Monthly Archives: Oktober 2008

Bahkan Peserta Prajab Golongan II pun Bisa Pidato

Salah satu faktor yang mendukung suasana pembelajaran yang menyenangkan menurut Welberg dan Greenberg dalam buku Quantum Teaching adalah Berfikir Positif (Niat Baik). Lebih lanjut dijelaskan bahwa seorang widyaiswara harus percaya dengan kemampuan peserta diklat, apapun kondisi peserta. Dengan kata lain, widyaiswara dalam berinteraksi dengan peserta harus menganggap mereka adalah orang-orang yang top. Tetapi beberapa kecenderungan menunjukkan bahwa jika sedang berinteraksi dengan kelompok peserta berkemampuan tinggi (misal pendidikan tinggi, para pejabat), widyaiswara cenderung banyak tersenyum, lebih banyak mengobrol dengan akrab, dan berbicara dengan cara lebih intelektual dan penuh humor, menggunakan kosa kata kompleks, dan bertidak lebih matang. Sementara dengan kelompok kemampuan rendah (pendidikan rendah, staf, prajab), widyaiswara yang sama cenderung berbicara keras dan lambat (seolah-olah peserta tidak dapat mendengar), menggunakan kosa kata dasar dan kalimat mentah, jarang tersenyum, dan berinteraksi pada tingkat lebih instruksional dan otoriter. Singkatnya, widyaiswara memperlakukan peserta dengan bunyi cap mereka, sebagai pelaku akademis tinggi atau rendah.

Berkaitan dengan kalimat diatas, saya punya pengalaman menarik sekaligus mengejutkan, juga mengagumkan, tentang jenis peserta yang berkemampuan rendah itu. Peristiwanya sih hari kamis minggu kemaren, saat saya dipusingkan dengan jadwal mengajar yang begitu padat sekaligus bertumpuk-tumpuk. Gara-garanya sih ada beberapa teman widyaiswara (12 orang dari 28 rekan kami) yang terpaksa ikut Diklat TOT Kewidyaiswaraan Berjejang Tingkat Madya guna memenuhi persyaratan jika ingin naik ke jenjang Widyaiswara Utama. Kalo diitung-itung sih harusnya gak begitu ngaruh…tetapi nyatanya saya sendiri Kamis minggu kemaren itu harus mendapatkan jadwal yang bertubrukan. Di satu sisi, mulai jam 7 pagi sampai jam 10.15 aku harus ngajar di TOT Perpustakaan sementara di lain tempat saya juga harus ngajar pada Diklat Prajabatan Golongan II angkatan 54 mulai pukul 07.00 sampai jam 15.30. Pengennya sih ngeles saja dan milih di TOT Perpus-nya….but Agus staf WI dengan tegas menyatakan bahwa aku harus ngajar Prajab juga karena gak ada WI lagi. Untuk itu, dia nyaranin agar akunya ngisi di Prajab sebentar mulai jam 7….buat basa-basi and ngasih tugas….lalu jam 8 – 9 keluar buat ngajar TOT Perpus….untuk kemudian jam 9 harus balik ke Prajab lagi…..Waduh….!! Bisa lari-lari niii…… Baca lebih lanjut

Iklan

Mengelola Sesi Tanya Jawab Dalam Presentasi

Banyak orang yang takut untuk menyajikan makalah dalam sebuah presentasi…bukan karena apa-apa…melainkan karena takut ditanya oleh peserta dan tidak bisa menjawabnya. Tetapi sebenarnya hal itu tidak perlu dilakukan mengingat pada dasarnya peserta ’relatif lebih tidak tahu’ dibandingkan dengan para penyaji yang pasti lebih siap dengan bahan-bahan terkait dengan makalah yang diberikan…sehingga bisa dikatakan bahwa peserta pada dasarnya bertanya karena merasa belum tahu dan bukan karena ingin menguji si pembicara. Disamping itu, kalaulah terpaksanya tidak tahu, sebenarnya pembicara bisa mengatakan yang sejujurnya atau boleh menjanjikan pada penanya untuk menjawabnya melalui jawaban tertulis…

Dalam sebuah presentasi, komponen tanya jawab sering digunakan untuk mengukur kesuksesan penyajian. Kualitas dan kuantitas pertanyaan dapat menggambarkan sejauhmana pendengar mengikuti dan mengerti pengajaran Anda. Sesi tanya jawab dapat dilaksanakan di akhir penyajian (secara singkat) atau selama penyajian berlangsung. Dalam setiap sesi tanya jawab fasilitator harus mampu mengontrol pertanyaan dan jawaban yang diberikan terhadap pertanyaan. Fasilitator harus dapat mendengarkan pertanyaan dengan seksama saat ditanyakan untuk mengetahui isi dan emosi pertanyaan. Kalau ada pertanyaan yang kurang jelas, fasilitator dapat mengulangi atau merangkum pertanyaan, namun harus meminta persetujuan penanya apakah rangkuman tersebut telah benar. Rangkuman ini membantu pendengar lain untuk mengetahui inti pertanyaan dan membantu fasilitator akan isi dari pertanyaan tersebut. Baca lebih lanjut

Penyajian Presentasi Lisan Nan Indah

“If picture paints a thousand words.. ..” Dikutip dari lagu “If” oleh Bread.

Saya kira banyak pembaca yang suka dengan syair lagu di atas. Sebuah lagu yang mengembalikan ingatan kita ke masa lalu. Syairnya yang indah mengingatkan kita betapa sebuah lukisan sanggup menguraikan seribu makna. Nah, apa kaitannya dengan tips kita kali ini ?.

Kalau kita memperhatikan anak-anak, mereka suka sekali dengan buku bacaan yang banyak gambarnya. Tintin, Asterix, Lucky Luke, Drsgon Ball, Doraemon, Conan, dan Mulan adalah contoh dari sekian banyak buku anak-anak. Anak-anak bisa tertawa terkekeh, tersenyum atau merasa gregetan hanya dengan melihat gambar kartun ini. Tanpa membaca isinya, mereka bisa menangkap pesan dari gambar tersebut.

Baca lebih lanjut