Category Archives: Cerita Lucu

Prinsip-Prinsip Lucu Para Widyaiswara

Kadang-kadang geli juga jika ingat pertemuan-pertemuan dengan para WI. Soalnya disamping kata orang mereka pinter-pinter (minimal berpengalaman men…), mereka juga lucu-lucu. Dan karena kelucuan itu dilontarkan oleh orang yang pinter maka jadinya ya… lucu nan cerdas, tidak vulgar alias thok ngok… sedikit sinis tapi masih bisa bikin kita tersenyum walau sedikit pahit….Apalagi WI khan tidak begitu terikat struktur hingga ngomongnya pastilah lebih jujur, bahkan sedikit lepas… hampir tanpa beban… Mangkanya bertemu dengan WI lain, baik di tempat kerja, di seminar atau di kursus-kursus bener-bener momen-momen yang sangat mengasyikkan…

Terkait dengan masalah kediklatan, kewidyaiswaraan, proses belajar mengajar, kebanyakan WI memiliki sudut pandang tersendiri… dan ternyata banyak lucunya daripada benernya… gak percaya…?! simak beberapa komentar berikut…

Tentang Diklat

“Diklat itu untuk bersenang-senang….”(Adi Wahyudi yang paling semangat mengutip kata-kata dr. Isi Mularsih terkait dengan penerapan metode pembelajaran yang menyenangkan di kelas-kelas diklat….)

Ono Rego Ono Rupo…”(Siswoyo, saat mengomentari perbedaan standar honor WI dari tiap kabupaten/kota dan susah untuk diseragamkan karena katanya sih tergantung kekuatan tiap daerah walau lisensi penyelenggaraan prajab ada di Provinsi….hingga bikin WI sering milih-milih…)

“Kayaknya yang ngusulin WI tuh…” (Rahmat Suparman WI LAN-Bandung, saat ditanya mengapa jumlah jampel untuk prajabatan honorer lebih lama daripada jumlah JP prajabatan dari umum….)

Baca lebih lanjut

Iklan

English…. Oh English….

Sudah bukan rahasia lagi bahwa Bahasa Inggris menjadi momok menakutkan bagi banyak orang di Indonesia. Jangankan menguasai, mendengarnya pun bahkan mereka alergi. Hingga bisa jadi jika mereka nonton film barat di TV pun yang dicari bangsa film yang sudah di-dubbing ke Bahasa Indonesia. Atau kalaulah film tersebut masih memakai bahasa aslinya maka mereka memilih untuk menekan tombol mute pada remote agar Bahasa Inggris-nya tidak terdengar sangking alerginya….ehm…sedikit berlebihan ya….?! Yang jelas, penyakit takut English itu ternyata juga menimpa banyak Widyaiswara….Dan jujur saja, saya termasuk dari salah satu widyaiswara yang tidak menguasai Bahasa Inggris dengan baik dan benar….walaupun gak nol puthol banget lah….litle-litle I can gitu….tapi kalau ada orang yang sedang ngomong pakek Bahasa Inggris, saya termasuk yang memilih membisu and diam seribu bahasa….

Na….cerita berikut saya dapat dari Mr. Adi Wahyudi berkenaan dengan phobia English yang menimpa widyaiswara. Ceritanya terjadi saat Mr. Adi masih ada di instansi lama yakni pada Balai Pendidikan dan Latihan Pertanian Soropadan yang merupakan Balai Pelatihan di bawah Departemen Pertanian sebelum kemudian dilimpahkan ke Provinsi Jawa Tengah sebagai konsekuensi otonomi daerah. Sebagai sebuah Balai yang ada di bawah Departemen, sudah jamak jika sering dikunjungi tamu-tamu dari pusat dan bahkan dari luar negeri. Yang paling mengerikan tentu saja jika ada tamu yang berasal dari luar negeri, mengingat mau tak mau para penghuni Soropadan harus mampu menjelaskan segala sesuatu tentang balai tersebut kepada tamu-tamu…dan tentu saja dengan menggunakan pengantar Bahasa Inggris. Dan tugas itu tentu saja akan diberikan pada para widyaiswara yang notabene dianggap sebagai komunitas ilmiah yang ada di balai pertanian. Kalau sekedar menerangkan masalah pengembangan pertanian sih gampang…. tapi jika harus dengan Bahasa Inggris….?! Ini problemnya karena banyak yang gak ngeh sama yang namanya Bahasa Inggris hingga saat hari kunjungan dari luar negeri tersebut banyak widyaiswara yang tiba-tiba gak masuk dengan berbagai alasan….ada yang mendadak sripahan lah….ada yang sakit lah….atau ada acara penyuluhan di lapangan … sudah kadhung janji dengan petani….atau sekedar masuk agak siang-siangan….dengan seluruhnya bermuara pada menghindari berbicara di depan tamu luar negeri…. Baca lebih lanjut

Values dari Widyaiswara

Sebelum saya jabarkan lebih lanjut tulisan ini, saya hendak kemukakan pengertian nilai yang dikemukakan oleh Adi W. Gunawan dalam bukunya The Secret of Mindset, yakni nilai atau value adalah apa yang kita yakini atau percayai sebagai sesuatu yg berharga bagi kehidupan kita. Secara jelas definisi dan kedudukan value tertuang dalam gambar berikut :

