Monthly Archives: Maret 2009

Data dan Informasi dalam Website milik Badan Diklat

Sebenarnya malu juga saya punya lembaga pendidikan dan pelatihan yang ngakunya nomor 1 di Indonesia tapi yang namanya hot spot gak ada…ada juga sih tapi bandwithnya malah mirip dengan lagunya BBB….putus nyambung putus nyambung putus nyambung….sekarang putus besok nyambung lagi…..he…he…he….bikin ill fill lah….Rencananya sih tahun ini diseluruh wilayah Badan Diklat Provinsi Jawa Tengah kita akan full hot spot dengan dua saluran lagi….satu dari Jateng go id milik Pemerintah Provinsi sementara satunya dari langganan speedy khususnya di wilayah Kampus Eksekutif Merapi yang biasa kita pakek buat penyelenggaraan Diklat Kepemimpinan Tingkat II….Mendengarnya saja sih sudah seneng walau pelaksanaannya ya masih seperti itu….putus nyambung….hingga bikin malu jika ditanyain temen….masak kalah sama bakul sate…yang launching perdananya saja berfasilitas hot spot….sementara kita yang ngakunya lembaga pendidikan…..

Pagi ini (kalau postingannya nggak pas pagi ini tanggal 24 Maret maka yang terjadi adalah…..), tiba-tiba saya diminta Pak Parmo, koordinator WI kita, buat mewakili para WI ikut dalam launching website milik Badan Diklat….hmmm ini semakin menarik bagi lembaga kita karena sudah ada gerakan buat maju selangkah…..yakni meningkatkan pelayanan pada para stackholder melalui dunia maya. Denger-denger sih sebenarnya kitanya sudah lama punya website yakni kalo gak salah di http://www.bandiklat.go.id. Tapi gak tahu kenapa koq akhirnya malah gak jadi di launching and malah cari rekanan baru buat mbikinin settingannya website Bandiklat yang baru….Untungnya kali ini kebetulan aku kenal dengan rekanan yang hendak mbikinin website tersebut cause kitanya sempet pernah mbikin modul bareng beberapa tahun yang lalu…orangnya baik dan malah sudah berjanji untuk mbikinin website yang tidak kaku alias bisa diothak-athik lagi di masa depan jika pengen ada tambahan…..asyik to….Tapi walaupun sama temen, tetep saja akunya pengen ngoreksi data dan informasi yang ada di website milik Badan Diklat-ku tercinta….Bukan apa-apa, saya hanya gak mau website milik Bandiklat seperti halnya website milik instansi pemerintah yang lain…yang hangat-hangat tahi ayam….atau dibuat asal-asalan hingga nambah-nambahi hal yang mubadzir….   Baca lebih lanjut

Iklan

Berakit-Rakit ke Hulu, Berenang Ketepian….

090203_131532

Terus terang saja, judul diatas gak ada hubungannya dengan ilustrasi yang mengiringi tulisan ini yang menunjukkan kegemaran baru saya yang bikin oran-orang berkata bahwa saya semakin item saja….bukan pula berhubungan dengan lagunya Bang Rhoma….kali ini saya hendak menceritakan pengalaman pertama saya dalam melakukan sitting program (di tempat saya sih sering disebut sebagai mel open…..walau yang saya tulis itu hanya cara nyebutnya and bukan bentuk tulisannya yang sampai saat ini gak pernah aku ketahui…). Sitting program merupakan salah satu cara seorang widyaiswara belajar, yakni dengan ikut widyaiswara lain yang sudah berpengalaman dalam mengajarkan sebuah materi.. Disini widyaiswara yang ‘ngikut’ akan berupaya belajar tentang sagala hal yang berhubungan dengan materi, baik content materinya, metode pengajarannya termasuk ice breaking and instrument yang diberikan pada materi tersebut, serta cara melakukan pengelolaan kelas selama proses belajar mengajar berlangsung….

Terus terang, setelah 2 tahun lebih saya jadi widyaiswara, baru kali ini saya ‘bersedia’ melakukan sitting program…soalnya saya lebih suka belajar pakek metode lain seperti baca modul, ngelamunin skenarionya sendiri, diskusi dengan temen lain ples ngebaca sendiri renferensi yang terkait . Padahal sitting program merupakan salah satu tradisi di instansi kami buat meningkatkan kualitas widyaiswara baru. Tapi memang sayanya yang wegah duduk berlama-lama di kelas….gak ngapa-ngapain…alias hanya mengamati orang lain mengajar (soalnya kelingan masa-masa diklat yang menjemukan jika widyaiswara-nya membosenkan….) hingga mungkin saya sedikit dianggap kemaki juga ya…..tapi mo gimana lagi, bagi saya sitting program adalah kebutuhan seorang widyaiswara dan bukan sebuah kewajiban…alias dipaksa-paksa buat ngikut. Asal dari peserta gak ada komplen tentang cara mengajar…jalan saja. Bahkan komplen pun jika cuman satu atau 2 kali gak masalah….wong kualitas mengajar juga tergantung jam terbang. Saat pertama mengajar sih pastinya masih grogi and sibuk ngapalin materi yang emang belum ‘tune in’ hingga belum begitu baik….jadi salah dooong jika pengalaman pertama mengajar kitanya langsung dituntut baik….Khan yang penting bukan kualitas mengajar pada satu proses belajar mengajar….yang lebih penting adalah bagaimana seorang WI memperbaiki kualitas mengajarnya pada kesempatan berikut….. Baca lebih lanjut

