Secara jelas definisi dan kedudukan value tertuang dalam gambar berikut :

Slide1

Dari gambar tersebut terlihat jelas bahwa nilai mendasari segala aspek kehidupan kita.Beberapa hal lain dari gambar tersebut yang perlu diketahui adalah

Beliefs: Sesuatu yang kita yakini sebagai hal yang benar menurut pemikiran kita
Rule : Seperangkat aturan untuk yang menentukan apakah kita merasa telah mencapai value atau hal penting
Self Talk : Dialog internal yang terjadi dalam diri kita yang selalu kita alami saat kita berinteraksi dengan lingkungan
Behaviour : perilaku atau respon yang tampak terhadap suatu peristiwa.

Dari gambar tersebut juga terlihat bahwa perilaku atau behaviour lah yang selama ini kita lihat dari seseorang saat dia menghadapi pilihan-pilihan dalam kehidupannya, sementara sebab terjadinya perilaku, baik itu self talk, rule, beliefs maupun nilai, tidak tampak oleh kita. Dari gambar tersebut juga bisa kita lihat bahwa segalanya terbentuk karena pengaruh lingkungan, baik lingkungan keluarga, teman-teman terdekat maupun masyarakat.

Lalu bagaimana dengan nilai-nilai yang harus dimiliki oleh seorang widyaiswara yang konon secara definitif harus selalu menyuarakan kebaikan….?! Na….dalam Diklat Karya Tulis Ilmiah yang sedang saya ikuti, Pak Suparmo Ali mengemukakan nilai-nilai kebaikan seperti tercantum dalam gambar berikut :

Slide1

Dan saya yakin Anda semua setuju jika ke-26 nilai kebaikan itu harusnya ada dalam diri seorang widyaiswara. Hanya saja masalah kemudian timbul saat Pak Parmo Ali meminta kita para peserta diklat memilih 3 diantara nilai-nilai tersebut yang paling cocok buat WI…karena tentu saja setiap orang memiliki pilihan sendiri-sendiri…..Dan walaupun akhirnya peserta sepakat memilih tiga nilai : Kesabaran, Kejujuran dan Kesungguhan….saya termasuk orang yang berteriak-teriak tidak setuju dengan pendapat itu…Berhubung kalah suara akibat voting maka saya muat saja pendapat saya di postingan kali ini….biar gak nggonduk….memang sedikit liar dan kontroversi tetapi pendapat saya pasti telah saya landasi dengan argumen yang ”out of the boxes” seperti kegemaran Pak SBY……simak saja ya…. Baca lebih lanjut

Berakit-Rakit ke Hulu, Berenang Ketepian….

090203_131532

Terus terang saja, judul diatas gak ada hubungannya dengan ilustrasi yang mengiringi tulisan ini yang menunjukkan kegemaran baru saya yang bikin oran-orang berkata bahwa saya semakin item saja….bukan pula berhubungan dengan lagunya Bang Rhoma….kali ini saya hendak menceritakan pengalaman pertama saya dalam melakukan sitting program (di tempat saya sih sering disebut sebagai mel open…..walau yang saya tulis itu hanya cara nyebutnya and bukan bentuk tulisannya yang sampai saat ini gak pernah aku ketahui…). Sitting program merupakan salah satu cara seorang widyaiswara belajar, yakni dengan ikut widyaiswara lain yang sudah berpengalaman dalam mengajarkan sebuah materi.. Disini widyaiswara yang ‘ngikut’ akan berupaya belajar tentang sagala hal yang berhubungan dengan materi, baik content materinya, metode pengajarannya termasuk ice breaking and instrument yang diberikan pada materi tersebut, serta cara melakukan pengelolaan kelas selama proses belajar mengajar berlangsung….

