Monthly Archives: April 2007

Pengembangan E-Government, Sebuah Analisis Awal

“Kebanyakan dari kita merasa tidak akan pernah mengerjakan hal-hal besar. Padahal kita bisa melakukan hal-hal yang kecil dengan cara yang besar” (Maren Mouritsen)

Ketegasan pemerintah pusat dengan turunnya Inpres No. 3/2003 tentang kebijakan dan strategi pengembangan e-government menyebabkan setiap pemerintah daerah berlomba-lomba membuat website. Bahkan Rudi Rusdiah, CEO Micronics Internusa, menyebutkan bahwa hingga bulan Juli 2003 tercatat ada sekitar 325 website eGovernment yang dimiliki oleh pemerintah daerah. Dengan jumlah kabupaten/kota di Indonesia sekitar 438, artinya lebih dari separuh daerah otonom telah memiliki situs, dan bisa dikatakan hampir seluruh propinsi telah memilikinya. Ini belum terhitung situs-situs milik lembaga atau instansi pemerintahan yang berdiri sendiri.

Walaupun secara statistik jumlahnya demikian besar, dan hal itu sangat menggembirakan tentunya, tetapi saya melihat ada sesuatu yang salah dalam penyusunan situs-situs tersebut. Belum melalui wawancara secara mendalam memang, melainkan hanya berdasarkan pengamatan dan dari hasil mengunjungi situs-situs milik pemerintah yang ada. Sebenarnya sudah lama saya ingin membahas masalah E-Government di Indonesia. Tujuannya sebenarnya tidak muluk-muluk. Saya hanya ingin memberikan saran-saran yang mungkin berguna bagi perbaikan kualitas desain suatu situs milik pemerintah. Hanya saja saya merasa kesulitan mengidentifikasi atau tepatnya menjawab pertanyaan “seperti apa sih e Government yang baik itu ?” Disamping bahan-bahan yang saya dapat belum begitu banyak (atau memang terbatas ya…?), saya juga merasa bukan seorang yang ahli dalam desain sebuah situs…..(kalau ngeblog mah gampang ya…?). Tapi dengan berpatokan pada kata bijak diatas, saya akan mulai dengan tulisan sederhana ini…..bahkan untuk memperkuat tekad, sengaja saya bikin katagori tersendiri…
seperti apa sih bentuknya ?

Iklan

Membentuk Kelompok Kerja ala Tim Sepak Bola

Bagi saya, sepak bola bukanlah sekedar kesenangan lelaki saja. Banyak filosofi yang dapat kita ambil dari olah raga paling populer di dunia tersebut. Bayangkan bagaimana uniknya sebuah pertandingan sepakbola, dimana 22 orang saling memperebutkan ’seekor’ bola, saling berusaha memasukkan bola ke gawang masing-masing lawan. Disini kita melihat gairah, ambisi, aksi, dan taktik dua puluh dua anak manusia guna memenangkan sebuah pertandingan. Yah….kalau difikir-fikir mirip dengan tingkah-tingkah kita dalam memenangkan sebuah ’nafkah’ buat memenangkan dunia. Tetapi yang lebih penting bukan itu. Dari sepakbola kita bisa belajar bagaimana mengelola sebuah tim kerja, bagaimana kita saling bekerja sama, saling percaya, saling berbagi demi menghasilkan kesuksesan.

Sampai sekarang saya masih percaya bahwa membentuk tim kerja yang efektif dapat terjadi jika setiap anggota mau saling belajar berbagi dan itu harus dilatih. Saya sendiri waktu SD pernah diminta guru olah raga untuk melakukan pertandingan sepakbola dengan anggota tim campuran putra dan putri….(jangan fikirannya buruk lo….kalau sudah SMA sih asyik….bisa pura-pura nubruk atau njatuhin diri bareng-bareng….tapi saat itu masih SD…jadi nggak ngaruh…!!). Waktu itu saya sedikit heran…..masak disuruh main sepakbola ama anak putri…..mana bisa….?! Malah jadi beban…!! Pertandingannya jadi teras lucu…. banyak tertawa……Tapi satu hal yang saya lihat….. ternyata anak putri cukup berguna pula….minimal menghalang-halangi pemain lawan bebas bergerak…..Dengan mengenang peristiwa itu, saya jadi sadar bahwa permainan sepakbola sangat berguna bagi penumbuhan sikap berbagi yang sangat bermanfaat dalam pembentukan tim kerja saat kita dewasa. Mungkin juga konsep sepakbola campur itu dapat diterapkan di sekolah-sekolah. Hitung-hitung buat menyeimbangkan kegiatan sekolah, yang kurikulumnya semakin lama semakin mengembangkan potensi individu…..mendidik persaingan guna mencapai prestasi…..dengan manafikkan model kerjasama antar anak….. Tentu saja hal ini kurang baik, mengingat dunia kerja sangat amat bergantung sekali pada efektivitas kerjasama antar individu dalam suatu organisasi…..dan bukan pada penonjolan prestasi individu…..
betul begitu khan