Slide1

Dari gambar tersebut terlihat jelas bahwa nilai mendasari segala aspek kehidupan kita.Beberapa hal lain dari gambar tersebut yang perlu diketahui adalah

Beliefs: Sesuatu yang kita yakini sebagai hal yang benar menurut pemikiran kita
Rule : Seperangkat aturan untuk yang menentukan apakah kita merasa telah mencapai value atau hal penting
Self Talk : Dialog internal yang terjadi dalam diri kita yang selalu kita alami saat kita berinteraksi dengan lingkungan
Behaviour : perilaku atau respon yang tampak terhadap suatu peristiwa.

Dari gambar tersebut juga terlihat bahwa perilaku atau behaviour lah yang selama ini kita lihat dari seseorang saat dia menghadapi pilihan-pilihan dalam kehidupannya, sementara sebab terjadinya perilaku, baik itu self talk, rule, beliefs maupun nilai, tidak tampak oleh kita. Dari gambar tersebut juga bisa kita lihat bahwa segalanya terbentuk karena pengaruh lingkungan, baik lingkungan keluarga, teman-teman terdekat maupun masyarakat.

Lalu bagaimana dengan nilai-nilai yang harus dimiliki oleh seorang widyaiswara yang konon secara definitif harus selalu menyuarakan kebaikan….?! Na….dalam Diklat Karya Tulis Ilmiah yang sedang saya ikuti, Pak Suparmo Ali mengemukakan nilai-nilai kebaikan seperti tercantum dalam gambar berikut :

Slide1

Dan saya yakin Anda semua setuju jika ke-26 nilai kebaikan itu harusnya ada dalam diri seorang widyaiswara. Hanya saja masalah kemudian timbul saat Pak Parmo Ali meminta kita para peserta diklat memilih 3 diantara nilai-nilai tersebut yang paling cocok buat WI…karena tentu saja setiap orang memiliki pilihan sendiri-sendiri…..Dan walaupun akhirnya peserta sepakat memilih tiga nilai : Kesabaran, Kejujuran dan Kesungguhan….saya termasuk orang yang berteriak-teriak tidak setuju dengan pendapat itu…Berhubung kalah suara akibat voting maka saya muat saja pendapat saya di postingan kali ini….biar gak nggonduk….memang sedikit liar dan kontroversi tetapi pendapat saya pasti telah saya landasi dengan argumen yang ”out of the boxes” seperti kegemaran Pak SBY……simak saja ya…. Baca lebih lanjut

Saat Hape Yang Selalu Kubawa Ketinggalan

Kali ini giliran saya mengajar di Sragen….Kabupaten Paling Timur dari Jawa Tengah bagian selatan…..Rencananya sich hari Senin sore saya berangkat ke Sragen…..nginep sana, buat istirahat agar hari Selasanya bisa kuat ndalang sampek sore…..cause ngajarnya khan selama 12 Jam Pelajaran…….Tapi hari Senin itu kegiatanku lumayan banyak di Kantor hingga saya terpaksa harus sampai siang di Kantor…..bahkan dengan capek lagi…..So…sebelum sore berangkat ke Sragen, saya sempatkan ngliyep dulu……But berhubung waktunya yang agak mepet ples perasaan aku sendiri yang nggak tenang, takut kemalaman, walau masih jam 3, aku sempat geragapan juga bangunnya……Untung istri setia sudah siapkan semua keperluan, so….tinggal sholat njur cabut…… Tapi memang tidak baik kita memulai sesuatu dengan buru-buru…..buktinya, walau istriku telah siapkan semuanya untukku, termasuk ces-cessan Hape….tapi Hapenya sendiri sangking terburu-burunya malah lupa kubawa…..Sebenarnya belum jauh juga saya berjalan saat sadar Hapeku ketinggalan, tapi gak bawa Hape khan gak bakalan…..so….daripada balik rumah, saya pilih naek bus yang tiba-tiba melintas di depanku saja……..

Rencana awal sich pengen cepat-cepat nerusin tidur siang aku yang ternoda tadi…..but….saat baru lier-lier……BRAKK….!! Tiba-tiba saja bus yang kutumpangi nabrak bus laen yang ada di depannya…..Gak parah sich….kaget juga nggak…..tapi urusannya pasti jadi lama, saat para Polisi itu menghampiri my bus…..so….dengan still tenang….tak setop saja bus Patas Solo yang lewat….dan segera melupakan kejadian tadi…… Baca lebih lanjut

Sopir Truk Pasar Johar

Banyak temen yang mengatakan bahwa suasana simpang lima pada minggu pagi begitu mengasyikkan. Bundaran simpang lima, yang pada hari biasa begitu ruwet dengan kendaraan, pada minggu pagi ditutup dan yang boleh lewat hanya ‘bendi’ si kereta kuda yang diberi hiasan warna-warni. Disamping itu di lapangan simpang lima banyak dipadati dengan ‘bakul-bakul’ utawa ‘pasar bubar´menurut istilah temenku…..Saya sendiri sebenarnya sudah bias sedikit membayangkan suasananya….soalnya walau tidak ditutup tapi ‘bakul-bakul’ itu juga jualan di malem minggu….dan aku sering kesana pas malam minggu….Kata orang sih suasana bazaar pasar murah memang sengaja diciptakan untuk memberi suasana wisata pada Kota Semarang…..tetapi ‘bakul-bakul’ itu diizini oleh Pemkot Semarang buat ‘dhasar’ hanya mulai Sabtu sore sampai minggu siang…..selain waktu itu, yakni pada hari-hari biasa, kawasan simpang lima harus bersih dari ‘bakul’…..