Terus terang, setelah 2 tahun lebih saya jadi widyaiswara, baru kali ini saya ‘bersedia’ melakukan sitting program…soalnya saya lebih suka belajar pakek metode lain seperti baca modul, ngelamunin skenarionya sendiri, diskusi dengan temen lain ples ngebaca sendiri renferensi yang terkait . Padahal sitting program merupakan salah satu tradisi di instansi kami buat meningkatkan kualitas widyaiswara baru. Tapi memang sayanya yang wegah duduk berlama-lama di kelas….gak ngapa-ngapain…alias hanya mengamati orang lain mengajar (soalnya kelingan masa-masa diklat yang menjemukan jika widyaiswara-nya membosenkan….) hingga mungkin saya sedikit dianggap kemaki juga ya…..tapi mo gimana lagi, bagi saya sitting program adalah kebutuhan seorang widyaiswara dan bukan sebuah kewajiban…alias dipaksa-paksa buat ngikut. Asal dari peserta gak ada komplen tentang cara mengajar…jalan saja. Bahkan komplen pun jika cuman satu atau 2 kali gak masalah….wong kualitas mengajar juga tergantung jam terbang. Saat pertama mengajar sih pastinya masih grogi and sibuk ngapalin materi yang emang belum ‘tune in’ hingga belum begitu baik….jadi salah dooong jika pengalaman pertama mengajar kitanya langsung dituntut baik….Khan yang penting bukan kualitas mengajar pada satu proses belajar mengajar….yang lebih penting adalah bagaimana seorang WI memperbaiki kualitas mengajarnya pada kesempatan berikut….. Baca lebih lanjut

Memburu Intan di Tumpukan Sampah

Sampai dengan awal Maret ini, tercatat sudah tiga kali Semarang kebanjiran buku (kalo kebanjiran aer sih sering banget…..). Ya…..gak tahu lagi ada angin apa beberapa penerbit rame-rame nyerbu Semarang buat ngadain pameran buku. Pertama, tanggal 5 – 10 Februari kemaren yang diadain di Gedung Wanita, jl. Sriwijaya Semarang. Lalu, yang kedua yang diadain di Java Mall, tanggal 10 – 15 Februari oleh penerbit Kompas dan Gramedia. Dan terakhir adalah Bursa Sejuta Buku yang diadain di Gedung Admiral belakang RRI tanggal 27 Februari – 3 Maret 2009. Kayaknya baru di tahun ini lah (sepengetahuanku yang baru tinggal di Semarang sejak Oktober 1999) publik Semarang bener-bener dimanjakan oleh berbagai jenis buku…dan tentu saja sebagai salah seorang pecinta buku saya pastilah tidak mau ketinggalan buat ikut-ikutan nyerbu and mborong-mborong…

Kalo ada pameran buku maka orang pertama yang ingin kukabari adalah Mr. Untung Darmadi….temen widyaiswara sekaligus salah satu maniak buku yang bisa jadi lebih gila daripada saya….Prinsipnya aneh, lucu tapi cocok juga untuk diikuti di masa krisis ini…. Jika masuk toko buku, meski muternya lama, yang dibawa keluar pasti buku yang tipis-tipis sesuai kantong kami….Tapi jika masuk pameran buku, muternya pasti lebih lama dan yang dibawa keluar pasti buku yang tebal-tebal….tentu saja karena setiap pameran pasti ada diskonnya…dan yang jelas nyari buku yang diobral murah…kadang gak begitu bagus juga sih tapi kalo harganya murah apalagi diobral….bagi kami gak ada salahnya untuk dibeli (kalo sudah begini remnya hanya wajah sang istri yang kadang cemberut melihat tumpukan buku yang kubeli…..). Bagi kami persoalan beli buku bukanlah persoalan kualitas tapi kami lebih suka dengan kuantitas….walau sekali lagi saya harus setuju dengan pendapat Pak Untung bahwa pada dasarnya kami-kami ini kelasnya masih sebagai pecinta buku….alias suka membeli buku buat dikoleksi….sementara masalah membaca…ya….sak sempat-sempate lah he…he…he….