Sopir Truk Pasar Johar

Banyak temen yang mengatakan bahwa suasana simpang lima pada minggu pagi begitu mengasyikkan. Bundaran simpang lima, yang pada hari biasa begitu ruwet dengan kendaraan, pada minggu pagi ditutup dan yang boleh lewat hanya ‘bendi’ si kereta kuda yang diberi hiasan warna-warni. Disamping itu di lapangan simpang lima banyak dipadati dengan ‘bakul-bakul’ utawa ‘pasar bubar´menurut istilah temenku…..Saya sendiri sebenarnya sudah bias sedikit membayangkan suasananya….soalnya walau tidak ditutup tapi ‘bakul-bakul’ itu juga jualan di malem minggu….dan aku sering kesana pas malam minggu….Kata orang sih suasana bazaar pasar murah memang sengaja diciptakan untuk memberi suasana wisata pada Kota Semarang…..tetapi ‘bakul-bakul’ itu diizini oleh Pemkot Semarang buat ‘dhasar’ hanya mulai Sabtu sore sampai minggu siang…..selain waktu itu, yakni pada hari-hari biasa, kawasan simpang lima harus bersih dari ‘bakul’…..

Walaupun sudah sedikit banyak ‘pernah’ masuk bazaar dadakan itu….tapi khan malam minggu…sementara yang minggu pagi….setelah hamper 8 tahun di Semarang belum sempet….soalnya minggu pagi biasanya saya pakai buat ‘nyaur utang’ tidur sehabis malam harinya ‘lek-lekan’ nonton acara sepakbola di televisi…. Tapi keinginanku buat menikmati pasar murah di minggu pagi tetap besar….soalnya asyik sih jalan-jalan di minggu pagi….Sesuatu yang sering saya lakukan pada waktu istri saya masih tinggal di Yogya. Kebetulan rumah istri saya khan di Karang Malang yang dekat banget sama lingkungan kampus UGM…..dan di minggu pagi….diseputaran bundaran UGM sampai masjid kampus…..ya…gitu deh…banyak bakul-bakul juga…..Setiap minggu kita sekeluarga always jalan-jalan di seputaran UGM…..sengaja belum mandi dan belum sarapan….nyari ‘bakul’nasi kuning….nasi gudeg…atau soto…hmmm…asyiknya….. sambil masih keringatan, sehabis menikmati udara segar dan mandi matahari pagi….kita makan nasi kuning plus es teh (kalau saya itu termasuk penganut tag “apapun makanannya, minumannya tetap es teh…”) kegemaran saya….sinambi lesehan…..
Sopir Truknya Disini

Kerja PNS lebih berat daripada Swasta ?

Mengukur Pekerjaan Yang Seharusnya Dikerjakan PNS melalui AKD

Sudah lama sebenarnya meyakini bahwa kerja di pemerintahan itu lebih berat daripada kalau kita kerja di swasta. Seringkali saya mengerjakan begitu banyak pekerjaan sampai kadang begitu capeknya. Apalagi kalau sedang menyusun anggaran…..sudah materinya banyak….begitu nritik dan butuh ketelitian….sudah gitu waktunya mepet lagi….Besok harus selesai…!! Kalau sudah gitu….kita terpaksa harus nglembur-nglembur buat menyelesaikannya…..bahkan kadang nglemburnya sampai pagi….!! Wuih….

Tapi susah nyari pendapat setuju dengan statemen saya…. ”Ah pekerjaan anggaran itu khan sifatnya insidentil pak….tidak tiap hari…” Oke..oke….gimana kalau saya bilang kerja PNS itu bersifat global sehingga kita harus mengusai berbagai bidang ilmu buat bisa bekerja dengan baik….sementara kalu di swasta khan mudah…soalnya tiap orang punya pekerjaan sendiri-sendiri…sebagai contoh…bagian perencanaan ya…ngurusi perencanaan thok. Bagian produksi ya…ngurusi itu doang. Trus bagian pemasaran….ya…ngurusi cara memasarkan produk saja…. Sementara kalau di PNS…kadang pekerjaan mulai dari perencanaan, pelaksanaan, pemasaran, sampai evaluasi harus diurusi oleh satu bidang saja…dan tentu saja itu khan sulit sekali. Mangkanya knerja PNS itu gak bisa optimal….soalnya susah banget to kalo harus nguasai semuanya…… Ah….Pak Lutfi ini mengada-ngada…….kayaknya cinta banget sama PNS ya….kerja PNS koq berat…..yang bener aja…..jangan berlebihan lah…..
Masa sih Saya Berlebihan…?

