Monthly Archives: Juli 2009

Di Tengah Serbuan Virus Paling Menjengkelkan

Penyakit apa yang paling menjengkelkan bagi seorang Widyaiswara….?! Bukan penyakit lain-lain yang sangat berbahaya…penyakit yang paling menjengkelkan bagi Widyaiswara adalah BATUK….!! Bukan apa-apa, seorang yang dikaruniai penyakit batuk secara fisik sih gak apa-apa….alias bisa dikatakan seger buger….termasuk ambisinya yang meluap-luap buat bekerja dengan baik (bahkan kadang kita jumpai seorang yang sedang batuk malah asyik merokok juga….ditambani gak mari-mari koq Pak….tak rokoki pisan….) Tapi bagi seorang widyaiswara yang memang bisa dikatakan jual suara….maka yang terjadi adalah jengkel dan jengkel semata….Gimana tidak, jadwal sedang penuh sesak menanti…hingga bunyi gemerincingnya pun terdengar jelas….tapi berhubung tugasnya adalah ngomong sepanjang hari….sementara alat ngomongnya sedang gak beres…maka terpaksa deh harus rela diparkir dengan jengkel….Kecuali kalo berani nekad dengan tetep masuk….sembari tutup kuping dari komentar-komentar sinis peserta…”Wah….mau nyebar-nyebarin virus ya Pak….?!”

Di musim kemarau berhawa dingin ini, batuk pilek memang menjadi pemandangan yang tak aneh di banyak tempat….dimana-mana banyak orang terjangkit virus flu-batuk tersebut….yang kadang anak istri pun kedapatan terserang penyakit yang sangat menjengkelkan itu. Kalo sudah begitu, terpaksa deh saya sebagai widyaiswara harus pasang badan agar tidak tertulari virus….misalnya dengan punya gelas khusus selama di rumah guna mencegah kita minum dari gelas bekas anak-istri yang lagi batuk….termasuk juga harus menjauhi acara sayang-sayangan dengan anak-istri selama mereka masih batuk….juga sedikit menjauhi minuman-minuman seger dingin serta gorengan-gorengan gurih (katanya sih jika gorengan semakin gurih…biasanya minyaknya bukan dari minyak baru alias jlantah hingga bikin mempercepat batuk) buat mencegah terjangkitnya virus batuk…kesemuanya itu harus dilakukan seorang widyaiswara jika dia ingin terbebas dari batuk yang dapat mengganggu tugas Negara nan mulia (halah…). Lalu bagaimana jika sumber penularan itu datang dari peserta….?! Artinya apa, bagaimana jika peserta yang sedang saya ajar itu yang sedang batuk…?! Tentunya sebuah pengalaman yang unik sekaligus menegangkan juga ya….Dan itulah yang yang terjadi kemaren saat aku ngajar materi Mind Setting pada diklat Parajabatan Golongan III angkatan 22 dimana hampir 80 persen pesertanya berada dalam kondisi batuk….baik yang sekedar batuk ringan maupun yang ngikil….Dan perasaan saya saat itu adalah seperti yang ada pada judul postingan kali ini….. Baca lebih lanjut

Iklan

Lagu Yang Cocok Buat Para Guru

”Nyanyi Pak….Nyanyi Pak…..” demikian yang sering kali saya dengar dari peserta jika mereka mulai bosan dengan pelajaran yang sedang saya sajikan. Nggak tahu kenapa, dan asalanya darimana menyanyi bersama-sama sepertinya menjadi trend bagi peserta diklat untuk menghilangkan kejenuhan. Sebenarnya sih bolah boleh saja sih kita pakek cara itu buat menyegarkan suasana….hanya saja koq sepertinya gak ada cara lain buat menghilangkan kejenuhan selain metode itu ya….bahkan kadang bikin jengkel juga jika peserta baru diterangkan sedikit eee….mereka sudah mulai mengantuk dan segera merengek-rengek minta nyanyi bersama….apalagi ada yang baru tahap perkenalan, alias belum diterangkan sama sekali…mereka sudah minta menyanyi….sebel banget hingga akunya kemudian ngomong ketus….”Sorry ya…pelajaran hari ini bukan pelajaran seni suara….” Bahkan Mas Abdul Mu’id, salah satu panitia di Jepara, sudah mulai apal dengan karakter saya hingga ”Kalo Pak Lutfi yang ngajar…pasti gak ada acara nyanyi-nyanyi bersama….” Perkataan yang maksudnya nyindir metode saya yang kering…atau malah muji karena tanpa nyanyi peserta pun bisa ’melek’….gak tau yang mana, yang jelas jika Mas Mu’id ngomong begitu paling saya hanya nyengir saja….