090228_170701 Baca lebih lanjut

Akhirnya Laptopku Jebol juga…

Akhirnya Laptopku Jebol juga….setelah dua tahun lebih 5 bulan ples kurang lebih 3 minggu selalu nemenin hari-hari-ku, Laptopku ‘Acer Aspire 3620’ harus masuk bengkel…..gak tahu kenapa tiba-tiba layar monitornya tiba-tiba ngadat alias gak mau nampilin gambar sama sekali….yakni katanya Mr. Vandoyo sih karena cara bawaku yang sembrono….yakni diletakkan dalam tas bersama buku and berkas-berkasku yang rata-rata berat hingga tertumpuk-tumpuk…walau kemudian menurut si tukang servis rusaknya karena jalur VGA-nya yang gosong…katanya sih karena tegangan listrik yang gak stabil….gak tahu mana yang bener….tapi yang jelas aku harus ngluarin lebih dari 700 rebu buat mbetulinnya……

Akhirnya Laptopku Jebol juga….padahal waktu subuh laptop itu masih bisa saya pakai buat nyelesain bahan seminar AKD (Analisis Kebutuhan Diklat)….rencananya sih mau tak pamerin temen-temen saat rapat pada siang harinya….eee….waktu tak coba buka, laptopku hanya diem saja alias layarnya ming item doang…hingga bikin bete berat….Tapi gak tiba-tiba banget jugya seee….Seajak awal bulan Desember, Laptopku itu sudah menunjukkan gejala-gejala rewel alias pengen istirahat….karena tampilannya yang mendadak burem…mirip-mirip tampilan save mode….walau semingguan ini tampilannya kadang normal lagi, hingga menerbitkan setitik harapan…walau kemudian malah mati total……Jadi sory juga kalo postingnya semakin tak pasti….   Baca lebih lanjut

Menyelesaikan Sesuatu Yang Tertunda….

Ini sebenarnya merupakan crita lanjutanku tentang sulitnya seorang widyaiswara dalam mengumpulkan angka kredit….bahkan buatku yang hanya seorang widyaiswara muda ini….yang katanya semua hal bisa jadi angka kredit…alias obah sithik wae wes dadi angka kredit….ternyata sulit juga. Pangkal masalahnya seperti biasa adalah sulitnya mencari bukti fisik atau bukti administrasi kelengkapan dalam melaksanakan suatu kegiatan….Sebenarnya waktu mei kemaren sudah sebagian bukti fisik yang berhasil aku kumpulin….akan tetapi, mau ngajuin rasanya eman-eman karena jika dapet penilai yang teliti (bukan yang rewel lo….) Sehingga kemudian aku and Mr. Yatno mutusin buat nunda pengajuan angka kreditku sampek periode Desember….biar agak lego…ada waktu buat nglengkapin ‘barang bukti’ sekalian nambah sumber-sumber angka kredit lain yang gak sempat kubikin but lumayan banyak angka kreditnya…seperti GBPP/SAP….

Tapi apa lacur….ternyata kondisi di bulan Desember juga gak jauh beda. Bahkan kesibukanku bener-bener meninggi di akhir tahun….dan kesemuanya malah yang bikin mumet-mumet…seperti njalanin AKD….juga mbikin modul-modul yang sampek empat and deadline-nya bareng-barang lagi….yakni sekitar pertengahan Desember….sementara mau ngumpulin bukti, utamanya yang ngajarnya di ‘dalam negeri’ seperti diklat prajab nan berjibun itu, ternyata SK-nya pun banyak yang tidak ketemu…..bahkan untuk Prajab golongan III yang waktunya panjang-panjang malah hampir gak ada sama sekali….Walaaaahhh….!!

Sempet bingung juga aku, antara ngumpulin atawa tidak….Bahkan Mr. Yatno pun memilih untuk menyerah and menunda lagi….”Awak dieman-eman Lut….tinimbang ngotot tapi malah sakit…” demikian Mr. Yatno mencoba menasehati sinambi sentrap-sentrup akibat pilek….Tapi berhubung aku sudah nekad and merasa diri ini terlalu lama menunda….Karena jika dipikir-pikir, Desember tahun kemaren aku juga berniat mengajukan but…karena sibuk ngajar di Jepara maka gak jadi ngusulin…lalu Mei juga gak jadi….lalu masak Desember tahun ini gak ngusulin juga….?! Akhirnya nekad wae…. Semua berkas tak susun walau gak lengkap…..Semua bukti mengajar tak ketik sendiri walau gak rapi….Lalu berkas-berkas lain tak lampirin buat pepak-pepak….Dan akhirnya…. Alhamdulillah….Selasa Kemaren, tepat deadline terakhir 25 November…. Selesai juga berkas itu kususun and kemudian tak masukin kardus kecil serta kutumpuk….. Biarin….yang penting pekerjaanku selesai duluan….masalah angka kreditku diitung berapa….terserah tim penilai saja….syukur-syukur mau bermurah hati dalam menilai hingga aku bisa naik pangkat per April 2009….Kalau gak murah hati….?!

