Monthly Archives: Mei 2007

Profesi Widyaiswara

Widyaiswara….?! Apa itu Widyaiswara…?! Demikian beberapa pertanyaan pernah diajukan pada saya….misalnya dari saudara Paijo dan Pak Guru Urip…..sampai saat ini belum pernah saya jawab secara khusus….kalau Bahasa Inggrisnya sih Trainer….atau pelatih….dan ini mengacu juga pada jenis-jenis diklat yang diperuntukkan bagi para widyaiswara….yang sering disebut sebagai TOT atau Training Of Trainers….jadi widyaiswara adalah pelatih khan….?! Tidak persis begitu sih….tetapi mirip-mirip lah….cuman kalau widyaiswara itu istilah pelatih pada lingkungan pemerintahan….kalau saya sendiri sih sebenarnya pengen disebut guru….seperti juga profesi ayah dan ibu kandungku yang juga merupakan seorang guru…..dan sebenarnya cita-citaku juga….hanya saja kadung ngambilnya kuliah salah jurusan…maklum anak SMA…..gengsi kalau cita-citanya cuman jadi guru….begitu nyadar agak salah jurusan trus biar agak mirip-mirip guru ya mbelok dikit…….pengen jadi Dosen gitu…tapi gak ada Universitas yang mau nerima….trus kesasar nglamar PNS sebagai widyaiswara…..tanpa tahu apa itu widyaiswara…….ya…apa sih sebenarnya Widyaiswara itu……?!
Baca lebih lanjut

Iklan

Hambatan Budaya Kerja Organisasi Pemerintah

Menurut Kacamata Peserta Diklat Prajabatan Golongan III Kabupaten Jepara

Mengajarkan suatu materi untuk pertama kalinya memang lebih sulit….soalnya kita harus menyiapkan bahan-bahan, mulai dari membaca modul yang dalam teorinya “basic teaching skill” dinamakan sebagai materi pokok yang harus diketahui atau “must know”, mencari bahan-bahan lain yang terkait yang sering disebut sebagai materi “should know” serta siap-siap dengan pertanyaan peserta yang kadang-kadang agak jauh dari materi pokok….(sering disebut sebagai materi yang “nice to know”. Sabtu kemaren adalah saya mengajar materi Budaya Kerja pada Diklat Prajabatan Golongan III. Terus terang materi ini baru pertama kali saya ajarkan sehingga agak grogi juga…… bahkan sempat dua kali penugasan materi ini saya tolak….. Hal itu disebabkan saya merasa belum begitu siap…..pa lagi transparansinya belum saya kerjakan secara tuntas. Jadi terus terang saja, kemaren saat ngajar, saya modal nekad campur rasa malu….masa nolak terus…….

“Budaya Kerja Organisasi Pemerintah” sebenarnya merupakan materi yang sangat saya tunggu….karena disini saya akan bisa sedikit memberikan suatu motivasi kerja bagi para peserta yang notabene merupakan ‘tunas-tunas muda’ PNS di masa mendatang….Saya akan berusaha menyebarkan ‘budaya kerja nan penuh cinta’ pada mereka….karena hanya dengan cinta, mereka akan mampu mengarungi kehidupan kerja PNS yang carut marut dengan penuh gairah dan semangat…..karena hanya dengan cinta terhadap pekerjaannya mereka akan tercetak menjadi tenaga-tenaga PNS yang profesional…..karena tanpa mencintai profesi sebagai PNS….mereka akan bekerja dengan setengah hati…..tanpa motivasi….salah jalan dalam menekuni pekerjaan seperti banyak birokrat alami saat ini….. atau mungkin malah keluar dari PNS…..mencari penghidupan lain yang lebih menyenangkan…..

Lalu bagaimana kita bisa mencintai pekerjaan kita sebagai PNS…..?! Ya….layaknya orang yang jatuh cinta…akan selalu kangen….selalu ingin bertemu…..maka ya…kita ya harus selalu bertemu dengan yang dikangeni utawa harus selalu masuk kerja tentunya….Kemudian ya…harus mengenal dengan sedetail-detailnya….atau selalu mendalami tugas pokok pekerjaan….termasuk mencari tahu peraturan-peraturan yang terkait dengan pekerjaan….Setelah itu, langkah awal adalah menerima pekerjaan yang kita cintai itu dengan apa adanya….gak peduli jelek…gak peduli pekerjaannya nggak begitu bagus…..bahkan kadang cuek alias tidak memperhatikan perasaan kita….namanya juga kadung cinta….ya….tetap nekad……tapi tentu saja gak akan berhenti sampai disitu saja…..kalau yang kita cintai jelek….gak bagus….or gak pantes buat diajak jalan-jalan….dikenalin sama orang-orang….ya…didandani….diberikan baju yang bagus…diberi ‘make up’ yang mahal….atau kalau perlu dioperasi plastik biar cantik dan sedap dipandang mata……begitu khan….?!

trus caranya bagaimana….?!

Anda Harus Lebih Mendengarkan di Tempat Kerja

Ketrampilan mendengarkan adalah penting bagi kesuksesan karier, efektivitas organisasi, dan kepuasan karyawan. Sejumlah studi menunjukkan bahwa pendengar yang baik menjadi manajer yang baik dan bahwa pendengar yang baik maju lebih cepat dalam organisasi mereka. Dalam dunia kerja, kebanyakan staf yang sukses mengahabiskan 30 sampai 45 persen waktu komunikasi mereka untuk mendengarkan, sedangkan pimpinan yang berhasil menghabiskan 60 sampai 70 persen waktu mereka untuk mendengarkan.
pada siapa saja…?