Mulailah Komunikasi Anda dengan Mendengarkan

Kualitas Pembicara atau Kualitas Pendengar ? 

 

  “Memang sulit untuk berbicara, tetapi lebih sulit lagi untuk diam”

Dewasa ini sebagian besar pekerjaan kantor di instansi pemerintah didominasi oleh kegiatan komunikasi, dengan cara terbaik adalah melalui komunikasi lisan dan umumnya berupa sebuah percakapan. Abu Barker mengungkapkan bahwa sebuah percakapan adalah perpaduan antara pembicaraan dan pendengaran yang bersifat dinamis. Sedangkan Peter Senge menyebutkan bahwa berbicara merupakan cara seseorang membela sudut pandangnya. Sementara, mendengar adalah proses menyelidiki sudut pandang orang lain. Oleh karena itu idealnya dalam sebuah percakapan harus ada keseimbangan antara kegiatan berbicara dan mendengarkan. Tetapi kemudian timbul pikiran usil, kira-kira lebih penting mana antara kualitas pembicara atau kualitas pendengar ?

Dan jika pertanyaan itu saya lontarkan pada peserta diklat, jawabannya….”Ya…penting dua-duanya pak…?! Kalau saya kejar lagi…agar mereka memilih salah satu yang lebih penting….maka kebanyakan akan menjawab…. ”lebih penting kualitas pembicara…” (ini mungkin berpatokan pada kualitas pembicara yang waktu itu saya….he…he…he…). Ya….secara logis memang demikian. Karena komando sebuah percakapan terletak pada si pembicara. Seorang pembicara yang baik, dalam arti memiliki banyak pengetahuan dan pengalaman, intelegensia tinggi serta kepribadian yang menarik, akan mampu mempengaruhi pendengar, mengajak pendengar ke arah yang dimaui pembicara. Tetapi mengapa saya mengambil judul yang seolah-olah mementingkan kualitas pendengar….?!
Ya…mengapa..?!

Apa Yang Salah Dengan IPDN…?!

”kekerasan tidak akan menghasilkan pendidikan…. kekerasan hanya akan melahirkan kebencian, dendam dan ketakutan…..dan kesemuanya itu bermuara pada lautan kesedihan dan penyesalan…. ”

Berita apa yang paling ditunggu dan paling Top minggu ini ?! Jawabnya cuma satu IPDN….!! Yah…salah satu lembaga pendidikan milik pemerintah ini tiba-tiba namanya begitu mencuat…sayangnya mencuat bukan karena baunya yang harum….yah…IPDN mencuat namanya karena adanya peristiwa kematian (lagi-lagi) Praja Clif Muntu…. Belum lagi kita lupa dengan peristiwa kematian Praja Wahyu Hidayat akibat tindak kekerasan para senior…bahkan putusan pengadilan pun belum sepenuhnya dijatuhkan…..tiba-tiba muncul lagi kasus tragis serupa….sehingga wajar kalau semua pihak heran, terkejut, dan marah…Bahkan dibeberapa provinsi muncul pernyataan menolak mengirimkan putra terbaiknya untuk dididik menjadi praja IPDN…..dan tuntutannya jelas reformasi total sistem pendidikan di IPDN, atau kalau tidak…. bubarkan saja……

Saya sendiri heran campur bingung melihat fenomena kekerasan di IPDN yang banyak dsajikan televisi…..Bagaimana bisa sekolah calon pemimpin birokrasi malah memberi contoh kekerasan yang begitu mengerikan….Apa yang salah dengan IPDN…..?! Bagaimana sistem kurukulum yang diterapkan dalam sekolah birokrat itu….?! Saya kemudian banyak bertanya pada para alumni ’mbahnya’ IPDN (APDN) yang kebetulan ada di kantor saya……Umumnya mereka memang mengakui adanya kekerasan dalam APDN zaman dulu…tetapi masih dalam batas wajar….dalam arti mereka tetap menganggap kekerasan yang dilakukan praja IPDN masa sekarang sudah diluar batas…… tidak manusiawi, jauh dari semangat mendisiplinkan dan lebih dekat pada penindasan senior pada juniornya ….
saya pernah bertemu dengan alumni

Permasalahan Kebahasaan dalam Surat Dinas Instansi Pemerintah

Hasil dari beberapa kali mengajar serta saat searching mengenai tata naskah dinas yang ada di lembaga-lembaga pemerintah, baik melalui internet maupun buku-buku yang ada, juga dari pengalaman pribadi, ternyata masalah kebahasaan belum begitu diperhatikan oleh para penyusun SK Gubenur, Bupati atau malah Menteri tentang tata naskah dinas. Menurut pengamatan saya, banyak tata naskah dinas yang dikeluarkan oleh instansi pemerintah lebih menitikberatkan pada faktor non kebahasaan, seperti bentuk surat, jenis kertas, stempel dinas, amplop yang digunakan dan penyimpanan arsip. Sedangkan masalah kebahasaan, seperti kesalahan ejaan, kesalahan pemilihan kata, kesalahan makna kalimat, kesalahan komposisi kalimat, jarang diperhatikan.