Prinsip Pelayanan Prima Bagi Widyaiswara

Ikut Diklat itu memang asyik. Walau kita gak selalu mendapatkan semua yang kita harapkan tapi pasti adaaaaa…… aja yang berguna buat ningkatin kualitas kita sebagai aparat pemerintah. Sebagai contoh Diklat TOT Kewidyaiswaraan Muda yang sedang saya ikuti saat ini. Belum juga 10 jam kita ngikut diklat…eee…..akunya sudah dapat ilmu baru tentang profesi kewidyaiswaraan, yakni prinsip pelayanan prima bagi widyaiswara dari mata pelajaran Bimbingan Belajar Orang Dewasa dari Pak Sudarmadi salah seorang widyaiswara dari Badan Diklat Depdagri Jakarta. Prinsipnya sih gampang yakni agar sebagai widyaiswara yang notabene juga aparat pemerintah kitanya juga harus berprinsip pelayanan prima bagi para pelanggan kita, yang dalam hal ini adalah peserta diklat. Seperti kita tahu ada 3 prinsip pelayanan prima :

  1. Hukum Pelanggan. Ada dua prinsip hukum pelanggan. Pertama, pelanggan tak pernah salah. Kedua, jika pelanggan salah maka lihat lagi prinsip pertama.

  2. SDM pelayanan harus mendukung, dalam arti SDM seorang aparat harus mampu dan mau melayani pelanggannya.

  3. Boss adalah panutan, sekaligus menjadi suri tauladan bagi anak buahnya dalam melayani pelanggan.

Lalu bagaimana implikasinya bagi profesi widyaiswara dalam melakukan proses belajar mengajar di kelas….?! Baca lebih lanjut

Ngumpulin Angka Kredit

Ada satu kegiatan tahunan yang harusnya selalu dilakukan oleh para widyaiswara, yaitu ngumpulin angka kredit. Kegiatan tahunan itu dilaksanakan bagi para widyaiswara guna mendapatkan kredit poin bagi kenaikan pangkatnya, dan bisanya dilakukan pada setiap bulan Juni dan Desember….Walaupun demikian, bagi sebagian besar widyaiswara, pekerjaan itu adalah pekerjaan yang paling menjengkelkan….bikin ribet….sangat menguras tenaga….hingga banyak juga widyaiswara yang males ngumpulin angka kredit….Bahkan saya sendiri mengambil istilah yang agak ‘ngece’ yakni ngumpulin angka kredit dan bukan mengajukan angka kredit….mengingat pekerjaannya lebih banyak berupa kumpul-kumpul berkas daripada ‘sekedar’ mengajukan angka kredit saja…..(konon ada juga widyaiswara yang bersedia membayarkan uang agar ada staf yang bersedia membantukan mengumpulkan angka kredit bagi kenaikan pangkat dirinya….sangking ruwetnya cara ngurusnya itu….)

Seperti widyaiswara rajin lainnya…..Juni ini saya juga ikut bersibuk-sibuk ria buat ngumpulin angka kredit juga….konon jika disetujui, pangkatnya aku bisa naek….sehingga walau temen-temen WI lain tenang-tenang saja, aku terlihat ngotot and sibuk sendiri…..(mangkanya sorry, bulan Mei-Juni ini saya sedikit sekali posting….habis sibuk banget sih….pa lagi pekerjaan ini juga banyak menyita fikiran hingga gak sempet mikir ide buat postingan…..). Hanya sayangnya, ternyata pekerjaan ngumpulin angka kredit itu ternyata begitu berat….banyak sekali berkas persyaratan yang belum terpenuhi sehingga ada kemungkinan angka kredit yang saya ajukan hanya separoh saja yang mendapatkan nilai kredit….Sudah kucoba sekuat tenaga buat ngumpulin, bahkan sampai sempet sakit kepala segala, akan tetapi sampai batas waktu yang ditentukan yakni 10 Juni…..pekerjaan ngumpulin berkas itu belum selesai juga….bahkan mulai minggu kedua Juni pekerjaan itu total sudah saya hentikan….putus asa…dan tentu saja harus merelakan kenaikan pangkatku tertunda untuk sementara…. Baca lebih lanjut

