Category Archives: Habitat

Pemilihan Metode Penyuluhan dan Proses Adopsi

Seperti sering saya katakan, semakin sering kita mengajarkan suatu materi kepada seseorang maka kemampuan penguasaan materi kita akan semakin bertambah. Bertambahnya penguasaan materi tersebut dapt terjadi karena pengkayaan-pengkayaan selama proses mengajar, baik melalui persiapan yang kita lakukan dalam rangka pemantapan materi maupun karena adanya pertanyaan-pertanyaan dari peserta yang kadang tak terjawab hingga menuntut kita belajar lagi agar di kesempatan mengajar berikutnya penampilan kita lebih baik. Sebagai misal, walaupun jarang-jarang dapat kesempatan ngajar bidang pertanian tetapi dalam kesempatan terakhir saya ngajar penyuluhan pertanian, saya mendapat ilmu baru bahwa ternyata ada hubungan erat antara tahapan proses adopsi suatu materi dengan metode penyuluhan yang digunakan.

Dalam mempelajari sesuatu, seseorang akan mengalami suatu proses untuk mengambil suatu keputusan yang berlangsung secara bertahap melalui serangkaian pengalaman mental fisiologis. Tahapan tersebut terdiri atas : tahap sadar, tahap mulai berminat, tahap menilai baik/buruknya materi, tahap mencoba, dan tahap menerapkan. Dan ternyata metoda penyuluhan yang digunakan dalam setiap tahap berbeda-beda, seperti contoh gambar berikut.

clip_image002

Penjelasan masing-masing tahapan proses adopsi pada gambar diatas dapat dijelaskan dalam halaman berikut.

Baca lebih lanjut

Iklan

Teknik Penyusunan Programa Penyuluhan

Menurut Undang Undang nomor 16 tahun 2006 tentang Sistem Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan, Programa Penyuluhan Pertanian adalah adalah rencana tertulis yang disusun secara sistematis untuk memberikan araMenurut Undang Undang nomor 16 tahun 2006 tentang Sistem Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan, Programa Penyuluhan Pertanian adalah adalah rencana tertulis yang disusun secara sistematis untuk memberikan arah dan pedoman sebagai alat pengendali pencapaian tujuan penyuluhan. Selanjutnya dalam Bab VII dari undang undang tersebut mulai pasal 23 dijelaskan bahwa programa penyuluhan dimaksudkan untuk memberikan arah, pedoman, dan alat pengendali pencapaian tujuan penyelenggaraan penyuluhan.

Programa penyuluhan terdiri atas programa penyuluhan desa/kelurahan atau unit kerja lapangan, programa penyuluhan kecamatan, programa penyuluhan kabupaten/kota, programa penyuluhan provinsi, dan programa penyuluhan nasional. Programa penyuluhan disusun dengan memperhatikan keterpaduan dan kesinergian programa penyuluhan pada setiap tingkatan.

Programa penyuluhan disahkan oleh Kepala Balai Penyuluhan, Kepala Badan Pelaksana Penyuluhan Kabupaten/Kota, Ketua Badan Koordinasi Penyuluhan Provinsi, atau Kepala Badan Penyuluhan sesuai dengan tingkat administrasi pemerintahan.

Programa penyuluhan desa/kelurahan diketahui oleh kepala desa/kelurahan. Programa penyuluhan disusun setiap tahun yang memuat rencana penyuluhan tahun berikutnya dengan memperhatikan siklus anggaran masing-masing tingkatan mencakup pengorganisasian dan pengelolaan sumber daya sebagai dasar pelaksanaan penyuluhan. Programa penyuluhan harus terukur, realistis, bermanfaat, dan dapat dilaksanakan serta dilakukan secara partisipatif, terpadu, transparan, demokratis, dan bertanggung gugat. Baca lebih lanjut

Pengolahan Sirup Buah Jambu Mete

Buah semu jambu mete dapat diolah menjadi aneka produk minuman segar, misalnya sari buah, anggur jambu mete, minuman beralkohol, sirup buah, limunade (minuman ber CO2), cuka makanan, selai atau jelly, jam, manisan, acar, lauk pauk (abon, pepesan, sayur), sambal dan lain-lain (Cahyono, 2001). Sedangkan ampasnya dapat dimanfaatkan untuk pakan ternak atau kompos.