Bukan…bukan aku gak suka dengan acara nyanyi-nyanyi bersama. Cuman rasanya lucu saja jika kita sekelas nyanyi-nyanyi bersama tanpa juntrungan. Pengennya sih nyanyi yang kreatif and rekreatif hingga bikin kita tertawa bareng-bareng gitu. Hanya saja, jumlah lagu yang model begitu hanya sedikit koleksinya dan biasanya sudah dipakek sama WI yang ngajar terdahulu sebelum saya…hingga gak seru lagi deh jika kita nyanyikan lagi. Gak ada surprise-nya gitu. Pas kebetulan ngajarnya di awal-awal diklat hingga kita bisa nyuri start buat ngajarin nyanyian tersebut…juga kayaknya gak tega dengan WI yang datang belakangan dan lebih suka menyanyi daripada saya…. Pengennya sih bisa nyanyi lagu-lagu jaman sekarang alias lagu-lagu yang sedang trend… tapi ya itu gak lucu to kita nyanyi-nyanyi tanpa iringan musik. Pengennya sih seperti yang dilakukan Mr. Marpaung dari LAN…yang denger-denger suka bawa-bawa gitar dalam kelas hingga acara nyanyi-nyanyi bersamanya jadi lebih meriah….tapi belum berani ngelakuin gituan ’cos kayaknya koq gak lumrahnya….apalagi pas ketemu terakhir dengan Mr. Marpaung….sang satria bergitar itu sudah tidak nggendong benda kesayangannya itu…hingga akunya kehilangan moment ’role model’ buat mencontohnya….(soalnya aku sih dikit-dikit bisa juga ngegitar walau kemampuannya sih sekedar bisa dipakek buat nyaingin pengamen-pengamen yang sering kujumpai saat perjalanan panjang ke luar kota….)

Yang bikin sedih lagi jika yang minta nyanyi bersama itu adalah kelas dimana pesertanya kebayakan berprofesi sebagai seorang guru. Dari beberapa bincang-bincang akrab dengan mereka, saya sih sempet mendengar bahwa para guru pun saat ini sedang kebingungan buat mencari model pembelajaran yang lebih menyenangkan buat para murid sekolah. Na…dengan adanya diklat and ketemu dengan para WI yang terkenal kaya metode….para guru tersebut sedikit banyak akan mencontoh apa yang sedang kami buat. Dan yang saya takutkan adalah mereka menganggap metode menyanyi adalah satu-satunya cara buat membikin kelas hidup alias menciptakan pembelajaran yang menyenangkan adalah dengan menyanyi….hingga bisa Anda bayangkan bagaimana riuhnya sebuah kelas sekolah jika semua gurunya selalau mengajak menyanyi bersama di setiap sesi pembelajaran….bisa-bisa bikin guru seni suara (eh masih ada pelajaran seni suara atau nggak ya….?!) siap-siap kehilangan pekerjaannya deh…..hi…hi…hi…. Baca lebih lanjut

Tata Cara Penyusunan Laporan

Apakah manfaat dari laporan? Bagaimana kaitan antara laporan dengan pegawai administrasi ? Penyusunan laporan untuk pimpinan merupakan bagian dari tugas pegawai administrasi, baik yang bersifat rutin maupun instruksional (perintah atasan). Hal ini dilakukan karena pada hakikatnya tugas mereka adalah meringankan beban pimpinan, dan karena beban tugas pimpinan begitu banyak dan harus diselesaikan maka pegawai harus menyusun laporan untuk pimpinan. Oleh karena itu, penting bagi pegawai administrasi untuk mengetahui dan memahami hal-hal yang berkaitan dengan laporan.

Laporan merupakan bentuk komunikasi yang dapat dilakukan secara tertulis atau lisan mengenai sesuatu hal tertentu sesuai dengan tujuan penulisannya. Uraian berikut akan lebih ditekankan pada pembahasan hal-hal yang berkaitan dengan laporan tertulis. Laporan inilah yang secara resmi dijadikan sebagai sumber informasi, alat pertanggungjawaban, dan alat pengambilan keputusan dalam kehidupan organisasi. Baca lebih lanjut