Berguru Sampai ke Negeri Betawi

Baru hari ini saya bisa ngeblog setelah mungkin absen sampai beberapa hari…..bukan apa-apa melainkan karena saya memang kesulitan untuk mendapatkan koneksi internet di sebuah kota yang katanya menjadi pusat segala pusat informasi yang ada di negeri ini yakni Jakarta yang kata ‘Bang Doel’ sering disebut sebagai Betawi….Sekali lagi bukan karena Jakartanya yang sulit, melainkan saya sendiri yang kelihatan katrok dengan segala keramaian Jakarta ples dengan macet-macetnya itu…..Ibarat wong ndeso yang gak ngerti lor-kidul hingga nyari warnet pun gak ketemu-ketemu…..(ini juga ketemunya akhirnya di ruang internet yang ada di tempat nginepku juga……walah….!!) kalo sudah begini, saya bener-bener menyesali diri dengan pekerjaan menunda-nundaku buat melengkapi my laptop dengan teknologi koneksi portabel via handphone yang sudah menjamur itu….yang kalo difikir-fikir itu terjadi bukan karena gak ketemu dengan teknologinya juga, melainkan karena saya yang PNS ini juga masih suka yang gratisan alias makek internet fasilitas kantor he…he…he….

Berguru sampek ke Negeri Betawi….?! Koq dekat amat Pak….?! Ya….gak pa-pa lah, wong namanya berguru itu bukan masalah jauh dekatnya to….Yang penting khan bergurunya, nyari ilmunya….apalagi saya nyari ilmunya khan juga di sebuah lembaga pemerintah non departemen (LPND) yang katanya gudangnya ilmu-ilmu administrasi ….yakni di Lembaga Administrasi Negara (LAN-RI), sebuah lembaga pemerintah yang bertugas membina para lembaga kediklatan milik instansi pemerintah di seluruh Indonesia….sekaligus pusatnya diklat-diklat tingkat tinggi, yang saat aku disana ternyata di gedung yang aku tempati buat nginep, yakni di Graha Wisesa, juga sedang dilaksanakan diklat kepemimpinan tingkat II dan tingkat I (kalo diklat pim tingkat II sih kitanya biasa nyelenggarain dengan peserta para calon Kepala Dinas, tapi kalo Pim I siapa pesertanya ya…..?!). Kenapa saya katakan Negeri Betawi…..Padahal Betawi khan Indonesia juga….?! Yeah buat sedikit nggambarin betapa megahnya Ibu Kota Jakarta itu…..hingga saat pertama kali saya menginjakkan kaki di kota Jakarta (saat dewasa) sekitar tahun 1998…. saya yang dari Kota Kediri ini merasa banget jadi anak kampung…..apalagi saat melihat gedung-gedung yang tinggi ples lingkungat kota, utamanya di jalan-jalan protokol yang sangat bersih, indah dan tertata rapi itu, membuat saya serasa berada di luar negeri (walau saat kita masuk ke yang bukan protokol, seperti di sekitar lokasi komplek LAN-RI, kadang malah kita temui kampung-kampung ples Rusun-Rusun kumuh yang menyedihkan juga hi….hi….hi….). Baca lebih lanjut