Sirup buah semu jambu bermanfaat sebagai sajian minuman segar yang cukup mangandung vitamin C . Langkah pembuatan sirup buah jambu mete secara ringkas ditunjukkan dalam diagram alur berikut.

sirup-mete

Baca lebih lanjut

Pemanfaatan Limbah Jambu Mete

Tanaman jambu mete ( Anacardium occidentale. L) merupakan tanaman perkebunan yang sedang berkembang di Indonesia dan cukup menarik perhatian, hal ini karena pertama , tanaman jambu mete dapat ditanam di lahan kritis sehingga persaingan lahan dengan komoditas lain menjadi kecil dan dapat juga berfungsi tanaman konservasi, kedua tanaman jambu mete merupakan komoditas ekspor, sehingga pasar cukup luas dan tidak terbatas pada pasar domestik, ketiga usaha tani, perdagangn dan agroindustri mete melibatkan banyak tenaga kerja.

Pengembangan tanaman jambu mete di Indonesia di mulai sekitar tahun 1975 melalui proyek kehutanan yang saat itu ditujukan terutama untuk melindungi lahan kritis, dikembangan tanaman seluas 58.000 ha, tahun 1984 menjadi 196.000 ha. Tahun 2005 aereal tanaman mente di Indonesia ± 547.000 ha, yang tersebar di 21 provinsi, Sulawesi Tenggara 138.830 ha, Nusa Tenggara Timur 126.828 ha, Sulawesi Selatan 70.467 ha, Jawa Timur 57.794 ha, Nusa Tenaggara Barat 46.196 ha, dan Jawa Tengah 30.815 ha.

Di Jawa Tengah luas areal tanaman jambu mete kurang lebih 30.821 ha yang tersebar dibeberapa kabupaten antara lain Wonogiri 17.500 ha, Sragen 1.852 ha, Karanganyar 1.720 ha, Blora 1.869 ha , Purworejo 1.364, Sukoharjo 1.214 ha, Jepara 1.542 dan lainnya tersebar kabupatn Semarang, Batang , Grobogan, Rembang, Boyolali, Pemalang, Kebumen.

Sebagai hasil/ produksi utama tanaman mete adalah gelondong mente, hasil samping buah semu mente yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku industri rumah tangga yang sampai saat ini belum banyak dimanfaatkan secara optimal.

Di Indonesia pemanfaatan buah semu jambu mete masih sangat terbatas baik dalam jumlah maupun bentuk produksinya. Pada beberapa daerah tertentu umumnya dikonsumsi dalam bentuk buah segar dan produk olahan tradisional. Diperkirakan, dari produksi buah jambu mete hanya sekitar 20 % yang sudah dimanfaatkan secara tradisional , misal dibuat rujak, dibuat abon dan sebagainya sedangkan sisanya 80 % masih terbuang sebagai limbah.

Ditinjau dari segi nilai gizi dan komposisi kimianya, buah semu jambu mete merupakan salah satu sumber vitamin dan mineral. Kadar vitamin C nya cukup tinggi, yaitu ( 147 – 372 mgr/ 100 gr ) kira –kira 5 kali vitamin C buah jeruk. Selain itu juga mengandung cukup vitamin B1, B2 dan niasin. Kandungan mineralnya terutama unsur P terdapat dalam jumlah yang cukup., juga buahnya mengadung karbohidrat yang sebagian besar terdiri dari gula reduksi ( 6,7 – 10,6 % ) dan pektin serta bersifat Juicy karena banyak mengandung air. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa buah semu jambu mete mempunyai potensi ekonomi yang cukup tinggi, sehingga dapat diolah menjadi berbagai produk makanan dan minuman seperti sari buah, selai, jelly, sirop,cuka , manisan dan dapat dibuat sebgai lauk pauk abon.

Teknologi pengolahan untuk membuat produk olahan dari buah semu jambu mete sebenarnya telah tersedia, namun teknologi ini belum dimanfaatkan. Pengolahan buah jambu mete akan memberikan nilai tambah dalam rangka meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani beserta keluarganya. Baca lebih lanjut

Berfikir Besar Tidak Harus Dengan Tindakan Besar

Hare gini…masih ngajar komputer….?! Apa gak terlalu mengada-ada Pak….?! Mungkin demikian yang ada di fikiran Anda saat melihat kurikulum Diklat Penyuluh Pertanian Tingkat Ahli yang saya sajikan pada tulisan lalu….Sebenarnya malu juga…apalagi yang saya ajarkan juga ‘hanya’ MS Word, MS Excell dan Power Point….sebuah kemampuan basic yang harusnya sudah dikuasai oleh setiap PNS pada masa teknnologi informasi ini…..Apalagi ada sebagian penyuluh yang sudah menguasainya…Ples kondisi komputer di Laboratorium Bahasa dan Informatika milik kami sudah mulai ketinggalan zaman…. Karena komputer yang ada hanya sekelas pentium III….tapi mau gimana lagi….mau ngusulin up grade….seperti biasa terganjal dengan sistem penganggaran birokrasi yang begitu ruwet….