Selamat Jalan Bu Dokter…..

Akhirnya Kepala Kantor kami, dr. Isi Mularsih, resmi pindah ke RSUD Margono Sukaryo di Purwokerto. Sebuah kepindahan atau mutasi yang wajar dari seorang pejabat di lingkungan pemerintahan….mengingat Bu Dokter yang satu ini sudah cukup lama mengelola Lembaga Kediklatan Jawa Tengah ini ( dari Oktober 2003 ). Saya masih ingat pada saat kesempatan berkenalan dengan beliau, dalam sebuah rapat staf, saya mengharapkan agar penugasan Beliau tidak melukai idealismenya, mengingat saya pun sebenarnya mengalami hal yang sama terkait latar belakang pendidikan saya yang juga jauh dari tugas pokok pekerjaan di Badan Diklat. Yang kedua…jelas penghasilan Beliau akan jauh menurun jika dibandingkan saat memimpin sebuah rumah sakit….Apalagi prinsip pertama yang dibawanya kesini adalah…Halalan Toyiban….. 

Tetapi kemudian beliau membuktikan ucapannya….bahwa dia akan berusaha keras untuk krasan……Saya mengamati Bu Isi adalah sosok yang mau berusaha keras….belajar mendalami ilmu-ilmu kepemimpinan dan kepemerintahan dengan ’spartan’….Sehingga kadang saya teringat bagaimana sulitnya belajar tentang ilmu ekonomi pertanian saat mengambil S2…..mengingat latar belakang saya yang condong ke nutrisi dan biologi saat S1…..ya..ibarat mengasah sisi lain dari sebuah mata pisau…..benar-benar  berat, harus kerja keras….dan sudah gitu…masih saja ada barang-barang atau detail-detail ilmu yang ketinggalan….  klik saja

Kesalahaan Penulisan Kata Dalam Surat Dinas

Permasalahan Kebahasaan Dalam Surat Dinas (2)

Tulisan saya kemarin tentang Permasalahan Kebahasaan dalam sebuah surat dinas ternyata banyak di klik oleh pembaca. Hal ini berarti ada ketertarikan terhadap masalah yang sebenarnya sangat membosankan dan sangat melelahkan untuk ditulis dan ditekuni, tetapi memang kadang terlupakan atau tidak diperhatikan sama sekali…… Oleh karena itu, saya akan melanjutkan bahasan tentang masalah kesalahan ejaan yang sampai tulisan saya tersebut saya baru sempat membahasnya sampai pada Kesalahan Pemakaian Huruf dan Kesalahan Pemakaian Huruf Kapital. Berikut akan saya uraiakan sedikit permasalahan kebahasaan, khususnya masalah ejaan dalam hal kesalahan penulisan kata mulai dari kesalahan penulisan singkatan, penulisan gelar serta penulisan kata asing. Bahasan yang diberikan masih menggunakan model contoh, uraian kesalahan, dan pembetulannya. lanjutin disini

Pesan Sejuk Bapak Sekda pada Konferda II IWI Jawa Tengah

Salah satu manfaat ngeblog adalah belajar mengungkapkan pengetahuan, fikiran dan perasaan dalam bentuk tulisan. Pada umumnya para blogger memiliki gaya penulisan sendiri-sendiri, baik yang didapat dari gaya pribadi atau gaya penulisan bogger lain. Dan itu sah-sah saja. Saya sendiri mencoba membuka katagori baru dalam blog saya, yakni profesi Widyaiswara, yang berisi lebih pada curhat-curhat saya berkenaan dengan profesi sebagai seorang widyaiswara. Katagori ini terus terang saya munculkan karena saya pengen sekali meniru gaya penulisan Mbak Murni Ramli, yang mengalir, detail, jujur, penuh perasaan tanpa kehilangan makna.

“Ada yang ingin saya titipkan pada para Widyaiswara berkenaan dengan Diklat-Diklat Kepemimpinan, utamanya pada Diklat Pim IV” demikian ‘dawuh’ Sekda Jawa Tengah, Bapak Mardjiono usai membacakan sambutan Gubernur Jawa Tengah dalam acara pembukaan Konferensi Daerah II Ikatan Widyaiswara Jawa Tengah (Konferda II IWI). “Terus terang saya merasa kecewa dengan kualitas para pejabat eselon IV di Jawa Tengah. Umumnya mereka lemah dalam koalitas kepemimpinan, melakukan analisis dan pengambilan keputusan dalam suatu masalah. Hal itu disebabkan terutama oleh cara pandang mereka terhadap kursi jabatan yang baru mereka dapat. Seharusnya mereka memandang kursi jabatan sebagai sebuah tambahan tanggung jawab dan beban tugas pekerjaan, dan bukan sebagai sebuah kebanggaan, prestasi apalagi ajang mencari rezeki. Oleh karena itu saya titip para widyaiswara untuk memberi bekal materi yang bermanfaat serta membentuk karakter pemimpin dalam diri mereka, selama mengikuti Diklat Kepemimpinan Tingkat IV.” apa saja pesan Bapak Sekda…?