Walaupun sudah sedikit banyak ‘pernah’ masuk bazaar dadakan itu….tapi khan malam minggu…sementara yang minggu pagi….setelah hamper 8 tahun di Semarang belum sempet….soalnya minggu pagi biasanya saya pakai buat ‘nyaur utang’ tidur sehabis malam harinya ‘lek-lekan’ nonton acara sepakbola di televisi…. Tapi keinginanku buat menikmati pasar murah di minggu pagi tetap besar….soalnya asyik sih jalan-jalan di minggu pagi….Sesuatu yang sering saya lakukan pada waktu istri saya masih tinggal di Yogya. Kebetulan rumah istri saya khan di Karang Malang yang dekat banget sama lingkungan kampus UGM…..dan di minggu pagi….diseputaran bundaran UGM sampai masjid kampus…..ya…gitu deh…banyak bakul-bakul juga…..Setiap minggu kita sekeluarga always jalan-jalan di seputaran UGM…..sengaja belum mandi dan belum sarapan….nyari ‘bakul’nasi kuning….nasi gudeg…atau soto…hmmm…asyiknya….. sambil masih keringatan, sehabis menikmati udara segar dan mandi matahari pagi….kita makan nasi kuning plus es teh (kalau saya itu termasuk penganut tag “apapun makanannya, minumannya tetap es teh…”) kegemaran saya….sinambi lesehan…..
Sopir Truknya Disini

Masih Ngeblog Tapi Tetap Katrok

Masih Ngeblog Tapi Tetep Katrok

Maklum masih baru, masih rodo bingang-bingung, tentu saja desainnya masih std banget, resize-of-poto-ceraksketwr.jpgtetapi semangat menggebu-gebu….terutama buat memperkenalkan blog-blog yang menjadi keluargaku (maksudnya……??). Naa… berhubung Basa Inggrisnya ndak begitu bagus…..gua pilih komunitas blog yang Berbahasa Indonesia, yaitu di blog-Indonesia. Ceritanya saya mau ngesubmit weblog milik adik-adik gue yakni indah dan lina, baik yang di blogsome maupun yang blogdrive.
pengen tahu betapa katroknya diriku? buka lagi

Ngeblog tapi Katrok

Ngeblog tapi Katrok

 Ini cerita saat aku mulai kenal dan coba-coba membuat blog. Multiply.com menjadi pilihan, disamping cara pembuatannya yang paling mudah, simple dan fasilitasnya cukup menarik, resize-of-poto-cerakbw.jpgjuga karena situs ini yang pertama kali kami kenal sebagai penyedia blog. Dan benar juga, hanya dalam 10 menit aku sudah punya sebuah blog. Mulai dari itu aku jadi demam ngeblog, rajin nggonta-nganti themes, masukin foto-foto, up load video dan tak lupa mamerin kegemaranku akan musik-musiknya bang Franky dan Bang Iwan yang ngountry sekaligus rada-rada ngefolk. Ceritanya aku selalu ngeblog di kantor, cause gratis khan. Mau ngeblog di rumah ya gak ada sambungan teleponnya…..maklum masih ngontrak……..mau pake Hape CDMA yang katanya cepet, ya……..masih mahal…..ples sepur kluthuk……

mau tahu betapa katroknya aku ?

Humor Pak Hari

Humor Pak Hari

Ini kisah tentang seorang temanku yang bertugas di Dinas Perkebunan Jateng. resize-of-poto-cerak.jpgOrangnya gemuk (sekitar 110 kg), sangar, ceplas ceplos, maklum orang sekampung dengan aku yakni di Kediri Jawa Timur. Sosoknya menakutkan bagi orang yang pertama kali melihat apabila kalau diajak salaman pasti dicengkeram kenceng. ”Biar akrab” katanya. Padahal sakit lo. Tapi sebenarnya orangnya ramah, lucu dan akrab…….

Suatu kali kita diklat bareng di Diklat Jawa Tengah. Kalau ndak salah Diklat TOT UMUM. Pesertanya semua calon widyaiswara dan sebagian besar dari instansi Propinsi Jawa Tengah. Tentu saja rumahnya banyak yang di Semarang, sehingga meski disediain kamar untuk nginep banyak peserta yang memilih pulang. Saya sama Pak Hari yang kebetulan jomblo (akibat istri tidak di Semarang) memilih nginep di mess. Lho koq ndak pulang ? Naaa………..ini alasannya… apa alasannya? Baca lanjutannya