Seminar Pendidikan Menjelang Hari Pendidikan Nasional

Ada yang menarik dari Seminar IWI Jawa Tengah tanggal 30 April kemaren. Diskusi-diskusi rame tentang pendidikan menjadi tema seminar IWI kali ini, utamanya dengan berupaya mengonceki kontroversi Ujian Nasional yang kerap menjadi polemik tahun-tahun belakangan ini. Tentu saja sebagai insan ilmiah, para widyaiswara tidak lagi memperdebatkan efektif tidaknya kebijakan UN itu dilaksanakan melainkan berupaya mencari jalan keluar agar sistem pembelajaran di sekolah dapat berjalan dengan efektif dan efisien. Pembicara ditunjuk dari LPMP (Lembaga Penjamin Mutu Pendidikan) Jawa Tengah yakni Bapak Muchlas Yusak dengan tema Pengembangan Profesional Pendidik melalui ”Jogyou Kenkyuu” atau dikenal di barat sebagai Lesson Study, sebuah model pendidikan yang dikembangkan di Jepang sejak tahun 60-an dan mulai menjadi acuan pokok bagi sistem pengajaran di Amerika guna mengganti sistem pendidikan tradisional di Amerika.

Pada awal paparannya, Pak Yusak menceritakan dilema yang dihadapi para guru berkenaan dengan UN. Seperti diketahui, standar nilai kelulusan UN tahun ini meningkat menjadi 5,5. Hal ini tentu saja memusingkan para guru mengingat tanggung jawabnya buat mempertahankan or meningkatkan tingkat kelulusan siswa di sekolahnya. Standar yang tinggi secara tidak langsung menuntut guru untuk dapat meningkatkan daya serap siswa terhadap materi yang diberikan. Sesuatu yang memusingkan mengingat hampir tidak ada peningkatan yang berarti terhadap model pembelajaran yang diterapkan di Indonesia hingga rasanya hampir mustahil bagi para guru buat meningkatkan daya serap siswa terhadap materi pelajaran. Salah satu upaya yang dapat dilakukan para guru untuk meningkatkan kualitas mengajarnya, menurut Pak Yusak adalah meningkatkan kemampuan para guru buat mengakses informasi yang ada di internet. Untuk itu, para guru diharapkan menguasai Bahasa Inggris dengan baik, tidak cukup Bahasa Inggris yang bersifat fungsional saja (buat percakapan sehari-hari) tapi juga harus menguasai Bahasa Inggris yang informasional atau yang dapat dipakai buat mengakses informasi dari internet yang banyak ditemukan dengan pengantar Bahasa Inggris. Baca lebih lanjut

Biar Ingat, Mampirlah ke Rumahku…..

“Masih ingat dengan saya nggak….?!” Demikian yang dikatakan oleh salah seorang peserta diklat Prajabatan Golongan III saat bertemu di mushola kantor Kabupaten Pekalongan. ”Ingat dong…..” dengan basa basi ples senyum ramah coba membalas sapanya….”Hayoo….kalo ingat, siapa nama saya….” Lagi peserta itu coba mengejar sembari menutupi tag name yang ada di dadanya……Saya hanya mesam-mesem saja mendengar jawabannya……sambil berusaha keras mengingat-ingat namanya, walau tetap kagak ingat juga…..”Masa lupa Pak….padahal baru satu minggu lho….Saya Bu Slamet Urip Pak……” peserta itu kelihatan kecewa saat saya tak jua menyebutkan namanya….dan sayanya hanya bisa menjawab singkat….”Maaf, saya orangnya dominan otak kanan….hingga sering lupa dengan nama seseorang….tapi kalau wajah pasti selalu ingat…..”

Itulah salah satu contoh kejadian yang sering kualami berkenaan dengan peserta diklat….yakni lupa namanya…..!! Sebuah kejadian yang mulai kuanggap wajar bagi diriku walau tetap saja pasti mengecewakan peserta….Tapi mau gimana lagi, susah rasanya mengingat semua nama para peserta yang pernah kufasilitasi dalam sebuah proses belajar mengajar….Bagaimana tidak, mereka begitu banyak dan selalu berganti-ganti setiap waktu….susah rasanya mengingat nama mereka….Apalagi di tahun 2008 ini, sudah 28 kali saya mengajar pada diklat prajabatan….Bayangkan jika kau kalikan dengan 40 orang per kelas maka minimal sudah ada 1120 orang peserta yang pernah bertemu denganku. So….wajar to saya lupa dengan nama mereka…… bahkan untuk peserta yang aktif di kelas dan menjadi bintang sekalipun…..!! Gimana mau ingat nama man…..kadang wajahnya pun aku juga lupa….apalagi kalo di kelas dia seorang yang pendiem….hingga kadang pas jalan-jalan di suatu tempat kadang ada yang menyapa ples ngajak salaman…..tanpa ingat dengan dirinya sama sekali……(mirip selebritis ya…..?!) Baca lebih lanjut