Data dan Informasi dalam Website milik Disperindagkop

Seperti sudah saya katakan sebelumnya, katagori E-Government saya bikin dengan semangat setengah hati dan tidak menjanjikan apa-apa….Bukan apa-apa, disamping saya sendiri kelasnya belum nyampek ke pembuatan sebuah webste and hanya sekedar ngeblog yang secara teknis mudah-mudah saja….saya sendiri meragukan pola pikir sebagian besar instansi ples aparat pemerintah yang nyampeknya masih sekedar komputerisasi…dan belum nyandak kalo diajak sedikit lari-lari kecil ke arah teknologi informasi. Terbukti dari beberapa kali kesempatan ngajar, hasil diskusi tentang E-Government datar-datar saja….kurang greget, bahkan mungkin terlalu dangkal buat dipakai sebagai sebuah sumber informasi yang memadai…..

Walaupun demikian, saya sendiri tetep berupaya agar katagori ini bisa bermanfaat bagi pembaca…..Berhubung hasil diskusi yang lalu hasilnya datar-datar saja maka saya kemudian nyoba dengan lebih ke dalem lagi….dalam arti tidak sekedar content sebuah e-government saja, melainkan saya coba masuk ke dalam pekerjaan sehari-hari dari peserta yakni minta mereka menggali data dan informasi dengan mengambil sampel langsung pada dinas/instansi salah satu peserta….Sebagai tahap awal tentu saja saya motivasi peserta terlebih dahulu untuk ‘tidak ketakutan’ dengan yang namanya website. Tentu saja saya tekankan bahwa cara mbikin website yang paling baik adalah dengan memberdayakan masyarakat….alias ‘ndandakke’ pada profesional-profesional komputer…..Na….saat nyuruh mbikinin itu, kita sebagai aparat pemerintah mewarnainya dengan cara menyebutkan data apa saja yang harusnya ada dalam website tersebut….sesuatu yang tukang bikin website tidak begitu ngerti…..tul khan…?! Baca lebih lanjut

Memburu Intan di Tumpukan Sampah

Sampai dengan awal Maret ini, tercatat sudah tiga kali Semarang kebanjiran buku (kalo kebanjiran aer sih sering banget…..). Ya…..gak tahu lagi ada angin apa beberapa penerbit rame-rame nyerbu Semarang buat ngadain pameran buku. Pertama, tanggal 5 – 10 Februari kemaren yang diadain di Gedung Wanita, jl. Sriwijaya Semarang. Lalu, yang kedua yang diadain di Java Mall, tanggal 10 – 15 Februari oleh penerbit Kompas dan Gramedia. Dan terakhir adalah Bursa Sejuta Buku yang diadain di Gedung Admiral belakang RRI tanggal 27 Februari – 3 Maret 2009. Kayaknya baru di tahun ini lah (sepengetahuanku yang baru tinggal di Semarang sejak Oktober 1999) publik Semarang bener-bener dimanjakan oleh berbagai jenis buku…dan tentu saja sebagai salah seorang pecinta buku saya pastilah tidak mau ketinggalan buat ikut-ikutan nyerbu and mborong-mborong…

Kalo ada pameran buku maka orang pertama yang ingin kukabari adalah Mr. Untung Darmadi….temen widyaiswara sekaligus salah satu maniak buku yang bisa jadi lebih gila daripada saya….Prinsipnya aneh, lucu tapi cocok juga untuk diikuti di masa krisis ini…. Jika masuk toko buku, meski muternya lama, yang dibawa keluar pasti buku yang tipis-tipis sesuai kantong kami….Tapi jika masuk pameran buku, muternya pasti lebih lama dan yang dibawa keluar pasti buku yang tebal-tebal….tentu saja karena setiap pameran pasti ada diskonnya…dan yang jelas nyari buku yang diobral murah…kadang gak begitu bagus juga sih tapi kalo harganya murah apalagi diobral….bagi kami gak ada salahnya untuk dibeli (kalo sudah begini remnya hanya wajah sang istri yang kadang cemberut melihat tumpukan buku yang kubeli…..). Bagi kami persoalan beli buku bukanlah persoalan kualitas tapi kami lebih suka dengan kuantitas….walau sekali lagi saya harus setuju dengan pendapat Pak Untung bahwa pada dasarnya kami-kami ini kelasnya masih sebagai pecinta buku….alias suka membeli buku buat dikoleksi….sementara masalah membaca…ya….sak sempat-sempate lah he…he…he….

090228_170701 Baca lebih lanjut