Ketertarikan saya bermula saat saya menemukan buku ”Bahasa Surat Dinas” yang dikarang oleh Drs. Dirgo Sabariyanto salah seorang peneliti pada Balai Penelitian Bahasa di Yogyakarta. Dalam buku itu dijelaskan bahwa surat dinas merupakan surat resmi sehingga dalam pemakaian bahasa surat seyogyanya mempergunakan kaidah Bahasa Indonesia yang baik dan benar. Dari situ saya, yang selama ini menyusun surat dinas secara otodidak atau dari petunjuk atasan atau rekan senior, jadi merasa sangat bodoh karena seringnya manut saja tanpa pernah belajar dari membaca buku…tapi khan lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali to….?!
baca terus

Buat Apa Ikut Diklat….?!

Apa itu Diklat ?! Pertanyaan itu mungkin timbul bagi Anda yang masih awam….Menurut Peraturan Pemerintah nomor 101 Tahun 2000 dinyatakan bahwa Pendidikan dan Pelatihan Pegawai Negeri Sipil yang selanjutnya disebut Diklat adalah proses penyelenggaraan belajar mengajar dalam rangka meningkatkan kemampuan Pegawai Negeri Sipil.Tujuan diklat diantaranya adalah meningkatkan pengetahuan, ketrampilan dan sikap agar dapat melaksanakan tugas pekerjaan, baik yang bersifat umum pemerintahan maupun pembangunan, yang berorientasi pada pelayanan, pengayoman, dan pengembangan partisipasi masyarakat.

Tujuan yang bagus khan…?! Lho, tapi mengapa setelah begitu banyak diklat dilaksanakan koq hasilnya hanya seperti itu…..masih banyak majalah, Koran, atau bahkan statemen pejabat yang menyatakan bahwa kualitas SDM Pemerintah masih rendah. Lalu bagaimana manfaat diklat….?! Ya….tujuan diklat itu hanya dapat tercapai jika tiga pilar kediklatan, yaitu penyelenggara, widyaiswara dan peserta diklat dalam kondisi ideal. Kalau masalah penyelenggara dan widyaiswara sudah banyak indikator yang diungkap guna meningkakan kualitas diklat. Tetapi bagaimana dengan peserta diklat…?! Ya…harusnya peserta bermotivasi tinggi dalam mengikuti diklat….Itu betul…. Tapi motivasi peserta itu susah dikontrol…..
baca lagilah

Kesalahan Administrasi menurut Prajab III Pekalongan Angk.IV

Kesalahan Yang Sering Dilakukan Oleh Pegawai
dalam Kegiatan Perkantoran di Pekalongan

Acara jalan-jalan saya, senin kemaren 2 April 2007, buat ngunjungi anak-anak Prajabatan Golongan III angkatan IV di Kabupaten Pekalongan. Bosen dengan bus saya coba naek Kereta Api Kaligung klas eksekutif jurusan Semarang-Tegal pada minggu sorenya….tapi wuih…penuh sekali tu kereta. Baru ingat….kalo kemaren khan waktunya orang balik…..karena sabtu khan libur jadi banyak orang liburan…… Dan karena udah kadung nyampek stasiun Poncol….meski gak dapat tempat duduk dan harus bayar 25 rebu….gak pa-pa…nglesot aja…..he…he…he…
Dan acara nglesot saya ternyata cukup menghibur karena saya nglesotnya tepat dipintu kereta yang ndak ditutup….. dan kebetulan rel KA tersebut melewati pinggir pantai (bener-bener pinggir banget bahkan kita bisa nonton gemercik ombak yang memecah bibir pantai….) Angin laut nan sejuk….debur ombak…sunset mentari…. menjadi hiburan tersendiri bagiku (hingga aku lupa kalo aku nglesot…) Yang jelas Steven and Coconut Trees langsung membayang di benakku….

“Kunikmati mentari yang mulai menepi…
Dan perlahan menghilang…
Dan senja jingga dekapku damaikan hati……
Waktu melayang….

Sunset yang tenggelam…..
Tampakan indah…tanpa kau disini….
Sunset yang terbenam…..
Tampakkan jingga……tanpa kau disini….

Ah…. jadi melamun….puitis…… campur sedih……soalnya mau ngajak anak-istri mumpung lagi libur……eh…malah mereka tiba-tiba kena pilek…….(tapi ya…malah bagus…soalnya kalo ikut mereka khan harus nglesot juga…). Demikian, setelah nglesot selama satu setengah jam…..diriku tiba di stasiun Pekalongan….. hasil diskusi disajikan disini