Sebenarnya kurikulum itu bermula dari ketertarikan sebagian besar penyuluh atas penguasaan komputer….yang kami dapat dari hasil mengajar pada Diklat Penyuluhan Tingkat Dasar dan Diklat PRA Banyumas….Apalagi ada dorongan yang begitu kuat dari Mr. Adi Wahyudi, yang merupakan widyaiswara pertanian senior dengan pengalaman bekerja 20 tahun, yang bertekad kuat me-moderen-kan bidang pertanian….apalagi menurut beliau sebagian besar penyuluh merupakan ‘muka-muka’ lama yang lahir bukan pada zaman komputer….. maka dengan malu hati akhirnya saya mau juga menyusunkan bahan ajar sederhana buat mengajarkan ketrampilan komputer pada penyuluh…. Dengan promosi jaminan dari Pak Adi bahwa para penyuluh itu bisa menguasai komputer hanya dalam 10 menit….maka kita mulai latihan komputer bagi para penyuluh…..
Baca lebih lanjut

Menerapkan Manajemen Tukang Cukur pada Diklat Penyuluh Pertanian

Kemis siang saat mau sholat ke Masjid, ada suara renyah menyapa “Wah…ini dia manusia langka…gak pernah ketok….sibuk macul terus…!!” begitu Mr.Slamet Riyadi dengan gaya khasnya menyapa…. “tapi hebat….nyusun kurikulum sendiri….nyusun modulnya juga sendiri…..trus diajar sendiri dan dievaluasi sendiri juga…..” Akunya hanya mesam-mesem saja…tanpa merasa tersindir…’cos walau beda jurusan tapi dengan Mr. Slamet gak perlu ada saingan-saingan….soalnya fren sich….hingga dengan enteng aku nyauri….”Ya…situ juga gitu dong….buat diklat apa kek….” Aku coba memberi semangat…. ”Waah…. susah, soalnya aku jurusannya pemerintahan….banyak WI yang bisa….Kalau aku seperti itu bisa-bisa diprotes wong akeh…..”

Diprotes wong akeh…..itu juga menjadi beban fikiranku juga….dan sudah ada yang protes juga….Soalnya dengan begini aku telah menerapkan manajemen tukang cukur…. ples manajemen monopoli juga…..Tapi kalau difikir-fikir bahwa Diklat Penyuluh Pertanian Tingkat Ahli ini telah aku siapkan bersama Mr. Adi Wahyudi sejak sebelum puasa…..koq rasanya wajar aku maen monopoli….alias hanya tak bagi sama orang-orang tertentu saja….Walaupun demikian, terus terang diklat ini memang telah tak siapin dengan sebaik-baiknya….dalam arti ada visi dan misi yang jelas disitu….sehingga aku tak mau jika tujuan diklat yang telah aku rancang itu jadi ajang bagi-bagi jam pelajaran hingga melenceng dari maksudku….. Sehingga aku memilih memonopoli diklat ini….
lanjut

Bulan Agustus adalah Bulannya Penyuluh

Kembali ke Habitat

Bagaimana tidak….?! Ada satu angkatan Diklat Penyuluh Tingkat Dasar yang harus kugarap….dan itu dimulai minggu depan selama satu minggu…..Kemudian mulai pertengahan Agustus…..aku harus nggarap Diklat Penyuluh Tingkat lanjutan…..sebanyak dua angkatan….masing-masing selama 12 hari……Belum lagi ada tawaran buat ngegarap Diklat Participatory Rural Appraisal (PRA) di Kabupaten Banyumas selama 10 hari…..wuih….penuh sekali….sampai gak bisa napas….utamanya buat diklat-diklat Prajabatan…..apa masih ada waktu…..?!

Ya…demikianlah….mulai akhir Juli kemaren….aku mulai balik ke habitat….alias kembali pada ilmu-ilmu pertanianku, khususnya masalah agribisnis yang menjadi latar belakang sekolahku……Dan pada awalnya sih berat….tapi begitu menjalaninya, jelas ada kenikmatan tersendiri….utamanya pada batin yang merasa lebih puas….dan itu tak bisa saya bohongi….bayangkan…..kuliahku selama 8 tahun, sempat saya lupakan selama 8 tahun pula…..memang masih perlu diasah lagi sih….utamanya berkaitan dengan updating data or my memory yang sudah usang…..but dengan adanya internet…..segalanya no problemo…..tinggal search….klak-klik….klak klik….save as…..print……aku sudah jadi ahli pertanian lagi…..yah….itulah gunanya teknologi informasi kawan…..
baca lagi