Perang Tanding IWI Jawa Tengah vs IWI Yogyakarta

Sabtu kemaren, ada kunjungan mendadak dari para rekan kita dari IWI (Ikatan Widyaiswara Indonesia) Yogyakarta….Dikatakan mendadak karena saya tahunya juga mendadak bahkan dari koordinasinya sang sekretaris IWI Jateng, Mr. Yatno yang serba terburu-buru terlihat jelas bahwa acaranya memang mendadak….hingga pemberitahuan bagi wadyabala IWI Jawa Tengah pun baru dilakukan pada hari kamis kemaren…..itupun hanya via faks biar cepet tapi slamet…..gak usah terlalu formil-formilan seperti para staf structural….Yang penting surat fax-fax-an itu bisa nyampai ke tangan masing-masing cabang IWI Jawa Tengah (meliputi : Diklat Sragen, BPSMP, BPSDP, BKKBN, Balai Diklat Keagamaan, Pusdiklat Migas Cepu, Pusdiklat PLN, Balatkop, Kantor Diklat Banyumas, LPMP Semarang, Bapelkes Salaman dan Bapelkes Gombong)…..juga surat itu dapat dijadikan bukti kalau ada kegiatan IWI jika para pimpinan kantor bertanya ada apa gerangan……

Yang namanya acara mendadak pastinya persiapannya kurang mateng….apalagi dilaksanakan pada hari Sabtu yang merupakan hari libur dan notabene sepi dari para karyawan lain….Dan belum-belum sudah terjadi masalah, saat tiba-tiba ada pemberitahuan mendadak kalau anggota IWI yang datang ternyata tidak hanya 19 orang seperti yang diberitahukan semula….melainkan 50 orang alias tiga kali lipat….!! Yang paling cotho adalah ruang yang kita sediakan adalah ruang terbagus di Badan Diklat yaitu ruang data….yang kapasitasnya hanya 50 orang….!! Padahal perwakilannya IWI Jateng sendiri ada sekitar 30-an orang…..So….kebayang betapa sesaknya ruang data yang dipakai buat pertemuan tersebut…..bahkan WI Badan Diklat sendiri harus rela menunggu para tamu-tamu undangan untuk duduk, baru setelah itu mencari tempat duduk yang kosong….itupun tanpa hak ngambil snack yang ternyata habis dibagikan buat para tamu undangan…..(terlihat bahkan Mas Yatno, Pak Ateng, dan Pak Bangkit, yang duduk di depan sebagai pemimpin forum….ikut-ikut tidak kebagian snack juga…..) Baca lebih lanjut

Widyaiswara Harusnya Tidak Hanya Sekedar Mancal….

Widyaiswara ki ming kari mancal.gak ngerti repote pejabat struktural….mulai dari ngusulin biaya diklat….nyusun dokumen perencanaan…. Sampai ngelaksanain, termasuk dari ngatur jadwal, ngurusin makanan, penginapan, ngatur honor, ngevaluasi, sampai nyusun kurikulum, nyari fasilitator, nyari binsuh….dan masih banyak yang lainnya….pokoke kalo staf dan pejabat struktural itu banyak kerjaan…widyaiswara ming tinggal ngajar….dapat honor dan pulang…..enak betul…..

Demikianlah kalimat nyelekit yang seringkali kudengar tentang sosok seorang widyaiswara….Ya…gak bisa sepenuhnya disalahin juga sich….karena memang ada juga tipe widyaiswara yang seperti itu….Bagaimana dengan diriku…?! Waduh akunya pasti protes berat jika dikatain seperti itu….soalnya mulai habis lebaran sampai sekarang aku hanya sempat menikmati liburan singkat di Yogyakarta pas libur hari Natal kemaren…. Setelah itu, kayaknya ada aja yang harus kulakukan buat ngisi hari-hariku…. Baca lebih lanjut